Membangun Kampus Peradaban Ala Sultan Malikussaleh

0
480
Jafaruddin

PERAN kampus dalam membangun peradaban relatif kurang bergema. Padahal kampus sebuah institusi yang memiliki peranan besar dalam membangun peradaban, melahirkan agen perubahan masyarakat (agent of social change), yang berpikir kritis, dan berjiwa kepoloporan. Mengejewantahkan nilai-nilai Tridarma Perguruan tinggi untuk mewujudkan peradaban dalam mayarakat. Sejarah mencatat, Sultan Malikussaleh, Raja Kerajaan Samudera Pasai sebagai seorang raja yang telah berhasil mewujudkan peradaban yang fundamental.

“Sultan Malikussaleh telah berhasil meletakkan dasar-dasar tamadun (membangun masyarakat yang mempunyai peradaban) di Nusantara. Dari sinilah perubahan kultur budaya Hindu yang diazaskan Majapahit dan Budha oleh Sriwijaya ke islam, (Adli Abdullah, Fellow pada pusat penyelidikan dasar dan kajian Antarbangsa Universiti Sains Malaysia).

Bahkan, kerajaan islam Samudera Pasai ketika itu menjadi cikal bakal pusat pengembangan dan penyebaran agama Islam di kawasan Nusantara dan Asia Tenggara saat itu.  Pusat pendidikan islam dan ilmu pengetahuan ternama yang mewariskan semangat pejuang bagi generasi penerusnya dalam mengembangkan agama Islam, ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya. Keberadan Sultan Malikussaleh juga telah diakui penjelajah dunia seperti Marcopolo, Laksamana Cheng Ho, dan Ibnu Batuthah. (baca sejarah sultan malikussaleh)

Adli menyampaikan materi itu dihadapan para mahasiswa, santri, dosen, guru ngaji saat konferensi dan Seminar Internasional Malikussaleh yang diselenggarakan Keluarga Besar Malikussaleh baru-baru ini. Diantaranya, Universitas Malikussaleh, STAIN Malikussaleh, Dayah Malikussaleh. Bila kita mengamati kondisi sekarang, pernyataan itu menjadi tanda tanya, kenapa peradaban yang telah dibangun itu nyaris tak berbekas lagi.

Menurut penulis ada beberapa sebab, diantaranya terjadinya stagnasi dalam proses mewarisi “gen” peradaban, juga tak adanya upaya dari pemerintah untuk menjaga dan memelihara. Dalam hal ini kampus juga memiliki tanggungjawab besar, apalagi Universitas Malikussaleh yang memakai nama raja Kerajaan Pasai. Dikhawatirkan fakta sejarah terhadap malikussaleh akan menjadi mitos di kemudian hari, meski kuburan Sultan Malikussaleh masih ada di Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara.

Karena sampai sekarang belum ada terobosan dari kampus untuk menggali secara serius sejarah Sultan Malikussaleh, kemudian secara bersama-sama dengan pemerintah mengimlementasikan keberhasilan yang telah diwujudkan itu. Bila pun ada seminar, atau worskhop, hanya sebatas menghasilkan rekomendasi, tanpa ada tindaklanjut.

Setelah dinegerikan melalui keputusan Presiden (Keppres) nomor 95 tahun 2001 yang diteken Megawati Soekarno Putri, Universitas Malikussaleh (Unimal) belum memberikan kontribusi yang nyata bagi pembangunan rakyat Aceh Utara dan  Lhokseumawe. Sebenarnya apa yang menyebabkan sehingga Unimal belum berhasil memberikan warna peradaban dengan usianya yang sudah 10 tahun. Seharusnya Unimal sudah terlihat sebagai kampus yang menanjak remaja. Tapi sayangnya kampus tersebut masih banyak disibukkan dengan konflik kepentingan para “Jenderal” yang masih berpangkat bintara. Elit kampus lebih sibuk mengurusi persoalan kekuasaan, ketimbang persoalan ilmiah. Padahal seharusnya setiap pelaksanaan kegiatan baik pemilihan di kampus harus menjadi model bagi pemerintah. Karena kampus lembaga berkumpulnya para insan ilmiah yang senantiasa menjadi sumber referensi.

Tapi pemilihan rektor beberapa waktu lalu di kampus tersebut sempat gagal karena calon rektor mengundurkan diri. Sepengetahuan penulis saja, pemilihan raya BEM Univeritas dan fakultas belum terjadi demikian. Ini pula yang mengindikasikan kampus tersebut tak sepenuhnya lagi menjadi lembaga ilmiah. Samuel Phillips Huntington (Guru Besar Universitas Harvard), menyebutkan bangsa yang terkoyak memiliki ciri-ciri: sesama elit senantiasa bertentangan pendapat dan saling menyalahkan. Budaya itupun kerap dipraktikan di kampus Unimal.

Karena itu menurut penulis, Unimal harus kembali mengembalikan fungsi kampus untuk membangun peradaban, sebagaimana tugas sebuah institusi ilmiah sebagaimana dimaksud dalam tridarma perguruan tinggi. Pertama,  meningkatkan kualitas pengajaran. Tentunya harus dimulai meningkatkan kualitas tenaga pengajar dengan mengirimkan dosen yang bersedia mengabdi untuk belajar ke kampus yang teruji, tidak hanya mengandalkan dua guru besar.

Selama ini cenderung pengiriman dosen adalah mereka yang memiliki hubungan khusus dengan pihak jajaran rektorat. Sedangkan mereka yang berpretasi baik bidang akademik dan lainnnya terabaikan. Kemudian pelatihan mahasiswa akhir untuk memberi bekal keterampilan khusus sebagai upaya meningkatkan lulusan. Meningkatkan bimbingan akademik sebaga pendamping mahasiswa dalam proses studinya, sehingga mahasiswa yang akan menyelesaikan studinya adalah mahasiswa telah memiliki jiwa kepoloporan untuk membawa peradaban di masyarakat.

Kedua, menjadikan sebagai kampus ilmiah dan pelopor, Unimal juga harus memperbanyak penelitian dan kajian untuk melahirkan strategi sehingga bisa menjadi konsep dalam pembangunan daerah. Kebijakan pembangunan pemkab Aceh Utara dan Pemko Lhokseumawe terarah sesuai yang diinginkan masyarakat. Selama ini kerjasama pihak pemerintah dengan kampus sangat minim. Konsep yang dilahirkan pihak kampus tidak menjadi pedoman pemerintah dalam menjalankan roda pemerintahan. Misalnya, persoalan pengangguran semakin bertambahnya di Aceh Utara, persoalan banjir di Lhokseumawe yang sudah menahun tak teratasi.

Kemudian yang ketiga, pengabdian kepada masyarakat. Keberadaan kampus harus mampu menjawab persoalan sosial yang dihadapi masyarakat, lembaga penelitian kampus harus mampu melakukan pembinaan bagi wilayah fakultas masing masing. Misalnya, Fakultas Pertanian harus mampu melakukan transfer ilmu dan pembinaan terhadap petani, seperti pola tanam Sistem Rice Intesification (SRI), sehingga petani mampu meningkatkan kesejahteraan mereka melalui hasil taninya.

Kemudian Fakultas Ekonomi juga demikian, bagaimana mencari konsep untuk menumbuhkan ekonomi masyarakat, strategi apa yang diharuskan dilakukan  Pemkab mengantisipasi menurunnya PAD, pra-berakhirnya gas. Kemudian Fakultas Hukum melakukan pembinaan terhadap masyarakat yang sadar hukum, juga mengawasi bagi penegakan hukum. Begitu juga dengan Fakultas Teknik bagaimana mengatasi persoalan seperti kasus Amonia PIM yang sudah berulangkali terjadi, persoalan pembangunan waduk yang berfungsi untuk mencegah banjir di Lhokseumawe. Kemudian bagaimanana Fakultas  ilmu Sosial dan Ilmu Politik, membangun masyarakat yang berkultur beradab, masyarakat yang memiliki jiwa sosial dan bermoral.

Menurut penulis, untuk membangun kampus perabadan, isi rekomendasi hasil seminar dan Konferensi Internasional Malikussaleh harus segera direalisasi sebagai langkah awal. Diantaranya sejarah kebudayaan Kesulatanan Samudera Pasai perlu dimaksukkan sebagai kurikulum pendidikan mulai SD sampai perguruan tinggi.  Pembentukan tim untuk merancang master plan pelestarian dan pengembangan pengembangan situs kebudayaan dan Kesultanan Samudera Pasai. Guna mengadopsi dan mentransformasi pola-pola raja pasai yang telah meletakkan tamadun.

Jajaran Senat sebagai pengelola pendidikan harus mengembalikan fungsi kampus untuk memberikan pelayanan pendidikan tinggi kepada mahasiswa. Melakukan pengembangan ilmu, teknologi, dan seni melalui penelitian ilmiah, yang hasilnya diseminasikan melalui proses pembelajaran pada pendidikan tinggi. Serta diabadikan untuk pengembangan masyarakat. Melalui pendidikan lah pemahaman tentang membangun peradaban dapat disampaikan langsung ke generasi berikutnya. Argumen dalam artikel ini sebagai bentuk kepedulian alumni terhadap Unimal, dan bisa jadi sebagai salah satu solusi alternatif dari sekian solusi lain. Harapan semoga kedepan kampus Universitas Malikussaleh menjadi laboratorium percendasan dan proyek moralitas yang mampu membawa peradaban. Semoga!.

Jafaruddin adalah Ketua kelas Sekolah Demokrasi Aceh Utara