Wow…Rumah di Banda Aceh Bakal Dibangun Menggunakan Robot

0
230
Digital Construction Platform 3D Printer (Foto: Techcrunch.com)

Banda Aceh | Acehpungo.com – Sebuah terobosan baru sedang digagas oleh Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh bersama dengan investor asal Denmark dan Malaysia. Nantinya pembangunan rumah di Banda Aceh akan melibatkan teknologi robot.

CEO Cobod International asal Denmark, Henrik Lund Nielsen, menawarkan teknologi 3D construction printing untuk membangun rumah di Aceh. Kecanggihan teknologi 3D itu dia presentasikan di hadapan Walikota Banda Aceh, Aminullah Usman, Kamis (14/2/2019).

Henrik berkunjung ke Aceh bersama invester asal Malaysia dan Denmark. Kedatangan mereka disambut disambut oleh para pengurus Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Aceh.

“Robot ini bekerja seperti sebuah printer yang mampu mencetak konstruksi dinding rumah lantai tiga. Robot dan sistem yang kami rancang ini dapat menekan biaya pembangunan rumah karena tidak membutuhkan banyak pekerja. Lebih safety dan cepat,” jelas Henrik Lund Nielsen seperti dikutip dari laman teropongaceh.com, Jumat (15/2/2019).

Henrik menjanjikan bahwa bangunan yang dihasilkannya oleh robot cukup solid dan kuat, tak ubahnya bunker. “Hasilnya cukup presisi, bukan dalam centimeter tapi millimeter. Kecepatan cetaknya satu meter per detik. Dengan kecepatan segitu robot ini dapat mencetak 12 rumah tipe 36 dalam waktu 12 hari,” jelasnya.

CEO asal Denmark itu sesumbar bahwa robot itu mampu membangun satu rumah dalam waktu sehari. Dengan memanfaatkan teknologi robot tersebut, jelasnya, pemerintah bisa menghemat waktu dan biaya.

Sementara Chairman Sinas Teknik Malaysia, Datok M Hedar Sharrif, berharap Banda Aceh menjadi pilot project penerapan teknologi canggih tersebut. “Jika terwujud Banda Aceh akan menjadi kota pertama di Asia yang memiliki teknologi ini,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Walikota Banda Aceh Aminullah Usman mengaku tertarik dengan kemajuan teknologi robot yang ditawarkan oleh perusahaan yang berkantor di Copenhagen tersebut. “Luar biasa dan begitu praktis. Saya kira cocok untuk diterapkan di Banda Aceh yang sektor propertinya masih terus berkembang,” kata mantan Dirut PT Bank Aceh itu. []