• About
  • Contact
  • Disclaimer
  • ToU
  • Partnership
Thursday, October 8, 2026
ACEHPUNGO.COM
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya
  • Opini
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya
  • Opini
No Result
View All Result
Acehpungo.Com
No Result
View All Result
Home Opini

Jerman di Bulan Desember

Harlan by Harlan
07/03/2026
in Opini
0
20
SHARES
90
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

READ ALSO

Kami Tidak Sekolah, Memangnya Kenapa?

Tips Sukses Orang Pidie di Perantauan

Oleh Muhsin Abdul Gani
Bonn – Ahad siang. Matahari masih malu-malu menampakkan wajahnya, hingga membuat suhu menjadi sangat dingin bahkan di bawah nol derajat celsius. Salju yang turun sejak beberapa minggu lalu masih saja menebal di beberapa tempat. Di jalan, lalu lalang kenderaan bermotor perlahan-lahan membuat salju tersebut mencair menimbulkan becek parah di sana-sini sehingga menimbulkan kesan jorok. Orang-orang masih saja sibuk dengan berbagai aktivitas; sebagian membawa anak-anaknya dan sebagian lagi sibuk bencengkrama bersama teman-temannya dalam balutan pakaian tebal tentunya.
Ya, ini hari libur akhir pekan di bulan Desember. Orang  Jerman menyebutnya ‘Advent‘  untuk hari minggu di bulan ini. Bulan desember memang bulan yang semarak di Jerman karena di bulan inilah perayaan terbesar sepanjang tahun digelar; Natal dan Tahun Baru. Tradisi ini dirayakan secara besar-besaran di seluruh negeri, mirip perayaan Lebaran Idul Fitri di tanah air.
Pada dasarnya Natal dan Tahun Baru adalah ritual keagamaan yang dilakukan oleh umat kristiani. Tetapi di Jerman, dan mungkin hampir diseluruh Eropa dan Amerika yang mayoritas pemeluknya nasrani, perayaan Natal ibarat tradisi dan tidak selalu identik dengan seromonial keagamaan. Khusus di Jerman yang hampir sepertiga penduduknya mengaku tidak beragama (atheis), perayaan Natal dan Tahun Baru melebihi peringatan apapun, termasuk Hari Reunifikasi Jerman (identik dengan perayaan 17 Agustus di negara kita) yang diperingati setiap tanggal 3 Oktober.
Seorang teman pernah saya tanyakan apa yang dilakukan orang Jerman ketika Natal. Dia menceritakan bahwa dirinya (yang mengaku bukan pemeluk Katolik yang taat) selalu merayakan natal secara bersama-sama dengan keluarga. Dia berujar bahwa perayaan Natal di keluarganya dan hampir sebagian besar keluarga di Jerman lebih bersifat tradisi ketimbang acara keagamaan. Hanya sebagian orang yang menghadiri upacara keagamaan di gereja pada malam hari sebelum Natal dan pagi harinya. Selebihnya orang melewatkan waktu bersama keluarga di rumah sambil menikmati masakan yang dimasak oleh ibu atau neneknya.
Tradisi ‘mudik‘ dikenal juga di Jerman, walau tidak se ‘masif‘ seperti yang terjadi di Indonesia. Anak-anak yang berada di kota yang berbeda dengan orang tuanya, atau bahkan di luar negeri, menyempatkan diri pulang ke rumah orang tuanya dengan membawa pasangan. Mereka kemudian makan bersama di malam Natal yang dilanjutkan dengan  ngomong-ngomong yang kadang-kadang bisa berlangsung hingga tengah malam. Keesokan hari, biasanya mereka bangun agak telat kemudian berjalan-jalan di sekitar rumah bersama-sama. Acara pada hari itu dilanjutkan dengan membuka hadiah natal yang telah digantung di pohon natal (ujung sejenis pohon pinus muda yang dipotong batangnya) secara bersama-sama.
Ngomong-ngomong mengenai pohon pinus, hampir di seluruh bangunan di Jerman dan di tempat umum seperti jalan atau pedestrian banyak kita jumpai pohon natal yang telah dihias dengan lampu-lampu warna warni. Pohon Natal yang hanya kita temui khusus di bulan Desember ini dijual dengan harga bervariasi dan kadang-kadang bisa mencapai puluhan Euro (ratusan ribu rupiah) per batangnya. Di beberapa kota di jerman terdapat perkebunan yang khusus menanam pohon yang diperuntukkan untuk pohon natal ini.
Selain itu, terdapat keunikan lain perayaan Natal di Jerman (juga di Austria dan beberapa negara lainnya) yaitu ‘Weihnachtmarkt‘ atau Pasar Natal. Istilah ‘pasar‘ memang sangat tepat untuk menyebut pusat bisnis yang satu ini. Bangunan toko tidak permanen yang berbentuk ‘Jamboe‘ (saung) dengan tiang-tiang dari kayu berdinding papan dan kadang-kadang beratap rumbia atau dedaunan lain akan banyak kita jumpai di awal bulan Desember bahkan jauh-jauh hari sebelumnya. Toko-toko tersebut menjual beberapa barang berkaitan dengan natal (seperti lilin dan pernak-pernik lainnya) atau yang tidak berkaitan dengan perayaan natal seperti coklat bahkan pakaian. Selain itu di pasar tersebut juga dijual beraneka jajanan khas Jerman seperti roti, kacang-kacangan serta minuman khas Pasar Natal yang disebut dengan ‘glühwein‘ yang hanya akan kita jumpai di pasar tersebut pada bulan Desember ini . Orang-orang biasanya minum minuman tersebut bersama keluarga atau teman-temannya, kemudian gelas minumnya dibawa pulang sebagai suvenir.

Weihnachmarkt ini tidak hanya kita jumpai disatu titik di setiap kota, tapi di banyak titik; di pusat kota dan di daerah pinggiran. Selain terdapat toko-toko kayu, pasar ini juga kadang-kadang ikut juga diramaikan dengan komidi putar dan berbagai permainan lainnya. Walau kadang-kadang salju tebal membatasi gerak pejalan kaki tapi tidak menyurutkan langkah mereka untuk menikmati pasar yang hanya ada setahun sekali ini. Disana akan banyak kita jumpai orang tua yang sedang mendorong kereta bayi/anak nya. Anak yang membawa kereta salju yang kadang-kadang ditarik oleh orang tuanya serta segerombolan ABG yang sedang bercanda-canda dengan kawan sebaya. Weihnachtmarkt memang memberikan kecerian bagi mereka.
Desember di Jerman memang memberikan nuansa yang berbeda dengan di tanah air. Selain karena di bulan ini dan beberapa bulan kedepan biasanya kita akan menjumpai salju yang tidak ada di negara kita, tetapi juga berkah bagi pelajar maupun pekerja yang merayakan maupun yang tidak. Di bulan inilah suasana libur akan sangat kita rasakan. Orang-orang seperti melupakan aktivitasnya sehari hari. Walau kadang-kadang libur nasional ditetapkan hanya empat hari saja (24, 25, 31 Desember dan 1 Januari) tapi tak jarang kita akan menjumpai aktivitas perkantoran yang sepi dalam minggu-minggu sebelum dan sesudah Natal.
Bahkan tak jarang pula sebagian perkantoran dan pusat riset (seperti laboratorium) yang tidak berkaitan dengan pelayanan publik diliburkan selama dua minggu. Bagi mereka yang kantornya tidak libur, biasanya akan terjadi peningkatan cuti pegawai  secara signifikan. Hari-hari ‘terjepit‘ di minggu-minggu sebelum dan sesudah Natal memang sangat rawan bagi yang membutuhkan pelayanan di kantor pemerintah, situasi yang sama yang sering kita jumpai di tanah air.
Muhsin Abdul Gani adalah Peneliti pada Rumah Sakit Universitas Bonn, Jerman.

Related Posts

Kami Tidak Sekolah, Memangnya Kenapa?
Opini

Kami Tidak Sekolah, Memangnya Kenapa?

07/03/2026
Ilustrasi tips sukses orang pidie di perantauan
Opini

Tips Sukses Orang Pidie di Perantauan

07/03/2026
Siapa Perempuan di Samping Muzakir Manaf?
Opini

Siapa Perempuan di Samping Muzakir Manaf?

07/03/2026
Surat Hasan Tiro kepada Jenderal De Gaulle yang Menggemparkan Perancis
Opini

Surat Hasan Tiro kepada Jenderal De Gaulle yang Menggemparkan Perancis

07/03/2026
5 Pejuang Perempuan Aceh yang Tak Mirip Kartini
Opini

5 Pejuang Perempuan Aceh yang Tak Mirip Kartini

07/03/2026
Dialog Politikus dengan Pelacur
Opini

Politikus dan Seorang Pelacur

07/03/2026
Next Post

Forum Alumni MJC Terbentuk

POPULAR NEWS

ilustrasi ancaman keamanan kripto

Waspadai Serangan AI dan Eksploitasi Kontrak Cerdas di 2025

08/05/2026

iPhone 18 Pro Kantongi TKDN dan Postel, Kapan Resmi Dijual di Indonesia?

30/09/2026

Bill Gates: AI Cukup Kuat untuk Picu Kematian Satu Miliar Orang, Serukan Regulasi Pemerintah

28/09/2026
Xiaomi 18 Pro Dipastikan Rilis Global, Apakah Indonesia Kebagian?

Xiaomi 18 Pro Dipastikan Rilis Global, Apakah Indonesia Kebagian?

05/10/2026
Ilustrasi Jadwal dan Harga Tiket Bus Banda Aceh - Medan

Jadwal dan Harga Tiket Bus Banda Aceh – Medan Terbaru

03/05/2026

EDITOR'S PICK

Zambia Buat Kejutan Di Piala Afrika

07/03/2026

Kuasa Hukum, Minta Perubahan Status Ismuhadi Cs

06/02/2012

KIP Aceh Harus Lanjutkan Tahapan Pilkada!

03/12/2011

Emilia Pires: Soal Hidup, Bukan Uang

08/12/2011

About

ACEHPUNGO.COM dengan motto Galak-galak Kutak Sigo adalah situs berita gaya hidup untuk milenial Indonesia

Follow us

Categories

  • Budaya
  • Edukasi
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Inforial
  • Internasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Nanggroe
  • Nasional
  • News
  • Olahraga
  • Opini
  • Politik
  • Sosok
  • Teknologi

Recent Posts

  • Xiaomi 18 Pro Dipastikan Rilis Global, Apakah Indonesia Kebagian?
  • Malware MacSync Mengincar Pengguna Mac: Aplikasi Palsu, Backdoor, dan Trik Kalender iCloud
  • Pengembang Data Center Tawarkan Rp180 Juta per Rumah di Pennsylvania, Mengapa Warga Tetap Menolak?
  • WhatsApp Uji Tampilan Baru di Android, Tombol Meta AI Masuk Navigation Bar

Newsletter

  • About
  • Contact
  • Disclaimer
  • ToU
  • Partnership

© 2026 AP.com - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya

© 2026 AP.com - All Rights Reserved.