• About
  • Contact
  • Disclaimer
  • ToU
  • Partnership
Thursday, October 1, 2026
ACEHPUNGO.COM
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya
  • Opini
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya
  • Opini
No Result
View All Result
Acehpungo.Com
No Result
View All Result
Home News Internasional

Tapol, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Harlan by Harlan
31/10/2011
in Internasional
0
20
SHARES
90
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
Seorang pria berdiri di antara para keluarga tahanan politik Burma dengan memakai baju bertulisan 'Free all political prisoners now' setelah para Tapol dibebaskan dari penjara Yangon, 12 Oktober 2011 - Getty Images

New York (IPS) – Sebagai satu langkah untuk memperbaiki catatan HAM-nya, pemerintah Burma mengumumkan pada 11 Oktober bahwa mereka akan membebaskan 6.359 tahanan. Namun berapa banyak dari jumlah itu akan diambil dari sekira 500 hingga lebih 2.000 tahanan politik belumlah jelas.

Hari berikutnya, Burma –secara resmi dikenal sebagai Republik Persatuan Myanmar– menetapkan pembebasan pertama sebanyak 200 tahanan.

READ ALSO

Independence Palace dan Jatuhnya Saigon

Patimat, Istri Khabib Nurmagomedov yang Misterius

Di antara mereka ada komedian dan aktivis Zarganar, yang ditangkap pada Juni 2008 karena berbicara kepada media asing tentang situasi genting jutaan warga Burma yang kehilangan rumah di delta Irrawaddy akibat hantaman topan. Lima bulan kemudian, Zarganar dijatuhi hukuman penjara 59 tahun dengan delik mengganggu ketertiban umum.

Kendati para aktivis dan organisasi internasional seperti HRW yang berbasis di New York umumnya menghargai pembebasan gelombang pertama itu, mereka tetap mengkritik cakupan sesungguhnya dari pengumuman itu.

“Ini satu langkah positif bagi para individu dan keluarga mereka. Tapi dalam koridor amnesti yang lebih besar, mereka harus membebaskan seluruh tahanan tanpa syarat,” ujar Elaine Pearson, wakil direktur HRW divisi Asia, kepada IPS.

“Ini sebuah langkah kecil yang maju. Orang-orang ini tak menawarkan keripik kentang atau sandera sehingga militer berkepentingan. Mereka adalah orang-orang yang ditahan secara tak adil.”

Into the Current, film dokumenter karya sineas Amerika yang berbasis di Bangkok, Jeanne Marie Hallacy, menggambarkan beberapa tahanan itu dan memberikan gambaran situasi politik dan sosial di Burma, sebuah negara yang berada di bawah pemerintahan militer sejak 1962 hingga 2011.

“Aspek paling menantang dari film tersebut adalah kami tahu bahwa kami harus mengandalkan ingatan,” ujar sutradara itu dalam sebuah wawancara dengan IPS.

“Benar-benar menantang kami untuk menemukan cara agar kami bisa mendorong dan membangkitkan emosi dan kemarahan mendalam dari orang-orang yang dipenjara tanpa petunjuk visual tentang apa yang pernah mereka alami,” ujarnya.

Namun kekurangan citra visual ini justru membuat film itu menimbulkan atmosfir menakutkan dan menyesakkan dada. Dengan mengandalkan pernyataan para mantan tahanan, teror politik dari rezim penindas memperoleh wajah, suara, dan takdirnya.

Salah satu dari ribuan tahanan yang mengalami kekejaman penjara-penjara Burma adalah Thet Moo. Dia ditahan selama tujuh tahun karena menjadi anggota All Burma Federation of Student Unions, yang ikut mengorganisasi pemberontakan nasional prodemokrasi pada 1988 tapi ditindak secara kasar oleh junta militer.

Di penjara, “Kami tak tahu masa depan kami,” kata Moo kepada IPS. “Saya tak tahu apakah bisa keluar dalam keadaan hidup atau tidak.”

Bukan hanya para tahanan yang menerima hukuman fisik dan mental dan fisik setiap hari. Sineas seperti Hallacy dan wartawan-wartawan yang membantu karyanya di Burma juga mendapat ancaman serius setiap hari.

“Bekerja di dalam negeri sangat sulit bagi wartawan dan media,” ujar Jeanne Marie Hallacy, yang belum mendapatkan visa Burma sejak 1990-an.

“Kami pernah melihat wartawan-wartawan Burma yang dihukum 65 tahun hanya karena sebuah berita. Dan kami punya informasi kuat bahwa mereka disiksa agar mau membocorkan informasi tentang kolega mereka di jaringan media bawah tanah ini yang mengumpulkan informasi.”

Untuk alasan ini, banyak materi dalam film merupakan rekaman lama yang diambil Hallacy selama 1990-an, rekaman yang difilmkan sembunyi-sembunyi, atau pernyataan dan objek-objek personal –potret keluarga, surat kepada teman, ataupun lagu yang dinyanyikan seorang tahanan.

“Orang-orang merespon kisah-kisah kemanusiaan secara individual –orang-orang yang ayah, ibu, atau saudaranya berada di dalam penjara,” kata Hallacy.

“Mereka sudah mati rasa dengan angka,” uajrnya. “Jika Anda mengutip data statistik, itu tak punya arti apa-apa bagi kebanyakan orang. Tapi jika Anda fokis pada kepahlawanan dan keberanian mereka, itu bisa berbicara banyak hal.”

Ada kesan Into the Current menggambarkan Burma secara negatif. Tapi pesan dalam film itu tak sepenuhnya pesimistik. Di bagian akhir, tokoh utama Bo Kyi, mantan tahanan politik yang kini jadi eksil di Thailand, akhirnya bisa melihat istri dan putrinya lagi.

Kendati keluarga mereka belum bisa menjalani hidup normal di Burma, harapan akan Burma yang lebih baik tetap hidup, terutama setelah terpilihnya pemerintahan baru tahun lalu.

“Masalah utama pemerintah baru adalah birokrasi mereka sangat lamban,” ujar Thet Moo. “Kami menunggu mereka berubah. Bila mereka berubah, semua orang pasti ingin pulang ke Burma.”

Bagi Pearson, Burma masih harus melalui jalan panjang dan berliku. “Burma merupakan negara yang memiliki kondisi HAM paling gawat di dunia,” ujarnya. “Kami belum melihat pemerintah baru ini benar-benar melakukan upaya untuk membuat perubahan di negara itu.”

Harapan terbesar Burma –dan salah satu tokoh yang selalu menjadi acuan film itu– adalah Aung San Suu Kyi, politisi oposisi Burma sekaligus peraih Nobel Perdamaian 1991 atas “perjuangan tanpa kekerasan demi demokrasi dan HAM”.

“Pesan film itu adalah menyampaikan bahwa antikekerasan adalah jalan mereka,” ujar Hallacy.

“Itulah yang akan menggerakkan perubahan –bukan balas dendam, kebencian, atau ganti rugi tapi kritik dan respon nyata atas kezaliman dengan kebaikan, karena itulah yang akan mengubah orang. Ketika Anda mengubah hati seseorang, otomatis Anda mengubah politik masyarakat.”

Aung San Suu Kyi tak pernah dipenjara tapi dikenai tahanan rumah selama 15 dari 21 tahun terakhir. Ini jadi salah satu alasan kenapa dia menjadi simbol oposisi melawan penindasan terhadap rakyat Burma, khususnya yang masih berada di penjara karena perlawanan mereka terhadap sistem pemerintahan.

“Kami tahu pembebasan 200 tahanan politik, sementara 1.800 lainnya tetap berada di penjara,” ujar Pearson. “Orang-orang tersebut mengkritik pemerintah, menulis artikel kontroversial di media, dan berpartisipasi dalam demonstrasi-demonstrasi. Mereka tak seharusnya dipenjara. Mereka adalah orang-orang yang seharusnya jadi bagian dari masyarakat.” [Christian Papesch]

 

Translated by Farohul Mukthi
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik, dan dimuat kembali di Acehcorner.Com atas izin Yayasan Pantau

 

Related Posts

Independence Palace dan Jatuhnya Saigon
Internasional

Independence Palace dan Jatuhnya Saigon

26/06/2020
Patimat istri Khabib
Internasional

Patimat, Istri Khabib Nurmagomedov yang Misterius

22/10/2019
Sarah Palin
Internasional

Suami Gugat Cerai Sarah Palin Setelah 31 Tahun Menikah

11/10/2019
Karina Roque
Internasional

Gadis 18 Tahun Potong Alat Vital Sang Adik dan Memakannya

08/04/2019
Sultan Muhammad V yang Menikahi Ratu Kecantikan 24 Tahun Turun Tahta
Internasional

Sultan Muhammad V yang Menikahi Ratu Kecantikan 24 Tahun Turun Tahta

07/01/2019
Ivanka Trump Gunakan Email Pribadi untuk Bisnis Resmi Gedung Putih
Internasional

Ivanka Trump Gunakan Email Pribadi untuk Bisnis Resmi Gedung Putih

21/11/2018
Next Post

Pelatihan Jurnalistik Siswa Berakhir

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

POPULAR NEWS

ilustrasi ancaman keamanan kripto

Waspadai Serangan AI dan Eksploitasi Kontrak Cerdas di 2025

08/05/2026

iPhone 18 Pro Kantongi TKDN dan Postel, Kapan Resmi Dijual di Indonesia?

30/09/2026

Bill Gates: AI Cukup Kuat untuk Picu Kematian Satu Miliar Orang, Serukan Regulasi Pemerintah

28/09/2026
Pelatihan Keterampilan AI untuk UMKM

Meta Luncurkan Program Pelatihan Keterampilan AI untuk UMKM di Indonesia

09/07/2026
Ilustrasi Jadwal dan Harga Tiket Bus Banda Aceh - Medan

Jadwal dan Harga Tiket Bus Banda Aceh – Medan Terbaru

03/05/2026

EDITOR'S PICK

Rektor IAIN: Insya Allah Kampus akan Kembali Normal

23/02/2012
Irwandi Yusuf dan Pesawatnya

Dijegal Parnas Bukan Masalah Buat Irwandi Yusuf

07/03/2026

Satpol PP Razia HP, Puluhan Murid SMA Kesurupan

30/11/2011

Mahasiswa Aceh di Turki Doakan Korban Tsunami

28/12/2011

About

ACEHPUNGO.COM dengan motto Galak-galak Kutak Sigo adalah situs berita gaya hidup untuk milenial Indonesia

Follow us

Categories

  • Budaya
  • Edukasi
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Inforial
  • Internasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Nanggroe
  • Nasional
  • News
  • Olahraga
  • Opini
  • Politik
  • Sosok
  • Teknologi

Recent Posts

  • Malware MacSync Mengincar Pengguna Mac: Aplikasi Palsu, Backdoor, dan Trik Kalender iCloud
  • Pengembang Data Center Tawarkan Rp180 Juta per Rumah di Pennsylvania, Mengapa Warga Tetap Menolak?
  • WhatsApp Uji Tampilan Baru di Android, Tombol Meta AI Masuk Navigation Bar
  • iPhone 18 Pro Kantongi TKDN dan Postel, Kapan Resmi Dijual di Indonesia?

Newsletter

  • About
  • Contact
  • Disclaimer
  • ToU
  • Partnership

© 2026 AP.com - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya

© 2026 AP.com - All Rights Reserved.