Rumah Pun Ia Tak Punya

0
122

TUBUH renta dengan pakaian lusuh tak terurus, terseok-seok mendayung sepeda beroda tiga, Selasa malam (2/1), sekitar jam 22 WIB. Laki-laki berewokan tersebut, menyusuri jalan Diponogoro menuju belakang supermarket Barata. Sesampai belakang toko besar yang terletak di depan Mesjid Raya Baiturrahman itu, ia memarkir becaknya di samping sebuah tempat yang digunakan untuk pembuangan sampah.

Satu persatu botol  plastik bekas dipungutnya. Potongan kardus bekas pun terlihat dalam becaknya. Pria berkulit agak hitam itu selalu menunduk. Mukanya redup, seakan tersirat kesedihan yang tiada habisnya.

Saifuddin (45) nama pria itu. Ia hidup sebatang kara di kota yang dibanggakan masyarakat Aceh ini. Tak ada sanak saudara maupun keluarga yang menemani. Tiga anak dan istri tercintanya meninggal saat Tsunami 2004 silam. Hanya ibu angkat yang masih hidup di Meulaboh, Aceh Barat sana. Karena hal ini lah hidupnya kini seperti tak berarah. Tak ada benih harapan yang tersemat di raut wajahnya. Hidup seakan sangat menyiksanya.

Dunia terasa tak adil baginya. Tidak sedikpun harta yang ia miliki, kecuali becak tua dan bebepa potong pakaian lusuh yang Ia kenakan serta yang disimpan di tempat tinggalnya. Ia sempat mengeluarkan sepatah kata. Keinginannya untuk membeli becak bemesin. Sebuah cita-cita yang mungkin disebabkan karena tenaganya sudah melemah, seiring umurnya yang mendekati uzur. Tapi apalah daya, jangankan untuk beli becak rumah pun ia tak punya.

“Sekarang saya hanya tinggal di gudang,”  ujarnya dengan nada datar.

Memang sejak tahun 2008, Ia nya numpang di gudang  pembeli barang bekas. Tepatnya di depan warung bernama Sagoe Kupi  yang terletak di Lampaseh Aceh, Kecamatan Meuraksa, Banda Aceh.  Di kamar gudang beratap dan berdinding seng yang berukuran sekitar tiga meter persegi tersebut lah ia tinggal bersama dengan tiga pemulung lainnya, ditemani alas papan dan kasur tipis yang kian lusuh dimakan usia.

Saban hari, Ia menyusuri tiap sudut gang sekitar Ibu Kota Pemerintah Aceh ini dengan becak dayung yang telah keropos karena karatan. Mulai pagi hingga jam 12 malam. Dengan penghasilannya rata-rata Rp30 ribu per hari, mungkin hanya cukup untuk beli makan tiga kali saja. Itulah pekerjaan yang tiap hari ia tekuni, sembari menjalani sisa umurnya.

Potret laki-laki kelahiran Krueng Raya Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar ini, merupakan salah satu gambaran dari ratusan pemulung di Aceh yang hidup di bawah garis kemiskinan. Sampai hari ini, kebanyakan mereka belum mendapat perhatian serius sama sekali dari pemerintah. Baik itu dari pemerintah kabupaten kota maupun Pemerintahan  Aceh.

Miris memang. Dengan APBA dan APBK yang selalu meningkat setiap tahunnya, sayangnya anggaran tersebut tidak pernah mengalir untuk rakyat kecil seperti mereka. Dan ini lah lukisan kota kami. Aceh yang damai dan tenteram. Setentram Saifuddin menyelimuti dirinya dengan kardus-kardus yang Ia kumpulkan dengan roda tiganya.[]