Bank Data DNA Identifikasi Migran Hilang

0
126

Mexico City (IPS) – ANALIS DNA, pengadilan etika, dan tekanan diplomatik merupakan instrumen-instrumen baru yang dimanfaatkan organisasi-organisasi migran untuk memerangi perlakuan kejam terhadap para migran ilegal di Meksiko dan AS.

Committee of Relatives of Dead and Missing Migrants of El Salvador (COFAMIDE) membuat sebuah bank data tentang para migran yang hilang, dengan dukungan Tim Antropologi Forensik Argentina dan pemerintah Salvador.

Bank data itu “sangat bermanfaat, mempermudah identifikasi jenazah, dan menopang harapan keluarga menemukan migran yang hilang,“ ujar pendiri sekaligus Sekjen COFAMIDE Lucy de Acevedo kepada IPS.

“Ini merupakan mimpi terbesar kami, karena besarnya kasus dan kelangkaan informasi,” ujarnya.

Sejak 2010, 143 sampel DNA dikumpulkan, dianalisis, dan ditaruh di negara bagian Arizona, AS, yang berbatasan dengan Meksiko, serta telah mengidentifikasi jenazah dua pria dan seorang perempuan asal El Salvador.

Sejak mulai bekerja pada 2006, COFAMIDE berhasil mengidentifikasi 59 orang.

Sampel DNA itu lalu dibandingkan untuk mencocokkannya dengan jenazah 500 imigran yang belum teridentifikasi di Pima, Arizona.

Puluhan ribu orang Amerika Tengah tanpa dokumen melintasi Meksiko setiap tahun, baik swadaya atau diarahkan oleh pedagang manusia (coyotes), untuk mencapai AS. Sepanjang perjalanan, mereka digeledah, dianiaya, dan bahkan dibunuh oleh polisi Meksiko atau penjahat, seringkali terjadi persekongkolan.

Sedikitnya 130.000 warga Amerika Tengah tanpa dokumen melintasi Meksiko pada 2010 dan berhasil menyeberangi perbatasan AS, namun kemudian dideportasi, ujar Mexican Institute of Migration.

Di Honduras, pembuatan bank data para migran mulai berjalan pada Januari.

“Kami mengumpulkan kesaksian-kesaksian dan dokumen kasus. Kami harap pengumpulan sampel DNA bisa dimulai bulan ini,” ujar Lidia de Souza, kordinator Human Mobility Pastorate of the Honduran Catholic Church, kepada IPS.

Human Mobility Pastorate bekerjasama dengan Network of Committees for Honduran Migrants and Relatives, National Forum for Migration, dan EAAF.

De Souza merupakan bagian dari Caravan of Mothers Searching for their Children Missing in Transit, yang dibuat para keluarga warga Honduras, Nikaragua, dan El Salvador yang ada di Meksiko. Mereka bertemu pada 29 Oktober di selatan Meksiko dan mencakup sembilan negara bagian Meksiko untuk menggalang dukungan bagi pencarian dan menarik perhatian terhadap penderitaan para migran ilegal.

Di Honduras, bahan genetik akan dikumpulkan dari 100 keluarga untuk diperbandingkan dengan bank data di Arizona.

Banyak migran g hilang sejak 2000, terkait peningkatan aktivitas kelompok-kelompok kriminal dan agen negara yang korup di Meksiko.

Tragedi seperti pembunuhan massal terhadap 72 migran ilegal di San Fernando, di timur laut negara Meksiko, pada 23 Agustus 2010, meningkatkan ketakutan di antara keluarga korban yang hilang.

Pembantaian itu merupakan salah satu dari kasus tingkat tinggi yang ditangani International Court of Conscience of People on the Move, yang menggelar dengar pendapat pada Oktober 2010 di Ekuador dan bulan berikutnya di Meksiko, yang menjadi dasar pengaduan migrasi di depan Permanent People’s Tribunal (PPT) cabang Meksiko.

“Kami ingin kasus-kasus paling berarti diadili Pengadilan Permanen,” ujar Camilo Pérez, kordinator PPT sekaligus akademisi National Autonomous University of Mexico (UNAM), kepada IPS.

“Pengadilan Nurani menarik perhatian pada isu-isu migrasi dan HAM,” ujarnya.

Tujuh wilayah PPT akan membahas antara lain migrasi, suaka, dan pemindahan paksa.

Tahun ini, workshop akan diadakan di Arizona dan setidaknya enam negara bagian Meksiko, tempat migrasi merupakan fenomena utama. Sementara itu, tiga pengadilan dengar pendapat direncanakan digelar pada 2012 dan empat lainnya pada 2013. Proses PPT akan ditutup dengan sebuah keputusan pada 2013 atau 2014.

Satu dari dua penyintas dalam pembunuhan San Fernando, Freddy Lala asal Ekuador, hidup dalam persembunyian dengan perlindungan pemerintah.

“Kami telah mendokumentasikan kasus orang-orang Ekuador yang mengalami penganiayaan di Meksiko. Namun kelurga mereka menerima ancaman, dan pemerintah tak menggunakan tekanan diplomatik untuk memastikan investigasi,” ujar Flor Haro, kepala Centro Familiar de Ayuda Migrantes (CEFAMM), pusat dukungan keluarga bagi para migran di Quito, kepada IPS.

Haro mengeluhkan kehidupan Lala di persembunyian dan tak adanya keadilan atas kasusnya di Meksiko dalam seminar “Los pueblos en movimiento: tribunals de conciencia, migracion y derechos humanos” (Manusia Bergerak: Pengadilan Nurani, Migrasi, dan HAM), yang dihelat pada 4 November di UNAM.

Sejak Operation Gatekeeper, sebuah program keamanan perbatasan, dilaksanakan patroli perbatasan AS pada 1994, ada total 5.747 orang meninggal karena berusaha menyeberangi perbatasan dari Meksiko, ujar organisasi-organisasi HAM.

Menteri Luar Negeri Meksiko memperkirakan 2.949 migran asal Meksiko tewas sejak 2004, 955 orang di antaranya belum teridentifikasi.

No More Deaths, sebuah LSM berbasis di Arizona, menunjukkan dalam laporannya September lalu, “A Culture of Cruelty: Abuse and Impunity in Short-Term US Border Patrol Custody” bahwa pada 2009-2010 saja, setidaknya 253 orang tewas akibat berusaha menyeberangi perbatasan melalui selatan Arizona.

Organisasi itu mengaitkan kematian itu dengan praktik patroli perbatasan AS yang sengaja menyalurkan para migran ke wilayah-wilayah mematikan dan pemencaran kelompok-kelompok sebagai sebuah taktik penangkapan; menghambat upaya pencarian dan penyelamatan; serta merusak sumber-sumber pertolongan seperti makanan, air, dan selimut, yang diletakkan kelompok-kelompok bantuan di sepanjang rute umum para migran ilegal.

Organisasi-organisasi dari keluarga migran yang hilang meminta pemerintah Meksiko menyusun database, dengan informasi genetik, mengenai migran yang hilang.

Palang Merah telah mengusulkan sebuah protokol bersama agar Meksiko, Amerika Tengah, dan Amerika Serikat mempermudah identifikasi jenazah.

“Kami ingin sebuah daftar regional dengan informasi DNA. Setelah pembandingan secara lokal, kami ingin melanjutkan pencarian di ‘rumah duka’ lain, bukan hanya di Arizona,” ujar de Acevedo dari COFAMIDE.

Sebagian besar orang Honduras yang hilang “mungkin terjadi di perbatasan dengan Arizona, karena panggilan telepon terakhir kepada keluarga terjadi di area tersebut,” ujar de Souza dari Human Mobility Pastorate. Namun hal ini, lanjutnya, tak membebaskan Meksiko dari tanggungjawab.

Network of Committees for Honduran Migrants and Relatives, yang terdiri dari lebih 30 organisasi, kini sedang menangani 300 kasus migran hilang dan 300 kasus lain dengan data tak lengkap.[Emilio Godoy]

Translated by Farohul Mukti
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik, dan dimuat kembali di The Aceh Corner atas izin dari Yayasan Pantau.