About Sukma Bangsa #9: Sehari Bersama ‘Artis’ Jepang, Kosuke Kazumi

275

Heboh! Selama tiga bulan ke depan Sukma Bangsa Pidie  bertambah satu lagi keluarga, kali ini dari Jepang. Sorang pria ganteng ini bernama Kosuke Kazumi, dia mau dipanggil Kosuke San saja. Dia adalah mahasiswa doktoral di universitas Osaka, makanya manis, kalau saya dari Osira, makanya asin.

Dia murid dari Prof. Tsukamoto, yang penemu merupakan di UGM akan dianya pendeteksi korban gempa, untuk mengurangi resiko bencana. Juga sudah berkunjung ke Sukma, dia menyarankan Kosuke ke sini. Berbeda dengan jurusan profesornya, si pria yang mirip salah satu pemain Meteor Garden remake ini banting stir dari jurusan S1-nya  civil Engineering  ke jurusan Sosiologi pendidikan di S2 dan S3, menurut penuturan direktur Sekolah Sukma Bangsa, Marthunis Bukhari, dia pindah karena ingin memperbaiki pendidikan untuk generasi muda Jepang supaya lebih baik di masa yang akan datang.

You blink

 

Saya beruntung dapat membawanya ke kelas saya hari ini, kelas English Dasar (Engdas). Kelas ini berlangsung kadang-kadang seru, di hari rabu jam 14.20 sampai 15.30 Wib. Pada mula sejarahnya kelas ini hanya diisi 6 orang, lalu bertumbuh menjadi 9 orang lalu kini bertumbuh lagi menjadi 19 orang, bukan gara-gara minum pro-man, tapi karena penyesuaian jadwal.

Kelas Engdas  adalah merupakan dianya kelas ekstrakurikuler selain kelas matematika, badminton, futsal, tenis meja, bulu tangkis dan kelas eskul lainnya yang ada di sekolah ini. sehabis belajar reguler dari jam 08.00 sampai 13.00, siswa akan mengikuti kelas ini sampai sebelum asar.

Maka kelas ini hari ini seru, memakai lokasi baru di depan asrama putra di komplek sekolah. Kami mengawali kelas dengan Kasuke San  dengan memperkenalkan diri dan mengatakan hobi kami apa, saya sendiri lupa memperkenalkan diri, padahal saya suruh ke siswa, tapi mungkin karena siswa sudah kenal saya, Kasuke belum jadi saya tertinggal di tengah pertandingan.

Artis Korea beradu akting dengan bandet film India

Kelas berlangsung khidmat seraya mendengar Kosuke berbicara pelan tentang dirinya, kotanya di Jepang yang di bom, agamanya, dan tentang murid-murid di Jepang. Katanya kalau kakek dia di masa perang jadi ke Hiroshima, dia tak ada sekarang. Saat itu sebelum bom atom diledakkan, ayah dari ayahnya itu berencana ke kota Hiroshima, tapi tak jadi entah kenapa.

Dia beragama Budha, sebenarnya tak sopan mungkin kalau bertanya tentang agama, tapi nasi sudah menjadi bubur. Lalu dia bilang kalau siswa di negeri sakura harus memilih satu klub supaya ada yang dia lakukan setelah sekolah, misalnya pilih klub tenis, dia harus fokus dan jarang pindah dari klub itu sampai akhir sekolahnya.

Di akhir kelas dia menuliskan namanya dengan huruf kanji, hiragana dan katagana. Baru tahu saya kanji itu bukan makanan sejenis bubur. Huruf alphabet Jepang ada 50an karakternya, kalau kita cuma 26 ya? Jadi Jepang merupakan salah satu dari negara yang punya alphabet unik, selain Mesir, Korea, Cina, Rusia dan Wakanda.

He is enjoying coffee, we try to set a good photography

Setelah menutup kelas dengan foto-foto kami menuju warung kopi di depan sekolah untuk minum. Dia bercerita pengalamanya makan dengan tangan untuk pertama kali saat sampai di Aceh. Di negaranya makan dengan tangan langsung bukanlah hal yang wajar. Makan harus pakek chopstik (sumpit).

Untuk hari ini begini dulu ceritanya tentang Kosuke, nanti kita sambung lagi kalau ada keseruan lainnya. Dari Pulo Pueuep, Riazul Iqbal melaporkan!