• About
  • Contact
  • Disclaimer
  • ToU
  • Partnership
Wednesday, October 7, 2026
ACEHPUNGO.COM
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya
  • Opini
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya
  • Opini
No Result
View All Result
Acehpungo.Com
No Result
View All Result
Home Olahraga

Aroma El Clasico di Laga Puncak

Diyus by Diyus
07/03/2026
in Olahraga
0
Aroma El Clasico di Laga Puncak

Teropong

20
SHARES
92
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Sepatah katapun belum kutulis sejak peluit awal pertandingan pertama Piala Dunia FIFA 2018. Sejak awal aku menonton. Saat itu pertandingan antara Russia melawan Arab Saudi.

Pertandingan pertama Piala Dunia Sepakbola FIFA kutonton 1990, saat itu Italia bertindak sebagai Tuan Rumah. Laga final mempertemukan Jerman Barat yang berhadapan dengan Argentina. Argentina kalah. Belum ada teknologi-hukum VAR saat itu. Lagipula, pertandingan final kali itu dianggap banyak kalangan sebagai pertandingan terburuk yang pernah ada; kedua tim bermain defensif dan kasar. Wasit Edgardo Codesal Mendez (Meksiko) menerbitkan 2 kartu merah dan 4 kartu kuning. Spektator yang memadati Stadio Olimpico, Roma, menjadi saksi penalti Andreas Brehme mengubur impian Albiceleste setelah Roberto Sensini melanggar Rudi Völler di kotak terlarang.

READ ALSO

Resmi! Manchester United Pecat Ole Gunnar Solskjaer

Maguire Resmi Jadi Kapten Baru Manchester United

Partai Final

Sesungguhnya, tak ada lagi yang menarik saat laga kemuncak PD 2018 cuma menyisakan tim Eropa dengan karakter distribusi bola yang menurutku cenderung monoton. Aku penggemar goyangan Amerika Latin. Terutama Brazil… tentu saja minus Neymar.

Jikapun ada magnet yang tersisa, itu adalah Presiden Republika Hrvatska, Kolinda Grabar-Kitarović. perempuan yang menjadi Presiden Kroasia dengan mewakili potongan puncak-kematangan-Kaum-Hawa. Namun, mataku segera membantah saat memirsa jalannya pertandingan di sisi @acehpungo. Kroasia benar-benar memberi tekanan berarti pada Prancis. Ini memang layak terjadi di partai puncak. Kecuali kecerobohan kiper Prancis di menit 69 (angka sensual) saat beradu gocek dengan Mandzukic. Sebut saja itu khilaf.

Entah mengapa, sebagai Cules, aku tak mampu melepas gaung El Clasico dari dalam benak. Perseteruan La Liga di tanah Spanyol sana membuat mataku terpaku pada sebuah kenyataan. Kedua tim mengandung El ClasicoI! Perseteruan di ranah hiburan bergenre olahraga ini memang tak seberdarah Superclásico antara Boca Junior degan River Plate di Buenos Aires sana. Namun, unsur pemberontakan anak-anak Catalan terhadap dominasi tim Ibukota Spanyol lebih beruntung karena disiarkan lebih luas.

Perseteruan yang kerap merembet ke sentimen Nasionalisme Spanyol melawan Pemberontak(an) Catalonia cukup mewakili ledakan lada dalam sebuah masakan. Pedas. Menghunjam lidah dan menghentak tubuh. Bumbu itulah yang terhidang dalam partai final. Di sebuah grup WhatsApp yang berisi Cules dan Madridista, kudapati para jama’ahnya menunjukkan gejala serupa. Selalu mengklaim unsur Cules atau Madridista dalam tiap pertandingan yang mengandungnya. Jadi, jikapun yang kualami adalah disorientasi, sesat pikir atau gangguan kejiwaan, setidaknya aku tak sendiri. Aku yakin, Madridista selevel Reza Fahlevy pasti paham bahwa kami beda ‘kiblat’ dan sangat saling membenci dalam hal yang satu ini. Tapi jangan lupa… kami selalu seiya-sekata soal STEEM, eSBiDi dan Syahadat.

Hal inilah yang kemudian kulaporkan sebagai pandangan sepintas kepada Taufik Al Mubarak. “Pantas Kroasia kalah, karena rivalitas El Clasico selalu dimenangkan Barcelona,” ujar Taufik Al-Mubarak yang menegaskan diri bahwa ia adalah pendukung Manchester United Garis Keras. Beruntung sangat aku malam ini. Bisa dapat quote sepenting itu dari perspektif non-jama’ah El Clasico. Jadi aku tak harus menggunakan kata-kataku sendiri yang berisiko terhadap upvote dari para Madridista.

Ia mengungkapkan hal itu setelah kutunjukkan sebuah fakta yang mengusik: Prancis memiliki 2 orang pemain Barça (Samuel Umtiti dan Ousmane Dembele) dan 1 orang pemain Madrid (Raphael Varane). Sementara, Kroasia sebaliknya, seorang pemain Barça (Ivan Rakitic) dan 2 pemain Madrid (Luka Modric dan Mateo Kovacic). Kupikir ia memaksudkan bahwa lebih banyak unsur Barça di kubu Prancis berbanding dengan lebih banyak unsur Madrid di kubu Kroasia; sebuah asumsi yang juga sepadan artinya dengan lebih sedikit pemain Barça di kubu Kroasia dan lebih sedikit pemain Madrid di kubu Prancis. Anak-kalimat itu kutulis untuk memperbanyak wordcount tulisan ini saja…

Jadi, tim apapun yang menang, aroma El Clasico begitu kentara menguari udara stadion dan gegap-gempita atmosfer sorak-sorai penonton di penjuru dunia. Mulai dari pinggir lapangan hingga warung kopi tepi sawah di Indrapuri.

Aku penasaran dengan pernyataannya yang menurutku objektif itu. Namun, aku tak semudah itu percaya… Memangnya aku ini lelaki apakah?

Kutanyakan kepada Mbak Wiki. Ternyata benar. Di level liga, Barça memperoleh 72 gelar, sementara Madrid masih 64. Bagaimana dengan level Eropa dan Dunia? Madrid baru mendapat 91 gelar, sementara Barça sudah 94. Jika ditotal, kedua tim telah bertemu 271 kali (pertandingan kompetisi dan persahabatan) dengan 112 kemenangan mirik Jugadors, 99 kemenangan milik para Madridista. Bagaimana dengan jumlah gol? Ternyata Cules unggul 27 gol. Madri mengoleksi 445 gol saja, sementara Barça telah mengumpulkan 472 gol. Kupikir aku terpaksa sepakat dan mengamini pandangan @acehpungo ini. Terimakasih pada Mbak Wiki yang telah mengkonfirmasi pernyataannya.

Sebetulnya, aku tak menemukan kebaharuan dari pernyataan itu. Sekedar menghormati pernyataan insan di ‘luar pagar’ El Clasico sajalah kucari tau tentang pernyataannya lebih jauh. Tak kalau tak bertindak lebih jauh di hadapan seorang maestro dengan kegilaan terselubungnya.

Kembali ke hasil akhir pertandingan tadi (yang menyisakan magnet permainan Kroasia dengan pelukan Kolinda); jika aku dipaksa membandingkan dan memilih, aku menganggap pelukan Presiden Kolinda yang menjadi magnet terkuat malam ini. Ternyata, lagi-lagi, aku tak sendiri. Di layar MacBook Pro milik @acehpungo, terpampang sebuah status milik seorang kawan:

“Adalah pelatih Kroasia, Zlatco, Dalic yang paling kuat dan lama dipeluk palilng lama dipeluk Kolinda. Hampir 6 detik. Setelahnya adalah Modric, 3,7 detik,”

…tulis Muhajir Abdul Azis dalam cuitannya.

Langit seperti menangisi kekalahan Kroasia. Beberapa saat sebelum tim Prancis menerima medali, hujan mengguyur Luzhniki, Moskow. Kukira, kehangatan peluk seorang perempuan yang tampil di puncak kematangan keperempuanannya cukup mampu menghangatkan dinginnya tanah Kamerad Vladimir Ilyich Ulyanov itu.

Sebagai jama’ah El Clasico dan menempatkan statusku selaku Cules sebagai ideologi memahami bolasepak, aku masih mendapati remah-remah kebanggaan saat menyadari prasangkaku yang sungguh subjektif telah terkonfirmasi oleh manusia sekaliber Taufik Al Mubarak.

Sumber:

Gambar3

Tags: Sepakbola

Related Posts

Ole Gunnar Solskjaer
Olahraga

Resmi! Manchester United Pecat Ole Gunnar Solskjaer

07/03/2026
Maguire Resmi Jadi Kapten Baru Manchester United
Olahraga

Maguire Resmi Jadi Kapten Baru Manchester United

07/03/2026
Bali United Shopee Liga 1
Olahraga

Bali United Juara dan Hal-hal yang Menyertainya

07/03/2026
Laga antara Aceh vs Bengkulu
Olahraga

Bungkam Bengkulu 1-0, Aceh Rajai Sepakbola Sumatera

03/11/2019
Tottenham vs Man Utd
Olahraga

Tottenham vs Man Utd: Kesempatan Setan Merah Salip Gudang Peluru

07/03/2026
PB Ikasi
Olahraga

Agus Suparmanto Kembali Pimpin PB Ikasi

23/10/2019
Next Post
Ini Cerita Soal Suami

Ini Cerita Soal Suami

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

POPULAR NEWS

ilustrasi ancaman keamanan kripto

Waspadai Serangan AI dan Eksploitasi Kontrak Cerdas di 2025

08/05/2026

iPhone 18 Pro Kantongi TKDN dan Postel, Kapan Resmi Dijual di Indonesia?

30/09/2026

Bill Gates: AI Cukup Kuat untuk Picu Kematian Satu Miliar Orang, Serukan Regulasi Pemerintah

28/09/2026
Xiaomi 18 Pro Dipastikan Rilis Global, Apakah Indonesia Kebagian?

Xiaomi 18 Pro Dipastikan Rilis Global, Apakah Indonesia Kebagian?

05/10/2026

WhatsApp Uji Tampilan Baru di Android, Tombol Meta AI Masuk Navigation Bar

01/10/2026

EDITOR'S PICK

Indonesia Akan Beli Tiga Kapal Fregat

01/03/2012

Lawan Spanyol, Capello Tunjuk Lampard Jadi Kapten

07/03/2026

Islamic Center di New York Dibom

25/01/2021
Aceh Pungo

100 Siswa SD Ikuti Lomba Nulis FLP

08/12/2018

About

ACEHPUNGO.COM dengan motto Galak-galak Kutak Sigo adalah situs berita gaya hidup untuk milenial Indonesia

Follow us

Categories

  • Budaya
  • Edukasi
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Inforial
  • Internasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Nanggroe
  • Nasional
  • News
  • Olahraga
  • Opini
  • Politik
  • Sosok
  • Teknologi

Recent Posts

  • Xiaomi 18 Pro Dipastikan Rilis Global, Apakah Indonesia Kebagian?
  • Malware MacSync Mengincar Pengguna Mac: Aplikasi Palsu, Backdoor, dan Trik Kalender iCloud
  • Pengembang Data Center Tawarkan Rp180 Juta per Rumah di Pennsylvania, Mengapa Warga Tetap Menolak?
  • WhatsApp Uji Tampilan Baru di Android, Tombol Meta AI Masuk Navigation Bar

Newsletter

  • About
  • Contact
  • Disclaimer
  • ToU
  • Partnership

© 2026 AP.com - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya

© 2026 AP.com - All Rights Reserved.