• About
  • Contact
  • Disclaimer
  • ToU
  • Partnership
Friday, October 9, 2026
ACEHPUNGO.COM
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya
  • Opini
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya
  • Opini
No Result
View All Result
Acehpungo.Com
No Result
View All Result
Home Opini

Beranikah Menjadi Aceh dan Pemimpin Bagi Diri Sendiri?

Harlan by Harlan
07/03/2026
in Opini
0
20
SHARES
91
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Mariska Lubis

Di tengah suasana yang tidak karuan seperti sekarang ini di Aceh, teringat akan sebuah nasehat yang disampaikan oleh kakek. Dia pernah berkata, yang isinya kira-kira, “Yang sebaiknya kamu pelajari dari Aceh adalah kemampuan orang Aceh di dalam berdiplomasi. Kemenangan mereka di dalam perjuangan bukanlah menggunakan kekuatan fisik, tetapi keahlian di dalam berpikir dan berkata”.

READ ALSO

Kami Tidak Sekolah, Memangnya Kenapa?

Tips Sukses Orang Pidie di Perantauan

Beliau bercerita beragam contoh yang pernah dilakukan oleh para pemimpin Aceh pada masa perjuangan dahulu, yang juga beliau sedikit uraikan dalam bukunya yang berjudul “Kilas Balik Revolusi”. Satu cerita yang paling saya ingat adalah ketika beliau dikirim oleh orang tuanya bersama anak-anak Aceh yang lain untuk belajar di luar negeri. Tentunya, tidak semudah sekarang ini bisa mengirim anak ke luar negeri. Bukan hanya urusan uang semata, tetapi juga urusan kepentingan politik.

Para orang tua mereka berdiplomasi kepada Belanda dengan dalih bahwa dengan mengirimkan anak-anak pribumi yang potensial belajar ke luar negeri, maka Belanda tidak perlu lagi repot di dalam mengurus dan mengatur segala urusan di Aceh. Mereka jadi bisa lebih pintar dan tahu banyak sehingga pada saat mereka pulang nanti, mereka dapat bekerja dan mengabdi pada Belanda. Yah, ini hanyalah sebuah taktik saja. Yang sebenarnya dilakukan adalah, untuk menjadikan generasi penerus mereka lebih pintar sehingga pada saat pulang nanti, bisa membantu perjuangan dan melawan Belanda. “Pergi dan bergaullah dengan Belanda, curi ilmu mereka dan gunakan untuk melawan mereka sendiri.”

Yah, memang banyak kontradiksi di dalam juga mengenai hal ini mengingat kebencian terhadap Belanda sangatlah tinggi. Ditambah lagi banyak ketakutan bahwa dengan mengirimkan generasi penerus ke luar negeri, maka mereka akan menjadi “kebarat-baratan” dan lupa akan akar budayanya sendiri. Yang paling ditakutkan tentunya soal agama dan keyakinan. Semua ini bisa dimengerti tetapi lagi-lagi kemampuan untuk meyakinkan bukan hanya pada mereka yang menentang tetapi juga pada generasi penerus yang sudah dipersiapkan ini, terbukti bahwa semua itu hanyalah ketakutan yang berlebihan semata.

Yang saya tahu pasti, tidak ada satu pun dari kakak beradik kakek saya yang dikirimkan, lalu berubah menjadi “Barat”, mereka justru sangat nasionalis dan berjuang terus bagi bangsa dan negaranya. Agama dan keyakinan mereka pun dipegang teguh dan tidak ada yang bisa mengubah mereka. Demikian juga dengan beberapa orang kawan mereka yang saya kenal, semuanya memiliki kepribadian yang sangat kuat dan berani.  Almarhum Hasan Tiro?! Apakah dia pernah berubah?!

Maksud dari saya menyampaikan ini semua adalah untuk sekedar berbagi kenangan atas apa yang telah dilakukan oleh para pendahulu. Saya sedih bila melihat keadaan Aceh sekarang ini. Rasanya tidak percaya Aceh sudah kehilangan apa yang dulu pernah ada. Kecerdasan di dalam berpikir jauh ke depan itu sekarang berubah dengan kekinian. Lihatlah bagaimana situasi dan kondisi di dalam menjelang Pilkada sekarang ini. Sesama orang Aceh sendiri saling baku hantam dan dengan cara-cara yang sangat mengkhawatirkan sekali. Kenapa harus dengan cara saling sikut dan menjatuhkan?! Mengapa tidak ada yang mau merangkul dengan penuh ketulusan tanpa ada maksud untuk kepentingan pribadi semata?! Mengapa tidak ada yang mau berbuat untuk semua selain hanya untuk “mencari nama” dan meraup suara?! Kapan konfilk di Aceh mau selesai bila orang Aceh-nya sendiri terus berkonflik dan tidak juga mau bersatu?!

Generasi muda yang merupakan cikal bakal tulang punggung pun sering dianggap enteng dan tidak penting, tetapi selalu digunakan dan dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan politik. Darah muda yang terus bergejolak dan keberanian yang terkadang seringkali tidak mampu dikendalikan menjadi sasaran yang sangat empuk untuk menjadi bahan permainan. Apalagi bila dalam keadaan labil, bingung, dan tidak memiliki arah serta kepribadian yang kuat. Demokrasi dan kebebasan yang “ditanamkan” pun sesungguhnya hanyalah alat untuk “mencuci otak” dan mendapatkan tempat saja. Toh, kekuasaan masih terus mendominasi dan menjadi momok yang menakutkan karena ada banyak sekali ancaman dan kekerasan yang dilakukan. Jadi, jangan heran bila banyak yang menyesal di kemudian hari meski sudah kepalang basah dan tercemplung ke dalam lumpur.

Membaca apa yang dilakukan oleh Generasi Kuneng menantang para pemimpin dan seluruh orang Aceh untuk mendukung film “Garamku Tak Asin Lagi”, menjadi sebuah harapan di dalam hati ini. Saya salut! Paling tidak, ada generasi muda yang mampu melihat dengan jelas apa yang seharusnya dilakukan di dalam menghadapi situasi dan kondisi yang sekarang sedang terjadi. Menyatukan seluruh orang Aceh dan membangkitkan solidaritas kebersamaan untuk mendukung sesuatu yang positif menjadi sangat penting saat ini. Tidak perlu harus melihat siapa dan bagaimana, tetapi apa yang sudah dilakukan. Kreatifitas dan karya bukanlah sesuatu yang mudah untuk dibuat, karena itu perlu diapresiasi oleh bersama.

Menurut saya pribadi, inilah bagian dari apa yang saya maksudkan dengan kemampuan orang Aceh di dalam berpikir dan berdiplomasi. Tidak perlu ada kekerasan di dalamnya, tetapi jelas menggunakan tindakan dan perbuatan nyata yang mengandalkan pemikiran dan hati. Idealismenya nampak sangat jelas dan kuat, serta apa yang dilakukan bisa memberikan efek yang sangat positif baik untuk saat ini maupun nanti. Persis seperti apa yang sudah dilakukan oleh para pendahulu orang Aceh di masa perjuangan lalu meski dalam bentuk yang berbeda.

Silahkan saja bila para generasi tua ini ingin terus berkonflik dan merusak, tetapi jangan pernah merusak generasi yang akan datang. Janganlah pernah berkata bahwa semua yang dilakukan adalah karena cinta kepada anak-anak bangsa, bila memang terus saja mencoba melenyapkan dan menghilangkan jati diri mereka. Jangan pernah juga menuntut generasi muda untuk lebih maju dan berkembang bila yang tuanya pun selalu saja berpikiran dan memiliki hati yang “terkotak”. Jangan salahkan internet dan budaya asing, deh!!! Lebih baik bercermin saja dulu, berani dan mampukah untuk jujur?! Benarkah sudah mampu memiliki cinta kepada generasi yang akan datang ini dengan menjadikan mereka sebagai generasi yang mandiri, cerdas, sehat, dan memiliki kepribadian yang kuat?! Bukan sebagai anak yang merasa dimiliki dan dikuasai lalu dituntut untuk membalas budi, ya!!!

Bagi generasi muda Aceh, jadilah Aceh yang sejatinya. Kuatkan dan perkokoh diri sebagai Aceh. Berpikir dan berperilakulah seperti layaknya seorang Aceh sejati. Jangan pernah takut dengan keadaan dan situasi karena kita tidak diatur oleh keadaan. Kitalah yang seharusnya bisa mengatur keadaan. Baik dan buruknya Aceh di masa depan ada di tangan kalian semua. Bersatulah untuk satu tujuan yang pasti!

Sekarang, sebagai seorang perempuan yang bukan orang Aceh dan tidak tinggal di Aceh, saya yang menantang semua generasi muda Aceh, “Beranikah kalian menjadi Aceh yang sekaligus pemimpin bagi diri sendiri?!”.

Oh, ya! Jangan lupa dukung Film “Garamku Tak Asin Lagi” dengan cara ketik EAGLE (Spasi)) GARAM ke 9899. Yang membuat film itu, sedang berkompetisi di ajang Eagle Award, dan mereka berdua adalah saudara kalian sendiri! Putra Aceh! Saya pun mengirimkan untuk mendukung, masa kalian tidak?! Yuk!!!

Related Posts

Kami Tidak Sekolah, Memangnya Kenapa?
Opini

Kami Tidak Sekolah, Memangnya Kenapa?

07/03/2026
Ilustrasi tips sukses orang pidie di perantauan
Opini

Tips Sukses Orang Pidie di Perantauan

07/03/2026
Siapa Perempuan di Samping Muzakir Manaf?
Opini

Siapa Perempuan di Samping Muzakir Manaf?

07/03/2026
Surat Hasan Tiro kepada Jenderal De Gaulle yang Menggemparkan Perancis
Opini

Surat Hasan Tiro kepada Jenderal De Gaulle yang Menggemparkan Perancis

07/03/2026
5 Pejuang Perempuan Aceh yang Tak Mirip Kartini
Opini

5 Pejuang Perempuan Aceh yang Tak Mirip Kartini

07/03/2026
Dialog Politikus dengan Pelacur
Opini

Politikus dan Seorang Pelacur

07/03/2026
Next Post

Tujuh 'Incumbent' Jalani Pemeriksaan Kesehatan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

POPULAR NEWS

ilustrasi ancaman keamanan kripto

Waspadai Serangan AI dan Eksploitasi Kontrak Cerdas di 2025

08/05/2026

iPhone 18 Pro Kantongi TKDN dan Postel, Kapan Resmi Dijual di Indonesia?

30/09/2026

Bill Gates: AI Cukup Kuat untuk Picu Kematian Satu Miliar Orang, Serukan Regulasi Pemerintah

28/09/2026
Xiaomi 18 Pro Dipastikan Rilis Global, Apakah Indonesia Kebagian?

Xiaomi 18 Pro Dipastikan Rilis Global, Apakah Indonesia Kebagian?

05/10/2026
Ilustrasi Jadwal dan Harga Tiket Bus Banda Aceh - Medan

Jadwal dan Harga Tiket Bus Banda Aceh – Medan Terbaru

03/05/2026

EDITOR'S PICK

Dhadak 2018, Film India Tersadis Malam Ini

Dhadak 2018, Film India Tersadis Malam Ini

07/03/2026
Pimpinan Al Qaeda

Pimpinan Al Qaeda Kelahiran AS Terbunuh

08/12/2018

Beckham Akui Indonesia Miliki Pemain Bertalenta

07/03/2026
Penggagas WSC di Bumi Serambi Mekkah

Penggagas WSC di Bumi Serambi Mekkah

11/07/2018

About

ACEHPUNGO.COM dengan motto Galak-galak Kutak Sigo adalah situs berita gaya hidup untuk milenial Indonesia

Follow us

Categories

  • Budaya
  • Edukasi
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Inforial
  • Internasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Nanggroe
  • Nasional
  • News
  • Olahraga
  • Opini
  • Politik
  • Sosok
  • Teknologi

Recent Posts

  • Xiaomi 18 Pro Dipastikan Rilis Global, Apakah Indonesia Kebagian?
  • Malware MacSync Mengincar Pengguna Mac: Aplikasi Palsu, Backdoor, dan Trik Kalender iCloud
  • Pengembang Data Center Tawarkan Rp180 Juta per Rumah di Pennsylvania, Mengapa Warga Tetap Menolak?
  • WhatsApp Uji Tampilan Baru di Android, Tombol Meta AI Masuk Navigation Bar

Newsletter

  • About
  • Contact
  • Disclaimer
  • ToU
  • Partnership

© 2026 AP.com - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya

© 2026 AP.com - All Rights Reserved.