Rabu, Agustus 22, 2018
Cerpen: Mahdi Idris Setelah kami berpisah sekian lama, akhirnya waktu jualah yang mempertemukan kami di sebuah kota. Entah dia sengaja menemuiku di sini atau tidak menduga sama sekali bahwa aku telah berada di kota ini. Kukira, pertemuan ini samar-samar.  Aku...
Oleh: Ferdian A Majni Matahari meronta di batas langit timur. Semilir angin memungut embun yang berlomba membasahi daun segala daun. Rinai embun semalam juga masih lembap di atap gubuk tua itu. Aku masih dalam peraduan dengan posisi bersujud. Lalu aku...
Suatu hari beberapa minggu yang lalu. Sebuah bungkusan plastik biru tergeletak di pinggir trotoar, kuabaikan saja dan aku terus berjalan. Memoriku mengatakan di dalam plastik itu ada kertas yang sangat familiar dimataku. Aku tidak peduli, terus melangkah. Tapi, lagi-lagi...
Tak pernah lupa aku pada puisi-puisi pendek yang kerap datang ketika matahari telah dhuha, atau ketika petang mulai menjelang. Bagaimana mungkin aku bisa lupa, puisi-puisi itu telah mengembalikan seluruh imajinasiku yang sempat karam oleh trauma masa lalu. Puisi-puisi yang kuyakini...
Nurul masuk kamar sebentar. Ah, tersenyum malu-malu dia. Lantas buru-buru keluar lagi. Semenit sebelumnya ia sempat masuk kamar juga dan menyodorkanku selembar sarung motif kotak-kotak cap Gajah Duduk. “Bentar, ke belakang dulu. Abang udah ke belakang?” tanyanya. Di daerah kami...
Mentari pagi  menyeruak dari celah jendela kontrakanku. Warnanya yang keemasan memancing gairah setiap hamba untuk terus berpacu mengarungi hari, seakan tak peduli suatu hari nanti mentari akan berganti warna. Tepat jam 10 pagi. Gemuruh suara pesawat Garuda menembus bilik peristirahatanku,...
Baca dulu Suatu Sore di Musim Gugur (1) Duduk dua jam membolak balik buku Gramatica Italiana membuat punggungku kebas. Aku berdiri dan berjalan-jalan mengitari ruang tamu apartemen kecil kami untuk menyegarkan otot-ototku. Kata orang duduk lama memang tidak bagus pada...
Angin membawa aroma asin. Angin menerbangkan amis ikan hingga ke tengah perkampungan. Angin menyibak gemawan dan mempertegas bulan sabit dan gemintang, pertanda kapan nelayan akan berangkat ke lautan. Angin membawa kedamaian, kemarahan, hingga hawa mesum persenggamaan. Termasuk membawa segenap...
- Advertisement -

Terbaru

0FansSuka
0PengikutMengikuti
5,507PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
Lewat ke baris perkakas