• About
  • Contact
  • Disclaimer
  • ToU
  • Partnership
Sunday, October 11, 2026
ACEHPUNGO.COM
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya
  • Opini
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya
  • Opini
No Result
View All Result
Acehpungo.Com
No Result
View All Result
Home Opini

Jalan Kaki Saja, cuma 2 Km!

Sehat Ihsan Shadiqin by Sehat Ihsan Shadiqin
07/03/2026
in Opini
0
20
SHARES
90
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

“Jalan kaki saja, kan cuma 2 km!” kata temanku saat kami hendak mencari sebuah toko handphone. Saat itu saya baru tiba di Milan dan mau membeli sim card Italia untuk komunikasi. Saya ikut sarannya, jalan kaki bersama. Namun dalam hati saya bertanya, 2 km itu apakah “cuma”?

Namun begitulah adanya budaya orang Milan (dan kebanyakan Eropa) tentang jalan kaki. Aktifitas yang satu ini bukanlah pemandangan yang asing di semua jalan di Milan. Di mana-mana kita bisa lihat orang jalan kaki. Inong agam chik putik dara muda semuanya berjalan kaki. Tidak peduli pagi, siang, sore bahkan tengah malam sekalipun.

READ ALSO

Kami Tidak Sekolah, Memangnya Kenapa?

Tips Sukses Orang Pidie di Perantauan

Jalan kakinyapun, bukan saja jalan santai seperti umumnya yang kita lakukan di Aceh. Mereka jalan bagaikan anak panah, cepat, lurus dan tidak peduli kiri kanan. Saya beberapa kali berpapasan dengan teman sekampus di jalan, seluruhnya saya yang menegur duluan. Kalau tidak, mereka tidak pernah melihat saya melalui jalan yang sama.

Kebiasaan jalan kaki ini dilakukan oleh semua kalangan di Milan. Di jalan-jalan kita bisa melihat beragam model orang berjalan kaki. Mereka melakukan ini bukan karena tidak ada kenderaan, namun karena memang itu menjadi budaya yang sudah ada sejak dulu. Orang merasa nyaman saja kalau berjalan kaki satu atau dua kolometer. Bukan hanya mahasiswa, pekerja kantoran, perusahaan, pabrik, politisi dan pegawai pemerintahpun berjalan kaki.

Aktifitas ini jadi lebih mudah karena desain jalan kota Milan yang  “memanjakan” pejalan kaki. Aturan lalu lintas mengharuskan orang yang membawa mobil memberikan jalan terlebih dahulu kepada pejalan kaki. Jadi kalau kita mau menyeberang jalan, dari jauh mobil-mobil langsung berhenti dan memberikan  jalan kepada pejalan kaki. Bahkan terkadang kita baru berdiri di pinggir jalan, ia tetap berhenti dan mempersilahkan kita lewat. Kenapa ia tidak lewat saja? Kan kita bisa berjalan di belakangnya? Budaya menghargai pejalan kaki membuat pengemudi mobil ini mempersilahkan kita lewat duluan.

Selain itu, desain bangunan juga membuat pejalan kaki merasa nyaman.  Bangunan di kota Milan kebanyakan bergaya abad pertengahan. Bahkan banyak bangunan yang memang sisa bangunan abad pertengahan lalu. Jadi sudah berusia ratusan tahun. Di depan bangunan selalu ada jalan yang lebar buat pejalan kaki. Jalan lebar ini menjadikan kita aman untuk berjalan kaki menuju tempat yang kita inginkan.

Saya yang di Aceh terbiasa dengan kenderaan roda dua, atau memumpang kenderaan umum jarak dekat seperti becak dan RBT, awalnya sedikit kewalahan dengan kondisi ini. Sebab di Milan, untuk jarak dekat kita hanya punya pilihan jalan kaki, tidak ada kenderaan lain. Kecuali kalau banyak uang bisa naik taksi. Namun sebagai anak kos, harga taksi di Milan sama dengan biaya makan saya seminggu, jelas tidak aman di kantong.

Namun setelah terbiasa, ternyata jalan kaki itu nikmat dan sehat. Awalnya pada malam hari tertidur pulas sejak maghrib karena capek. Namun seminggu dua minggu, jadi biasa saja. Jalan kaki bukan lagi menjadi masalah, sudah menjadi bagian dari kehidupan di Milan. Bahkan setiap hari saya mencoba meningkatkan kecepatan jalan kaki saya. Sebab sejauh ini saya selalu tertinggal kalau berjalan kaki dalam kerumunan orang banyak.

Selain jalan kaki dalam kehidupan sehari-hari, budaya ini juga bisa kita lihat pada akhir minggu; sabtu dan minggu pagi. Di dekat rumah saya di Piazzale Udine, Milan, ada sebuah taman kota yang bernama Parco Lambro. Taman ini sudah berusia seratusan tahun dan dipenuhi dengan pepohonan yang besar-besar. Di tengahnya ada sebuah sungai yang mengalirkan air yang sangat jernih. Di bawah pepohonan di sana banyak orang berjalan kaki dengan nyaman, baik sendiri-sendiri, berpasangan atau keluarga yang membawa anak mereka.

Selain yang berjalan kaki, banyak juga yang berlari marathon. Anehnya, yang berlari ini nampaknya tidaklah anak muda saja. Kakek-kakekpun banyak yang lari marathon. Mungkin bisa saya pahami kalau hanya berjalan cepat saja, namun kalau kakek-kakek marathon?  Luar biasa!

Bagi orang Italia, menjaga kesehatan memang masalah esensial, sangat penting. Budaya makan mereka hampir sama dengan kita, banyak dan sering. Namun budaya menjaga kesehatan ini saya belum temukan di tempat kita. Kita masih lebih suka naik kenderaan meskipun hanya pergi ke toilet umum atau membeli rokok.

Bukankah jalan kaki lebih sehat? Mungkin kita semua tahu, namun tidak semua kita mau melakukanya. Apalagi desain kota di Aceh yang tidak memberikan kenyaanan kepada pejalan kaki. Ditambah dengan debu dan asap kenderaan yang terbang ke mana-mana. Niatnya mau sehat dengan jalan kaki, malah kita dapat penyakit. Mudah-mudahan pemimpin kita memperhatikan ini, membudayakan jalan kaki untuk kesehatan. []

Sehat Ihsan Shadiqin, Mahasiswa Universita degli Studi di Milano-Bicocca, Milan Italia

Related Posts

Kami Tidak Sekolah, Memangnya Kenapa?
Opini

Kami Tidak Sekolah, Memangnya Kenapa?

07/03/2026
Ilustrasi tips sukses orang pidie di perantauan
Opini

Tips Sukses Orang Pidie di Perantauan

07/03/2026
Siapa Perempuan di Samping Muzakir Manaf?
Opini

Siapa Perempuan di Samping Muzakir Manaf?

07/03/2026
Surat Hasan Tiro kepada Jenderal De Gaulle yang Menggemparkan Perancis
Opini

Surat Hasan Tiro kepada Jenderal De Gaulle yang Menggemparkan Perancis

07/03/2026
5 Pejuang Perempuan Aceh yang Tak Mirip Kartini
Opini

5 Pejuang Perempuan Aceh yang Tak Mirip Kartini

07/03/2026
Dialog Politikus dengan Pelacur
Opini

Politikus dan Seorang Pelacur

07/03/2026
Next Post

Massa Datangi DPRK Bener Meriah Dukung MK

POPULAR NEWS

ilustrasi ancaman keamanan kripto

Waspadai Serangan AI dan Eksploitasi Kontrak Cerdas di 2025

08/05/2026

iPhone 18 Pro Kantongi TKDN dan Postel, Kapan Resmi Dijual di Indonesia?

30/09/2026

Bill Gates: AI Cukup Kuat untuk Picu Kematian Satu Miliar Orang, Serukan Regulasi Pemerintah

28/09/2026

Blog dan Steemit, Mana yang Lebih Menguntungkan?

30/04/2018
Xiaomi 18 Pro Dipastikan Rilis Global, Apakah Indonesia Kebagian?

Xiaomi 18 Pro Dipastikan Rilis Global, Apakah Indonesia Kebagian?

05/10/2026

EDITOR'S PICK

Inilah Body Care Terbaik di Indonesia

Pherini Body Care Specialist Terbaik di Indonesia

29/01/2025

Rumah Pun Ia Tak Punya

07/03/2026
Seni Mengatur Hidangan untuk Raja Siuroe

Seni Mengatur Hidangan untuk Raja Siuroe

07/03/2026

Demo Tolak Politisasi Kampus di Unsyiah

29/11/2011

About

ACEHPUNGO.COM dengan motto Galak-galak Kutak Sigo adalah situs berita gaya hidup untuk milenial Indonesia

Follow us

Categories

  • Budaya
  • Edukasi
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Inforial
  • Internasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Nanggroe
  • Nasional
  • News
  • Olahraga
  • Opini
  • Politik
  • Sosok
  • Teknologi

Recent Posts

  • Xiaomi 18 Pro Dipastikan Rilis Global, Apakah Indonesia Kebagian?
  • Malware MacSync Mengincar Pengguna Mac: Aplikasi Palsu, Backdoor, dan Trik Kalender iCloud
  • Pengembang Data Center Tawarkan Rp180 Juta per Rumah di Pennsylvania, Mengapa Warga Tetap Menolak?
  • WhatsApp Uji Tampilan Baru di Android, Tombol Meta AI Masuk Navigation Bar
  • About
  • Contact
  • Disclaimer
  • ToU
  • Partnership

© 2026 AP.com - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya

© 2026 AP.com - All Rights Reserved.