Politik Laba-Laba

0
71

Oleh Azmi Abubakar

Laba-laba adalah makhluk mulia yang diciptakan Allah dengan segala keunikannya. kemuliaaan tersebut menjadikan namanya manjadi salah satu surat dalam Alquran  (Al-Ankabut). Sementara literatur  Islam pernah  mencatat peran besar laba-laba suatu ketika dalam membantu Nabi dari pengejaran kafir Quraisy, yakni setelah  Nabi keluar dari gua yang pintunya bersarangkan laba-laba. Berkat kuasa tuhanlah sarang laba-laba masih tertata rapi dan utuh sebagaimana mestinya.

Tulisan ini  tak lain adalah wujud pembelaan penulis tehadap  filosofi laba-laba atau rambideun  yang sering dipojokkan dalam beberapa catatan liar. Padahal, jika ingin mengkaji lebih dalam lagi ada hal-hal menarik yang bisa kita ambil dari laba-laba. Sekian dari filosofi laba-laba menjadi menarik apabila kita kaitkan dengan dunia politik, untuk seterusnya penulis sebut sebagai politik laba-laba.

Umumnya, seorang anak kecil  tentu saja mempunyai rasa takut manakala berdekatan dengan laba-laba  karena posturnya terkesan menakutkan. Filosofi ini bermakna bahwa  laku rakyat dalam percaturan politik umumnya cenderung bersikab dingin nan takut pada penguasa. Peluang ini selanjutnya dimanfaatkan oleh penguasa untuk terus menjajah, sehingga rakyat akan selalu bertingkah bagai anak kecil  diperbudak.

Namun manakala anak beranjak dewasa, ketakutannya kepada laba-laba menjadi hilang. Artinya dalam fase ini,  ketakutan rakyat kepada penguasa menjadi berkurang. Proses belajar dari pengalaman hidup yang kian menjepit adalah salah satu dari penyebabnya. Posisi rakyat yang semakin dewasa dalam memaknai kemerdekaan dan harga diri juga salah satu penyebab lainnya. Bahkan parahnya dalam fase ini, rakyat sudah berani melawan penguasa sekalipun, dimana keberanian rakyat muncul akibat desakan-desakan batin  ketidakadilan.

Sedangkan filosofi laba-laba dari segi bahasa,  jika dihilangkan satu kata ia akan jadi laba. Yakni laba yang bermakna keberuntungan. Kalau sang penguasa benar-benar merajut jaringan  yang baik maka serta merta akan menghasilkan laba bagi dirinya juga laba bagi masyarakat. Sementara laba kalau di balik akan menjadi bala, yang bermakna kalau sang penguasa tak mampu membina jaringan dengan baik, justru akan menjadi bala bagi dirinya dan masyarakat.

Karena pada intinya semakin baik dan gigih jaringan yang dirajut maka akan semakin memperkokoh eksistensi seorang individu sebagai pelaku politik, sebaliknya  kalau tidak pandai-pandai merajut jaringan maka cepat atau lambat  ia akan tersungkur. Namun ini tak berarti bahwa posisi seorang yang berhasil merajut jaringan akan mulus begitu saja. Membangun kepercayaan (trust) antar sesama jaringan sangat urgen untuk diperhatikan. Kalau itu tidak ada, niscaya membuat eksistensi pelaku politik  melemah tanpa daya.

Maka beruntunglah golongan-golongan yang selalu merajut jaringan dengan baik, selalu ingin tampil lebih baik, menerima segala kritikan-kritikan yang membangun. Golongan-golongan ini tak harus berteriak kalau mereka selalu berjuang untuk rakyat, tapi rakyatlah yang menilai.

Rasulullah Saw pada dasarnya telah mewariskan qudwah mulia bagaimana merajut jaringan. Hal itu terlihat dalam berbagai aspek sosial kemasyarakatan yang terbina dengan baik kala itu. Perjanjian Hudaibiyah dan kebijaksanaan Fathul Mekkah adalah sekian dari qudwah mulia yang patut kita contohi kembali. Dimana perjanjian Hudaibiyah yang pada dasarnya tak mendatangkan manfaat sedikitpun bagi kaum muslimin, namun terbukti mampu mengubah rasa persaudaraan antar kaum mulismin semakin tangguh.

Sedangkan peristiwa fathul Makkah kembali memperlihatkan kebijaksanaan Rasulullah untuk memaaafkan orang-orang yang dulunya adalah musuh beliau dengan syarat mulia. Yakni bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan bersaksi bahwa Muhammad sebagai utusan Allah. Selanjutnya qudwah mulia ini dilanjutkan kembali oleh para Khulafaur Rasyidin yang tak diragukan lagi sepak terjang mereka.

Sampai kepada masa pemerintahan Bani Umayah dengan  Umar bin Abdul Aziz-nya yang terkenal sebagai pemimpin adil nan sederhana. Daulah Abbasiyah dengan Harun Ar-Rasyid-nya yang mampu menggetarkan Eropa karena cahaya ilmu yang semakin benderang di tanah Baghdad kala itu. Imperium Turki Ustmani dimasa jayanya telah menjadikan Islam begitu kuat dan tangguh dalam segala bidang. Singkatnya semua  episode nyata dari sejarah islam itu tak lepas dari proses membangun jaringan yang benar dan kuat.

Dalam wawasan keacehan kita mendapati sosok Sultan Iskandar Muda dengan Aceh Darussalamnya, beliau sukses merajut jaringan sehingga membuat nilai tawar Aceh semakin tinggi . Jaringan yang beliau rajut tentu saja bukan jaringan cilet-cilet. Buktinya Sultan Meukuta Alam berhasil membawa Aceh ke puncak kejayaan, hatta menjadi salah satu kerajaan islam lima besar dunia kala itu.

Dalam studi kotemporer, maka kita akan mendapati bagaimana rakyat Mesir dengan segala kekompakannya  akhir-akhir ini berhasil menumbangkan rezim tirani Mubarak. Dengan jaringan  kuat bersama Ikhawanul Muslimin, maka tekad dan semangat Mesir untuk mengokohkan umat Islam kembali semakin menunjukkan nilai-nilai positif.

Akhirnya proses belajar kepada  laba-laba adalah sebuah keniscayaan bagi Aceh hari ini. Belajar bagaimana sebanarnya membangun jaringan yang baik layaknya qudwah mulia yang Nabi dan sahabat-sahabat amalkan. Serta menjadi pembelajaran kembali kepada kita semua disetiap keberhasilan dinasti besar Islam masa lalu dalam merajut jaringan demi terciptanya Aceh yang lebih baik.

Azmi Abubakar adalah Peminat masalah politik, budaya dan sejarah. Mahasiswa Universitas Al-Azhar, Cairo. Aktivis World Achehnese Association (WAA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here