Prospek Bisnis Koran Harian di Aceh

Belajar dari kasus gulung tikarnya Harian Aceh

0
198

Bisnis koran atau media massa cetak di Aceh sebenarnya masih cukup menjanjikan. Dengan jumlah penduduk mencapai 5 juta jiwa, seharusnya Aceh harus memiliki 5 media cetak harian, tidak harus setiap kabupaten/kota memilikinya.

Dengan memiliki banyak media, sebenarnya tak hanya daerah dan masyarakat yang diuntungkan, melainkan pihak media sendiri, terutama dalam menghasilkan karya liputan mendalam. Masing-masing media tentu saja akan mengemas isi sebagus mungkin dan bersaing menghadirkan tulisan berkualitas untuk menarik minat pembaca. Media juga nantinya akan berkontribusi dalam pembangunan daerah sebagai lembaga kontrol sosial.

Sedikitnya jumlah media cetak Harian di Aceh boleh disebut merugikan, untuk tidak dikatakan sebuah kemunduran. Selama ini, masyarakat tidak pernah mendapatkan berita-berita yang mencerahkan dan layak dibaca. Pasalnya, berita-berita yang sudah dikemas sedemikian rupa sarat dengan kepentingan pemilik media maupun pemerintah. Sehingga berita-berita yang dimuat lebih banyak berjenis talking news, berita pujian dan pemujaan, serta sangat sedikit yang langsung bersentuhan dengan masyarakat banyak apalagi dapat bermanfaat bagi mereka.

Harian Aceh lahir di tengah kondisi demikian. Berbekal semangat para jurnalis muda, Harian Aceh mencoba mencari jati diri sebagai media yang benar-benar mewakili masyarakat Aceh sebagai harian lokal. Harian Aceh bukan bagian dari konglomerasi media besar, melainkan murni media lokal. Harian ini bisa lebih terbuka menyuarakan kepentingan daerah dan masyarakat tanpa dipengaruhi oleh kebijakan redaksional dari group besar.

Namun, dengan kondisi yang serba keterbatasan dan kekurangan (dari segi modal dan personil), Harian Aceh masih bisa bertahan hingga berusia empat tahun. Usia yang masih sangat rentan untuk tenggelam dibawa arus persaingan maupun tekanan. Meski sebenarnya, usia lama-tidaknya media, tak berpengaruh pada pencapaian visi-misi media bersangkutan.

Tetapi, patut juga ditangisi, jika di Aceh hanya tinggal satu media cetak saja. Karena masyarakat Aceh kembali disuguhkan dengan berita-berita hasil rekonstruksi awak redaksi setelah berkongkalingkong dengan pihak luar. Soalnya, ketika jumlah media sedikit, atau hanya ada satu media yang memonopoli opini publik, media tersebut akan cenderung tak terkontrol dan sewenang-wenang, terutama dalam menurunkan laporan. Bukan rahasia lagi, jika banyak peristiwa dengan perspektif berbeda jarang muncul di media, karena pertimbangan intervensi kekuasaan.

Harian Aceh
Ada tiga pertanyaan penting yang dapat diajukan dalam menganalisa Harian Aceh jika ingin terus eksis dalam menyuarakan kepentingan publik. Pertama, bagaimana prospek Harian Aceh di tengah kondisi Aceh yang terus berubah? Kedua, tantangan apa yang dihadapi Harian Aceh? Ketiga, apakah masih ada jalan?

Dalam menganalisis prospek bisnis Harian Aceh, mau tidak mau kita harus menggunakan model analisis SWOT (strengths, weaknesses, opportunities, thereats). Kita akan mengkaji sejumlah kekuatan yang dimiliki Harian Aceh, memetakan kelemahan, peluang dan juga apa saja tantangan/ancaman yang dihadapi. Dengan model SWOT ini, kita akan mengetahui apakah bisnis Harian Aceh bisa terus bertahan atau akan tergerus seiring waktu.

Pendekatan ini sangat lazim digunakan dalam menganalisis kekuatan sebuah gerakan atau prospek usaha sebuah perusahaan ketika memiliki kompetitor bisnis sejenis. Analisa SWOT ini juga tidak salah ketika digunakan untuk menganalisis masa depan sebuah media yang baru berkembang seperti Harian Aceh.

Dengan pendekatan analisis SWOT ini kita akan mendapat gambaran utuh terkait kekuatan apa yang dimiliki Harian Aceh, kita akan tahu kelemahan-kelemahan Harian Aceh, peluang-peluang yang tersedia, serta ancaman atau tantangan yang dihadapi.

Kondisi Terakhir
Banyak orang tidak tahu, bahwa sebenarnya Harian Aceh diambang kebangkrutan dan berhenti terbit. Pertama, terjadi saat Mustafa Glanggang masih memiliki saham di Harian Aceh. Saat itu, Mustafa tersandung kasus kasbon Bireuen, sehingga banyak dana yang dihabiskan dalam proses hukum tersebut. Akibatnya, Harian Aceh hampir kesulitan untuk membiayai dana produksi seperti membeli kertas dan juga membayar gaji karyawan. Jika tidak terjadi proses pengalihan saham secara cepat kepada Zulkifli (abang kandung Wakil Gubernur Muhammad Nazar) dan Lukman Abba awal 2008, maka Harian Aceh sudah berhenti tersebut.

Kedua, saat pihak percetakan yang mengelola mesin cetak mengancam menghentikan cetak Harian Aceh jika sejumlah utang yang besarnya hampir mencapai 800 juta. Sejak ancaman pemutusan cetak secara sepihak oleh pemilik percetakan, nasib Harian Aceh benar-benar di ujung tanduk. Pihak manajemen Harian Aceh hanya diberi waktu 5 hari oleh pemilik percetakan untuk menyelesaikan masalah utang-piutang. Jika dalam rentang waktu tersebut tak ada kejelasan, mereka mengancam akan menghentikan mencetak koran Harian Aceh. Ancaman itu kemudian bukan sekadar ancaman, melainkan benar-benar dilaksanakan.

Pihak redaksi Harian Aceh sudah merancang akan mengumumkan ke publik, kebetulan waktunya berbarengan dengan libur puasa. Sejumlah pesan sudah dirancang, seperti jeda terbit dengan alasan untuk memperbaiki manajemen dan peremajaan mesin cetak. Pengelola Harian Aceh hanya memiliki waktu 3 hari untuk memutuskan apakah Harian Aceh akan tetap terbit atau berhenti? Dalam rapat redaksi bersama pihak manajemen, kemudian diambil sebuah jalan tengah: Harian Aceh tetap terbit seperti biasa, tetapi cetaknya di Medan. Selain itu pihak redaksi bersedia gaji telat dibayar untuk menjaga kelangsungan koran.

Akhirnya, tantangan tersebut mampu terlewati, dan Harian Aeh masih tetap terbit hingga hari ini. Respon publik pun sangat luar biasa. Harian Aceh sering jadi rujukan untuk berita-berita besar yang jarang digali secara dalam oleh koran lokal lain, karena pertimbangan satu dan lain hal.

Perjalanan Harian Aceh selanjutnya bukan tidak ada kendala. Sebagai media yang lemah dari sisi keuangan, Harian Aceh seperti berjalan tertatih-tatih seperti koran baru terbit. Mulai oplah yang mulai berkurang, hingga iklan yang makin jarang. Setiap ada pemasang iklan, harus cepat-cepat ditagih untuk menutupi biaya produksi. Kondisi ini sebenarnya sangatlah tidak etis, dan pemasang iklan menjadi malas untuk kembali memasang iklan di Harian Aceh. Nyawa Harian Aceh benar-benar sangat tergantung pada iklan.

Masalahnya, pendapatan dari iklan juga belum signifikan dan sama sekali tak cukup. Jangankan untuk membayar gaji karyawan, untuk membayar biaya cetak saja tak cukup.

Belakangan ini, pemasukan Harian Aceh, dari iklan dan juga sirkulasi berkisar pada angka 40-45 juta per bulan. Sementara untuk biaya cetak per bulan sebesar Rp80 juta, ditambah biaya pengiriman dari Medan ke Banda Aceh Rp15 juta, juga biaya pengiriman paket ke daerah pantai barat sebesar Rp5 juta per bulan. Hasilnya, untuk biaya produksi menelan biaya Rp100 juta setiap bulannya. Selanjutnya, untuk membayar gaji karyawan dan honor wartawan di lapangan, Harian Aceh harus menyediakan dana antara Rp30-40 juta setiap bulannya, di luar itu juga harus membayar honor penulis dari luar, yang nilainya berkisar Rp7 juta setiap bulan.

Dari hasil pemasukan dan dana yang harus dikeluarkan sangat tidak seimbang. Dana yang masuk setiap bulan Rp40-45 juta, sementara dana keluar (ongkos produksi dan honor karyawan) sebesar Rp140 juta. Artinya, setiap bulan Harian Aceh defisit Rp100 juta. Hitung saja berapa defisit keuangan Harian Aceh dalam jangka waktu setahun, Rp1,2 miliar! Sebuah angka yang cukup fantastis dan tentu saja tidak kecil.

Beban Psikologi
Kondisi demikian jelas berpengaruh pada psikologi para pekerja. Misalnya, banyak wartawan yang tidak lagi bergairah meliput dan menulis. Ruang redaksi jelas terganggu ketika setoran berita berkurang. Para penjaga gawang harus jungkir-balik demi menghasilkan berita yang berkualitas dan menjadi buruan publik. Tidak sedikit pula yang memutuskan mundur di tengah jalan, dan menerima ajakan bekerja di media lain.

Kondisi keuangan yang tidak sehat, jelas berpengaruh terhadap masa depan media. Apalagi, sebuah koran harian yang setiap hari harus melayani publik yang menginginkan berita-berita menarik dan mencerahkan. Ekspektasi yang besar dari para pembaca jelas tak bakal mampu dipenuhi oleh para pekerja media ketika psikologi mereka terganggu dengan kondisi keuangan perusahaan.

Saat kondisi keuangan sebuah perusahaan terganggu, tak ada jalan kecuali mencari investor baru, upgrade manajemen atau gulung tikar. Semua pilihan itu tentu saja tidak semudah membalik telapak tangan. Belum lagi jika usia sebuah media sudah lebih dari 5 tahun, masa di mana sebuah media sebenarnya sudah berada di titik aman. Banyak yang menyebutkan, ketika sebuah media harian bertahan hingga 5 tahun, akan sulit untuk gulung tikar. Cuma, setelah penetrasi media online kian kuat, banyak media mapan juga pada akhirnya harus gulung tikar, sementara yang masih bertahan hanya menanti giliran. []

Image source: 1, 2, 3

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here