Aku dan Cak Nur (Bagian Terakhir dari Dua Tulisan)

198
Muhammad Alkaf

Maksud hati untuk bertemu langsung dengan Cak Nur akhirnya kesampaian juga. Tahun 2003 Fakultas Hukum Unsyiah di Gedung AAC Dayan Dawood, mengadakan kuliah umum dan menghadirkan Cak Nur sebagai pembicara. Cak Nur saat itu hadir dalam rangka syafari sebagai peserta konvensi presiden Partai Golkar.

Tentang keikut sertaan Cak Nur dalam konvensi itu, aku sempat berdebat dengan seorang teman. Katanya adalah satu kesalahan keptusan Cak Nur mengikuti konvensi presiden terssebut, akan tapi aku membantahnya, bagi-ku keikutsertaan Cak Nur lakukan itu adalah bagian dari pendidikan politik. Cak Nur ingin menjelaskan bahwa partai yang baik adalah partai yang terbuka, dimana orang yang diluar-pun juga bisa berpartisipas dalam proses politik internalnya.

Tidak hanya itu partai yang baik adalah partai yang bersih dan juga adil. Itulah mengapa Cak Nur kemudian memutuskan untuk tidak melanjutkan untuk mengikuti proses konvensi sampai dengan selesai, karena setelah berkeliling maka yang didapati adalah bukan pertanyaan mengenai platform politik yang sudah ditulisnya sebelum benar-benar menjadi calon presiden, melainkan pertanyaan tentang ‘gizi’ dan keikutsertaan Akbar Tanjung dalam konvensi tersebut.

Kembali ke kuliah umum itu. Itulah pertama kali saya melihat dan mendengar langsung Cak Nur bicara. Cara bicaranya betul-betul mengagumkan ketika Cak Nur membicarakan tentang visinya mengenai kebangsaan.

Kuliah umum itu hari itu Jumat, aku ingat sekali, sebab setelah menyampaikan ceramah di Unsyiah, Cak Nur menjadi khatib di Mesjid Raya Baiturrahman. Isi khutbahnya mengenai ketaqwaan. Bila di Unsyiah Cak Nur berbicara sebagai negarawan ulung, di mesjid Raya Cak Nur menjelma menjadi ahli sufi.

Yang membuat berkesan adalah dalam ceramah itu adalah aku mendapat kesempatan untuk bertanya. Sebenarnya moderator tidak menunjuk aku, namun karena duduk di balkon atas, maka ketika panitia menyerahkan mic kepada ku, moderator membiarkan saja. Pertanyaan aku hadir dalam pertanyaan-pertanyaan peserta lainnya.

Aku hanya bertanya dua hal saja, yang aku ingat terus sampai sekarang, karena Cak Nur mengatakan ketika hendak menjawab pertanyaan tersebut ‘pertanyaan ini penting sekali’.

Saat itu aku menanyakan tentang apakah slogan ‘Islam Yes Partai Islam No?’ masih relevan dan mengenai pluralitas kebangsaan. Aku ingat bahwa Cak Nur menjawab itu panjang lebar bahkan paling lama durasinya dibanding pertanyaan-pertanyaan lain. Dan hal itu sangat berkesan sekali.

***

Aku kira Cak Nur adalah salah satu cendekiawan yang termasuk paling dihormati di negara ini. Walau pernah menghentak Indonesia dengan lompatan pikirannya, namun tidak kemudian membuat hal itu dia dibenci. Sebagai bukti karena hal itu menarik adalah diterbitkannya kumpulan khutbah Jumat mesjid Raya Baiturrahman, nama Cak Nur adalah yang pertama tama diantara khatib lainnya. Bagi ku itu bisa menunjukkan penghormatan yang luas terhadap Cak Nur.

Memang Cak Nur berbeda dan sering salah dipahami. Aksinya intelektualnya sering dianggap meresahkan, sehingga berbagai tudingan dialamatkan kepadanya yang terkadang sudah diluar batas adab agama dan kebudayaan. Padahal bila kita menyimak pikiran-pikirannya maka akan terlihat kebaikan budinya.

Para pengkritik gerakan pemikiran liberal di Indonesia mengatakan bahwa memang benar Cak Nur berfikir ‘maju’, namun dia tidak pernah mengolok-olok hal-hal yang dianggap sakral dalam agama, sesuatu yang berbeda dari kelompok yang menamakan dirinya ‘liberal’ hari ini.

Posisi Cak Nur bagi ku harus diletakkan dalam kontuinitas bangunan Islam dan kebangsaan. Tidak tepat kemudian bila menyebutkan Cak Nur pelopor sekularisme.

Secara personal dia anak tokoh Masyumi, hal yang menurut hemat ku telah memberi pengaruh dalam pengambilan keputusan untuk manjadi juru kampanye utk PPP pada Pemilu 1977, padahal tujuh tahun sebelumnya dia mengatakan Islam Yes Partai Islam No. alasan Cak Nur agar ada keseimbangan politik, lalu kalau utk keseimbangan mengapa tidak menjadi juru kampanye utk PDI?

Lalu mengapa Cak Nur juga mau bergabung dengan ICMI atau mengapa Cak Nur sangat mengagumi tokoh-tokoh awal Masyumi. Pertanyaan-pertanyaan ini kemudian bisa membuat banyak pihak yang masih salah sangka terhadap Cak Nur bisa berfikir ulang.

Bagi ku, Cak Nur, dan juga Gus Dur telah meletakkan dasar-dasar kehidupan kebangsaan yang memudahkan bangsa ini berjalan ke depan. Kebingungan untuk menentukan apakah berislam atau berbangsa telah berhasil sedikit banyaknya diselesaikan oleh Cak Nur. Dan partai-partai politik, baik Islam dan nasionalis kemudian ‘menikmati’ hasil pemikiran ulung itu.

Kita bisa membayangkan bila perombakan pemikiran tidak dilakukan, maka sampai detik ini kita akan melihat bahwa politik itu menentukan keimanan seseorang. Berislam maka partai nya Islam, bila tidak maka partainya tidak Islam.

Kini kita berbahagia, bahwa partai Islam tidal lagi bicara dengan konsep ‘ummat Islam’ tapi sudah memakai konsep ‘kebangsaan’ atau kita juga senang melihat partai yang berasas bukan Islam juga sudah mulai nyaman dengan terma-terma dan simbol-simbol agama, tidak lagi sungkan.

Agama tidak lagi kemudian melulu urusan ideology, namun agama juga bagian dari kebudayaan. Agama dalam ruang ideology sering membuat agama terkesan tertutup dan mengkhawatirkan, namun agama secara kebudayaan adalah sesuatu yang hidup dan selalu menjadi inspirasi.

Mungkin demikian peletakan Cak Nur atas Islam di Indonesia. Cak Nur telah bekerja dengan logika zamannya-nya. Respon Cak Nur adalah respon atas zamannya. Setiap zaman berubah, unik dan memiliki kekkhasan. Bahkan tidak mungkin sama.

Spirit Cak Nur, gagasan-gagasan besar Cak Nur telah menginspirasi generasi berikutnya untuk bekerja dan berfikir lebih giat. Bukan hanya utk kita, namun untuk kemanusiaa yang lebih besar lagi. Sebuah kemanusiaan yang hidup dalam keadaban yang disusun atas semangat untuk kemajuan.[]

Tinggalkan komentar Anda