MDF Gelar Pameran Foto Bertajuk Tsunami

0
139

Banda Aceh-Setelah hampir tujuh tahun mendukung proses pemulihan pascabencana gempa bumi dan tsunami, Multi Donor Fund (MDF) menggelar pameran foto bertajuk Kemitraan untuk Keberlanjutan. Melalui foto-foto yang ditampilkan, warga Aceh dapat menelusuri perjalanan proses rehabilitasi dan rekonstruksi yang didukung MDF di Aceh dan Nias.

Pameran foto yang digelar di Gedung Museum Tsunami ini, menampilkan 30 foto pilihan. Foto-foto yang ditampilkan menggambarkan perjalanan MDF dalam mendukung upaya pemulihan Aceh dan Nias sejak tahun 2005. Pameran foto yang dibuka oleh Asisten II, T.Said Mustafa mewakili Pj. Gubernur Ir.Tarmizi, A.Karim bersama Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia Stefan G. Koeberle. Pameran berlangsung mulai dari hari Selasa (28 Februari 2012) sampai 4 Maret 2012.

“Foto-foto ini benar-benar menyampaikan sebuah cerita yang kuat secara visual. Kita bisa melihat seberapa jauh Aceh dan Nias telah membangun kembali diri mereka untuk mencapai tempat mereka sekarang ini,” ujar Stefan dalam sambutannya di Gedung Museum Tsunami, Selasa (28/2).  Disebutkannya, MDF dan para pelaku sektor pembangunan lainnya merasa terhormat menjadi mitra dalam upaya yang luar biasa dari awal proses rehabilitasi dan rekonstruksi. Keberhasilan MDF dapat dilihat dari seberapa kuat para pemangku kepentingan berkolaborasi dan memainkan peran penting dalam keberhasilan pemulihan pascabencana dan membantu meletakkan landasan yang kuat bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan

Prestasi-prestasi MDF selama kurun tujuh tahun terakhir ini juga dapat dilihat dari Laporan Perkembangan MDF berjudul Kemitraan untuk Keberlanjutan , yang baru diterbitkan.  Laporan ini menyoroti pencapaian penting dalam rekonstruksi program dan upaya rehabilitasi di Aceh dan Nias. Sampai saat ini, dalam program rehabilitasi dan rekonstruksi, MDF telah membangun hampir 20.000 rumah dan 670 sekolah serta infrastruktur transportasi utama, termasuk lima pelabuhan utama dan 700 km jalan nasional, provinsi , dan kabupaten .

Upaya rekonstruksi besar di Aceh dan Nias secara luas dinilai berhasil dan telah menarik perhatian secara global. Laporan MDF menyebutkan, keberhasilan dicapai karena  pendekatan yang unik dan sangat kolaboratif antara pemangku kepentingan. Hal ini didukung kepemimpinan yang kuat dan peran koordinasi yang dimainkan oleh Pemerintah Indonesia.

“Kemitraan yang dibangun oleh MDF, telah memainkan peran kunci dalam capaian hasil kinerja program MDF, terutama dalam mengharmonisasikan upaya donor dan menyatukan berbagai pemangku kepentingan dari pemerintah, donor, masyarakat dan organisasi masyarakat sipil,” jelas Asisten II Pemerintah Aceh, Pj Gubernur Aceh Ir.Tarmizi A. Karim, pada kesempatan yang sama.

Dia menambahkan, pemerintah sangat senang bahwa MDF selalu mempertahankan komunikasi terbuka dengan pemerintah pusat dan daerah. Hal ini memastikan bahwa kontribusi MDF dan programnya sejalan dengan prioritas pemerintah. Program MDF kini memasuki tahun terakhir, dengan berakhirnya mandat pada Desember 2012.

Menurut Shamima Khan, Manajer MDF, “Proyek-proyek yang tersisa sekarang berfokus pada implementasi akhir dan strategi penutupan, mentransfer aset rekonstruksi, mempromosikan keberlanjutan, dan mendokumentasikan pembelajaran  untuk memastikan tercapainya manfaat dari rekonstruksi bagi masa yang akan datang.

MDF telah sepenuhnya mengalokasikan dana yang tersedia untuk  portofolio 23 proyek. Sebagian besar dana telah dikucurkan ke proyek-proyek dan akan dihabiskan pada tahap akhir pelaksanaan proyek di tahun 2012 ini.

Menurut Ir. R. Aryawan Soetiarso Poetro, M.Si, Direktur Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal, Bappenas, “Selaku salah satu koordinator MDF, kami sangat senang dengan komitmen yang kuat dari para pemangku kepentingan untuk bekerja sama guna memastikan keberhasilan pelaksanaan dan pencapaian MDF. Kami ingin bahwa kerjasama ini tetap kuat saat kita memasuki tahun terakhir program, dan kami yakin bahwa para pemangku kepentingan akan terus mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan pembangunan Aceh dan Nias ke masa depan.”[release]