Selasa, Juni 19, 2018
Beranda blog Halaman 2

Brief Encounter dengan Kawan yang Baru Pulang dari Iran

0

Selama Ramadan, aku selalu salat Jumat di masjid raya. Padahal, biasanya, aku sudah cukup nyaman pergi ke masjid taqwa Muhammadiyah. Selain jamaah tidak begitu ramai, salat di masjid yang berupa gedung itu lebih cepat dari masjid lain di Banda Aceh. Saking cepatnya, ketika pulang aku bisa mendengar khutbah dari masjid yang aku lewati.

Jumat terakhir di bulan ramadhan ini terasa spesial, aku bertemu dengan seorang teman lama: Syukur Hasbi. Menurut pengakuannya, dia baru tiga hari berada di Banda Aceh. Sejak enam tahun lalu di berada di Iran, untui kuliah di sana. Setiap jelang lebaran dia selalu pulang, tapi biasanya durasi kepulangannya dua tahun sekali.

Aku tiba di masjid kebanggaan masyarakat Aceh sedikit terlambat. Sehingga terpaksa memilih salat di luar masjid. Saat aku melangkah ke area masjid, Syukur menoleh ke arahku. Aku melihat ada ruang kosong di sampinnya. Aku merapat dan memilih tempat di dekatnya. Kami salat Jumat di luar masjid, di sisi menara selatan. Sejak ada payung elektrik, jamaah yang tidak punya tempat di dalam masjid memiliki banyak alternatif tempat. Di menara bagian utara dan selatan masjid.


Para jamaah patut berterima kasih kepada Abu Doto alias Zaini Abdullah. Selama dia menjadi Gubernur Aceh, pemugaran masjid raya adalah salah satu legacy yang akan selalu diingat oleh para jamaah. Di masanya, masjid yang sudah lama tidak mengalami proses rehab ditata kembali: pembangunan tempat parkir, tempat wudhu dan gerai di bawah tanah. Lalu, yang paling mencolok adalah pembangunan 12 unit payung elektrik serta memasang keramik di halaman masjid.

Kini, saat jamaah membludak seperti pada awal ramadan atau ketika salat Jumat, mereka bisa memilih salat di luar. Bahkan, warga kerap menghabiskan waktu dengan wisata religi di masjid bersejarah itu. Ada yang menyebut, ibadah di masjid kini lebih kental sisi entertainment dibandingkan upaya mendekatkan diri dengan Allah. Ketika malam pertama salat tarawih, para jamaah lebih asik ber-selfie dan mengabadikan aktivitas orang ibadah. Cahaya dari kamera smartphone tampak seperti lampu pada sejumlah boat di tengah lautan di malam hari. Lalu, di sosial media penuh dengan posting foto di arena masjid!

Hasbi memakai kopiah haji coklat, sepadan dengan warna kemeja yang dipakainya, ditambah celanan berwarna abu-abu. Andai janggut dibiarkan sedikit lebih panjang, dia benar-benar sudah mirip orang Iran. Hasbi berasal dari Teupin Raya, tetangga kampung saya. Kami dulu bergabung di lembaga yang sama: Iskada. Sebelum berangkat ke Iran, Hasbi berprofesi sebagai jurnalis sebuah harian lokal. Profesi itu terpaksa ditanggalkan demi menuntut ilmu di negeri para mullah itu.


Awalnya, Hasbi ingin agar posisinya sebagai jurnalis di harian itu tetap diakui meski berkuliah di luar negeri. Namun, kebijakan perusahaan membuatnya tak punya pilihan lain. Dia harus memilih tetap sebagai jurnalis atau menanggalkan profesi jurnalis jika berangkat ke Iran. Akhirnya, dia memilih pilihan kedua: berangkat ke Iran sekaligus menanggalkan profesi jurnalis.

Seusai salat Jumat, kami memilih tempat duduk di bawah payung. Teman kami sesama anggota Iskada, Marwidin Mustafa juga bergabung. Pertemuan singkat itu memberi banyak informasi soal Iran kepada kami. Hasbi bercerita, bagaimana Iran yang dikucilkan oleh Amerika bisa terus bertahan. Menurutnya, semakin Iran dikucilkan, rakyat di sana menjadi bertambah cinta kepada negerinya dan imam mereka, Ali Khamenei.

Masyarakat Iran, kata Syukur, memiliki sebuah pepatah yang sangat terkenal: Amriko hij galate namitune bekune. Artinya lebih kurang adalah Amerika tidak dapat berbuat salah dengan Iran! Pepatah itu, katanya, memiliki makna kira-kira jangankan berbuat hal yang benar, berbuat yang salah pun kepada Iran, Amerika tidak bakal mampu menjadikan orang Iran tunduk pada mereka.


Di Iran, perayaan hari besar kenegaraan seperti tanggal 17 Agustus di tempat kita hanya dirayakan oleh militer dan garda pengawal revolusi. Sementara rakyat mereka biasanya menggelar demo pada hari itu. Dan, dalam setiap demo mereka pasti mengecam Amerika yang disebutnya setan besar.

Dalam setiap demo, rakyat di sana akan berseru satu kata “Murbar Amerika”. Kata itu laksana pekikan “merdeka” di tempat kita. Rakyat Iran melafalkan kata-kata itu seperti sebuah kewajiban. Sepertinya sejak kecil, masyarakat di sana sudah dididik untuk membenci sesuatu yang berbau Amerika.

Salat Jumat di sana bisa menjadi forum yang gaduh. Para khatib biasanya menyampaikan khutbah tentang hukum, fiqih atau tauhid atau tema-tema agama dalam pesan khutbah. Setelah mengulang khutbah dan saat pada penyampaian pesan di antara dua khutbah, mulailah khatib Jumat menyerang Amerika, Israel dan Inggris.

Apa yang disampaikan para khatib itu selalu membangkitkan amarah berlebih orang Iran kepada Amerika. Setiap khutbah yang mengecam Amerika dan sekutunya, sang khatib akan menyediakan jeda beberapa detik memberi waktu kepada jamaah untuk meneriakkan yel-yel: murbar Amerika!

Banyak hal yang sebelumnya tidak aku dengar tentang Iran, tapi diceritakan oleh Syukur. Mulai soal nikah mut’ah, perekonomian masyarakat, kecepatan internet dan kehidupan masyarakat secara umum. Apa yang diterangkan sang teman yang baru pulang dari Iran itu benar-benar membuka mata saya.

Soal nikah mut’ah selama ini keliru dipahami. Seolah-olah kawin mut’ah itu sesuatu yang gampang dilakukan. Padahal, katanya, ketika seseorang memutuskan nikah mut’ah ada sejumlah syarat seperti nikah biasa yang harus dipenuhi. Semua syarat nikah itu harus dipenuhi dalam nikah mut’ah. “Ini untuk menjaga kesakralan sebuah pernikahan, dan menjaga nasab atau keturunan,” jelasnya.

Di Iran, lanjutnya, menikah itu sangat mudah. Beda dengan di tempat kita. Di tempat kita, menikah itu begitu banyak syarat dan terkesan berat. Sementara bercerai begitu gampang dilakukan. “Di sana, menikah mudah tapi bercerai yang susah,” kata dia. Dia mencontohkan, sebelum memutuskan menjatuhkan talaq kepada istri, sang suami tidak boleh berhubungan selama 3 bulan dengan istri. “Ketika seorang istri dicerai, maka dia haruslah benar-benar suci,” tambahnya.

Dalam hal kebebasan internet, Iran seperti di negara timur tengah. Beberapa situs seperti Youtube, Facebook atau Twitter diblokir. “Tapi, biasanya kami akan menggunakan filter berupa layanan VPN untuk membuka akses ke website yang diblokir tadi,” kata alumni IAIN Ar Raniry ini. Saat VPN itu terdeteksi oleh pemerintah, maka para mahasiswa asing di sana akan mencari filter baru.


Seperti kita tahu, Iran terkenal sebagai negara yang begitu mengagungkan keturunan Nabi. Hal ini kemudian diatur juga dalam hal berpakaian. Pemakaian amamah atau sejenis surban, dibedakan antara keturunan Nabi dengan masyarakat biasa. “Amamah untuk said atau keturunan nabi berwarna hitam, sementara orang biasa berwarna putih,” kata mahasiswa yang mengambil konsentrasi Logika Filsafat.

Untuk masuk ke Iran, katanya, sedikit lebih longgar dibanding masuk ke Eropa. Bagi orang yang pernah berpergian ke Eropa atau Amerika, saat masuk ke Iran, akan diteliti lebih ketat dengan orang yang tidak pernah mendapat cap Eropa atau Amerika. “Kalau saya sekarang malah tidak pernah ditanya lagi tiap masuk ke Iran. Mungkin karena wajah saya sudah mirip orang Iran,” kata dia setengah tertawa.

Ada satu hal yang membuat dia kecewa. Sejak April 2018 lalu, Air Asia berhenti melayani rute ke Teheran. Di balik penghentian rute itu, katanya, ada andil Amerika di dalamnya. “Warga di sana menduga kalau maskapai asal Malaysia itu kena semprot sama Trump,” pungkas mantan jurnalis Tabloid Gema Baiturrahman itu.

Setelah terlibat obrolan hingga dua jam itu, kami pun bubar. Aku dan Marwidin langsung kembali ke rumah, sementara Syukur Hasbi memilih menyambangi kantor Gema Baiturrahman di belakang masjid. “Kalau bukan puasa, kita bisa lanjutkan dengan menyeruput kopi atau makan di warung itu,” katanya menunjuk sebuah warung makan di Jalan TA Djalil, warung di mana dulu kami sering makan di sana. []

Ketika Dua Aktivis Bertemu di Makam Panglima

0

Menjelang siang pada akhir September 2015, Muhammad Zulfan, seorang videographer punya janji bertemu dengan aktivis di Mukim Cubo, Bandar Baru, Pidie Jaya. Mereka memilih lokasi kuburan Teungku Abdullah Syafie sebagai titik kumpul.

Aktivis itu namanya Muhajir Juli. Pemuda yang sehari-hari berprofesi sebagai jurnalis itu lahir di Gampong Teupin Mane, Juli, Bireuen pada 26 Februari 1985. Sejak Februari 2015, dia dan Maulana didapuk sebagai penanggung jawab program Koalisi NGO HAM Aceh di Mukim Cubo, Pidie Jaya. Muhajir diberi tugas mendampingi masyarakat di Gampong Kayee Jatoe dan Blang Sukon, dua desa di Mukim Cubo. Di kedua desa itu, Koalisi NGO HAM, tempat Muhajir mengabdi, sedang menjalankan program penguatan lembaga adat dan penggalian kearifan lokal untuk mitigasi perubahan iklim.

Saat pertama kali masuk ke Cubo untuk memperkenalkan program, mereka tak langsung diterima dengan tangan terbuka. Masyarakat di Cubo masih trauma sekaligus alergi saat mendengar istilah Hak Asasi Manusia (HAM) yang tersemat pada nama lembaga yang dibawa Muhajir.

“Masyarakat masih takut mendengar istilah HAM, mengingatkan mereka pada pelanggaran HAM,” kata Muhajir yang sering menghabiskan waktunya di Cubo.


Kecurigaan masyarakat cukup beralasan. Sejak beberapa tahun terakhir, berkembang isu bahwa lembaga yang masuk ke kampung diduga menyebarkan aliran sesat di dalam masyarakat. Awalnya, mereka masuk ke kampung berkedok menawarkan bantuan, tapi secara diam-diam melakukan pedangkalan akidah. Mengantisipasi hal itu, masyarakat menjadi selektif dan tak langsung menerima LSM yang masuk ke kampung mereka.

“Ini karena minimnya pengetahuan masyarakat terkait HAM,” kata Muhajir yang juga seorang wartawan sebuah media online di Aceh ini.

Lalu, cerita Muhajir, mereka mulai memberi penjelasan terutama terkait kerja dan visi misi Koalisi NGO HAM kepada orang-orang yang mencurigai pegiat HAM melakukan pedangkalan akidah. “Kita jelaskan kepada mereka apa makna HAM yang sebenarnya, agar mereka jadi paham,” lanjutnya.

Setelah mendapatkan penjelasan itu, kata Muhajir, barulah mereka diterima dengan tangan terbuka. Tak ada lagi masyarakat yang menganggap Koalisi NGO HAM membawa aliran sesat. Alhasil, mereka dapat melaksanakan program penguatan lembaga adat untuk mitigasi perubahan iklim tanpa ada kendala.

Pada tahap awal, ada beberapa kegiatan yang dilakukan oleh Koalisi NGO HAM di Mukim Cubo. Di antaranya Training of Trainer (ToT) yang digelar pada 16-18 April 2015, lalu Pelatihan Kader Gampong, 13-14 Mei 2015, dan Survey Enumerator tahap pertama, April hingga Juni. Setelah kegiatan berjalan, masyarakat pun mulai merasakan manfaat kehadiran Koalisi ke Mukim mereka. Bahkan, masyarakat berharap Koalisi bersedia mendampingi mereka dalam kerja-kerja advokasi penguatan mukim, baik dari sisi penguatan qanun mukim yang sedang dibahas di DPRK, maupun penguatan pengetahuan lainnya.

Maka, pada Senin, 28 September 2015 siang, Muhammad Zulfan atau lebih akrab disapa Jawon, yang ingin mendokumentasikan kegiatan Koalisi menemui Muhajir di Blang Sukon, Cubo. Muhajir berangkat dari Bireuen bersama seorang temannya, Fajri, yang juga seorang jurnalis. Muhajir memang punya agenda kembali ke Cubo, karena harus mempersiapkan pelatihan sidang adat. Pelatihan itu sekaligus menandai berakhirnya program Koalisi NGO HAM di Mukim Cubo yang sudah berjalan hampir tujuh bulan itu.

Jawon dan Muhajir kemudian sepakat bertemu di Makam Teungku Lah, selepas dhuhur. Muhammad Zulfan berangkat ke makam Teungku Lah di Blang Sukon setelah selesai mengambil beberapa video di kampung yang masuk daftar merah saat Aceh dibalut konflik. Begitu Jawon tiba di makam Teungku Lah, Muhajir sudah menunggu di tangga meunasah. Dari jauh, dia melempar senyum. Setelah berbincang sebentar, mereka pun sepakat mencari kopi di kedai kampung. Muhajir mengaku lebih banyak menemui warga di warung kopi.

“Keuchik dan tokoh masyarakat lebih mudah ditemui di warung kopi,” katanya.

Gambaran Cubo dulu dan sekarang sudah jauh berbeda. Jalan-jalan sudah teraspal mulus, tak lagi berkerikul dan penuh debu seperti sebelum reformasi. Jaringan listrik baru masuk ke Cubo pada tahun 1998 atau setelah reformasi. Sebelumnya, warga mengandalkan ‘panyet seureungkeng’ atau genset untuk penerangan.


Ada enam desa yang masuk dalam Mukim Cubo yaitu yaitu Kayee Jatoe, Blang Sukon, Paru Keude, Blang Baro, Gampong Puduek dan Lhok Pu’uk. Posisi kampung-kampung berada jauh dari jalan raya. Hanya Paru Keude yang dekat dengan jalan raya. Sebagian besar masyarakat di mukim ini berprofesi sebagai petani, pekerja kebun, dan hanya sebagian kecil saja berprofesi PNS.

Muhammad Kaoy (kini almarhum), tokoh masyarakat di sana, mengaku warga Cubo pernah menikmati masa-masa jaya, ketika tanaman coklat atau kakao menjadi primadona. “Masyarakat menyulap lahan yang mereka miliki menjadi kebun coklat,” katanya. Bahkan, sejumlah lahan pertanian yang sebelumnya dimanfaatkan untuk bercocok tanam, disulap menjadi kebun coklat.

Kampung Kayee Jatoe dan Blang Sukon, ketika itu memiliki lahan perkebunan yang cukup luas. Kampung itu dikelilingi oleh hutan yang masih perawan. Bahkan, sebelum terkenal dengan penghasil coklat, Cubo juga menjadi sentra penghasil cengkeh.

Namun, kejayaan itu tak berlangsung lama. Seiring berjalannya waktu, harga coklat anjlok drastis. Penyakit mulai menghantam tanaman holtikultura itu, dan masyarakat terpaksa beralih dari kebun coklat. Lahan-lahan pertanian yang sebelumnya sudah disulap jadi kebun coklat diubah lagi menjadi sawah.

“Karena coklat diserang penyakit dan hama, masyarakat kembali menggarap sawah mereka,” kata Muhammad Kaoy yang juga mantan Keuchik Kayee Jatoe dan mantan Imum Mukim Cubo. Pun begitu, bukan berarti tanaman coklat ditinggalkan begitu saja. Jika sekarang kalian pergi ke Cubo, sisa-sisa kejayaan coklat masih tampak di sana. Sebagian warga masih setia menanam coklat di lahan dan kebun milik mereka.

Ketika Aceh dibalut konflik, sekali lagi Cubo menawarkan pesonanya. Wilayah ini menjadi terkenal, dan karenanya masuk dalam daftar hitam aparat keamanan. Saban hari aparat menyisir kampung pedalaman itu untuk mencari para gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang berlindung di sana. Ketika itu, Cubo bahkan dikenal sebagai salah satu basis GAM.


Teungku Abdullah Syafie, panglima GAM yang paling diburu aparat keamanan menikah dengan seorang perempuan Cubo, Pocut Fatimah. Teungku Lah, demikian Panglima karismatik itu disapa, banyak menghabiskan waktu di kawasan Cubo. Dia sering bolak-balik antara Cubo dan Jiem-jiem, markas besarnya, yang juga masuk kecamatan Bandar Baru. Belakangan, karena aparat semakin rutin menyusur kampung-kampung di Cubo, panglima yang dikenal memiliki ilmu kebal itu menyingkir ke Jiem-jiem.

Keberadaan panglima GAM di Cubo memberi pengaruh besar untuk Cubo dan warganya. Hingga kini tak ada lagi yang memandang rendah orang Cubo, dan tak ada yang menyebut mereka terbelakang. Tiap musim politik datang, Cubo akan selalu ramai dikunjungi politisi, baik yang karbitan maupun figuran. Mereka menziarahi makam Panglima GAM, Teungku Abdullah Syafie di Blang Sukon, Cubo. Ia bersama istri dan 4 pengawalnya dimakamkan di sana, di lokasi rumah istrinya.

Jawon yang juga mantan aktivis itu menemui Muhajir di makam itu. Sekaligus sebagai penghormatan untuk sang Panglima!

Image source: 1, 2, 3, 4

Strategi Berjualan Bubur Kanji Selama Ramadan

0
bubur kanji

Bahkan, dalam urusan berjualan bubur kanji pun kita butuh strategi!

Sudah dua ramadan aku berprofesi sebagai penjual bubur kanji. Selain mencari penghasilan tambahan, aku sebenarnya mencoba menjadi orang Pidie yang sebenarnya: punya bakat dagang! Rupanya, tak begitu buruk juga. Memang, sejauh ini baru sebatas pedagang/penjual musiman, yaitu khusus berjualan selama ramadan.

Jujur saja, sebagai orang Pidie, aku sama sekali tidak mewarisi bakat dagang. Kedua orang tuaku bukan pedagang. Mereka hanya orang Pidie biasa-biasa saja. Di masa mudanya, ayahku senang merantau. “Bakat” itu yang mungkin aku warisi. Soalnya, aku paling senang bepergian ke suatu daerah. Seandainya rekeningku selalu penuh, mungkin saja aku akan lebih sering jalan-jalan ke luar daerah, daripada berpangku tangan dan menetap di suatu tempat. Namun, aku adalah perantau yang tahu jalan pulang.


Ramadan tahun ini, tantangan berjualan sedikit lebih longgar. Tak perlu banyak promosi sana-sini. Aku bahkan tidak sekencang tahun lalu mempromosikan menu jualan andalan kami: Bubur Kanji Khas Pidie. Sejak hari pertama ramadan, para pembeli memadati lapak kami di Jalan Ramasetia, Lampaseh Kota. Berdasarkan penilaian sementara, para pembeli bubur kanji kami pada ramadan tahun lalu, kembali menjadi pelanggan tetap. Wajah-wajah yang sama selalu kembali setiap dua hari sekali.

Aku tidak mengatakan bahwa ini hanya kebetulan semata. Tidak. Banyak orang mengatakan, dalam urusan bisnis tak ada faktor kebetulan melainkan butuh perencanaan yang matang. Misalnya, dari pilihan menu jualan. Dari banyak macam makanan yang bisa kita jual selama ramadan, kami (aku dan istri) memilih berjualan bubur kanji. Pertimbangannya, jual sesuatu yang khas tapi tak banyak jumlah penjualnya. Kami bisa saja memilih berjualan air tebu atau kelapa muda, dua jenis menu berbuka yang paling banyak diminati orang berpuasa. Menu yang sedikit bersaing hanyalah mie caluek dan pecal.


Nah, ketika akhirnya kami memutuskan berjualan bubur kanji maka itu sudah kami pikirkan masak-masak. Kami melakukan riset kecil-kecilan berupa mendeteksi di mana saja titik-titik orang berjualan kanji, bagaimana jumlah peminat dan tentu saja bagaimana peluangnya. Hal ini kami lakukan pada 3-4 ramadan sebelumnya. Maka, tanpa pikir panjang lagi, ramadan tahun lalu langsung kami terjun lapangan, dan berlanjut hingga ramadan tahun ini. Bagaimana prospeknya? Boleh kukatakan sedikit menggembirakan.

Lalu, bagaimana strategi kami menarik pelanggan?
Selain dalam bentuk promo di media sosial atau group WhatsApp, kami memilih berjualan di lokasi yang tepat. Kenapa ini penting? Kalian bisa menanyakan kepada para pengembang properti. Sesuatu yang terus diulang-ulang oleh mereka ketika mempromosikan properti adalah lokasi, lokasi, dan lokasi. Memilih tempat yang tetap adalah awal kesuksesan. Kami bersyukur punya lapak berjualan di depan toko seorang teman. Seperti nama toko itu, Bereh, nasib bisnis bubur kanji kami juga mengikuti nama merek toko itu: bereh!

Pada awal ramadan, kami sebenarnya sempat menambah satu lapak berjualan lagi yaitu di Neusu. Namun, setelah dua hari kami coba, peminatnya tidak seberapa. Lalu, kami sadar, lokasinya sedikit tidak pas, berada di bengkolan dan orang-orang agak kesulitan ketika harus berhenti membeli bubur kanji karena akan mengganggu para pengendara.


Di lokasi utama kami berjualan, kami memilih di jalur pulang, sementara lapak Neusu berada di jalur berangkat/pergi. Satu lapak sukses dan satunya lagi harus gulung lapak. Kenapa satu bisa berhasil dan lainnya gagal, penjelasannya sungguh terang. Banyak pemburu menu berbuka itu lebih senang melihat-lihat dulu jenis makanan apa yang dijual sepanjang jalan, dan mereka baru memutuskan menu apa yang bakal dibawa pulang itu ketika hendak pulang. Sebagai informasi, di jalur tempat kami berjualan terdapat dua lapak orang berjualan kanji, yang jarak antara satu lapak dengan lapak lainnya tidak sampai 50 meter. Dua lapak itu berada di jalur atau arah berangkat/pergi.

Apakah orang yang membeli di lapak kanji kami lebih banyak dari dua lapak yang berada di jalur berangkat? Aku jelas tidak dapat memperkirakan dengan pasti. Hanya saja, kami lebih sering pulang lebih awal tinimbang mereka. Artinya apa, orang-orang baru menentukan menu apa yang akan dibawa pulang adalah ketika hendak pulang! Ini memang bukan kesimpulan yang seratus persen benar. Tidak. Soal rezeki sudah diatur dengan sangat baik dan adil yang Tuhan yang Maha Kuasa.

Faktor apalagi yang menarik minat pelanggan untuk kembali membeli di tempat kita? Aku tidak akan mengatakan bahwa bubur masakan kami lebih enak dan cocok di lidah dibandingkan bubur kanji yang dijual oleh penjual lain. Soal selera itu sangat subjektif dan hanya mereka para pencecap saja yang tahu bagaimana membedakan rasa suatu makanan. Tapi, usahakan agar citarasa makanan yang kita jual benar-benar istimewa. Selaku penjual kita harus suka dulu dengan makanan yang kita jual, dan mungkin saja orang lain juga akan menyukainya. Citarasa itu harus tetap dipertahankan. Percayalah, kalau makanan yang kita jual itu cocok di lidah mereka, besok-besoknya mereka para pembeli pasti akan kembali lagi.


Terakhir, seperti aku bilang di atas, dalam berjualan pun kita butuh strategi. Maka, strategi yang aku pilih adalah biarlah istriku yang selalu setia berada di lapak jualan dan melayani pelanggan. Sejauh ini sangat efektif. Setidaknya, hingga menjelang akhir ramadan, bubur kanji yang kami jual selalu tandas. Setiap hari ada satu-dua pembeli yang tidak kebagian kanji! Yakinlah, besok mereka akan kembali ke lapak jualan kita lebih cepat dibanding pembeli lain. []

Nasi Briyani dan Kisah AC di Neraka

0

Ketika dua kawan lama bertemu, hal-hal konyol sering tersaji. Maka tercetuslah program membuat AC di Neraka. Geuthat na teuh!

Rabu (6/6/2018) sore para alumni sebuah koran lokal berkumpul di sebuah rumah di kawasan Darussalam. Rumah permanen dua lantai itu dikelilingi sejumlah kost mahasiswa. Empunya rumah adalah pemilik sejumlah rumah kost itu dan beberapa ruko di sekitarnya. Ia memang mendapatkan banyak bainah dari leluhurnya, berupa tanah yang tersebar di beberapa lokasi, dan hampir semuanya dibangun rumah untuk para mahasiswa yang kuliah di kopelma Darussalam.

Untuk menghindari bullying yang tidak perlu, aku harus menyamarkan identitas para alumni yang berbuka puasa bersama di sana. Jumlah yang diundang berbuka puasa bersama itu memang tidak ramai, hanya belasan orang saja. Mereka adalah para penulis dan pengelola sejumlah media online di Aceh. Dulunya mereka semua adalah para punggawa sebuah koran lokal yang sudah almarhum.


Aku tiba di rumah itu menjelang waktu berbuka tiba. Di sana, para tamu undangan sudah memenuhi sejumlah kursi yang diatur di teras. Kursi-kursi itu diatur berbentuk bundar agar mereka bisa saling memandang satu sama lain. Soalnya, meski dulu mereka semua adalah penghuni sebuah “kapal” media cetak di Aceh, kesibukan masing-masing membuat mereka jarang bertemu.

Karena lama tak bertemu, maka banyak obrolan konyol terlontar dari mulut mereka. Hanya sesekali saja topik pembicaraan beralih ke soal media. Dan, ketika soal ini disinggung, semua mereka larut dalam nostalgia yang tak berkesudahan. “Kalau Anda mau mendekam dalam penjara dua tahun saja, dan koran tak kita jual, mungkin sudah besar media kita,” kata empunya rumah menunjuk seseorang yang lebih tua dari kami.

Orang yang disentil pun tak mau kalah. Ia seorang politisi dan mantan pejabat. Tahun depan dia akan kembali menjajal dunia politik yang lebih 10 tahun dia tinggalkan. “Tidak ada masalah dengan saya. Seharusnya, koran memang tidak perlu dijual dan jalan terus seperti biasa,” katanya kemudian. Pembicaraan pun jadi panjang dan masing-masing menyesali kesalahannya di masa lalu.

Tak lama kemudian, kami semua dipersilahkan masuk ke dalam rumah saat waktu berbuka tinggal beberapa menit lagi. Menu berbuka termasuk biasa-biasa saja: ada risol, serabi berkuah dan soup buah. Begitu tanda berbuka terdengar kami pun mengambil makanan yang terhidang itu dan menikmati dengan lahapnya. Ada satu lagi menu, dan ini termasuk spesial: nasi briyani! Kami menyantapnya seusai salat magrib.


Kami semua memilih salat magrib di masjid fathun qarib yang berada di seberang jalan. Masjid yang dulunya dibangun oleh Soeharto melalui Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila itu kini tampak lebih besar setelah mengalami rehab, sehingga tak lagi menyerupai model masjid yang tersebar di seluruh Indonesia.

Bagiku, masjid itu tergolong istimewa, dan bisa kembali menunaikan salat di situ mengulang pengalaman beberapa tahun silam. Biasanya, seusai dhuhur rektor yang ditembak saat konflik, Prof Safwan Idris, sering memberi ceramah kepada kami, para mahasiswa. Bahkan, setelah PKM digrebek, aku menjadikan masjid itu sebagai tempat berlindung untuk sementara waktu.

Seusai salat kami menikmati nasi briyani dengan lahapnya. Ini adalah nasi briyani kedua kalinya aku nikmati dalam rentang waktu 3 bulan. Terakhir kali aku menikmati nasi ini ketika berada di Malaysia, sepulang dari traveling ke Kamboja dan Vietnam. Rasanya memang tak persis sama, tapi aku menikmatinya.

Nah, seusai menikmati nasi briyani, kami semua kembali mencari udara di teras rumah, bersantai di kursi yang sebelum waktu berbuka kami duduki. Lalu, obrolan ngalor-ngidul berseliweran tak karuan: ada yang lucu, menggelitik dan sensitif. Dari situlah kisah membuat AC di neraka bermula dan mengemuka.

Ide ini muncul setelah si empunya rumah merasa yakin dirinya tidak bakal masuk surga. “Biarlah saya dimasukkan ke neraka bersama orang Jepang atau Korea,” katanya. “Biar kalian saja yang ke surga,” sambungnya kemudian. Kami semua kaget dengan apa yang barusan kami dengar.

Di kalangan kami, beliau memang agak sedikit liberal dalam soal keyakinan. Ini bisa jadi dipengaruhi oleh banyak bacaan termasuk sumber ajaran dari agama lain, terutama Hindu dan Budha. Beliau pun mendalami bidang sains, di mana pengetahuan teknologi beliau jauh di atas kami. Pernah suatu kali seorang pendeta membujuknya untuk masuk ke agama Kristen. Setelah diskusi panjang lebar, justru si pendeta itu tak yakin lagi dengan ajaran agamanya.

Pun begitu, dia mendidik anak-anaknya dengan ajaran agama dan berharap mereka menjadi pribadi yang baik. Istrinya pun seorang yang taat beragama. Ketika sang istri berhalangan mengajari anaknya mengaji Al Quran, maka tugas itu diambil alih olehnya dengan sangat baik.

Soal membuat AC di neraka memang benar-benar disampaikannya dengan lugas. Pun begitu kami menangkap ide itu hanya gurauan semata. “Tidak apa-apa saya dilempar ke neraka. Nanti bersama orang Jepang dan Korea, saya akan membuat AC menjadi dingin, lebih dingin dari di surga,” katanya. “Tapi, kalian nanti jangan pura-pura berkunjung ke neraka, ya?” tambahnya kemudian. Kami pun terpaksa geleng-geleng kepala.


Benar-benar sebuah acara buka puasa bersama yang aneh, aku kira. Kuharap kalian tidak memandang serius ocehan beliau. Meski tema yang dibicarakan sangat sensitif, tapi dia berusaha menjadi tuan rumah yang baik: minimal dia menjaga agar dirinya tetap dianggap liberal. Ada-ada saja.

Steemian PKB dan Budaya Makan Besar

0

Di hadapan kuah beulangong kita semua adalah pencecap sekaligus pemburu. Ya, pemburu kuah beulangong. Tak ada beda apakah dia seorang jurnalis, blogger atau steemian (kreator konten di Steemit), karena di hadapan kuah beulangong, profesi melebur dan menjadi tidak lagi penting.

Di dekat kuah beulangong status sosial seseorang bahkan menjadi setara. Mereka akan duduk melingkar kuali besar, menunggu kapan daging yang berada di dalam kuali itu bisa disantap. Begitu masakan itu bisa dimakan, orang akan makan dalam piring plastik yang sama, mengambil beberapa potong daging dan satu gelas air mineral. Lalu, orang yang berbeda status sosial itu akan mencari tempat untuk menyangga pantat, pokoknya asal aman untuk bersantap.

Undangan menikmati kuah beulangong akan dirayakan dengan suka cita. Sama sekali tidak boleh diabaikan apalagi berpura-pura lupa untuk punya alasan tidak menghadirinya. Tidak, mengabaikan undangan menikmati kuah beulangong dari suatu komunitas menunjukkan kita berjarak dengan mereka, dan alamatnya menjadi kurang baik.

Bagi para pemburu kuah beulangong, undangan menikmati kuah beulangong adalah berkah. Di kalangan para pemburu ini berlaku sebuah rumus umum di mana mereka mengamalkannya dengan perasaan riang: kalau yang memasak kuah beulangong lupa mengundang, maka kita tak boleh lupa untuk datang. Sebab, sekali kita sudah menjadi bagian dari para penikmat kuah beulangong, selamanya kita akan dianggap bagian dari mereka.

Begitu kuah beulangong sudah masak dan siap dihidangkan, orang tidak akan bertanya lagi dari komunitas mana kalian datang, bersama siapa pergi atau apa profesi kalian. Bahkan, pertanyaan ‘siapa yang mengundang Anda’ sama sekali tak pernah disinggung bahkan ketika pesta menikmati kuah beulangong itu usai.

Aku sudah menghadiri banyak sekali undangan menikmati kuah beulangong dan itu bukan semata-mata acara makan besar. Ia bagian dari memperkuat silaturahmi, berbagi kegembiraan dan sebagai medium membicarakan hal-hal yang tidak penting agar tetap menjadi penting.

Tempo hari, misalnya, di kantor Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Banda Aceh digelar buka puasa bersama dengan menu utama kuah beulangong. Ada 25 ekor bebek segar dan muda yang dimasak dengan resep masakan Aceh Rayeuk. Selain jurnalis, banyak Steemian yang juga menjadi tamu kehormatan.

Jauh sebelum masuk bulan ramadan, di tempat yang sama juga digelar pesta kuah beulangong atau di kalangan Steemian disebut #saveitek atau #savekameng. Bedanya saat itu yang dimasak adalah kambing, sehingga disebut #savekameng. Kambing itu sedekah seseorang sebagai kambing kaul alias kameng kaoy.

Dan, sebagai steemian, momentum itu kerap digunakan untuk promo steem. Bedanya, mereka tidak memasang spanduk besar-besar untuk meyakinkan paus bahwa mereka sedang menggelar promo steem. Steemian Pemburu Kuah Beulangong (PKB) jauh dari kesan demikian. Mereka tak mencari muka dalam mempromosikan platform berbasis blockhain ini.

Sebab, mereka sadar akan satu hal: barang bagus itu tak butuh promosi. Dan sejauh ini, Steemit terbukti sebagai platform bagus yang menarik minat para penulis, blogger dan jurnalis untuk mengail di kolam berbasis blockhain.

SteemPress dan Insentif untuk Blogger

0

Content is king! Dan Steempress akan memberi insentif untuk blogger yang setia menulis konten berkualitas.

Steemit hadir bukan untuk membuat para blogger melupakan blog, tapi justru membantu mereka mendapatkan insentif dari aktivitas ngeblog. Karena itu, keberadaan Steemit jangan sampai membuat kalian melupakan blog. Sebab steempress sudah menunjukkan jalan bagaimana mengawinkan blog dan steemit secara elegan.

Sejauh ini negara memang belum mengakui blogger sebagai sebuah profesi, dan karenanya ‘profesi’ blogger belum dapat dicantumkan di kolom profesi/pekerjaan pada kartu identitas. Biar saja. Kartu identitas sama sekali tidak membuktikan apa-apa. Di negara kita, ia hanya sekadar tanda pengenal semata.

Pun begitu, sekiranya di kolom pekerjaan pada kartu identitas tersedia pilihan blogger sebagai profesi, aku akan dengan senang hati memilih blogger sebagai pekerjaan. Sebab, profesi blogger inilah yang membuatku tetap bergairah, dan tentu saja bahagia.

Steempress Plugin for WordPress
Di sejumlah media sosial, aku selalu mencantumkan blogger sebagai profesi, dan hal ini kulakukan dengan sangat sadar. Bahkan jika ada yang bertanya apa pekerjaanku, maka aku tanpa perlu pikir panjang akan menjawab blogger atau penulis blog. Tapi aku yakin kalian tidak akan percaya.

Aku tidak peduli apakah kalian percaya atau tidak. Karena hal itu tak akan mengubah apapun. Aku akan tetap menulis blog seperti biasa, karena demikianlah cara aku menikmati hidup, dan juga agar blog yang kumiliki tidak berjelabah. Aku sudah menjadikan blog sebagai passion yang membuatku terus merasa ‘ada’ dan ‘beredar’ di dunia maya.

Setidaknya, hingga kini Google masih mengakui aku seorang blogger. Kalian pasti mengira kalau aku hanya mengada-ada dan atau sedang membual. Biar tak ada khilafiah di antara kita dan agar aku terbebas dari stigma pembual, cobalah kalian ketik kata kunci “Blogger Aceh” dan “Blog Aceh” di kolom pencarian Google, dan kupastikan blog milikku jumpueng muncul di halaman pertama.

Dua kata kunci di atas adalah bentuk penegasan bahwa aku memang seorang blogger. Bahkan teman-teman lebih mengenalku sebagai blogger daripada embel-embel lainnya, karena memang aku tidak punya profesi lain: PNS bukan, tentara apalagi. Aku membangun personal branding sebagai blogger Aceh bukan kemarin sore melainkan sejak aku mulai mengenal dunia blogging tahun 2001 dan tetap setia hingga hari ini, bahkan setelah aku mengenal Steemit pertengahan tahun 2017 lalu.

plugin steemit untuk wordpress
Aku sudah menulis di banyak platform, baik yang berbayar maupun gratis, dan dua-duanya aku nikmati sebagai proses dalam membentuk personal branding tadi. Syukurlah, aku berhasil mewujudkannya. Setidaknya, ketika kalian mengetik dua kata kunci seperti aku tulis di atas, blog milikku selalu nangkring di halaman pertama.

Lalu, apakah aktivitas ngeblog selalu menghasilkan? Tidak selalu, hanya kadang-kadang saja. “Itu sama saja buang-buang waktu.” Kalian pasti berpikir demikian. Percayalah, semua pekerjaan sebenarnya cuma buang-buang waktu, tapi selama kalian bisa menikmatinya itulah bonus kebahagiaan yang tak bisa diukur apalagi dinilai dalam bentuk uang.

Nah, sekarang aku akan mengajak kalian yang sudah lama membiarkan blog terbengkalai dan berhantu agar kembali mengurusnya seperti semula. Sebab, ketika blog tidak salah urus ia bisa menjadi investasi jangka panjang, yang bisa kalian wariskan untuk anak cucu. Apalagi kini hadir plugin yang memberi jalan berupa insentif untuk blogger.

SteemPress punya program membantu para blogger untuk kembali aktif menghasilkan konten berkualitas, bergabung dalam ekosistem Steem Blockhain, Steemit. Melalui plugin SteemPress tersebut blog dan steemit kini bisa dikelola secara bersama-sama, dan para blogger akan mendapatkan reward atas jerih payahnya.

Jadi sambil menunggu hadirnya Smart Media Tokens (SMTs) yang bakal memberi reward untuk publisher atau blogger, mulailah dengan menggunakan SteemPress, plugin Steemit untuk wordpress. Melalui plugin ini, konten yang kalian publikasikan di blog WordPress secara otomatis akan muncul di Steemit.

Menariknya, kalau kalian konsisten menghasilkan konten berkualitas (good content), postingan kalian akan mendapatkan upvote otomatis dari @steempress-io. Jadi, tunggu apalagi, kembalilah ke blog kalian dan nikmati aktivitas ngeblog sambil ber-steemit ria! Dan, SteemPress akan memberikan insentif untuk blogger, yaitu kalian yang mau kembali mengurus blog.

Novel Sejarah dan Rancunya Sebuah Istilah

0

Prabowo Subianto mengutip novel sejarah (?) Ghost Fleet yang meramalkan Indonesia bubar pada 2030 ketika menghadiri bedah buku ‘Nasionalisme Sosialisme dan Pragmatisme Pemikiran Ekonomi Politik Soemitro Djojohadikusumo’ pada 18 September 2017 di Auditorium Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Depok.

Lalu, seperti biasa, media sosial jadi ramai dan berisik. Ada yang mencela mantan Danjen Kopassus itu, ada pula yang membelanya. Begitulah, netizen hanya butuh pemicu dan percikan api akan muncul dengan sendirinya. Tak peduli apakah itu pidato lama atau baru (baru bocor ke publik). Di Indonesia menggoreng isu sama enaknya dengan menggoreng ikan!

Mantan calon presiden itu kemudian membela argumentasi yang dipinjamnya dari dua ahli strategi Amerika Serikat, penulis karya fiksi itu, bahwa ramalan itu tak boleh dipandang angin lalu saja. Kalau tidak berhati-hati, Indonesia akan mengikuti jejak Yugoslavia atau Uni Soviet.

Muncul pertanyaan kemudian, apakah sebuah novel bisa menjadi pegangan dalam melihat sebuah realitas, terutama untuk mempercayai ramalan runtuhnya sebuah negara?

Novel sejarah
Sebuah novel tetaplah sebuah novel. Ia sebuah karya fiksi dan ditulis semata-mata berdasarkan khayalan penulis. Memang banyak hadir novel bertemakan sejarah: ada yang berisi rekaman suatu peristiwa, ada juga yang mengisahkan kehidupan seorang tokoh berpengaruh. Namun, cerita di dalamnya dibumbui dengan unsur fiksi. Memang secara sekilas kita seperti membaca buku sejarah atau biografi, tapi itu benar-benar karya fiksi.

Beberapa contoh novel berlatar sejarah, misalnya, Cut Nyak Dhien oleh M.H Skelely Lulof; Perempuan Keumala oleh Endang Moerdopo; Napoleon dari Tanah Rencong karya Akmal Nasery Basral; Saksi karya Seno Gumira Adjidarma; Trilogi Imperium, Conspirata, dan Dictator (novel tentang kisah hidup ahli retorika Romawi Cicero) ditulis oleh Robert Harris, atau Genghis Khan ditulis oleh Sam Djang.

Membaca novel-novel tersebut sungguh laksana kita membaca buku sejarah, lantaran data, nama tempat dan tokoh dalam novel tersebut mengandalkan fakta dan dokumen sejarah. Nama-nama tokoh, tempat dan setting kejadian bukan hasil reka penulis, melainkan benar-benar ada dan pernah terjadi.

Nah, tak ayal kehadiran novel berlatar belakang sejarah ini memancing perdebatan lama tentang nilai sejarah yang menempel pada sastra. Hal ini mengundang pertanyaan, mungkinkah novel sejarah dapat menjadi rujukan?
Dan, seperti biasanya muncul dua pendapat yang saling berlawanan: satu membela dan satu lagi mencela. Satu pihak menganggap bahwa bisa saja sastra dijadikan sebagai dokumen atau sumber sejarah. Satu pihak lagi berpendapat bahwa sastra tidak dapat dijadikan sumber sejarah.

Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Asvi Warman Adam, misalnya, berpendapat sastra tidak dapat dijadikan sumber sejarah. Alasannya, kata dia, zaman sekarang sebagian orang tidak lagi memandang sastra sebagai kajian estetika secara otonom. Sejarah dan sastra dalam penilaiannya sama-sama imajinatif.

Asvi menjelaskan, sejarah dibangun dan disusun atas berbagai teks yang masing-masing menyusun versi tentang kenyataan. Hubungan antara karya sastra dan “sejarah”, menurut hematnya, adalah kaitan intertekstual di antara berbagai teks (fiksi maupun faktual) yang diproduksi pada zaman yang sama atau berbeda.

Begawan ilmu sejarah, Kuntowijoyo, menganggap sejarah dan sastra berbeda dalam hal: cara kerja, kebenaran, hasil keseluruhan, dan kesimpulan. Menurutnya, sastra adalah pekerjaan imajinasi di mana kebenaran berada di tangan pengarang alias bersifat subjektif. “Sastra bisa berakhir dengan pertanyaan, sedang sejarah harus memberikan informasi selengkap-lengkapnya,” kata dia.

Pun demikian, tak sedikit pihak yang memandang sah saja jika sastra dijadikan sebagai rujukan sejarah. Pegiat sastra, Misbahus Surur, dalam sebuah kolomnya di Jawa Pos menulis, bahwa karya sastra bisa menjadi rujukan sejarah. Syaratnya, kata dia, sastra harus bisa membuktikan dirinya sebagai ilmu yang bukan hanya bicara persoalan kreativitas dan rentetan imajinasi, tetapi dapat pula berfungsi sebagai dokumen sejarah.

Terlepas dari perdebatan tersebut, kita menangkap adanya kerancuan dalam hal penggunaan istilah novel sejarah. Seperti sudah dipaparkan di atas, novel dan sejarah merupakan dua hal yang berbeda. Novel adalah sebuah karya fiksi, sementara sejarah adalah peristiwa atau kejadian yang benar-benar terjadi di masa lampau.

Istilah novel sejarah dapat membuka peluang terjadinya kesalahpahaman seperti dalam kasus Prabowo. Kita sangat takut ketika orang-orang akan menganggap novel sebagai buku sejarah, padahal novel hanyalah sebuah karya fiksi sekalipun ditulis dengan bersandar pada fakta sejarah.

Ini pula yang ingin dihindari oleh Azhari Aiyub, penulis novel Kura-kura Berjanggut. Ia tak mau novelnya dibaca sebagai novel sejarah!

Source:
– Asvi Warman Adam, Sastra Sejarah: Imajinasi yang Terus Bertanya, Kompas, Sabtu, 22 Desember 2007
– Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, LKIS Yogyakarta, 1995
– Misbahus Surur, Mengais Realitas dalam Novel Sejarah, Harian Jawa Pos, 30 Maret 2008

Image source: 1, 2

Dapatkan Reward dari Steempress Plugin for WordPress

1
Steempress Plugin for Wordpress

Kabar gembira untuk blogger cum steemian yang menggunakan platform wordpress self-hosting. Kehadiran Steempress Plugin for WordPress memberi peluang kepada blogger cum steemian untuk memperoleh reward dari konten yang dipublikasikan melalui plugin steempress.

Steempress (@steempress-io) mengumumkan bahwa mereka baru saja menerima delegasi 1.000.000 steem power, yang digunakan untuk mengkurasi konten yang dipublikasikan ke blockchain steem menggunakan Steempress Plugin for WordPress. Plugin yang dibangun oleh @howo dan @fredrikaa ini memang masih tergolong baru, dan hingga posting ini ditulis pembaharuannya sudah mencapai versi 1.2.1. Sejauh ini baru ada 600 blogger yang menggunakan plugin ini.

Bagi blogger yang selama ini mengeluh bahwa blog-nya (self domain & hosting) terbengkalai sejak aktif menulis di steemit, maka steempress adalah solusi agar blog tersebut tetap terupdate seperti biasa. Steempress memungkinkan para blogger memposting tulisannya melalui blog WordPress dan secara otomatif dikonversi dan diposting ke blockchain Steem. Ini seperti perumpamaan, sekali mendayung satu-dua pulau terlampaui. Tulisannya muncul di blog WordPress dan juga di Steemit.

Untuk Anda yang pertama kali mendengar Steempress Plugin for WordPress, bisa langsung mempelajari plugin ini di halaman deskripsi yang terdapat di WordPress. Di situ tertulis:

>SteemPress is a wordpress plugin to allow you to automatically publish your articles on the STEEM blockchain whenever you publish them on your blog.

Berdasarkan pengalamanku menggunakan plugin ini, bisa kukatakan inilah plugin yang memberikan kesempatan ganda untuk blogger mendapatkan reward dari setiap konten yang ditulisnya di blog WordPress: melalui upvote di Steemit dan layanan iklan yang dipasang di blog WordPress (seperti Google Adsense, Media.net atau iklan dari WordPress sendiri). Pun begitu, kalau Anda hanya blogger biasa saja, dalam artian aplikasi Google Adsense Anda belum disetujui, maka Steempress Plugin for WordPress ini bisa menjadi pelipur hati untuk mendapatkan reward dari konten yang dihasilkan.

Oh ya, plugin Steempress untuk WordPress ini sangat ramah pengguna. Anda tidak harus melakukan setting tambahan untuk menggunakan plugin ini. Bahkan, Anda yang bukan seorang developer website dan tidak memahami bahasa HTML bisa menggunakan plugin ini dengan mudah. Cukup install di blog WordPress Anda, dan masukkan username akun Steemit dan posting key, maka bereslah semua urusan. Karena plugin ini dibuat untuk WordPress maka fiturnya juga dibuat untuk berjalan di platform WordPress: penjadwalan posting, optimasi SEO dan banyak lagi. Di antaranya, Anda bisa mengatur apakah sebuah postingan mau terposting otomatis ke blockchain Steem atau tidak. Di fitur “terbitkan” di halaman posting WordPress, ada pilihan: posting to steem. Anda bisa mencontreng jika menginginkan postingan Anda muncul di steemit.

Seperti kita tahu, fungsi tags di Steemit sangatlah penting dalam mengklasifikasi postingan Anda, maka Anda bisa mengaturnya di halaman posting wordpress: melakukan kustominasi tags untuk setiap artikel. Namun, jika tak mau ribet, Anda bisa mengaturnya di bagian setting plugin untuk tags default. Plugin Steempress juga dibuat untuk membantu blogger mendapatkan audience/pemirsa/pengunjung untuk blognya. Maka, Anda bisa mengatur agar link original selalu muncul di dalam postingan yang terpublish ke steemit.

Upvote dari Steempress
Salah satu keuntungan menggunakan Steempress Plugin for WordPress adalah kita akan mendapatkan upvote otomatis dari @steempress-io yang kini memiliki 1.000.000 Steem Power. Pun begitu, mereka tidak akan asal-asalan dalam memilih, mengkurasi dan meng-upvote sebuah konten. Hal ini untuk kesempatan yang sama kepada para steemian agar mendapat upvote yang adil. Seperti dijelaskan dalam postingan @steempress-io, mereka menetapkan tiga pilar penting saat melakukan voting (upvote).

1. Voting Tinggi untuk Konten Berkualitas
Mereka akan mencari konten-konten berkualitas untuk mendapatkan kurasi. Mereka memprioritaskan mengkurasi konten yang dihasilkan oleh blogger yang selalu menjaga kualitas konten, tidak menyebarkan spam atau melakukan plagiasi. Mereka membuat sebuah alat pencarian khusus untuk menemukan konten yang berkualitas.

2. Voting untuk pengguna baru
Pengguna baru Steempress yang memiliki blog dengan usia tertentu akan mendapatkan sambutan awal yang menyenangkan, dengan syarat konten mereka haruslah asli dan tidak mengandum spam. Ini sebagai bentuk penghargaan mereka kepada para pembuat konten berkualitas. Sambutan yang baik ini diharapkan memberi semangat kepada blogger agar terus menghasilkan konten berkualitas.

3. Random vote
Pengguna blog WordPress biasanya memposting banyak tulisan di blognya. Namun, untuk mencegah hadirnya posting yang terindikasi spam, plagiasi dan berkualitas rendah, maka Steempress memberlakukan sistem voting secara acak, satu upvote per hari per pengguna. Mereka memberlakukan sistem penilaian internal untuk menilai sebuah konten berkualitas tinggi dan rendah, di mana hal ini akan membantu mereka agar tidak salah dalam memberi vote kepada konten berkualitas rendah dengan bobot vote tinggi. Jadi, selama Anda mampu menghasilkan konten berkualitas, maka Anda tidak perlu takut tak mendapat upvote dari Steempress.


Aku pikir, kehadiran steempress ini untuk membantu para para pengguna blog yang ragu-ragu memulai blogging di Steemit. Dengan adanya insentif berupa vote otomatis dari Steempress diharapkan akan menarik banyak pengguna baru atau pemilik 76 juta blog WordPress untuk bergabung dalam ekosistem Steem Blockchain, dan tetap merasa nyaman mengelola blog WordPress sendiri.

Jadi, tunggu apalagi, inilah saatnya Anda mendapat reward dari aktivitas blogging. Saya pikir, Steempress ini dapat menjadi alternatif Google Adsense untuk para blogger yang menambang dollar melalui blog. Untuk menggunakan Steempress, Anda bisa mendownloadnya di Steemprees Plugin for WordPress.

Semoga membantu.

Image source: 1, 2, 3

Sakit Lele dan Cerita Humor Orang Aceh

0
cerita humor

Ada banyak cara menghibur diri atau menjaga agar pikiran tetap waras dan tidak stres. Aku biasanya menonton stand-up comedy, menonton film comedy, membaca cerita humor atau selemah-lemahnya ‘cara’ mendengar musik. Kata orang, cerita humor bisa merelaksasi otak. Orang yang banyak tertawa (dalam batas wajar) jarang terkena stres.

Aku tak banyak mengoleksi cerita humor, tapi aku cukup sering mendengar cerita humor dari teman. Cerita-cerita ini kadangkala muncul seketika saat pikiranku sedang kusut atau ketika membaca sesuatu, lalu terlintaslah cerita humor yang pernah diceritakan oleh teman begitu saja. Biasanya, aku akan tersenyum-senyum sendiri seperti baru saja mendapat hadiah. Hal yang sama juga aku alami tiap kali menonton video stand-up comedy di Youtube, dan itu sangat menghibur. Anda tidak perlu harus memiliki banyak uang untuk menikmati hiburan gratis.

Sewaktu masih tinggal di Jakarta, aku dikasih sebuah buku berisi cerita-cerita humor para jurnalis yang meliput di Aceh. Judulnya, Geer Aceh Merdeka (2003) karya Tri Agus S Siswowiharjo. Boleh dibilang buku ini semacam buku mati ketawa cara Aceh. Buku berukuran kecil ini berisi 200 cerita humor, baik yang berasal dari masyarakat Aceh atau berasal dari wartawan yang meliput di Aceh. Bolehlah untuk sekadar menghibur diri. Dari 200 humor yang dihimpun dalam buku terbitan Garba Budaya itu, ada yang berasal dari kisah nyata dan ada pula hanya humor murni.


Salah satu cerita humor yang paling aku ingat adalah dialog antara orang Aceh dengan orang dari Maluku (kalau tidak salah). Keduanya baru saja tiba dari daerah masing-masing, dan belum begitu hafal nama daerah di Jakarta. Mereka secara kebetulan punya janji bertemu dengan teman mereka di kawasan Tanah Abang, salah satu pasar grosir terbesar di Asia Tenggara (katanya sih begitu).

“Apakah ini Tanah Abang?” tanya pemuda dari Maluku kepada polem dari Aceh. Usia mereka boleh dibilang sebaya. Si Pemuda Aceh ini jelas terkejut. Soalnya dia juga baru datang dari Aceh, dan sama sekali belum sanggup beli tanah di Jakarta.

“Bukan, ini bukan tanah abang,” jawab pemuda Aceh. “Saya juga baru datang dari Aceh dan belum sanggup membeli tanah di Jakarta. Tanah di sini harganya mahal-mahal,” sambungnya.

Di Aceh, kata ‘Abang’ adalah sapaan untuk orang yang lebih tua dari kita. Memanggil seseorang dengan sebutan ‘abang’ dimaksudkan untuk menghormati. Kata ‘abang’ di Aceh serupa dengan sebutan ‘bli’ di Bali, ‘uda’ di Padang atau ‘mas’ di Jawa. Si pemuda Aceh itu mengira kata ‘Abang’ dari Tanah Abang berarti tanah miliknya. Padahal yang dimaksud oleh si orang Maluku adalah nama daerah di Jakarta, Tanah Abang.

Orang Aceh memang sering bermasalah dalam hal bahasa ketika berhadapan dengan orang dari luar Aceh. Malah, saat konflik, masalah bahasa ini kerap mengundang celaka. Misalnya, cerita soal kasus pembakaran sebuah ban bekas di pedalaman Aceh. Ketika datang tentara dari Koramil dan menanyakan, “siapa yang bakar di sini,” maka kontan dijawab “saya, pak” oleh orang bernama Abubakar dan di kampung dia dipanggil Bakar saja. (orang Aceh paling jago menyingkat nama). Tak pelak, si Abukabar itu pun menjadi bulan-bulanan aparat. Padahal, si tentara itu bukan menanyakan nama orang melainkan siapa yang melakukan pembakaran.

Hal yang sama juga kerap dialami oleh anggota jaga malam. Saat Aceh dibalut konflik, di tiap desa diwajibkan kegiatan sistem keamanan lingkungan (siskamling) atau lebih dikenal dengan jaga malam. Biasanya jumlah anggota regu jaga malam setiap malamnya adalah 7 orang. Aparat keamanan dari kecamatan kerap melakukan patroli ke kampung-kampung di malam hari untuk mencari anggota GAM. Mereka biasanya akan mendatangi pos jaga. Lalu, terjadilah sebuah percakapan yang konyol.

“Berapa jumlah anggota jaga malam di pos ini,” tanya seorang tentara yang di-BKO-kan di Koramil setempat.

“Tidak kubilang, pak!” jawab ketua regu jaga.

Maka, ‘plak!’ satu tamparan keras mendarat di wajah sang ketua regu jaga. Kekerasan yang menimpa sang ketua regu jaga murni karena masalah komunikasi dan kendala bahasa. Si tentara sebenarnya menanyakan berapa anggota jaga malam, yang sebenarnya bisa langsung dijawab, ‘6 orang’ karena salah satu anggota jaga sakit. Karena sedang panik, sang ketua regu tak mampu menjawab lancar. Dia mengatakan ‘tidak kubilang’ dengan maksud bahwa dia belum menghitungnya. Hitung dalam bahasa Aceh adalah ‘bilueng’ dan karena tak mau ribet langsung menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai ‘bilang’. “Tidak kubilang” maksud sebenarnya adalah ‘tidak saya hitung.’

Terakhir, cerita soal kendala bahasa aku dengar dari Mustafa A Glanggang, mantan Bupati Bireuen. Bagiku, Pak Mus, begitu biasanya aku sapa beliau memiliki koleksi humor atau cerita konyol yang lumayan banyak. Suatu hari, saat kami sedang menikmati juice di Rex Peunayong, dia menceritakan kisah seorang atlit lempar lembing dari Bireuen yang seperti orang Aceh lainnya tidak lancar berbahasa Indonesia.

Suatu hari, cerita Pak Mus, si atlit ini yang disapa Dek Lot (karena anak paling bungsu) dipanggil untuk mengikuti TC PON di luar daerah (Medan). Dia dipersiapkan untuk memperkuat Aceh dalam pesta olahraga nasional itu. Namun, selagi mengikuti TC, dia mengeluh sakit di perutnya. Sakit yang dideritanya sejenis masuk angin atau perut busung. Perutnya mengalami nyeri yang tidak biasa. Biasanya, kalau penyakit ini kambuh, Dek Lot cuma diobati dengan obat kampung berupa on lawah (atau pucuk daun jarak).

Karena sedang TC, petugas kesehatan yang mendampinginya tentu saja tak bisa mencari daun jarak. Lalu, petugas kesehatan, sebut saja namanya Si Pulan, berinisiatif membawa Dek Lot ke rumah sakit umum. Soalnya, dia sendiri tak bisa menanganinya setelah tiga jam lebih Dek Lot mengeluh sakit di perutnya. Maka dibawalah Dek Lot ke rumah sakit umum, untuk ditangani oleh dr Sinaga.

Sebelum ditangani oleh dr Sinaga, petugas kesehatan yang mendampingi Dek Lot sudah menceritakan keluhan sakit yang dialami atlit lempar lembing itu kepada perawat. Petugas kesehatan itulah juru bicara Dek Lot selama berada di rumah sakit. Dek Lot punya kendala dalam berbahasa Indonesia, dan hanya paham saja jika ada orang yang berbicara.

Sialnya, ketika dr Sinaga datang memeriksa, petugas kesehatan yang mendampinginya sedang menyeruput kopi di kantin belakang. Sementara si perawat tadi tak ikut mendampingi sang dokter. Mulailah dr Sinaga berbicara dengan pasien.

“Selamat pagi, pak” sapa dokter ramah. Dek Lot hanya mengangguk saja alih-alih mengganti membalas selamat pagi juga. Dia agak canggung tiap ada orang yang mengajaknya bicara dalam bahasa Indonesia. Si dokter melihat sekilas kertas yang berada di tangannya.

“Apa keluhan perut bapak sekarang?” tanya dokter lagi. “Apakah perut bapak merasa perih?”

Dek Lot tak menjawab. Dia diam saja. Kendala bahasa telah membuatnya berjarak dengan sang dokter yang menanganinya. Dalam hati dia berharap petugas kesehatan yang mendampinginya segara datang dan membebaskannya dari situasi gamang seperti itu. Karena tak mendapat jawaban dari Dek Lot, maka dokter Sinaga kembali bertanya, “apa bapak bisa mendengar pertanyaan saya?” Lagi-lagi tak ada jawaban dari Dek Lot.

Dokter lalu mendekat ke ranjang tempat Dek Lot berbaring, dan dengan pengalamannya sebagai dokter dia melakukan apa yang dipelajarinya di kampus atau hal yang sering dilakukan kepada pasien. Dia menekan perut Dek Lot dengan pelan. “Kalau saya tekan begini, apakah bapak merasa sakit?”

Seperti sebelumnya, pertanyaan itu juga tidak mendapat tanggapan. Dokter itu terus saja melakukan tugasnya, dan kembali bertanya pertanyaan serupa. Merasa sudah tak mungkin lagi mengharapkan petugas kesehatan membantunya, maka Dek Lot pun memberitahu keluhan dan penyakit apa yang dideritanya. Karena perutnya terus ditekan, maka Dek Lot pun dengan polosnya menjawab. “Kalau ditekan sakit pak. Sakit Lele,” jawabnya.

Kini, giliran dokter Sinaga yang bingung. Dia berpikir kalau pasiennya baru saja memakan ikan lele dan ada tulang yang tersangkut di perutnya. Karena ragu dengan apa yang didengarnya barusan, sang dokter bertanya lagi, “sakit apa, pak!”

“Sakit Lele, dok!” jawab Dek Lot dengan suara sedikit tinggi. Bisa jadi, Dek Lot sudah tak tahan lagi dengan sakit di perutnya setelah ditekan-tekan. Dokter itu hampir saja menyerah jika saja petugas kesehatan yang mendampingi Dek Lot tidak segera datang. Dia muncul dari balik pintu dan segera bergabung dengan mereka.


Setelah dokter berbicara dengan petugas kesehatan itu, wajah dokter segera berubah. Dia tampak tersenyum dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Barulah dia paham kenapa Dek Lot mengatakan sakit yang dideritanya itu “Sakit Lele”.

Di Aceh, ikan lele itu disebut dengan seungko atau sengko. Sementara sakit yang diderita oleh Dek Lot itu di Aceh dikenal dengan seungkoe. Karena keterbatasan bahasa, maka Dek Lot langsung saja menyebut sakitnya dengan ‘sakit Lele’ karena hanya kata itu yang diketahuinya, terjemahan dari kata seungko. Pernahkah kalian menderita sakit lele?[]

Image source: 1, 2, 3

Belajar dari Belanda Soal Air Bersih

0
air bersih

Rakyat berhak atas air dan udara segar, fasilitas umum air bersih langsung bisa minum setiap desa dan rumah harus ada.

Pada tanggal 2 April 2018 lalu, aktivis yang pernah diberi label “musuh negara”, Aguswandi BR, memberi masukan yang sangat bernas untuk mewujudkan #acehhebat melalui status Facebook. Dari 27 masukan mantan aktivis SMUR itu, saya tertarik pada idenya soal penyediaan air minum yang langsung bisa diminum dan tersedia di setiap rumah. Aguswandi yang kini bekerja di sebuah lembaga PBB itu dikenal kerap mengunjungi banyak negara di dunia, dan dia sudah melihat banyak hal terutama soal ide yang diusulkannya: air dan udara bersih!

Soal air kita harus banyak belajar dari Belanda, negeri yang pernah menjajah Indonesia selama 350 tahun! Negeri bekas penjajah itu yang luasnya tak sebesar pulau Jawa itu dikenal memiliki banyak terobosan dan inovasi terutama di bidang pengelolaan air.

Sebagai negara yang dulunya begitu akrab dengan banjir dan secara topografi letaknya lebih rendah dari permukaan laut, sejak lama dua pertiga wilayahnya diprediksi akan tenggelam. Namun, Belanda mampu bertahan dari bencana ekologis tersebut karena memiliki struktur perlindungan banjir, pembangunan pesisir terpadu dan pengelolaan DAS yang lebih baik. Dalam ketiga bidang ini, Belanda diyakini lebih inovatif dibanding negara lain.

Letak geografis yang tidak menguntungkan itu justru membuat Belanda menjadi spesialis dalam hal pengelolan air. Negara lain banyak meminta bantuan dari Belanda untuk menangani soal beginian. Para teknisi dari negeri kincir angin itu kerap diundang oleh negara lain untuk menangani masalah air.

Diakui atau tidak, pengalaman yang dimiliki oleh Belanda selama berabad-abad dalam pengelolaan air ini mendapat pengakuan dari seluruh dunia. Teknisi pengelolaan air dari Belanda ikut membantu rekonstruksi tanggul di New Orleans, Amerika dan pembangunan sistem perlindungan banjir di London, Venice dan St Petersburg.

Hingga kini di Belanda ada sekitar 2000 perusahaan yang aktif di sektor air. Sebanyak 1500 di antaranya bergerak di bidang teknologi air dan 500 lainnya dalam teknologi delta. Pada tahun 2008, omset sektor air Belanda (domestik dan ekspor) sebesar 16,4 miliar euro, di mana 57 persen di antaranya diperoleh oleh perusahaan-perusahaan teknologi air.

Pada tahun yang sama, nilai ekspornya mencapai 6,5 miliar euro. Sekadar diketahui, Delta Works sebagai proyek perlindungan banjir terbesar di dunia sukses menyelesaikan lebih dari 16.500 kilometer tanggul dan 300 strukturnya. Dan hal itu dilakukan oleh negara bekas penjajah kita, saudara-saudara!

Salah satu inovasi Belanda di bidang pengelolaan air bersih adalah apa yang dikembangkan Dutch Rainmaker, yaitu memisahkan air tawar dan air asin melalui layar udara. Kok bisa? Mereka memang punya keahlian menyulap air dari udara. Melalui teknologi turbin angin mereka mengawinkan produksi air dan keahlian pemurnian secara berkelanjutan mengekstraksi air dari udara. Ide memanfaatkan tenaga angin untuk mengambil uap air dari udara memang bukan hal baru bagi banyak perusahaan di Belanda. Namun, mereka terus menyempurnakan teknik yang boleh dibilang unik ini, yaitu memanen air tanpa menggunakan pasokan energi eksternal.

Pendekatan inovatif ini mengundang perhatian di Forum Eco-inovasi Eropa ke-5, European Committee of Environmental Technology Suppliers Associations (EUCETSA). Proyek ini didukung oleh Ashok Bhalotra, arsitek Heerhugowaard’s City of the Sun, daerah perumahaan CO2 terbesar di dunia. Menurut Gerard Schouten dari Dutch Rainmaker, sistem yang dikembangkan mereka sama sekali tidak bergantung pada listrik. “Turbin angin menggerakkan pompa pemanas yang mendinginkan udara dari bawah, mirip cara kerja dalam sistem AC,” katanya.

Sebagai daerah dengan kondisi kelembaban di atas rata-rata, Belanda memang cocok memanfaatkan sistem tersebut. Apalagi, sifat udara memang selalu mengandung air. Bayangkan saja, 1 kg udara pada 20°C dengan kelembaban relatif (RH) 50% mengandung sekitar 7 gram air, sementara pada 30°C dan 50% RH, mengandung hampir 14 gram. Jadi sangat wajar, jika sistem dari Belanda Rainmaker ini cocok untuk daerah kurang hujan atau memiliki jumlah air asin cukup besar.

“Sistem ini menghasilkan 10 sampai 20 kali lebih kecil dari kincir angin rata-rata di Belanda dan memiliki produksi harian 7 000 liter,” kata Schouten. Melalui sistem ini, mereka mengekstraksi air minum dari air asin atau air yang tercemar. Hebatnya lagi, sistem ini sama sekali tidak dimaksudkan sebagai instalasi pemurnian, melainkan menghilangkan kandungan garam.

Negeri Belanda memang ditakdirkan mendapat karunia berupa melimpahnya sumber air: dalam bentuk danau, sungai atau kanal. Tapi, dengan sistem Rainmaker tersebut, Belanda mampu mengubah air yang tak layak konsumsi tersebut menjadi aman untuk dikonsumsi: air bersih. Sistem yang mampu bertahan 20 tahun itu sangat ramah lingkungan. Nah, luar biasa bukan?

Sudah selayaknya, Aceh yang sering bermasalah dengan air bersih belajar dan mencuri teknologi dari Belanda soal pengelolaan air. Minimal, tak ada lagi warga yang merepet tiap kali pasokan air dari perusahaan air minum pemerintah tersendat-sendat!

Image source: 1, 2, 3

Referensi
– http://ec.europa.eu/environment/ecoap/about-eco-innovation/good-practices/netherlands/560_en.htm
– http://www.government.nl/documents-and-publications/leaflets/2014/03/01/water-innovations-in-the-netherlands.html
– http://www.hollandtrade.com/sector-information/water/?bstnum=4887
– http://www.hollandtrade.com/sector%2Dinformation/water/water%2Dtechnologies/?bstnum=4931

Masa Depan Kebebasan Internet

0

Internet akan membawa demokrasi ke China.

Kalimat itu aku baca dari buku Masa Depan Kebebasan: Penyimpangan Demokrasi Amerika dan Negara Lain (2004) karya penulis dan kolumnis Amerika kelahiran India, Fareed Zakaria. Namun, hingga kini, Cina masih mengontrol penggunaan internet secara ketat dan beberapa situs dan media sosial masih diblokir rezim komunis itu.

Tahun 2015 silam, negara kita melalui Kominfo melakukan sebuah blunder yang sangat fatal: menutup 22 situs yang dianggap menyebarkan paham radikalisme di Indonesia. Kehadiran internet, tak pelak telah membawa radikalisme melintasi batas-batas negara, tak terkecuali Indonesia!

Pasca penutupan situs-situs ‘radikal’ tersebut, di media sosial seperti Twitter dan Facebook, para netizen, terutama dari kalangan Islam mempertanyakan alasan di balik penutupan situs islam tersebut. Bahkan, hashtag #KembalikanMediaIslam sempat menjadi topik populer atau trending topic dunia di twitter.

Kebijakan itu tentu saja ditanggapi dengan opini beragam. Ada yang setuju dan tak sedikit yang menolak. Pihak yang menolak menganggap kebijakan itu sebagai bagian dari sydrome islamophobia.

Dewan Pers sebagai lembaga yang mengurusi kebebasan pers menganggap penutupan tersebut sebagai langkah terburu-buru. Kala itu, Stanley Adi Prasetyo dalam sebuah diskusi dengan anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia mengemukakan bahwa situs yang ditutup tersebut bukan produk jurnalistik. Pun begitu, anggota dewan pers ini menyarankan agar penanganan situs tersebut perlu kehati-hatian. Dewan pers, katanya, tak berwenang memediasi terkait situs-situs tersebut.

Terakhir, beberapa situs yang diblokir itu kembali dapat diakses setelah sebelumnya selalu muncul “internet positif” tiap kali pengunjung mengaksesnya. Kini kebijakan ‘internet positif’ masih sering kita jumpai saat mengakses situs yang menyediakan layanan download film gratis atau situs berbau pornografi.

masa depan kebebasan
Blog radikal
Tak pelak, penutupan situs tersebut membuka lagi debat soal masa depan kebebasan pers di internet. Kemudahan layanan internet, membuka peluang untuk semua orang membeli domain dan hosting dengan mudah dan murah. Masing-masing orang bisa memiliki media sendiri tanpa perlu mengeluarkan banyak uang dan aturan pengurusan yang berbelit-belit. Inilah era di mana kehadiran situs berita dan blog tumbuh seperti jamur di musim hujan.

Fenomena ini dapat dimaklumi. Di era konfergensi media, semua orang dapat bertindak sebagai publisher, membangun media online dan blog secara leluasa. Penyebaran informasi tak lagi menjadi monopoli media dan para wartawan. Pembaca tak lagi hanya sebagai penikmati berita, melainkan juga dapat bertindak sebagai penyampai berita.

Makin hari, semakin banyak saja media online yang lahir. Dari yang memiliki kantor, personil lengkap, punya alamat yang jelas hingga media siluman yang tak pernah kita tahu siapa pemilik dan di mana alamatnya. Tak semua media/blog ini diniatkan sebagai sumber informasi, karena ada juga yang menjadikannya sebagai ‘media jihad’ melawan kezaliman negara.

Menguatnya paham radikalisme di Indonesia salah satunya dipandang karena keberadaan situs-situs yang menyebarkan paham radikal tersebut. Lalu, apakah cara melawan penyebaran informasi ini cukup hanya dengan pemblokiran? Ini pertanyaan sederhana yang perlu dijawab secara tuntas. Sebab, tanpa penanganan lebih lanjut, pemblokiran hanya berhenti pada berhentinya sebuah situs saja, tetapi di lain waktu, situs-situs lain yang sejenis akan terus bermunculan.

Cukup beralasan jika ada yang memberi saran bahwa masalah ini perlu dipecahkan secara serius dan hati-hati. Salah satunya dengan memberi penyadaran kepada publik agar tidak mudah termakan hasutan dan percaya dengan media penyebar hoax. Aturan hukum memang diperlukan tetap jangan sampai justru menjadi pengekang kebebasan. Kita tak ingin pengalaman Rusia dalam menangani blog dan blogger diadopsi oleh negara kita.

Seperti kita tahu, setelah konflik di Ukraina meletus, Pemerintah Rusia memperlakukan aturan yang sangat ketat terhadap media online dan blog. Secara khusus pemerintah membangun suatu infrastruktur internet yang ditujukan untuk menutup akses ke website dan blog yang dianggap mengganggu. Media online dan blog yang memiliki pengunjung yang signifikan perharinya harus melaporkan ke badan khusus yang memantau lalulintas internet.

Melalui regulasi tersebut seluruh blogger di Rusia diwajibkan mendaftarkan dirinya ke database pemerintah. Mulai dari nama depan, nama keluarga atau nama belakang, inisial nama dan email yang sudah terverifikasi. Kebijakan akan memudahkan pemerintah untuk mengontrol aktivitas para blogger dan menjatuhkan sanksinya. Bahkan, mereka juga membuat klasifikasi khusus: media umum dan blog. Keduanya dimasukkan dalam database yang berbeda agar mudah dikontrol.

Sementara di beberapa negara lain, layanan seperti Twitter, Facebook atau Youtube diblokir. Alasannya, selain untuk meminimalisir kritik dan perlawanan terhadap pemerintah juga untuk mengantisipasi pengaruh buruk dari media online tersebut. Turki, belakangan juga menutup layanan Twitter dan Facebook. Demikian juga dengan Singapura, Malaysia dan beberapa negara Timur Tengah.

Internet bebas
Sejak sebulan lalu, tiap kali membuat dashboard blog, aku selalu disuguhkan informasi begini: European Union laws require you to give European Union visitors information about cookies used and data collected on your blog. In many cases, these laws also require you to obtain consent. Google termasuk sangat konsen dalam menjaga data dan informasi pengguna. Sejak kasus pembocoran jutaan data pengguna Facebook oleh Columbia Analytic, semua pihak mulai berhati-hati dengan data para penggunanya.

Apa yang ingin kusampaikan adalah keliru sebenarnya jika menganggap bahwa di internet itu serba bebas dan tak terbatas. Google, sebagai situs pencarian terbesar di dunia, pernah mewacanakan untuk menutup blog-blog yang berisi pornografi. Tetapi, sebelum rencana itu terlaksana, banyak pengguna internet melayangkan surat ke google bahwa upaya tersebut melanggar hak berekpresi dan kebebasan pengguna. Google pun memperlakukan aturan ‘cukup umur’ untuk mengakses layanan tersebut.


Google yang dipandang sebagai situs yang sangat bebas, mendapatkan gugatan hukum di Eropa oleh Mario Costeja, seorang warga Spanyol. Ceritanya, dililit kasus keuangan membuat rumahnya harus dilelang, lalu beritanya dimuat oleh media di Spanyol, dan terindex oleh Google. Belasan tahun kemudian, ketika masalahnya selesai dan hutang pajaknya terlunasi, Mario ingin melupakan masalah yang menimpanya. Sialnya, setiap kali dia mengetik namanya di mesin pencari Google, berita tentang rumahnya yang dilelang itu selalu muncul.

Dia pun menggugat Google dan meminta agar tautan berita tentang dirinya dihapus oleh mesin pencari itu. Setelah Mahkamah Eropa turun tangan, kasus ini pun mendapat titik terang. Dalam kasus Mario vs Google, mahkamah memutuskan Google melanggar hak privasi orang lain, dan memerintahkan situs yang dibangun Sergey Brin itu untuk menghapuskan beberapa konten. Keputusan ini kemudian dikenal oleh netizen sebagai ‘right to forget’ atau hak untuk dilupakan.

Dari informasi yang aku baca, konsep ‘hak untuk dilupakan’ ini terinspirasi dari proteksi hukum Perancis dan Jerman pada abad ke-19. Dalam konsep ini, kedua negara mengizinkan duel untuk mempertahankan kehormatan seseorang. Coba, betapa menggelikan, bukan?

Di atas segalanya, penyadaran kembali umat Islam akan bahaya radikalisme dan gangguan atas keutuhan bangsa jauh lebih membantu, daripada pemblokiran yang sama sekali tak efektif untuk jangka panjang. Pemblokiran sifatnya hanya sementara, dan situs-situs sejenis akan kembali meramaikan dunia media, bahkan dalam jumlah yang tidak bisa kita perkirakan. []

Note: tulisan masa depan kebebasan internet ini ditulis tahun 2015, dan saya temukan lagi ketika membuka arsip lama.

Image source: [1](http://4.bp.blogspot.com/-fFL8_0UQBfE/VLYDC02d4qI/AAAAAAAAA_Q/bWKcO9HoWzs/s1600/privasi%2Binternet.jpg), [2](https://kabarkota.com/wp-content/uploads/2015/12/4ilustrasiblog.postofficeshop.jpg), [3](https://cdn.freshome.com/wp-content/uploads/2015/02/design-modern-working-Google-budapest.jpg)

Ini Alasan Zidane Mundur dari Real Madrid

0
Alasan Zidane Mundur

LONDON | ACEHPUNGO.COM – Gabriele Marcotti, seorang jurnalis dan penulis olahraga asal Italia yang berbasis di Inggris, mengungkapkan alasan Zidane mundur dari Real Madrid. Dalam tulisannya di ESPN.com, Kamis (31/5/2018), Marcotti menulis sebenarnya pada Rabu lalu Zidane belum memutuskan untuk mundur. “No,” jawab Zidane.

Zidane adalah pelatih fenomenal dan berkesempatan menjadi manajer pertama yang memenangkan empat Piala Eropa (Liga Champions). Namun, keputusannya mundur dari kursi pelatih Real Madrid setelah empat hari lalu memimpin Christiano Ronaldo Cs mengejutkan banyak pihak. Pasalnya, reputasi pelatih berjuluk Zizou itu sangat mengagumkan: membawa Real Madrid memenangkan mahkota Liga Champions tiga kali berturut-turut.

Saat mengumumkan mundur, pelatih berkepala plontos itu menggunakan kata “desgaste”. Menurut Marcotti, kata desgaste itu serupa dengan istilah yang digunakan oleh Pep Guardiola ketika dia meninggalkan Camp Nou enam tahun lalu, di mana kata itu memiliki arti khusus. “Usang, kehabisan bensin.” Namun dia juga mengatakan dia tidak lelah: “Saya sudah melakukan ini selama tiga tahun, saya tentu tidak kehabisan energi,” kata Zidane dalam konferensi pers di depan wartawan.

Marcotti menyebutkan, Zidane menggemakan pepatah sepak bola lama di mana jika Anda ingin terus menang dari waktu ke waktu, setiap beberapa tahun Anda perlu mengubah pemain atau pelatih.

“Waktunya tepat,” kata Zidane. “Itu bukan keputusan yang saya anggap enteng. Saya memikirkannya dengan hati-hati dan itu keputusan yang tepat, meskipun saya membayangkan banyak yang tidak setuju. Setelah tiga tahun, Real Madrid membutuhkan perubahan, cara lain untuk bekerja, gagasan lain, jika kita adalah untuk terus menang. Saya merasa itu akan sulit untuk terus menang. Dan karena saya seorang pemenang, saya akan pergi,” sambung Zidane.

Dalam catatan Marcotti, alasan Zidane mundur cukup masuk akal. Dia sudah memperhitungkannya secara matang. Zidane tahu bahwa kemenangannya di Kiev kontra Liverpool sebuah pencapaian yang luar biasa melihat performa Madrid di Laliga, finish di tempat ketiga dengan selisih 17 poin dari pemuncak klasemen, Barcelona. Zizou tidak bisa menjamin musim depan bisa bersaing dengan Barcelona, Paris Saint Germain, Juventus atau Bayern Muenchen di Liga Champions.

“Dahsyatnya berjalan jauh saat berada di ambang semakin memantapkan tempatnya dalam keabadian sepakbola sangat mengejutkan – terutama karena ini adalah tim yang dibangun untuk menang di sini dan sekarang,” tulis Morcotti di balik keputusan Zidane mundur.

Bagi Marcotti, Zidane tidak seperti orang lain sebagai pemain, dan dia tidak seperti orang lain sebagai manajer. “Dia hanya Zizou,” tulis jurnalis Italia itu dalam kolomnya di ESPN.com.

Terbaru

Lewat ke baris perkakas