• About
  • Contact
  • Disclaimer
  • ToU
  • Partnership
Wednesday, October 7, 2026
ACEHPUNGO.COM
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya
  • Opini
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya
  • Opini
No Result
View All Result
Acehpungo.Com
No Result
View All Result
Home Opini

Betapa…

Diyus by Diyus
07/03/2026
in Opini
0
Betapa…
20
SHARES
90
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Aku belum tidur. Pagi ini, tak terkejut kulihat mentari hadir. Cuma seperti kemarin dan ribuan kemarin yang telah berlalu. Sekonyong otakku kaget saat memikirkan ketidakkagetanku soal rutinitas mentari. Mestinya aku kaget mendapati nyawa masih bersatu dengan jasad, badanku masih mengandung hayat. Semestinya aku kaget, karena keterkejutan adalah wujud lain dari syukur. Mestinya aku kaget, sebab ‘masih hidup’ adalah sebuah kejutan besar, hadiah paling berarti dan nikmat yang tak terkira, sebesar apapun duka yang sedang kualami.

Mungkin itu sebab terkadang bosan menyergap. Ketika aku terlalu menganggap hidup sebagai sesuatu yang biasa dan sudah demikian semestinya. Padahal, hidup berisi segala penyebab mati; Semesta adalah ruang tiap kematian bertempat; Peristiwa berisi sebab yang dapat mencabut ‘hidup’ dari segala yang bernyawa. Maksudku, alam kehidupan menyediakan segala penyebab kematian, sebab orang bisa mati dengan sebab apapun. Terbatuk, tertabrak, tertembak, terjatuh, terperangkap, tertusuk, tertikam…

READ ALSO

Kami Tidak Sekolah, Memangnya Kenapa?

Tips Sukses Orang Pidie di Perantauan

Sementara semesta yang menjadi ruang kehidupan tak terelak dari tugas memberi ruang penyelenggaraan peristiwa kematian, sesibuk apapun peri-kehidupan sedang berlangsung. Mati tak mau menunggu ketika waktu telah tiba. Tak bisa ada tambahan tempo atau sekedar injury-time semata. Juga aktivitas makhluk hidup yang membentuk peristiwa, tak luput dari peran sebagai penyelenggara kematian. Segala yang hidup bisa mati dengan sebab peristiwa apapun, entah sedang bersenggama, tertawa, mencuci, merampok, mencangkul, menjahit, menggaruk dan segala macam yang masuk dalam golongan peristiwa dan aktivitas.

Jadi, dari segala sebab mati yang mungkin terjadi, celaka betul pikiranku yang selalu menganggap terbitnya matahari sebagai peristiwa biasa. Bukankan semestinya aku mesti bersyukur masih mendapat anugerah kehidupan hingga hari ini?! Dengan segala tingkah-polah pengguna jalan, temperamenku yang labil saat berhadapan dengan para pengundang celaka di jalan-raya, juga kecerobohan yang kerap kulakukan, semestinya aku beranggapan bahwa tiap hari adalah keajaiban. Bahkan mungkin tiap detik, tiap tarikan napas, tiap degub jantung dan denyut nadi mesti kusadari sebagai keajaiban.

Sudah semestinyalah aku mencambuk diri hari ini untuk menyadarkan pikiran sesat yang menganggap bahwa setiap hari itu biasa saja adanya. Betapa kurangnya daya-serapku terhadap makna keberadaan. Belum lagi soal kebiasaanku menyiakan keberadaan. Tak ada nikmat yang melebihi keberadaan. Meski saat menjadi ‘ada’ dari ‘tiada’ tiap diri mesti merasakan peliknya masalah hidup, meski tiap hidup dalam diri mesti kerap berhadapan dengan derita, meski tiap derita yang teralami meninggalkan jejak luka di relung batin terdalam yang tak bakal sirna hingga hari kebangkitan.

Makin merasa berdosa saja aku dengan segala tugas dalam hakekat keberadaanku. Apa yang sudah kulakukan untuk sesama ciptaan Ilahi?!

Jangankan untuk sesama, untuk dirikupun aku belum melakukan sesuatu yang layak. Aduh diri…

Begitu lapang terasa saat organ respirasi, ekskresi, sekresi dan reproduksi telah menjalankan fungsi dan tugas tanpa gangguan, tanpa sumbatan di tiap salurannya. Terlalu banyak yang perlu kupelajari sehingga tak perlu menghabiskan terlalu banyak waktu untuk bersedih dan meratap. Kupikir, bersedih dan meratap tetap perlu untuk menyeimbangkan gejolak hormonal yang timbul dari pergolakan rasa. Juga supaya orang lain tak menganggap diri ini tak berhati sebab tak berduka atas dera derita. Biar kaya’ orang-orang…

Tapi kalau terlalu berendam dalam duka, tidakkah kita serupa dengan sekubang air?!

Betapa bumi, bahkan semesta, tak lebih dari sebuah padang permainan umat manusia. Permainan yang menjadikan tiap diri menjalankan peran sesuai dengan minat dan bakat masing-masing. Bahkan, tak berlandas minat dan bakatpun boleh.

Betapa hidup ini berarti. Betapa tiap sadar atas hidup akan menjadikan bangun pagi sebagai momentum untuk merenungi sebuah keajaiban. Menyadari masih ada ruang bagi harap dan cita. Sebab, bisa saja, pada suatu pagi, satu di antara kita tak bangkit lagi dari kasur dan tiba-tiba sudah berada di liang kubur.

 

Image Source:

  1. First Image
  2. Second Image
  3. Third Image

Related Posts

Kami Tidak Sekolah, Memangnya Kenapa?
Opini

Kami Tidak Sekolah, Memangnya Kenapa?

07/03/2026
Ilustrasi tips sukses orang pidie di perantauan
Opini

Tips Sukses Orang Pidie di Perantauan

07/03/2026
Siapa Perempuan di Samping Muzakir Manaf?
Opini

Siapa Perempuan di Samping Muzakir Manaf?

07/03/2026
Surat Hasan Tiro kepada Jenderal De Gaulle yang Menggemparkan Perancis
Opini

Surat Hasan Tiro kepada Jenderal De Gaulle yang Menggemparkan Perancis

07/03/2026
5 Pejuang Perempuan Aceh yang Tak Mirip Kartini
Opini

5 Pejuang Perempuan Aceh yang Tak Mirip Kartini

07/03/2026
Dialog Politikus dengan Pelacur
Opini

Politikus dan Seorang Pelacur

07/03/2026
Next Post
Aktor Ini Tak Muncul di Game of Thrones Musim Terakhir

Aktor Ini Tak Muncul di Game of Thrones Musim Terakhir

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

POPULAR NEWS

ilustrasi ancaman keamanan kripto

Waspadai Serangan AI dan Eksploitasi Kontrak Cerdas di 2025

08/05/2026

iPhone 18 Pro Kantongi TKDN dan Postel, Kapan Resmi Dijual di Indonesia?

30/09/2026

Bill Gates: AI Cukup Kuat untuk Picu Kematian Satu Miliar Orang, Serukan Regulasi Pemerintah

28/09/2026
Xiaomi 18 Pro Dipastikan Rilis Global, Apakah Indonesia Kebagian?

Xiaomi 18 Pro Dipastikan Rilis Global, Apakah Indonesia Kebagian?

05/10/2026

WhatsApp Uji Tampilan Baru di Android, Tombol Meta AI Masuk Navigation Bar

01/10/2026

EDITOR'S PICK

Begini Bunyi Mantera Makan Kaca

Begini Bunyi Mantera Makan Kaca

09/05/2018

Selama Januari, Aceh Diguncang Gempa 10 Kali

29/01/2012

Kubu Islam Dulang 65 Persen Suara Pemilu Mesir

25/12/2011

Pakistan Perintahkan AS Tutup Pangkalan Udara Shamsi

27/11/2011

About

ACEHPUNGO.COM dengan motto Galak-galak Kutak Sigo adalah situs berita gaya hidup untuk milenial Indonesia

Follow us

Categories

  • Budaya
  • Edukasi
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Inforial
  • Internasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Nanggroe
  • Nasional
  • News
  • Olahraga
  • Opini
  • Politik
  • Sosok
  • Teknologi

Recent Posts

  • Xiaomi 18 Pro Dipastikan Rilis Global, Apakah Indonesia Kebagian?
  • Malware MacSync Mengincar Pengguna Mac: Aplikasi Palsu, Backdoor, dan Trik Kalender iCloud
  • Pengembang Data Center Tawarkan Rp180 Juta per Rumah di Pennsylvania, Mengapa Warga Tetap Menolak?
  • WhatsApp Uji Tampilan Baru di Android, Tombol Meta AI Masuk Navigation Bar

Newsletter

  • About
  • Contact
  • Disclaimer
  • ToU
  • Partnership

© 2026 AP.com - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya

© 2026 AP.com - All Rights Reserved.