Minggu, September 23, 2018
Beranda blog Halaman 2

September

0

Lingkar gerak waktu… Ah… sepertinya lebih sedap kalau kusebut ‘gerak melingkar Sang Waktu’ saja. Baiklah, kuulangi lagi:

Gerak melingkar Sang Waktu membawa kembali September ke hadapan. Nama bulan yang tak diterjemahkan ke dalam ejaan Bahasa Indonesia bersama nama bulan keempat yang menjadi pendahulunya, April. Jika sempat kau luangkan waktu untuk memeriksa lembar almanak, 10 nama bulan lain diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Penyesuaian yang dilakukan untuk menyerapnya dengan ejaan Bahasa Indonesia.

Tiap bulan pasti punya cerita kehidupan. Sebab peradaban bergerak dalam lingkar waktu, mengukir cerita. Itu pula sebab aku hendak menuliskan karya peradaban yang paling kompleks menggambarkan manusia; musik dan lagu. Mengapa bukan film? Sebab film tak selalu mengandung musik, tapi musik kerap menampilkan peran dan cerita yang terlingkup dalam film.

Sebagai bagian dari adonan lagu, ternyata September sungguh menginspirasi. Jika tak percaya, paste setiap judul yang kutulis dalam daftar berikut:

1. September by Earth (Wind & Fire)
2. September Song (Frank Sinatra)
3. Wake Me Up When September Ends (Green Day)
4. Maybe September (Tony Bennett)
5. It Might as Well Rain Until September (Carole King)
6. A Lonely September (Plain White T’s)
7. September When It Comes (Johnny Cash – Rosanne Cash)
8. September (Ryan Adams)
9. The 12th of September (Xavier Rudd)
10. September Ceria (Vina Panduwinata)
11. The September of My Years (Frank Sinatra)
12. September Morn (Neal Diamond)
13. September Skyline (Single File)
14. Pale September (Fiona Apple)
15. September Gurls (Big Star)
16. Come September (Natalie Imbruglia)
17. September (Bryan Ferry)
18. Blue September (Al Stewart)
19. September When I First Met You (Barry White)
20. The Late September Dogs (Melissa Etheridge)
21. See You in September (The Tampos)
22. September Song (Sunset Sons)
23. 10th of September Song (Tanpa Penjelasan)
24. September Song (Nadine Coyle)
25. September Song – Walter Huston
26. Make It Stop (September’s Children) – (Rise Against)
27. September (Daughtry)
28. September (The Shins)
29. September (Sweet & Lynch)
30. September Gurls (Big Star)
31. September Morn (Neil Diamond)
32. September Song (JP Cooper)
33. September Sun (Type O Negative)
34. September All Over (September)
35. September (Heather Duby)
36. September (Jean Michele Jarre
37. September (St. Lucia)
38. September (Komposisi vokal musikal karya Charles Ives)
39. September (Paduan Suara Stenhammar)
40. September (Paduan Suara Allea Willis)
41. September Music (Orchestra David Matthews)
42. Sister September (Anorexia Nervosa)
43. Flamming September (Marianne Faithfull)
44. Old September Blues (My Morning Jacket)
45. It’s September (Johnnie Taylor)
46. Sweet September (Bill Evans)
47. September is the Month of Death (Trembling Bells)
48. September 12th (Saul Williams)
49. September’s not so Far (The Field Mice)
50. Sweet September Morning (Buffy Sainte-Marie)
51. Sweet September Rain (Idha)
52. One September Day (Nina Simone)
53. Vier Letzte Lieder No. 2: September (Berlin Philharmonic, Gundula Janowitz, and Herbert von Karajan).

Selain lagu dan nama bulan, September juga nama panggung seorang penyanyi kelahiran Stockholm, Swedia yang bernama asli Petra Linnea Paula Marklund. Mungkin ia memilih nama panggung tersebut karena terlahir 12 September 1984. Selain itu hari lahirnya juga menjadi judul lagu Xavier Rudd (The 12th of September ) dan Saul Williams (September 12th).

Demikianlah sementara yang sanggup kulaporkan. Semoga aku cukup suntuk untuk menuliskan kisah di balik lagu di atas satu demi satu.

Image Source:

  1. Image1
  2. Image2
  3. Image3

Khayal

0

Aku sedang sibuk menonton Olena Uutai, musisi etnik Siberia yang berhasil mencuri perhatian dewan juri Britain Got Talent. Video pertamanya yang kutonton berjudul Blessing of the Nature. Selain menyebut pertunjukannya sebagai musik etnik, terkadang Olena menyebutnya sebagai musik Shamanic atau Neo-Shamanic. Ia mampu menirukan beragam suara beburungan, serangga, kuda, srigala, angin dan gemericik air. Singkatnya, variasi suara yang keluar dari mulut Olena membuatku merasakan nuansa rimba.

Perempuan warga Republik Sakha (Yutia) yang selalu tampil dengan pakaian tradisional nan berumbai-rumbai. Selain mempertontonkan suara, ia juga menggunakan alat musik tiup sejenis karinding. Situs-Situs internet menyebutnya Jaw’s Harp, harpa rahang. Di kepitan bibirnya, Jaw’s Harp itu menambahkan aksen mistis. Sebagai dukun, aku jadi tertarik dengan penampilan dan pakaiannya. Malam ini aku memang sedang ingin menikmati bising yang harmonis. Bermodal jaringan Wi-Fi tetangga, kucoba mencari ragam bising harmonis lain.

Kusambangilah Ana Vidovic yang memainkan Asturias karya Isaac Albéniz dengan gitarnya. Melihatnya tampil aku baru sadar, kaum perempuan tak berbeda dengan lelaki saat memainkan gitar, harus mengangkangkan kaki. Posisi tubuh yang tabu bagi perempuan di kebanyakan tatanan masyarakat. Namun, dari segi kebebasan ngangkang, setidaknya terjadi simbiosis mutualisme antara perempuan dengan gitar mengangkang.

Usai mendengarkan komposisi yang mengingatkanku pada film Jason Bourne itu, aku mencari perpaduan alat petik dan perempuan lainnya. Menurutku alat musik yang paling cocok dengan kaum Mamakku adalah harpa. Muncullah ingatan tentang lagu L’Amore. Gita berbahasa Catalan itu dinyanyikan dan diiringi petikan harpa Arianna Savall i Figueras, Perempuan Catalan yang lahir di Switzerland. Di satu sisi, Arianna Vandall kebalikan dari Hans Max Gamper-Haessig (sohor dengan nama Joan Gamper), lelaki Swiss yang mendirikan klub sepakbola di tanah Catalonia, FC Barça.

Akhirnya aku ingin mendengar lagi pencetan piano Maksim Mrvica, pianis Kroasia yang menampilkan style fashion ala rocker di panggung musik klasik. Gaya berpakaiannya mengesankan pemberontakan yang mesti kukagumi. Apalagi saat hunjaman jemarinya di puluhan tuts menghadirkan suara lebah dalam simponi Flight of Bumblebee; komposisi orkestra karya Nikolai Andreyevich Rimsky-Korsakov. Simponi yang sesungguhnya berasal dari sisipan (interlude) operanya yang berjudul The Tale of Tsar Saltan. Dengarlah sendiri, engkau pasti paham kenapa sang komposer menjudulinya Flight of Bumblebee.

Mataku tertumbuk pada pianonya, STEINWAY & SONS Spirio. Kucoba mencari tahu profil grand piano yang satu itu. Setidaknya, malam ini kuperiksa dahulu harganya, jadi nanti kalau sudah ada uang, aku tak lagi bingung mau beli apa. Suatu saat akan kubelikan untuk Lola Astanova. Kalau dia tak mau, biarlah untuk Alice Sara Ott atau Khatia Buniatishvili saja. Sekalian untuk Arianna akan kubelikan sebiji harpa LYON&HEALY model Prince William.

Kawan yang duduk di sebelahku terkekeh melihat aku mencari tahu harga alat-alat musik mewah itu. Jenis tawa yang sungguh melecehkan siapapun sasarannya. Persis ekspresi seseorang yang baru menginjak tahi anjing dan melihat sebagian sisanya di tapak sandal. Begitulah cara dia menatapku. Sungguh jarang ada tatapan semelecehkan macam itu. Tatapan Sinis-Sinis-Najis.

Aku memberengnya dengan lirikan. “Kenapa, Wak?!” tanyaku dengan nada menantang. Kalau silap dia jawab, bakal kulemparkan kulkas ke mukanya.

“Ngeri kali khayalan kau, rokok sama kopi aja nggak ada. Sempat-sempatnya kau berkhayal membeli harpa sama piano!” paparnya. Nada suaranya serupa dengan tatapan usil nan melecehkan itu.

“Jadi? Masalahnya di mana?!” tanyaku.

“Jangan berkhayal tinggi-tinggi. Nanti kalau tak tercapai bisa gila!” ia melanjutkan jawabannya dengan menertawakanku.

“Jadi ‘gini, Wak. Sudahlah kita ini miskin, tak berani berkhayal pula. Manusia macam apa yang tak berani berkhayal?! Kau pikir semua yang kita pakai hari ini tak berasal dari khayal. Itulah bedanya aku sama kau, Wak. Aku menganggap ruang khayal itu sebagai tempat paling berdaulat. Tak ada yang boleh menjajahnya. Kutengok kau beda pula. Teritori khayal kau udah terjajah. Ironisnya terjajah oleh ketakutan kau sendiri. Coba kau bayangkan kalau suatu saat orang-orang kaya yang tamak itu berhasil menciptakan mesin yang mampu memblokade daya khayal, mau jadi apa orang macam kita ini?!”

Ia mulai menunjukkan ketaklukan. Aku belum hendak berhenti. Kesalku bukan karena proses khayalku terganggu. Sebagai kawan dekatnya, aku merasa kasihan dengan cara berpikirnya. Berapa orang di luar sana yang berpikir seperti dia?! Sungguh mengerikan dunia berisi orang-orang yang tak berani berkhayal.

“Ampun, Waaakkk… udah cukup omelannya. Daripada kau omeli aku, mending kau lempar aja aku dengan kulkas” ujarnya menanggapi berondongan perluru omelan dari muncungku.

“Nggak bisa. Coba kau pikir, apa lagi yang bisa menghibur kita selain berkhayal?! Kalau nanti udah ditemukan mesin penyedot khayal, habislah kita. Setiap ingin berkhayal, kita mesti beli khayalan yang udah disedot dari otak kita dalam bentuk pulsa atau macam token listrik. Mau kau?!” bentakku.

“Nggak lah, Wak…” jawabnya dengan nada lunglai.

“Makanya. Jangan sepele dengan khayalan. Sekarang kesini kau!” bentakku.

“Mau apa, Wak? Jangan pukul aku, ya…” suaranya nyaris meratap.

Ngapain pula kupukul kau. Siapa lagi nanti yang mau jadi kawanku. Aku cuma mau membagi cara berkhayal yang baik sama kau!” ujarku sambil tertawa. Kamipun lantas terpingkal bersama menjelajahi ruang-ruang barang mewah tempat orang kaya mencari barang yang mereka inginkan.

“Kau ingat ini baik-baik, Wak. Camkan ini!” seruku, “Sebagai pengunjung website, kita tak ada beda dengan orang kaya yang mampu membeli barang-barang mewah ini. Kita dan mereka sama-sama berencana membeli. Sadarlah Wak, meski kita miskin, kita punya rencana yang sama dengan orang-orang kaya itu! Kita sedang jadi sehebat-hebat orang miskin. Orang miskin yang bermartabat. Orang miskin yang berani berkhayal sambil tetap berjuang untuk jadi kaya, Wak!” ujarku sambil menoyor kepalanya. Gelak tawa membuat kami terpingkal hingga terjungkal dari kursi.

Image Source:

  1. Image1
  2. Image2
  3. Image3
  4. Image4
  5. Image5

Korban Film Serial

0

Saya tidak pernah secelaka ini: menjadi korban film serial! Tidak pernah terlintas di benak saya menjadi penggemar film serial, tapi inilah yang terjadi. Itu semua tidak terlepas dari ulah para produser sialan yang suka bikin film serial, yang tidak ada habis-habisnya. Filmnya selalu dicicil, season demi season, episode demi episode, yang menghabiskan waktu bertahun-tahun. Tidak seperti sinetron yang dicicil per minggu.

Percayalah, sekali menjadi korban film serial, maka selamanya hidup kita tak pernah bahagia lagi. Pikiran kita selalu dibuat untuk menebak-nebak bagaimana kelanjutan sebuah kisah, memantau jadwal kapan season selanjutnya dirilis, dan dalam kondisi tertentu terpaksa menonton film itu dari awal lagi. Pada akhirnya banyak waktu kita tersita untuk hal-hal celaka begini. Sungguh naif sekali hidup kita.

Sejak 2011, saya menjadi korban film Game of Thrones. Hingga tahun 2018 ini, film dari benua fantasi itu belum selesai juga. Malah, kita harus bersabar hampir dua tahun untuk bisa menyaksikan musim terakhir yang juga tidak jelas apakah jadi tayang pada April 2019. Untuk menghibur diri juga agar tidak kehilangan keseluruhan cerita, saya masih harus menonton ulang film Game of Thrones ini, untuk kelima kalinya. Bisa kalian bayangkan, untuk satu musim ada 10 episode dengan durasi setiap episode hampir satu jam. Tidak terhitung berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk menonton film sialan ini.

Setelah masuk perangkap film Game of Thrones, saya pun kemudian terjatuh pula dalam lembah Marco Polo, sebuah film epik berlatar kisah Kubilai Khan, raja Mongol pendiri Dinasti Yuan. Setelah menonton season pertama yang memiliki 10 episode itu, saya harus bersabar selama setahun untuk dapat menonton season kedua tahun 2015. Sialnya, setelah menonton season kedua, saya harus bersabar lebih keras lagi, soalnya season ketiga belum juga dirilis hingga saat saya menulis postingan ini. Bahkan, saya mendapat rumor kalau season ketiga dan keempat akan digabung, dan dirilis dalam waktu yang berdekatan. Itu pun belum jelas kapan.


Saya bersyukur, kegiatan menonton ulang film, baik Game of Thrones maupun Marco Polo, sudah tuntas saya lakukan. Minimal, waktu saya lebih banyak tersita untuk film ini daripada membaca berita politik yang membosankan. Jangan kalian tanya bagaimana perasaan saya setelah menonton ulang itu. Sakit sekali. Sebab, kita yang sedang bersemangat dan merasa sudah hafal keseluruhan cerita, terpaksa harus memilih bersabar. Rasa ingin tahu harus kita bunuh seketika. Tersiksa betul kawan-kawan.

Seandainya saya boleh meminta kepada malaikat, saya ingin produser film serial ini dibenamkan ke dalam neraka paling dalam. Soalnya mereka sudah membuat hidup banyak orang tidak lagi bahagia. Bayangkan, seandainya ada penggemar berat yang mati tiba-tiba, sementara filmnya belum selesai dia tonton, dia terpaksa membawa rasa penasaran itu hingga ke dalam kubur. Hidupnya selesai, dan dia tidak akan pernah tahu bagaimana ending dari film yang ditontonnya bertahun-tahun itu.

Kalau saya nanti jadi produser film, saya tidak akan menyiksa penonton film saya dengan membuat film serial. Tidak akan! Karena saya sudah tahu bagaimana sakitnya menunggu film yang jadwal rilisnya tidak pernah pasti itu. []

Image source: 1, 2

Penulis Pemula

0

Lakab sebagai pemula memang tidak pernah enak didengar. Namun, suka atau tidak suka, lakab itu harus kita sandang ketika memulai sesuatu, termasuk dalam dunia tulis-menulis. Bahkan di Steemit pun, saat pertama kali mendaftar akun, kita pun akan mendapatkan reputasi 25 atau pemula. Begitu juga dalam merintis karir sebagai penulis, maka kita pun harus bersedia disebut penulis pemula. Tidak ada yang salah dengan sebutan ini.

Banyak penulis hebat yang karya-karyanya kita baca hampir semuanya merangkak dari bawah, menjajakan tulisan ke mana-mana, dan jatuh-bangun membangun reputasi sebagai penulis. Awalnya, banyak dari mereka gagal memasarkan tulisan setelah penolakan demi penolakan mereka terima. Apakah mereka menyerah? Tidak! Sebab, mereka tahu, menyerah sama saja dengan bunuh diri. Menyerah berarti upaya merintis karir sebagai penulis akan gagal dengan sendirinya.

Dan Brown, penulis buku laris Da Vinci Code, misalnya, pernah beberapa kali gagal mencari penerbit yang mau menerbitkan bukunya. Bahkan sejumlah penerbit menolak karyanya, termasuk novelnya yang menjadi best-seller itu. Pengalaman JK Rowling juga tidak jauh berbeda. Naskah Harry Potter, novel fantasi yang terkenal itu ditolak beberapa kali oleh penerbit. Penulis wanita asal Inggris ini tidak pernah menyerah, dan terus saja mencari penerbit yang mau menerbitkan karyanya. Apa yang terjadi? Mereka sukses menjadi penulis terkenal, saudara-saudara!

Kita tentu sudah banyak mendengar perjuangan para penulis saat mengirimkan tulisannya ke media. Berkali-kali mengirimkan tulisan ke media, tidak juga diterima alias ditolak dan masuk tong sampah. Ini sebuah proses yang wajar. Penulis berlabel pemula kerap mengalami hal ini. Bahkan, saya pernah membaca, seorang mantan pemimpin redaksi sebuah koran di Yogyakarta, pernah mengirimkan tulisan sebanyak puluhan kali ke media nasional, dan semua kirimannya masuk tong sampah. Karena penasaran, dia terus saja mengirimkan tulisan sekali pun berulang-kali ditolak. Alhasil, pada kiriman ke-51 tulisannya kemudian dimuat di rubrik opini yang sampai kini masih menjadi rubrik bergengsi di media itu.

Ada teman saya mengaku, pernah mengirimkan 30 tulisan ke koran Kompas, dan semuanya ditolak dengan alasan bermacam-macam: tulisannya kering, tidak punya tempat, pembahasan sumir, dan tulisannya terlalu lokal. Dia begitu senang ketika pada kiriman ke-31, tulisannya untuk pertama kali nongol di halaman opini koran nasional itu. Pengalaman saya sendiri tidak kalah dramatisnya. Lebih kurang 50 puluh artikel saya kirim ke Kompas, dan tidak ada yang dimuat. Setelah bertahun-tahun berlalu, kira-kira pada kiriman yang ke-50 lebih baru dimuat, dan itu menjadi satu-satunya tulisan saya yang dimuat di koran itu.

Pun begitu, bukan berarti tidak ada penulis yang sekali kirim langsung dimuat. Pasti ada yang mendapat kehormatan seperti itu. Biasanya ini terjadi pada orang yang lebih dulu memiliki brand atau lebih dulu dikenal sebagai pakar dalam satu bidang. Orang seperti ini biasanya ditawarkan untuk menulis oleh suatu media karena melihat kepakarannya.

Mohammad Sobary, misalnya, yang dikenal sebagai seorang budayawan. Suatu ketika di penghujung tahun 1989, dirinya mendapat tawaran untuk mengisi kolom di sebuah majalah terkenal di tanah air, TEMPO. Apa yang terjadi? Sosok yang disapa Kang Sobary tidak dapat tidur nyenyak memikirkan soal tawaran itu, dan dia seperti orang yang baru jatuh cinta. Menurut cerita, selama dua bulan dia galau dan gelisah, dan tidak tahu tema apa yang ingin ditulisnya. Alhasil, jadilah tulisan “Saya Cuma Kamino”, sebuah esai yang mengulas soal PKI di Bantul, Yogyakarta.

Kehormatan seperti Kang Sobary rupanya lebih dulu dinikmati oleh Soe Hok Djin atau yang lebih dikenal dengan Arief Budiman, abang dari Soe Hok Gie, aktivis yang ikut menumbangkan Orde Lama. Tahun 1961 atau menjelang terbitnya Majalah Intisari, PK Ojong dan Jacob Oetama menyambangi rumah Arief Budiman, dan mereka menawarkan kepada Arief agar bersedia mengisi kolom di majalah yang akan terbit itu. Soalnya, mereka ingin agar majalah itu lebih banyak berisi tulisan-tuilsan dari penulis dari Indonesia, bukannya karya terjemahan dari penulis luar. Maka, jadilah tulisan ‘Beberapa Hari di Ubud: Tjatatan perdjalanan dari Bali’, dan dimuat dalam Intisari edisi perdana yang terbit tanpa cover.

Kita tentu saja bukan Mohammad Sobary, Arief Budiman atau pun Gus Dur yang juga mendapat kehormatan serupa. Pun begitu, kita mungkin saja dapat mengikuti jejak mereka, menjadi penulis yang diminta menulis di sebuah media. Yang perlu kita lakukan hanya banyak membaca dan terus mengasah kemampuan. Jangan pernah berhenti mencoba. Menjadi seorang penulis sukses itu butuh kerja keras. Kesuksesan tidak akan datang dengan mengetuk pintu rumah kita. Ia harus diperjuangkan!

Image source: pixabay.com

Jalan

0

Sejak pertama menjadi penumpang bus, aku selalu memikirkan tentang jalan yang terbentang di hadapan kendaraan, selain kenangan pada sensasi mual yang kerap membuat aku muntah. Tak tahan dengan aroma asap dari mesin berbahan-bakar solar. Hamparan aspal hitam dengan garis putus-putus di bagian tengah. Menjelma garis tak terputus saat menjelang tiap tikung yang penuh misteri.

Perjalanan pertama yang kuingat saat bersama Uwek, nenekku dari pihak Mamak. Perempuan yang sepanjang ingatku lekat dengan aroma minyak angin merek Dewi Tunjong. Menumpang Liberty, bus angkutan antar kota dalam provinsi. Plastik kresek warna merah-semu, lapisan bangku penumpang berwarna kelabu dengan sungkup putih yang telah berhias warna daki. Juga titik-titik air yang menempel di kaca kala hujan turun.

Saat tamat SD, aku dititipkan ke keluarga Wak Alang, kakak Bapak yang tinggal di Lampahan, saat itu masih berada dalam wilayah Kabupaten Aceh Tengah. Setiap libur panjang sekolah, aku pulang ke kampung di Tamiang, yang saat itu masih termasuk wilayah Kabupaten Aceh Timur. Jalan menjadi tontonan periodik. Aku makin akrab dengan jalan dan perjalanan. Lintasan jarak yang menjadi pertunjukan dalam ruang penumpang, kerap kukhayalkan sebagai gedung bioskop untuk membunuh bosan.

Mulanya pemandangan di ‘layar’ tampak serupa. Kesan yang timbul akibat bosan. Padahal, saat kutempatkan hati untuk membantu mata melihat, beragam gambar kehidupan tampil sebagai tontonan tanpa naskah dan sutradara. Lakon yang mengalir oleh waktu, gejolak zaman, corak produksi dan semesta kelindan hidup. Lelaki tua yang tengah mengangkut rumput dengan sepeda ontel, perempuan yang menjunjung tikar pandan berkeliling mencari pembeli, sekumpulan lelaki di warung kopi, anak-anak berlarian di halaman sekolah hingga suasana panen atau bercocok tanam Oryza Sativa.

Jika beruntung, aku sangat terhibur saat mendapati pemandangan segerombolan anak-anak seusia yang tengah melambungkan layang-layang ke angkasa. Meski cuma beberapa detik, pemandangan layangan yang tengah menguasai dirgantara sungguh menjadi bagian yang paling menyenangkan dalam setiap perjalananku. Layangan yang mewakili keinginan manusia untuk terbang. Seperti Icarus, anak Daedalus. Biasanya aku akan melongokkan leher untuk membuat ruang pandang lebih leluasa. Beberapa detik pula lain yang melintas pula dengan lakon kecelakaan lalu-lintas, bus lain yang sedang mogok atau bocor ban, sampai seekor lembu yang tertabrak sebuah truk angkutan.

Pertokoan tua di tepi jalan menjadi bagian yang juga lekat dalam ingat. Warna putih kusam dari cat kapur, semuanya berlantai ganda. Ruang atas berjarak lebih pendek antara lantai dengan atapnya. Sepintas pandang, aktivitas di bagian beranda pertokoan itu tampak sama. Tulisan “Jual-Beli Hasil Bumi” berwarna merah tergurat di selembar tripleks kusam, buaian anak, perempuan berdaster atau sarung, juga dancing dari tembaga yang menggelantung di palang penyangga.

Rumah-Rumah masih terbuat dari kayu. Halamannya berhias pepohonan mangga, kuini, mancang, nyiur, jambu air, jambu klutuk sampai Mussaenda Pubescens. Halaman rumah berpagar bambu dengan segerombolan kanak-kanak yang berkejaran, meniti hari dengan canda dan pertengkaran secukupnya; menjadi nutrisi bagi pergaulan mereka mengisi masa tumbuh.

Persepsi pikiran terhadap jarak menjadi misteri tersendiri bagiku. Sepertinya saat tiba di Langsa, laju bus menuju ke Kualasimpang terasa lebih lamban. Belakangan kupastikan persepsi itu terjadi karena rasa tidak sabar, mempengaruhi keseimbangan hormon hingga mengganggu daya hitung otak atas jarak dan waktu. Jarak antar batu pal terasa menjauh. Sebentuk ekspresi rindu yang meluruhkan objektivitas. Rindu sambel terasi buatan Mamak, rentetan nasehat Bapak dan celoteh adik-adikku.

Kenangan itulah yang selalu melintasi dalam ingat, saat kulihat sebuah bus melintas di jalan raya, terkenang kembali pikiran sebagai ‘penonton’ seluruh adegan di tepi jalan. Memandang sambil mengkhayalkan seseorang yang tengah menempuh rindu, menaklukkan jarak dalam kendara. Jarak yang dalam benakku kini menjelma sebagai lorong waktu.

Image Source:

  1. Image1
  2. Image2
  3. Image3
  4. Image4
  5. Image5

Menjadi Content Creator Berpenghasilan Jutaan Rupiah

0
content creator

Tren harga Steem dan SBD yang terus melemah, membuat banyak steemian mulai banting stir mencari mainan baru. Tidak mudah menjadi content creator di Steemit di tengah penghasilan yang terus merosot. Beberapa di antara mereka mulai jarang memposting tulisan, hanya sebagian kecil saja yang masih bertahan karena passion mereka memang sebagai penulis dan conten creator.

Ada yang mencoba menghibur diri dengan harapan bahwa akhir tahun harga Steem dan SBD akan kembali naik. Mereka menganggap selama tulisan masih ada yang memberi upvote dan tetap menerima bayaran sekali pun kecil, tidak ada yang perlu disesalkan apalagi harus berhenti menulis. Toh, banyak platform yang tidak memberikan bayaran untuk para kreatornya, seperti menulis status di facebook atau berkicau di Twitter.

Dulu, para penulis di steemit tampak sangat gagah ketika harga 1 Steem/SBD masih berkisar antara 80 ribu hingga 120 ribu. Kini sisa-sisa kegagahan itu mulai memudar. Banyak steemian ‘fanatik’ memilih bertapa dalam artian sudah tidak aktif lagi menulis seperti sewaktu harga masih tinggi. Pencibir steemit kini semakin mendapatkan tambahan amunisi untuk menyerang dan melipatgandakan cibirannya. Sampai ada yang berkesimpulan bahwa kreator konten di steemit sudah mulai kehilangan ‘reman’.

Saya memang tidak punya hak untuk meminta para steemian agar tetap aktif di steemit. Tidak ada seorang pun yang berhak, termasuk si @ned sendiri yang hingga kini masih terus melakukan power down. Namun, kalau boleh memberi saran, saya hanya bisa menyarankan, ‘jangan menyerah dulu!’ terutama untuk Anda yang menasbihkan diri sebagai kreator konten. Sebagai content creator, lahan kita dalam menghasilkan dollar demikian luas, tidak hanya sekadar ‘bercocok-tanam’ di tanah steemit yang mulai gersang.

Cukup banyak peluang bagi kreator konten dalam menghasilkan dollar. Presiden Joko Widodo sudah memberi nasehatnya kepada kita setelah terpilih memimpin Indonesia empat tahun lalu. Yang perlu kita lakukan hanyalah ‘kerja, kerja, dan kerja.’ Kemajuan teknologi informasi dengan segala varian inovasinya adalah berkah untuk orang-orang kreatif, termasuk para content creator. Ada banyak alasan bagi kita untuk bertahan. Kenyataan memang menyakitkan, tapi jangan biarkan hal itu menggilas kreativitas kita.

Melalui tulisan ringkas ini, sekali lagi mengajak teman-teman kreator konten untuk membuat blog wordpress berbayar, dan mulai mengakrabi Steempress, sebuah plugin untuk memposting tulisan otomatis ke blockchain Steem. Kenapa ini penting dilakukan? Karena tanpa mengandalkan aplikasi pihak ketiga, sangat sulit untuk bertahan di Steemit, terutama di tangah rendahnya harga Steem dan jumlah vote yang kita terima. Setidaknya, voting dari Steempress bisa membuat kita sedikit bergairah di Steemit.

Ini memang pilihan sulit, terutama bagi kita yang isi dompetnya tipis. Jangankan untuk membeli domain+hosting seharga 1 juta, untuk membayar kopi saja susah. Tapi, teman saya pernah berkata bahwa untuk mendapatkan uang, kita harus “peupok peng ngon peng!” Soal bagaimana kerjanya, kalian bisa memikirkannya sendiri.

Apakah tidak ada cara lain yang tidak harus mengeluarkan uang? Ada! Tapi seringkali prosesnya sedikit lambat. Kita harus lebih banyak bersabar untuk mencapai titik aman pertama. Ada begitu banyak platform di internet yang memberi peluang bagi kreator konten mendapatkan penghasilan. Kali ini, saya akan membagi pengalaman dengan kalian semua. Saya memang belum begitu sukses di platform-platform ini, tetapi saya sudah mulai menikmati hasilnya sebagai content creator, meski tidak seberapa.

Pertama, cobalah kalian pelajari UC News, sebuah aplikasi baca berita dari UC Browser milik Alibaba. Untuk menjadi kreator konten di UC News, kalian bisa mendaftarnya di wm.ucweb.com, dan isikan dengan informasi yang diminta. Kalian bisa memilih menjadi kreator konten sesuai passion, seperti olahraga, hiburan, politik, sejarah, teknologi, humor dan sebagainya. Ingat, setelah mendaftar Anda tidak akan langsung diterima karena ada proses review dari mereka apakah aplikasi Anda layak disetujui atau tidak. Pun begitu, setelah disetujui, Anda tidak langsung menghasilkan uang, melainkan harus menulis dulu beberapa konten, hingga fitur monetisasi iklan disetujui. Menariknya, penghasilan di UC News ini dihitung bukan berdasarkan voting (lik) melainkan jumlah view. Semakin besar view untuk tulisan yang sudah diposting, maka semakin besar pendapatan yang akan Anda terima.

Kedua, Anda bisa juga mencoba menjadi penulis IDNTimes.com Community. Daftar saja di sana, dan setelah aplikasi Anda disetujui segera bikin postingan yang menjadi passion kalian. Sama seperti di UC News, pendapatan kalian dihitung berdasarkan jumlah view dari setiap tulisan. View tersebut kemudian diakumulasi dalam bentuk poin yang bisa dicairkan menjadi rupiah. Cara menghitungnya adalah, untuk tulisan yang mendapatkan view 100, Anda akan mendapatkan 1 poin. Sebagai contoh, kalau tulisan Anda mampu mendapatkan 150.100 view, berarti Anda akan memperoleh 1500 poin, atau kalau dirupiahkan menjadi Rp150.000. Ingat, minimal poin yang bisa ditukarkan adalah 500 poin.

Sekali pun Steemit sudah mulai tampak gersang, jangan pernah biarkan lahan steemit itu menjadi tanah tak terurus. Percayalah pasti ada sesuatu yang bisa ditanam di sana. Kita hanya perlu bersabar. Saya ingat sebuah ungkapan yang disampaikan teman saya sebelum tsunami memanggilnya menghadap ilahi. Katanya, “selama matahari masih terbit di ufuk timur, maka selama itu pula segala harapan dan cita-cita masih dapat digapai.”

Sudah siapkah Anda menjadi content creator berpenghasilan jutaan rupiah?

Image source: 1, 2

Pengakuanku

0
Populasi kecoak telah menurun di habitatnya, semesta dalam tempurung kepalaku. Kupikir segala soal dalam kelopak benak telah usai. Ternyata belum. Ternyata pula, demikianlah adanya jenjang ingin manusia. Terpenuhi satu, terbit pula ingin atas yang lain lagi. Setelah populasi kecoak berimbang dengan demografi benak, keinginan untuk menerima tamu muncul. Beriring sebentuk sadar, betapa sepinya sebuah tulisan tanpa interaksi berupa komentar.
Betapa berartinya setiap kehadiran komentar kawan-kawan Steemian yang singgah di tiap celotehku. Kita jadi bercakap-cakap. Interaktif. Apalagi jika berbumbu koreksi seperti Kak Cici yang selalu berhasil menemukan sebiji huruf yang kurang atau lebih dalam kata yang kuketikkan sebagai buah pikiran. Aku semakin mawas diri dengan tiap hentak jemari di keyboard.
Atau katakan saja rasa tertipu semacam pengalaman Yoesrizal Roesli dan Tueng Upah usai membaca tulisanku yang berjudul Perempuan yang Menggenapiku. Isinya perkara buku pinjaman Ihan Sunrise seri keenam Supernova, Inteligensi Embun Pagi. Buku terakhir yang menggenapi 5 seri terdahulu. Mungkin mereka berdua (atau ada orang lain yang tak turut berkomentar) berharap menemukan kisah asmara dalam postingan yang satu itu. Percayalah, aku sengaja melakukannya agar kalian terjerat dalam perangkapku. Hahahahahaha…
Teknik macam itu membuat aku sadar, betapa mengusili orang itu sungguh menyenangkan. Setidaknya di ranah tulisan. Percayalah, aku tertawa dengan rasa ketertipuan itu. Ya. Seperti menggoda atau memperolok kawan di dunia nyata, meski sebagian dari kalian belum pernah kujumpa di dunia nyata. Benar. Cuma pada orang-orang yang sudah berstatus kawan pula aku berani melakukannya. Berani bersenda macam itu. Mungkin kalau dengan orang lain, aku tak berani. Silap-Silap, bisa kena tempeleng awak.
Apalagi ketika menemukan Kak Alaika yang pernah kehilangan kantuk oleh komentar-komentar di senarai Para Perempuan Simpananku. Ia juga sempat gemas ingin menjitak kepalaku sesudah membaca [RA Kartini Bukan Pahlawan, Cut Nya’ Dhien Juga. Betapa indah ketika aku sukses menghancurkan asumsi banyak orang dengan memanipulasi persepsi lewat judul, cuma dengan tulisan. Ini jenis kebahagiaan yang mendekati kelainan jiwa. Nikmat yang bikin candu.
Masih ada Mira yang juga merasa tertipu dengan Jurus Mabok. Perempuan sebrilian itu cuma mampu bertanya kesal, “Astaga, ini apa???” Membayangkan mimiknya panik kebingung-bingungan (atau bingung kepanik-panikan) sungguh sebuah sensasi tersendiri. Parasnya yang menjadi perpaduan antara ekspresi slapstik dan manga itu bertabal kesal dan geregetan.
Hmmm… Ada peristiwa yang bikin aku girang bukan main. Ketika seorang penulis sekelas Ihan Sunrise berkomentar di Peran Jepang dalam Sebuah Ciuman Inter-Rasial, “…bolehkah istilah ‘ciuman bhineka tunggal ika’ itu aku tulis di status fb-ku?” Itu bukti tambahan bahwa aku mengalami gejala kerasukan ketika menulis. Aku tak sadar telah mengetik kalimat itu. Reaksiku saat membaca komentarnya adalah menekan tombol Ctrl+F, dan mengetikkan kata “Bhinneka Tunggal Ika”. Ternyata semboyan itu ada dalam tulisanku. Senang sekali ketika cerpenis dan sastrawati sepiawai beliau bersedia singgah, berkomentar dan mengapresiasi sedemikian rupa. Hatiku langsung memilih satu kata untuk menggambarkannya; bungah!
Aku merasa benar-benar ada. Mungkin kalian tak percaya, kerap kali kualami peristiwa yang pernah diungkapkan oleh Almarhum Rusdi Mathari, “Menulis adalah kerja kesepian!” Seingatku di tulisan itu ia membantah pernyataan Arswendo Atmowiloto yang berwujud buku berjudul Mengarang itu Gampang. Sementara dalam pengalaman batinnya di dunia penulisan, Cak Rusdi mengalami betapa sepinya aktivitas menulis.
Nah… Abang yang seorang ini bikin aku memahami sebab PYM Bookrak tak suka pujian. Putra Gayo yang bernama Iranda. Abang yang menyadarkanku atas gelisah PYM Bookrak itu ternyata diam-diam bikin catatan yang bergelimang pujian terselubung, 500 Words Artist. Aku suka pilihan judulnya, padu dan bernas. Tapi resah karena ada namaku di situ.
Aku senang, tapi jengah ketika dijejerkan dengan Ilina Tan dan Agatha Christie. Sementara, awak menulis masih belepotan dan mengikuti ritme khayal, tanpa konsep dan rencana. Tak berstruktur dan centang-prenang. Namun, resep paling mustajab menghadapinya adalah dengan memposisikan pujian itu sebagai do’a. Kupikir ini cara paling mujarab menjaga jarak antara diri dan kemabukan bersebab puji. “Aamien, Insya Allah, Bang…” demikian kujawab dalam hati.
Jadi begitulah. Semoga tetap ada orang yang beranggapan bahwa judul selalu mewakili isi, agar aku tak merasakan gersang dari efek kecanduan mengelabui kawan-kawanku. Sebab, saat menulispun, aku kerap tak tahu bagaimana ending-nya. Terkadang kalimat yang bermunculan dalam kepala begitu berkuasa, memaksaku untuk menuliskan kemauan mereka. Aku bukanlah penguasa atas semua imaji, bahkan yang tengah mengendap dalam kepalaku sendiri. Ada sebentuk kehidupan yang begitu saja menguasaiku. Merasukiku untuk bisa hadir dan tercatat dalam tulisku.
Setiap partisipasi berwujud upvote maupun komentar kalian sungguh bermakna, membuat aku merasa ada. Bahkan jika ada-ku bermakna menyebalkan sekalipun. Salam hormat untuk kalian yang tertulis, tidak tertulis, terlupa, juga yang enggan namanya kusebut di sini. Tabek!
Image Source:
2. Image2
4. Image4
5. Image5

Humor tentang Winston Churchill

0

Kalau ada humor yang melibatkan pesohor, maka humor tentang Winston Churchill termasuk salah satu yang paling saya sukai.

Pria flamboyan bernama lengkap Winston Spencer Churchill yang lahir pada 30 November 1874 di Istana Blenhiem, Oxfordshire, Inggris ini adalah pahlawan Inggris yang mengalahkan fasisme Eropa di Perang Dunia II. Pidato-pidatonya di parlemen Inggris turut membangkitkan semangat berperang di kalangan masyarakatnya untuk mengusir serdadu Hitler.

Cerita ini sudah pernah saya tulis di blog saya, begini kisahnya:

Suatu hari, dia bergegas berangkat ke kantor untuk memberikan sebuah pidato. Pidato yang begitu ditunggu. Biasanya dia memilih jalan kaki untuk tiba di kantornya, di Jalan Downing Street No. 10, sebuah alamat paling familiar di Inggris.

Sayangnya, hari itu sedang hujan deras dan dia tak mungkin jalan kaki ke kantor di tengah hujan deras. Menunggu hujan reda juga bukan pilihan bijak, karena dia harus cepat-cepat tiba di kantor. Dia punya jadwal menyampaikan pidato, yang sedang ditunggu-tunggu publik Inggris.

Di depan rumahnya, selalu ada taxi yang mangkal, karena sesekali sang Perdana Menteri memilih naik taxi. Selain nyaman juga dia bisa beristirahat dengan tenang tanpa diganggu dengan obrolan politik. Waktu di dalam taxi dia manfaatkan untuk membaca dan melupakan politik sejenak.

Rupanya, sang sopir itu sedang istirahat karena ingin mendengar pidato Winston Churchill, sosok yang kini mendekat ke tempatnya memarkir taxi. Sebelum Winston Churchill meminta diantar, sopir itu langsung bilang tidak mengantar sewa saat itu.

Si sopir sama sekali tidak sadar bahwa yang mengajaknya bicara adalah Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill.

“Saya tidak mengantar penumpang hari ini,” kata sopir seperti tahu keinginan Winnie, sapaan akrab Winston Churchill.
“Kenapa?” Churchill penasaran.
“Sebentar lagi Winston Churchill akan menyampaikan pidato,” jawabnya.
“Kita bisa mendengarnya di perjalanan,” Churchill memberi saran.
“Tidak enak mendengar di jalan, bising,” si sopir mencoba berkilah.

Winston tak kehabisan akal. Tawar-menawar pun terjadi. “Bagaimana kalau saya membayar dua kali lipat dari biasanya?”
“Saat ini, berapa pun Anda mau membayar saya tak peduli. Saya tak mau kehilangan kesempatan mendengar pidato Winston Churchill,” sopir masih mencoba menolak.
“Kalau saya bayar 20 Pound, bagaimana?” Churchill coba melipatgandakan bayaran.
“Tidak bisa,” jawabnya singkat.


Winston Churchill yang terburu-buru ingin tiba di tempat di mana dia akan menyampaikan pidatonya, sudah tidak peduli berapa ongkos yang harus dibayar asal tiba di tujuan.

“Bagaimana kalau 50 pound? Saya pikir ini bayaran paling besar yang Anda terima dengan jarak sedekat itu.” Tawaran itu sempat membuat sopir berpikir sejenak, dan kemudian tersenyum.

“Silahkan masuk. Persetan dengan pidato Winston Churchill! Mendengar pidato dia tak akan membuat saya memperoleh pendapatan 50 pound,” katanya. Taxi pun melaju kencang. Entah bagaimana wajah Churchill kala itu.[]

Image source: pixabay.com

Cerita Humor dari Pulau Aceh

0
pulau aceh

DULU pernah beredar sebuah cerita tentang Pulau Aceh, entah cerita itu benar atau tidak saya tidak tahu. Boleh jadi, cerita itu hanya sebagai humor belaka untuk menggambarkan betapa misteriusnya pulau yang berada di ujung paling barat Aceh itu. Pulau yang berdekatan dengan Sabang, dulunya memang sangat maju dan makmur dengan melimpahnya tanaman ganja, seolah tak mau kalah dari Sabang yang pernah menjadi penghasil cengkeh terbaik di dunia.

Konon, setiap orang dari daratan Aceh yang menyeberang dan mengunjungi Pulau Aceh, akan dilayani dengan sangat baik. Disambut dan dijamu melebihi seorang raja. Seakan-akan sang tamu adalah orang penting dan berpengaruh, dan mereka akan merasa berdosa kalau tidak melayani dengan sebaik-baik pelayanan. Semenjak dari lokasi pendaratan boat atau kapal motor, tamu dari daratan Aceh diperlakukan dengan ramah, kemudian diantar ke warung-warung yang tak jauh dari lokasi berlabuh boat.

Si tamu akan disuguhi aneka makanan khas penduduk pesisir atau seafod dalam istilah milenial. Semua makanan itu sebagai tanda kemuliaan. Memuliakan tamu sudah menjadi adat dan tradisi yang dirawat dan dijaga secara turun-temurun oleh masyarakat di sana. “Pemulia jamei adat geutanyoe,” demikian sebuah ‘ajaran’ yang dipegang dengan sangat erat oleh mereka.

Tamu tidak perlu takut untuk mencoba segala jenis hidangan itu, karena mereka tidak menuntut bayaran. Semua makanan itu gratis dan boleh dimakan, selama sang tamu sanggup memakannya. Kalau menu yang dihidang itu masih kurang, tamu dari daratan masih boleh meminta tambah. Tidak perlu malu dan sungkan. Sebagai tuan rumah, mereka berkewajiban melayani para tamu sebaik-baik pelayanan. Malah, mereka akan cukup senang kalau semua makanan yang dihidangkan itu membuat tamu senang.

Namun, jangan pernah berharap bahwa selesai makan kita akan diajak berkeliling di Pulau Aceh, mengunjungi areal perkebunan mereka atau melihat-lihat suasana di perkampungan. Tamu hanya boleh menikmati pemandangan yang berada di sekitar lokasi pendaratan boat saja. Setelah semua makanan itu dihabiskan, dan para tamu mulai kenyang, mereka akan senang hati mengantarkan tamunya kembali ke tempat di mana boat ditambatkan. Sudah saatnya tamu harus kembali pulang, ke tempat asalnya: daratan Aceh.

Bagi yang pertama sekali berkunjung ke Pulau Aceh, tak perlu merasa heran dengan perlakukan super-ramah dan sangat tidak biasa itu. Soalnya, dalam hal keramahan orang pesisir, tidak ada duanya. Sebagai tamu, tentu saja kita tetap heran, dan pasti bertanya-tanya dalam hati. Apa yang sebenarnya mereka sembunyikan? Sampai-sampai kita tidak boleh mengunjungi perkampungan dan perkebunan mereka. Rupanya, itulah cara mereka menjaga rahasia besar dari kampung mereka.

Masyarakat di Pulau Aceh tidak mau orang dari Aceh daratan mengetahui aktivitas dan profesi mereka sebagai petani ganja. Ya, Pulau Aceh memang terkenal dengan pertanian ganja kualitas super, tidak mau kalah dengan masyarakat Sabang yang memiliki komoditas cengkeh. Sebagai informasi, semua makanan dan kebutuhan untuk menjamu para tamu berasal dari hasil penjualan ganja.

Itu cerita zaman, sebelum tsunami meluluh-lantakkan daratan Aceh. Cerita ini sengaja diproduksi untuk memberi gambaran betapa tertutup dan misteriusnya kawasan Pulau Aceh. Kita tak bisa memverifikasi kebenaran cerita ini karena minimnya sumber tertulis, dan lagi pula cerita ini hanya diceritakan dari mulut ke mulut, dan si pencerita pasti akan tertawa setelah membagikan cerita ini.

Selain Weh di Sabang, Pulau Aceh ibarat seberkas cahaya yang kilauannya tidak pernah sirna. Ada sebuah pepatah lama yang menggambarkan bagaimana posisi pulau di ujung paling barat itu bagi Aceh. ”Munyoe intan han ek soe linteng, beuthat lam leubeung dibedoh cahya (Kalau intan tak bisa dihalang, walau di kubangan tetap bercahaya)”.

Saat Darurat Militer (DM) diberlakukan di Aceh, pulau Aceh pernah diwacanakan untuk disulap sebagai tempat tahanan untuk para mantan kombatan GAM. Soalnya, kawasan ini pernah menjadi salah satu basis gerilya pejuangan kemerdekaan itu. Atau setidaknya pernah menjadi sumber uang bagi para gerilyawan, tentunya dari tanaman ganja. Entah bagaimana kelanjutan rencana tempat tahanan itu, karena tidak ada informasinya lagi setelah itu.

Seperti intan, pesona pulau Aceh itu tak pernah pudar apalagi hilang. Belum lagi, pulau ini disebut-sebut memiliki kandungan emas yang melimpah, meski tidak sebesar Freeport di Papua, dan sempat diwacanakan untuk dijual atau setidaknya dijadikan kawasan wisata khusus dan lokasi judi untuk bule-bule, menyerupai Macau atau Las Vegas. Rencana itu tetaplah hanya tinggal sebagai rencana. Faktanya, pulau itu tetap indah mempesona, karena tsunami pada 26 Desember 2004 silam tak jua membenamkannya ke dasar lautan.

Hingga kini, kawasan yang memiliki dua pulau utama tersebut masih tetap tetap mempesona seperti semula. Nama yang disematkan untuk pulau ini pun saling berhubungan. Pulo Breuh (beras) dan Pulo Nasi. Tidak ada yang tahu bagaimana sejarah pemberian nama terhadap kedua pulau ini, tidak juga diketahui siapa orang yang pertama kali memberinya nama demikian.

Konon, warga setempat meyakini nama Pulo Breuh dan Pulo Nasi diberikan oleh orang yang datang dari daratan Aceh. Karena letak geografis, masyarakat dari daratan Aceh yang hendak berkebun (ganja) di sana, lebih memilih membawa beras alih-alih membawa nasi. Alasannya, kalau membawa nasi sebagai bekal, maka begitu tiba di kedua pulau itu, nasi bakal menjadi basi dan tidak bisa dimakan lagi. Makanya, mereka lebih memilih membawa beras, dan kemudian memasaknya di sana menjadi nasi. Maka jadilah, breuh (besar) dan nasi, sebagai nama pulau itu. Apakah cerita ini benar? Sekali lagi, ini hanyalah cerita yang beredar dari mulut ke mulut.

Yang pasti, kalau sekarang kalian pergi ke Pulau Aceh, kalian akan tetap diperlakukan dengan ramah, tapi tidak akan cepat-cepat diantar balik ke boat untuk segera pulang![]

Image: 1, 2

Travel Blogger dan Pembaca

0
travel blogger

Kegiatan traveling kerap membuat travel blogger kehilangan kontak dengan audiens mereka. Penyebabnya bisa macam-macam seperti sulitnya akses internet, banyak waktu tersita dengan aktivitas tak terduga, dan sering lupa mengupdate postingan di blog. Kondisi ini tentu saja wajar dan sangat lumrah sekali.

Selama traveling, tentu tidak banyak waktu tersedia untuk menulis. Waktu lebih banyak dihabiskan untuk jalan-jalan dan menjejahi tempat baru, bertemu banyak orang asing, serta menikmati sensasi yang seakan tidak ada habis-habisnya. Sebagai penulis blog perjalanan (travel blogger), kondisi minimnya waktu buat menulis itu menjadi sesuatu yang biasa. Kita tidak bisa berpura-pura tetap menulis agar terhubung dengan pembaca.

Bagi blogger travel yang masuk kategori seleb blog, pasti sadar bahwa pembaca mereka selalu menanti kisah keseruan apa yang akan dibagikan oleh penulis favoritnya itu. Setiap saat mereka akan mengunjungi blog penulis kesayangannya itu untuk mendapatkan tulisan terbaru, dan mereka pasti sedikit kecewa ketika tidak mendapati sesuatu yang di baru di dalam postingan blog. Si blogger tentu saja merasa bersalah seandainya tidak menuliskan apa-apa sebagai buah tangan dari aktivitas travelingnya.

Saya sendiri kerap merasakan beban serupa. Saya memang bukan penulis blog yang selalu konsisten mengisi blog dengan tulisan terbaru, lebih-lebih saat traveling. Saya memang menyukai menulis dan membagikannya kepada pembaca, tapi saya juga menikmati kegiatan traveling. Pengalaman selama ini, saat traveling, saya lebih memilih membiarkan blog tidak terupdate bahkan kadang-kadang sengaja menyembunyikan aktivitas traveling ini agar perjalanan saya jauh dari gangguan yang tidak perlu. Akibatnya, saya lebih sering terkesima dengan tempat baru yang saya datangi dan kemudian menjadi lupa menulis di blog, kecuali mencatat saja dalam bentuk catatan.

Blogger yang mencari penghasilan dari blog, kondisi begini tentu saja bukan sesuatu yang patut dipelihara. Bagi blogger yang diajak jalan-jalan oleh sebuah brand dan mereka dibayar untuk menulis tentang aktivitas dan objek wisata, tentu tidak menjadi masalah. Apalagi, sebuah brand biasanya mewajibkan blogger yang diajaknya itu menulis sesuatu setelah kegiatan jalan-jalan selesai. Namun, bagi blogger yang mengandalkan pemasukan dari klik iklan semisal Google Adsense, tidak mengupdate blog tentu menjadi sebuah masalah. Mereka butuh trafik dan update tulisan secara rutin agar blognya selalu ramai dikunjungi. Tanpa trafik, tidak ada klik, dan tidak ada klik berarti tak ada pemasukan.

Lalu bagaimana caranya agar selalu terhubung dan dapat menyapa pembaca selama kegiatan traveling? Banyak blogger memilih menyiapkan beberapa tulisan untuk jaga-jaga seandainya selama kegiatan traveling tidak sempat membuat posting baru. Misalnya, sebelum melakukan traveling, mereka sudah memposting tulisan di blog, dan menyimpannya sebagai draft atau mengatur jadwal penayangan. Draft atau tulisan yang sudah diatur jadwal tayang itu, akan secara otomatif terupdate sendiri sesuatu waktu yang sudah ditentukan. Jadi, tanpa menulis tulisan baru pun, blog mereka tetap saja terupdate.

Selain itu, kita bisa memilih untuk bersikap jujur kepada pembaca dengan mengatakan hal yang sebenarnya. Buat sebuah postingan di blog untuk menjelaskan apa yang sedang Anda lakukan dan sedang berada di mana saat menulis postingan tersebut. Gambarkan secara sepintas lalu apa yang Anda lihat, apa yang Anda rasakan serta kenapa hal itu penting Anda bagikan dengan pembaca. Tidak perlu harus menggunakan seribu-dua ribu kata. Anda bisa menulisnya dalam 500 kata, denga gaya penulisan seolah-olah Anda sedang berbicara dengan pembaca blog Anda.

Kalau pun Anda tidak sempat menulis, setidaknya Anda bagikan tulisan lama Anda yang kontennya masih relevan melalui Facebook, Twitter atau Instagram. Hal itu untuk memberitahu pembaca bahwa Anda tidak meninggalkan mereka. Dan pembaca jadi tahu bahwa sang penulis blog favoritnya bukan tanpa alasan tidak memposting tulisan terbaru di blog. Mereka tidak patah hati, kecewa dan kemudian karena merasa sang penulis sudah tidak mengupdate lagi blognya, mereka pun enggan berkunjung lagi ke blog Anda.

Terakhir, jangan mencontoh saya. Saya bukan travel blogger yang patut diikuti (bahkan untuk menyebut diri travel blogger pun sudah merupakan kesalahan yang sangat fatal), karena setiap melakukan traveling pasti jarang update blog. Biasanya, setelah kegiatan traveling selesai, baru menyicil tulisan satu-persatu. Hal ini memang tidak dilarang, tapi dengan melakukan praktik begini, keseruan traveling menjadi hilang dengan sendirinya. Soalnya, kita hanya menulis kegiatan traveling yang sudah kadaluarsa!

Image: pixabay.com

Apapun Ceritanya Produksi Bollywood Tetap…

0

Sudah 2 hari ini aku berturut-turut menonton film India. Setelah Kuch-Kuch Hotta Hai, 3 Idiots, PK dan Padmaavat, berturut-turut aku nonton Hichki dan Pad Man. Film India memang pintar mengaduk perasaan dan menguras air mata. Itu sebabnya, selain Kuch-Kuch Hota Hai, aku selalu nonton film India sendirian. Apakah aku menangis? Apakah aku tak mau orang menangisi sebuah film? Itu rahasia perusahaan.

Apapun jawabannya, akan sangat buruk dampaknya bagiku. Kalau kujawab tak menangis, sebagian orang akan bilang aku tak berperasaan. Kalau kujawab menangis, sebagian orang pula akan bilang aku cengeng. Beginilah nasib lelaki di tengah kaum patriarki. Tangisnya selalu dianggap cengeng. Padahal, sebutir air mata lelaki adalah kejujuran, sementara beribu gayung air mata perempuan adalah strategi. Awak pasti bakal diserang habis-habisan karena pernyataan ini. Intinya begitu. Menangis atau tidak aku oleh film India tak ‘kan mengubah jadwal kehadiran mentari esok.

Baiklah. Sebaiknya kita abaikan saja kehadiran maupun absennya airmataku oleh tontonan produksi Bollywood. Film India pertama (selain serial Mahabharata di Almarhum TPI) yang kutonton adalah Kuch-Kuch Hota Hai. Saat itu aku menonton bersama KKG (Kakak-Kakak Gemes) mentor SaMPAH (Pengasahan Mental dan Pengenalan Kampus Aneuk Hukom), beberapa minggu setelah orientasi kampus.

Mereka ngomel karena aku tak menangis menyaksikan film dengan alur yang menurutku fenomenal itu. Di hadapan para perempuan perkasa itu, tak menangis saat nonton film India seperti sama dosanya dengan pelanggaran HAM. Padahal, aku tak mampu mengalamatkan tangis karena belum pernah merasakan denyut dan detak asmara. Mana ngerti jomblo macam aku –yang saat itu belum pernah memadu kasih– soal gejolak perasaan. Mereka saja yang tak paham tentang hasrat asmara yang tak kenal empati dan simpati. Sebab, setahuku (di kemudian hari) asmara adalah hal yang sungguh empirisme-subjektif, tak terbandingkan dan menjadi pengalaman batin edisi khusus. Tiap orang punya kisah berbeda soal yang satu ini.

Ternyata, urusan mengaduk perasaan ala film India tak semata soal asmara. Film yang berisi kritik atas dunia pendidikan macam 3 Idiot sekalipun menggunakan rempah pengaduk emosi ala tanah Hindustan. Termasuk film bertajuk PK yang mengkritik soal fasisme agama sekalipun tak luput dari upaya menguras air mata selain gelak-tawa yang kocak dan menyindir persepsi-subjektif ketuhanan seseorang atau umat beragama. Bagian paling penting dalam PK terletak pada kemampuan Bung Sutradaranya membuat orang mempertanyakan kembali ketauhidan masing-masing, apapun agama yang ia anut.

Ah… ada sebiji lagi film India yang terlewat, aku lupa judulnya. Bercerita tentang seorang penjahat berhati mulia yang akhirnya dibunuh oleh rezim penguasa.

Hichki bukan cerita baru dalam film yang pernah kutonton. Sebelumnya aku pernah menonton versi asli yang berjudul In Front of the Class. Bercerita tentang guru yang mengidap Tourette Syndrom. Gangguan saraf bawaan yang menyebabkan seseorang tak mampu mengontrol peristiwa yang mirip cegukan. Hichki mengadopsi sebagian kecil saja konteks In Front of the Class. Malah seingatku, cuma di soal Tourette Syndrom saja keduanya serupa. Selebihnya sungguh berbeda.

Hichki menyulamkan karakter India ke dalam film. Kemiskinan para murid di kelas 9F, kecerdasan organik tiap orang dari 14 siswa di kelas tersebut, pertarungan miskin-kaya dan seolah mengulang kritik 3 Idiot di dunia pendidikan, formalitas dan formalisasi ilmu yang sesungguhnya telah melahirkan korban penipuan tanpa kepastian jumlah.

Beda lagi cerita Padmaavat. Adegan yang membuatku kecanduan adalah saat Deepika Padukone menarikan Ghoomar. Tari persembahan permaisuri untuk raja yang menampilkan kegenitan yang anggun. Meminjam istilah Fara, “Binal yang bermartabat”. Aku sungguh tergoda oleh liukan anggun Deepika, beserta kerling mata dan liuk tubuhnya. Sensualitas menyatu dengan keindahan. Mengaburlah batas antara cabul dengan seni dalam gemulai tubuhnya.

Bagian terkuat dari Padmaavat adalah keteguhan hati seorang permaisuri mendampingi tiap tantangan yang dihadapi sang suami. Tak gentar ia menghadapi serbuan raja terkuat di masanya, Alauddin Khilji.

Dini hari tadi, atas rekomendasi dari Mahlizar Safdi kutontonlah Pad Man. Kisah seorang lelaki India yang menemukan ‘kesadaran-pembalut’. Betapa harga pembalut yang membumbung tinggi mengancam kaum perempuan di sana. Belum lagi tradisi yang menjadikan tabu pembahasan mengenai pembalut. Obsesinya untuk mempermurah harga pembalut (agar lebih mudah diakses kaum perempuan di negaranya) menjadikannya sebagai musuh masyarakat di tahap awal pencariannya.

Pekerjaan, keluarga dan reputasinya anjlok di mata masyarakat. Di saat segala keterpurukan menerpa, hadirlah sokongan dari seorang perempuan yang menyembul di suatu senja dalam hidupnya. Perempuan yang lantas berperan sebagai pendorong langkahnya untuk terus maju memperjuangkan visi kepembalutan. Mengantarkannya ke altar tertinggi penghargaan dan pengakuan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Film berdasarkan kisah nyata Padma Shri Arunachalam Muruganantham.

Aku sungguh suka endingnya. Meski harus kuakui, betapa celaka seorang lelaki yang menolak Cinta perempuan sesemlohay Sonam Kapoor.

Ternyata, apapun genre film produksi Bollywood, di kedalaman kisahnya, aku tetap menemukan mata-air air-mata!

Image Source:

  1. Image1
  2. Image2
  3. Image3
  4. Image4
  5. Image5

Maklumat

0

Sang Bayu tengah bergolak di luar. Mengantar kabar gelisah dari samudra yang tengah bersandar di penurunan Agustus. Entah berapa murka lagi mesti kami tabung untuk membuat kalian percaya bahwa gejolak itu masih ada. Kerdip bara yang menyusut cuma perlu tiupan angin untuk kembali merepihkan nyala. Kepada kuasa yang tak berdaulat ia beralamat.

Cerita ini boleh kembali atau bermula kemana suka. Kali ini kupastikan akan susah tertebak. Tak ‘kan ada yang mampu mengurai sandi ketika aku telah melangkah ke dalam kecimpung itu. Tak ada peredam laju yang bisa menghambat. Aku berjanji kali ini. Kalian akan punah sebab telah terlalu lama kubiarkan serakah.

Berpadulah dengan dendang, jogetkan terus ejekan itu. Biarkan gelombang sang bayu yang bicara dalam kelandain lembahmu. Tunggu saja hunjam dendam dengan alamat yang pasti tertuju. Setepat bidik penembak runduk di gerumbul semak, yang menyaru dalam gelap di bukit belakang rumahmu. Waspadalah pada senja. Cuma itu petunjuk yang boleh kubagi.

Persiapkan diri kalian untuk menghadapi amuk tiada bertuan. Komandan kami adalah kesumat yang beribu abad sudah terpendam. Tak sabar ingin segera menghidang gegar di atas meja santapmu. Di tiap ukiran yang meliuk melebihi kelicikan ular. Di balik taplak meja. Di singkap rana yang mengantarai ruang tamu, meja makan bahkan di gantungan baju.

Bidikan kami tak terusik napas. Tusukan tanpa kelebat. Gerak lindap tiada terpindai. Kepak tanpa deru angin di ketiak sayap. Kujanjikan tidurmu tak lagi lelap oleh hadir kami di tiap gelung selimut. Tanpa tanda dan tiada aba. Pekikpun cukup terpaham dengan janji yang tersemat pada detik tiada teraba. Pehatikan langkah. Jangan lupa kunci pintu dan jendela. Siapkan jeruji di tiap ambang untuk menjadikannya penjaramu sendiri.

Perang ini akan melabuhkan serang, membawakan neraka ke dalam kamar tidurmu, bahkan ke selipan cawat kalian semua ia akan menancapkan kobar. Bersiaplah. Sebab cuma itu yang kalian bisa lakukan. Sebab semua alasan untuk membalas telah kupangkas dengan rencana yang kutitip dalam lingkung pekat malam. Juga tiap derik jangkrik yang bernyanyi membawa tanda bagi kami. Tanda yang tak lagi akan mampu kalian pahami.

Tak guna lagi kalian melawan ketika setiap peluru dan kokang senapan telah berpihak pada marah kami. Bersimpuhlah saja saat kami pulangkan derita pada kalian. Menyematkannya agar kalian juga menjadi tahu bagaimana rasa mengulam dendam dalam gelap yang berlendir. Ketika segala derita dari kalian seolah takdir. Saat bangkit melawan telah serupa dengan pengingkaran iman.

Setelah segala yang terampas itu kembali, maka nganga luka ini akan bertukar tuan. Di balik kemeja dan dasi yang licin terjalin. Kutancapkan sebilah paku sebagai penanda kami sedang ada di sini. Bukan untuk membalas, tapi untuk membilas. Bukan untuk bertempur melainkan mengalamatkan mata sangkur ke pelosok tindas yang telah teramat berlumut untuk bisa dijadikan lelucon.

Tunggulah ketika kaca telah menjadi beling, bahkan bayangan di cermin kalianpun akan mempertuankan dendam kami. Tertawalah pada fajar, mungkin saja itu yang terakhir. Tersenyumlah pada muram senja dengan sebab serupa. Nikmatilah segala yang tersisa sebab cuma itu yang kalian punya ketika sebuah dentam yang tak tertangkap telinga akan memulai rempak menyerbu. Jangan sungkan mengucap syukur. Bisa saja itu kata terakhir yang terucap. Mulai detik ini, kalian akan gentar menatap bayangan sendiri. Hadapilah derita yang kami bawa dalam nampan amarah. Dendam yang bergerak lindap tak berwajah!

Image Source:

  1. Image1
  2. Image2
  3. Image3
  4. Image4

Terbaru

Lewat ke baris perkakas