• About
  • Contact
  • Disclaimer
  • ToU
  • Partnership
Wednesday, October 7, 2026
ACEHPUNGO.COM
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya
  • Opini
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya
  • Opini
No Result
View All Result
Acehpungo.Com
No Result
View All Result
Home Opini

Aku dan Cak Nur (Bagian Terakhir dari Dua Tulisan)

Muhammad Alkaf by Muhammad Alkaf
07/03/2026
in Opini
0
20
SHARES
90
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
Muhammad Alkaf

Maksud hati untuk bertemu langsung dengan Cak Nur akhirnya kesampaian juga. Tahun 2003 Fakultas Hukum Unsyiah di Gedung AAC Dayan Dawood, mengadakan kuliah umum dan menghadirkan Cak Nur sebagai pembicara. Cak Nur saat itu hadir dalam rangka syafari sebagai peserta konvensi presiden Partai Golkar.

Tentang keikut sertaan Cak Nur dalam konvensi itu, aku sempat berdebat dengan seorang teman. Katanya adalah satu kesalahan keptusan Cak Nur mengikuti konvensi presiden terssebut, akan tapi aku membantahnya, bagi-ku keikutsertaan Cak Nur lakukan itu adalah bagian dari pendidikan politik. Cak Nur ingin menjelaskan bahwa partai yang baik adalah partai yang terbuka, dimana orang yang diluar-pun juga bisa berpartisipas dalam proses politik internalnya.

READ ALSO

Kami Tidak Sekolah, Memangnya Kenapa?

Tips Sukses Orang Pidie di Perantauan

Tidak hanya itu partai yang baik adalah partai yang bersih dan juga adil. Itulah mengapa Cak Nur kemudian memutuskan untuk tidak melanjutkan untuk mengikuti proses konvensi sampai dengan selesai, karena setelah berkeliling maka yang didapati adalah bukan pertanyaan mengenai platform politik yang sudah ditulisnya sebelum benar-benar menjadi calon presiden, melainkan pertanyaan tentang ‘gizi’ dan keikutsertaan Akbar Tanjung dalam konvensi tersebut.

Kembali ke kuliah umum itu. Itulah pertama kali saya melihat dan mendengar langsung Cak Nur bicara. Cara bicaranya betul-betul mengagumkan ketika Cak Nur membicarakan tentang visinya mengenai kebangsaan.

Kuliah umum itu hari itu Jumat, aku ingat sekali, sebab setelah menyampaikan ceramah di Unsyiah, Cak Nur menjadi khatib di Mesjid Raya Baiturrahman. Isi khutbahnya mengenai ketaqwaan. Bila di Unsyiah Cak Nur berbicara sebagai negarawan ulung, di mesjid Raya Cak Nur menjelma menjadi ahli sufi.

Yang membuat berkesan adalah dalam ceramah itu adalah aku mendapat kesempatan untuk bertanya. Sebenarnya moderator tidak menunjuk aku, namun karena duduk di balkon atas, maka ketika panitia menyerahkan mic kepada ku, moderator membiarkan saja. Pertanyaan aku hadir dalam pertanyaan-pertanyaan peserta lainnya.

Aku hanya bertanya dua hal saja, yang aku ingat terus sampai sekarang, karena Cak Nur mengatakan ketika hendak menjawab pertanyaan tersebut ‘pertanyaan ini penting sekali’.

Saat itu aku menanyakan tentang apakah slogan ‘Islam Yes Partai Islam No?’ masih relevan dan mengenai pluralitas kebangsaan. Aku ingat bahwa Cak Nur menjawab itu panjang lebar bahkan paling lama durasinya dibanding pertanyaan-pertanyaan lain. Dan hal itu sangat berkesan sekali.

***

Aku kira Cak Nur adalah salah satu cendekiawan yang termasuk paling dihormati di negara ini. Walau pernah menghentak Indonesia dengan lompatan pikirannya, namun tidak kemudian membuat hal itu dia dibenci. Sebagai bukti karena hal itu menarik adalah diterbitkannya kumpulan khutbah Jumat mesjid Raya Baiturrahman, nama Cak Nur adalah yang pertama tama diantara khatib lainnya. Bagi ku itu bisa menunjukkan penghormatan yang luas terhadap Cak Nur.

Memang Cak Nur berbeda dan sering salah dipahami. Aksinya intelektualnya sering dianggap meresahkan, sehingga berbagai tudingan dialamatkan kepadanya yang terkadang sudah diluar batas adab agama dan kebudayaan. Padahal bila kita menyimak pikiran-pikirannya maka akan terlihat kebaikan budinya.

Para pengkritik gerakan pemikiran liberal di Indonesia mengatakan bahwa memang benar Cak Nur berfikir ‘maju’, namun dia tidak pernah mengolok-olok hal-hal yang dianggap sakral dalam agama, sesuatu yang berbeda dari kelompok yang menamakan dirinya ‘liberal’ hari ini.

Posisi Cak Nur bagi ku harus diletakkan dalam kontuinitas bangunan Islam dan kebangsaan. Tidak tepat kemudian bila menyebutkan Cak Nur pelopor sekularisme.

Secara personal dia anak tokoh Masyumi, hal yang menurut hemat ku telah memberi pengaruh dalam pengambilan keputusan untuk manjadi juru kampanye utk PPP pada Pemilu 1977, padahal tujuh tahun sebelumnya dia mengatakan Islam Yes Partai Islam No. alasan Cak Nur agar ada keseimbangan politik, lalu kalau utk keseimbangan mengapa tidak menjadi juru kampanye utk PDI?

Lalu mengapa Cak Nur juga mau bergabung dengan ICMI atau mengapa Cak Nur sangat mengagumi tokoh-tokoh awal Masyumi. Pertanyaan-pertanyaan ini kemudian bisa membuat banyak pihak yang masih salah sangka terhadap Cak Nur bisa berfikir ulang.

Bagi ku, Cak Nur, dan juga Gus Dur telah meletakkan dasar-dasar kehidupan kebangsaan yang memudahkan bangsa ini berjalan ke depan. Kebingungan untuk menentukan apakah berislam atau berbangsa telah berhasil sedikit banyaknya diselesaikan oleh Cak Nur. Dan partai-partai politik, baik Islam dan nasionalis kemudian ‘menikmati’ hasil pemikiran ulung itu.

Kita bisa membayangkan bila perombakan pemikiran tidak dilakukan, maka sampai detik ini kita akan melihat bahwa politik itu menentukan keimanan seseorang. Berislam maka partai nya Islam, bila tidak maka partainya tidak Islam.

Kini kita berbahagia, bahwa partai Islam tidal lagi bicara dengan konsep ‘ummat Islam’ tapi sudah memakai konsep ‘kebangsaan’ atau kita juga senang melihat partai yang berasas bukan Islam juga sudah mulai nyaman dengan terma-terma dan simbol-simbol agama, tidak lagi sungkan.

Agama tidak lagi kemudian melulu urusan ideology, namun agama juga bagian dari kebudayaan. Agama dalam ruang ideology sering membuat agama terkesan tertutup dan mengkhawatirkan, namun agama secara kebudayaan adalah sesuatu yang hidup dan selalu menjadi inspirasi.

Mungkin demikian peletakan Cak Nur atas Islam di Indonesia. Cak Nur telah bekerja dengan logika zamannya-nya. Respon Cak Nur adalah respon atas zamannya. Setiap zaman berubah, unik dan memiliki kekkhasan. Bahkan tidak mungkin sama.

Spirit Cak Nur, gagasan-gagasan besar Cak Nur telah menginspirasi generasi berikutnya untuk bekerja dan berfikir lebih giat. Bukan hanya utk kita, namun untuk kemanusiaa yang lebih besar lagi. Sebuah kemanusiaan yang hidup dalam keadaban yang disusun atas semangat untuk kemajuan.[]

Related Posts

Kami Tidak Sekolah, Memangnya Kenapa?
Opini

Kami Tidak Sekolah, Memangnya Kenapa?

07/03/2026
Ilustrasi tips sukses orang pidie di perantauan
Opini

Tips Sukses Orang Pidie di Perantauan

07/03/2026
Siapa Perempuan di Samping Muzakir Manaf?
Opini

Siapa Perempuan di Samping Muzakir Manaf?

07/03/2026
Surat Hasan Tiro kepada Jenderal De Gaulle yang Menggemparkan Perancis
Opini

Surat Hasan Tiro kepada Jenderal De Gaulle yang Menggemparkan Perancis

07/03/2026
5 Pejuang Perempuan Aceh yang Tak Mirip Kartini
Opini

5 Pejuang Perempuan Aceh yang Tak Mirip Kartini

07/03/2026
Dialog Politikus dengan Pelacur
Opini

Politikus dan Seorang Pelacur

07/03/2026
Next Post

Pedagang Diminta Kosongkan Lahan PT Bank Aceh

POPULAR NEWS

ilustrasi ancaman keamanan kripto

Waspadai Serangan AI dan Eksploitasi Kontrak Cerdas di 2025

08/05/2026

iPhone 18 Pro Kantongi TKDN dan Postel, Kapan Resmi Dijual di Indonesia?

30/09/2026

Bill Gates: AI Cukup Kuat untuk Picu Kematian Satu Miliar Orang, Serukan Regulasi Pemerintah

28/09/2026
Xiaomi 18 Pro Dipastikan Rilis Global, Apakah Indonesia Kebagian?

Xiaomi 18 Pro Dipastikan Rilis Global, Apakah Indonesia Kebagian?

05/10/2026

WhatsApp Uji Tampilan Baru di Android, Tombol Meta AI Masuk Navigation Bar

01/10/2026

EDITOR'S PICK

Rahasia Baju Seperti di Laundry dengan Royale Parfume Series

Rahasia Baju Seperti di Laundry dengan Royale Parfume Series

28/07/2020

Obama Diramalkan Kalah Pemilu 2012

04/01/2012

Presiden: Situasi Politik Aceh Menghangat Tapi Terkelola

15/02/2012

Bupati Aceh Timur Mohon Pamit

09/03/2012

About

ACEHPUNGO.COM dengan motto Galak-galak Kutak Sigo adalah situs berita gaya hidup untuk milenial Indonesia

Follow us

Categories

  • Budaya
  • Edukasi
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Inforial
  • Internasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Nanggroe
  • Nasional
  • News
  • Olahraga
  • Opini
  • Politik
  • Sosok
  • Teknologi

Recent Posts

  • Xiaomi 18 Pro Dipastikan Rilis Global, Apakah Indonesia Kebagian?
  • Malware MacSync Mengincar Pengguna Mac: Aplikasi Palsu, Backdoor, dan Trik Kalender iCloud
  • Pengembang Data Center Tawarkan Rp180 Juta per Rumah di Pennsylvania, Mengapa Warga Tetap Menolak?
  • WhatsApp Uji Tampilan Baru di Android, Tombol Meta AI Masuk Navigation Bar

Newsletter

  • About
  • Contact
  • Disclaimer
  • ToU
  • Partnership

© 2026 AP.com - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya

© 2026 AP.com - All Rights Reserved.