Malam Terakhir di Phnom Penh, Kami Dituduh Mencuri

0

SETELAH menempuh perjalanan selama enam jam, bus yang kami tumpangi pun tiba di Phnom Penh, ibukota Kamboja. Angka pada jam digital di layar smartphone kami tertulis 21:45. Artinya, bus yang menyerupai model robur di tempat kita itu tiba tepat waktu.

Di Phnom Penh kami tidak perlu lagi mencari atau membeli kartu internet. Soalnya, kartu Metfone yang kami beli sewaktu di Siem Reap masih bisa digunakan, karena masih ada sisa kuotanya. Saat itu, kami membeli paket 3GB seharga $3 untuk masa aktif 7 hari. Sambil berjalan kaki dari loket Rith Mony Transport Co, kami mulai mencari lokasi hostel yang sudah kami pesan sejak masih di Siem Reap. Dari tempat pemberhentian bus itu, posisi hostel hostel bisa dicapai dengan jalan kaki dalam waktu 15 menit.


Sejak di Siem Reap kami sudah berlatih jalan kaki, seperti layaknya turis asing. Kami terbiasa berjalan sejauh 4-6 kilometer setiap hari. Lebih sering ketika kami mencari rumah makan atau restoran yang menyediakan makanan halal (halal food). Namun, pengalaman berjalan kaki paling melelahkan adalah ketika mengeliling Angkor Wat, Ta Phrom atau Bayon Temple. Atau saat kami menikmati suasana malam di seputaran Pub Street di Siem Reap, berpindah dari satu ruas jalan ke ruas jalan lain. Malah, karena baru pertama kali ke Siem Reap, kami sering tersasar saat hendak kembali ke hostel.

Alhasil, kami berputar-putar di sepanjang jalan seperti orang yang tidak tahu jalan pulang. Sekali pun sudah mengikuti rute yang ditunjukkan oleh Google Maps, kami tetap saja kesulitan. Petunjuk di peta, jarak yang harus kami tempuh sudah dihitung selama sekian menit, tapi lebih sering meleset dari waktu yang diperkirakan itu. Namun, karena saat itu kami berstatus traveler, soal itu tak pernah menjadi kendala atau masalah. Bahkan lama-kelamaan kami menikmatinya, karena justru membuat kami lebih sehat. Setidaknya, bagiku, sepulang dari traveling itu, berat badan turun sekitar 5 kg.

Demi mencari hostel tempat kami menginap, kami berjalan kaki melewati beberapa blok pertokoan, sejumlah gang dan tempat hiburan malam. Tidak jarang, saat asik berjalan kaki, orang-orang lokal di sana menawarkan tuk-tuk, sejenis alat transportasi yang ditarik dengan becak mesin. Mereka tak hanya mewarkan tumpangan, melainkan juga wanita penghibur dan tempat message erotis. Lebih sering kami tolak secara halus agar si penawar tidak tersinggung.

Wajah kota Phnom Penh serupa dengan ibukota negara di Asia Tenggara lainnya: tidak begitu besar, tidak modern seperti layaknya sebuah metropolitan, semraut dan masih ada lokasi kumuh. Phnom Penh tak bisa dibandingkan dengan Singapore atau Kuala Lumpur, bahkan dengan kota Ho Chi Minh yang kami singgahi dua hari kemudian. Setidaknya begitulah tipikal kota di negara berkembang.

Sebetulnya kami bisa menumpang tuk-tuk agar lebih cepat tiba di hostel. Namun, karena ingin menikmati suasana kota di malam hari, kami lebih memilih jalan kaki. Bahkan, kami tidak langsung mencari warung makanan meski perut sudah minta diisi, karena ingin tiba di hostel lebih dulu. Kami berencana setelah mandi dan ganti pakaian, akan keluar lagi menikmati gemerlapnya malam terutama di kawasan turis, di Pub Street. Setelah berjalan kaki selama 15 menit kami pun tiba di hostel.

Hostel yang kami booking itu tak sesuai dengan ekspektasi kami. Dibandingkan dengan Siem Reap Pub Hostel, tempat kami menginap dua malam sebelumnya saat di Siem Reap, hostel yang kami booking di Phnom Penh lebih jelek dan tidak nyaman.

Selama dua malam di Phnom Penh, kami menginap di dua hostel berbeda. Malam pertama tiba di Phnom Penh, kami menginap di 19 Hours Hostel. Pengelolanya cukup ramah, sesuatu yang tampaknya biasa saja untuk kawasan turis. Kami memilih hostel ini karena harganya murah dan ratingnya lumayan bagus di TripAdvisor.

Terus terang, kami tidak suka hostel ini karena suasananya sangat tidak nyaman. Kamarnya cuma dipasang kipas angin, tidak ada AC, tidak dikasih handuk, dan kamar mandi hanya satu. Namun, sudah kepalang tanggung, kami tak punya waktu mencari hostel lain.

Penginapan dengan satu kamar dan memiliki 12 tempat tidur jelas tidak cocok hanya memiliki satu kamar mandi. Masalah pertama yang kami hadapi adalah harus antri tiap mau masuk ke kamar mandi. Sebagai informasi, di kamar tempat kami menginap itu terdapat 8 orang tamu atau hampir semua bed terisi penuh. Ada seorang tamu dari Beijing dan lainnya berwajah bule.

Menghadapi kondisi itu, temanku, Riadi cukup bersemangat memberi rating 1 bintang untuk hostel ini di TripAdvisor. “Kita kasih rating rendah yuk. Hostel ini tidak recommended untuk backpaker,” kata dia ketika kami hendak keluar untuk sarapan.

Itu sebuah penilaian yang cukup wajar. Di TripAdvisor hostel ini lumayan terkenal karena harganya murah. Tapi, begitu kami tiba di hostel ini, faktanya terbalik 180 derajat. Kami harus menaiki tangga untuk samapi di lantai 6. Kamarnya belum berkeramik hanya disemen biasa. Loker pakaian tidak seperti di Siem Reap Pub Hostel, tempat kami menginap sebelumnya selama di Siem Reap. Lokernya berupa kawat yang dirakit menyerupai jaring. Posisinya berada di bawah ranjang paling bawah, dan dipisah menjadi dua bagian: satu untuk tamu yang tidur di bawah, dan satu lagi untuk tamu yang tidur di ranjang atas.

Kami hanya semalam menginap di hostel itu. Pagi hari kami langsung check-out ketika hendak mencari sarapan di restoran Turki yang berada tak jauh dari lokasi hostel. Seusai makan, seorang teman kami melakukan searching mencari hostel terdekat. Ketemu. Local Riverside Hostel, namanya. Lokasinya tak jauh dari Mekong River. 

Tapi, kami tak langsung menuju hostel itu. Soalnya kami sudah memesan tuk-tuk untuk keliling kota Phnom Penh lebih dulu. Hari itu, ada dua tempat yang ingin kami tuju: Choeung Ek Genocidal Centre, sebuah ladang pembantaian orang Kamboja semasa Polpot berkuasa, dan Tuol Sleng Genocide Museum, sebuah museum tempat para tahanan anti-Polpot ditahan.

Ketika hari menjelang sore, barulah kami menuju Local Riverside Hostel. Kami disambut oleh seorang pengelola yang berwajah khas Kamboja: gemuk, pendek dan berkulit sedikit gelap. Setelah memeriksa bookingan kami, dia mengantar kami ke lantai dua, di mana kamar kami berada.

Saat kami memasuki kamar di hostel baru ini, kami berpapasan dengan seorang bule asal Kroasia. Dia memakai tongkat. Kakinya memang sedikit pincang ketika berjalan. Kepada kami, dia mengaku bekas seorang tentara, dan cacat di kakinya karena terkena peluru. Di kamar itu juga ada seorang bule perempuan berusia lanjut. Dia tidak banyak bicara. Selalu keluar-masuk kamar, dan di tangannya tak pernah lepas dari memegang sebuah buku. Kami memperoleh bed di dekat pintu. Posisi ranjang kami berdekatan dengan ranjang seorang jurnalis asal Filipina. Kami tidak ingat lagi apa nama medianya. Dia cukup ramah dengan kami, mungkin karena face dan warna kulit kami yang persis sama.

Selagi kami bersantai di balkon untuk menyulut rokok, dia datang menawarkan kami buah pepaya. Kami menolak dengan halus. Dia kembali ke ranjangnya, dan tak lama kemudian sudah muncul kembali di balkon sambil membawa pepaya yang sudah dikupas dan dipotong kecil-kecil. Dia menyodorkan ke arah kami. Merasa tidak enak, masing-masing mengambil satu potongan. “Thank you,” kata kami serempak. Kami tak tahu di mana dia membeli pepaya. Dia kupas sendiri pepaya itu dengan pisau lipat yang dibawanya. Benar-benar tipikal seorang backpaker. Belakangan, kepada kami dia mengaku datang ke Phnom Penh untuk traveling sambil menulis kisah perjalanan.

Malam itu, masing-masing kami keluar dengan tujuan yang berbeda. Namun, ketika larut malam kami kembali ke hostel, mulailah timbul masalah. Handycam, laptop dan uang 500 dollar milik jurnalis Filipina itu raib. Dia baru tahu kalau barang miliknya hilang itu saat dia kembali ke kamar setelah seharian hunting di kota Phnom Penh. Kepada kami dia mengaku, saat keluar dari Hostel, dia memang tidak membawa semua barang itu bersamanya. Dia sangat yakin sekali.

Semua tamu di kamar itu tahu soal berita kehilangan ini. Sang bule Kroasia mengaku ada orang lain keluar masuk kamar hostel yang memiliki 6 ranjang bertingkat atau 12 bed itu. Dia tidak hafal benar bagaimana wajah orang itu. Kemudian, traveler Filipina itu memberitahu soal kehilangan barang miliknya kepada pengelola hostel. Dia mulai ditanya bagaimana barang itu bisa hilang, barangnya ditaruh di mana, atau apakah ada kemungkinan kalau barangnya hilang ketika berada di luar hostel.

Setiap ada barang yang hilang, maka calon tertuduh utama adalah orang yang berada di kamar itu. Masing-masing orang saling mencurigai satu sama lain. Namun, posisi kami sedikit lebih aman karena kami adalah tamu yang baru memesan kamar di hostel ini. Setidaknya, barang itu hilang tak lama setelah kami masuk ke kamar itu. Dan, si jurnalis Filipina tahu kami keluar bersamanya malam itu, meski dengan tujuan berbeda.

Saat itu, kami dan turis Filipina itu mencurigai bule Kroasia bertongkat itu. Soalnya dia paling berisik di antara tamu yang menginap di sana. Namun, dia termasuk orang yang paling bersimpati atas kehilangan itu. Dia bertanya bagaimana barang itu hilang, dan ikut membantu si jurnalis wanita itu mencari barangnya di antara barang bawaan si wanita Filipina ini.

Jurnalis Filipina itu terkesan mencurigai bule perempuan yang bed tidurnya berada paling sudut. Dia paling tidak ramah di antara kami. Soalnya, jarang sekali dia berinteraksi atau sekadar say hello dengan kami. Bule Kroasia tahu kalau wanita Filipina itu mencuriga si bule wanita.

“Buang pikiran itu jauh-jauh. Dia orang yang sangat kaya di negaranya. Punya perusahaan dan mobil sport mewah,” jelas si Kroasia. Menurut dia, tak mungkin bule itu menggadaikan kehormatannya untuk sesuatu yang nilainya tak seberapa itu. Kami sadar, malam ini akan menjadi malam yang panjang. Untungnya kami dapat tidur dengan nyenyak setelah seharian jalan kaki di Choeung Ek Genocidal Centre dan Tuol Sleng.

Pada pagi harinya, pengelola hostel memberitahu kami akan memeriksa tas bawaan kami satu persatu. Namun, dia meminta kami memaklumi situasinya, dan dia meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Pertama-tama, pengelola memeriksa si jurnalis Filipina siapa tahu terselip di mana barang itu. Nihil. Lalu, giliran tas kami yang diperiksa. Pengelola hostel membuka tas kami dan mengeluarkan isinya. Setelah dipastikan tak ada barang yang dicari, dia memasukkan kembali barang milik kami. Aku sendiri sempat deg-degan menghadapi situasi ini. Bukan tidak mungkin, sewaktu kami terlelap, ada yang mencoba memasukkan barang milik wanita Filipina itu ke dalam loker atau tas kami. Setidaknya, begitulah yang biasanya dilakukan polisi di tempat kita saat razia dilakukan.

Sewaktu tas seseorang sedang diperiksa, yang lain berdiri mengelilingi. Pengelola hostel punya senter kecil dan menyenter ke dalam tas para tamu. Saat tiba giliran tas orang Kroasia dan bule wanita, si jurnalis Filipina sendiri yang memeriksanya. Dia mengeluarkan semua barang milik si Kroasia dan bule wanita. Hasilnya tetap nihil. Berarti bukan tamu di kamar itu yang mencuri barang milik jurnalis itu. Kami semua lega.

Belakangan, saat kami sudah berada di Ho Chi Minh, si jurnalis itu menghubungi salah satu teman kami (kebetulan mereka saling bertukar nomor kontak saat di Phnom Penh). Dia mengabarkan bahwa barang miliknya yang hilang itu sudah ditemukan. []

Note: kami dalam tulisan ini adalah aku, riadi dan nabil.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here