Foramdi Tolak Relokasi Bangunan SMA 1 Idi

0
70

Idi-Forum Alumni SMA Idi (Foramdi) menolak seraya mengecam rencana relokasi sekolah SMA 1 yang akan dilakukan Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Timur ke daerah lain. Rencananya, mereka juga akan melakukan upaya advokasi agar rencana itu dibatalkan.

“Wacana relokasi SMAN 1 Idi Rayeuk itu dikeluarkan Kepala Dinas Pendidikan Aceh Timur, Agussalim sejak tahun 2010. Bahkan dia menaksir harga lahan sekolah itu sekitar Rp.9 Miliar. Agusalim mengklaim, rencana itu juga telah mendapat restu dari 80 % masyarakat Idi Rayeuk,” ungkap Juru Bicara Foramdi sekaligus Ketua Ikatan Pemuda Aceh Timur (IPAT), Aftahurriza, didampingi Ketua IPMIR, Firdaus, melalui releasnya, Jumat (10/2).

Menurutnya, Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Timur berniat menjual lahan Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Idi Rayeuk dengan alasan, lokasi sekolah terlalu dekat dengan jalan negara Medan-Banda Aceh, yang menimbulkan kebisingan sehingga menganggu proses belajar mengajar.

“Jika dilihat dan dicermati, alasan kebisingan yang mempengaruhi mutu lulusan SMA Idi, sama sekali tidak masuk akal,” katanya.

Aftahurriza menambahkan, kondisi sekolah dimana tidak adanya ruang belajar yang terlalu dekat dengan jalan raya tersebut, jelas tidak berpengaruh pada kondisi lalu lintas jalan. Hanya ruang dewan guru yang terpaut puluhan meter dari badan jalan.

“Di beberapa kawasan perkotaan lainnya, banyak sekolah yang dekat dengan jalan negara. Jadi aneh jika kebisingan menjadi alasan relokasi. Bagi kami, mutu lulusan itu ditentukan oleh kualitas guru dan fasilitas sekolah yang memadai,” lanjutnya.

Ia menambahkan, Forum Alumni SMU Idi Rayeuk merasa prihatin dan memprotes keras rencana itu. Bahkan, pihaknya menduga ada agenda terselubung bermotif ekonomi yang menguntungkan pihak-pihak tertentu, terutama Kepala Dinas Pendidikan Aceh Timur, Camat Idi Rayeuk dan beberapa orang yang mengklaim dirinya sebagai pendiri sekolah, dalam proyek relokasi dan pengadaan tanah baru untuk lokasi sekolah tersebut.

“Perlu diketahui, lokasi sekolah yang dibangun pada awal tahun 70-an itu, digagas oleh beberapa tokoh Idi seperti Almarhum mantan Camat Idi Rayeuk, Budiman Ahmad dan (Alm) Djakfar Shalihin, yang menjabat sebagai Kepala sekolah pertama SMA Idi,” terangnya.

“Ini merupakan gedung SMU pertama di kawasan Aceh Timur, selain di Kota Langsa yang dulunya menjadi Ibukota Aceh Timur. Dulunya SMA Idi bernama SMA 1 Langsa Vilial Idi,” jelasnya lagi.

Kata Aftahurriza, nilai historis lokasi itu cukup tinggi, dan perlu diselamatkan dari nafsu segelintir pihak yang mengklaim dirinya sebagai pendiri sekolah, yang patut diduga memiliki motif memperkaya diri dan kelompok dari hasil proyek tukar guling sekolah.

Karenanya, mewakili Formadi ia mengatakan, relokasi sekolah bukan merupakan hal yang krusial untuk memajukan dunia pendidikan di Aceh Timur. Menurutnya, SMAN 1 Idi Rayeuk membutuhkan sarana dan fasilitas yang memadai untuk mendukung proses belajar mengajar, sehingga menghasilkan lulusan yang baik dan tidak membutukan relokasi demi memuaskan kepentingan pihak-pihak tertentu.

”Jika pemerintah khawatir lokasi sekolah terlalu dekat dengan jalan, harusnya Pemerintah Aceh Timur membebaskan lahan sawah di belakang sekolah untuk perluasan areal sekolah, bukan malah melakukan tukar guling bangunan sekolah itu. Kami akan menggalang dukungan yang lebih luas dari seluruh Alumni maupun masyarakat di Idi Rayeuk, di Banda Aceh, Jakarta dan beberapa daerah lainnya, serta meminta dukungan dari DPRK maupun Anggota DPRA yang berasal dari Aceh Timur untuk menolak rencana itu,” tegasnya.

Bahkan, pihaknya juga berencana akan menyerahkan bukti penolakan warga Idi atas rencana relokasi itu kepada pemerintah Aceh Timur dalam waktu secepatnya guna mengantisipasi relokasi bangunan sekolah tersebut.

“Jika tuntutan kami tidak diindahkan, maka kami akan mengerahkan massa secara besar-besaran, untuk menuntut agar wacana pemindahan sekolah itu dibuang jauh-jauh,” pungkas Aftahurriza.[release]