• About
  • Contact
  • Disclaimer
  • ToU
  • Partnership
Wednesday, October 7, 2026
ACEHPUNGO.COM
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya
  • Opini
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya
  • Opini
No Result
View All Result
Acehpungo.Com
No Result
View All Result
Home Opini

Bookrak Mencuri Seekor Biawak-Liar dari Benakku

Diyus by Diyus
07/03/2026
in Opini
0
Bookrak Mencuri Seekor Biawak-Liar dari Benakku
20
SHARES
91
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Malam ini adalah saat Nebula bermain dalam kepala pada jejak syair yang menggelinding di atas meditasi. Sebentuk penolakan atas sajak dan puisi yang usai mendengar deklamasinya atau cukup dengan membacanya saja, engkau akan segera mengelus isi cawat dan menyegerakan elusan syahwat ke pemilik cawat lain.

Menghadapi kemiskinan peristiwa dalam surat kabar, berita di televisi, siaran radio hingga artikel para kolumnis, kita terperangah dan hanyut. Seperti sebatang gelondong kayu menghilir oleh banjir. Bahkan pendidikanpun telah terberhalakan dalam sekolah. Moralitas yang herois, kepemimpinan yang megalomania, juga keragaman yang selalu bersinggungan dengan keberagamaan.

READ ALSO

Kami Tidak Sekolah, Memangnya Kenapa?

Tips Sukses Orang Pidie di Perantauan

Apalagi ketika Bookrak sukses mencuri seekor biawak liar yang hidup dalam kepalaku, reptiln yang telah berdiam dalam otak beberapa tahun terakhir. Aku tak memeliharanya, tak mencintainya, tak menggandrunginya. Tapi mendapati ia tak lagi termiliki oleh kawasan benakku, sungguh sebuah kehilangan. Semacam muscle-memory seorang perokok ketika lintingan tembakau tak lagi berada di selipan jemari atau kepit bibir. Lantas, kereptilan macam apalagi yang bisa kulakukan tanpa biawak itu?

Mau jadi apa hidupku ini tanpa keculasan reptil tersisa?

Bintang kecil di langit yang biru tak mampu lagi menjadi hiburan. Sebab, ia cuma bisa ternikmati kala arus listrik padam. Hilangnya sebentuk daya hantaran kabel kekuasaan yang kerap menghadirkan maki. Padahal masih ada cahaya di langit yang sungguh organik untuk kita nikmati; senyampang menanti masa istirah gelombang listrik yang pasti lelah terkungkung kabel tembaga.

Lantas di ujung menung, saat bingung tengah menggunung, tibalah rencana setumpuk. Tentang kemarin yang gagal terpahami, kini yang menguap dan hari depan yang menyisakan gagap. Sungguh tega membiarkan politik berhias kemelaratan yang cuma berharta kabar para pembesar. Pembesar yang tengah berebut tahta pula. Ketika kuasa begitu menghadirkan gelenyar di tiap lapis kelenjar, menjalar. Betapa dhu’afa deretan kabar yang menjadi sorotan kita.

Tanggungjawab pada keadilan juga telah terpacak pada polisi, jaksa dan hakim. Sementara drama para pemegang tampuk-kuasa dan tumpuk-anggaran-pembangunan selalu tampil sebagai anak manja yang menuntut perhatian. Mereka gontok-gontokan dengan kepastian gaji bulanan, sementara rakyat yang cuma diajari membaca (tanpa mendapat pendidikan menganalisa), menyaksikan pagelaran pertengkaran mereka dengan gelegak di perut, juga kadar kolesterol, gula darah dan tekanan vena yang terlalu labil untuk sebuah adegan mencekam.

Rakyat menjadi penonton di tepi lapangan pergumulan kuasa, bersama imaji nasionalisme yang seolah cukup terwakilkan dengan kemenangan tim kita. Berhias patriotisme dalam kerangkeng bernama menang atau cundang. Tidakkah hidup mestinya lebih lowong dari itu?!

Ketika kemenangan perdebatan panjang yang  sesungguhnya bukan soal perbedaan pendapat, melainkan perbedaan pendapatan. Saat pembagian tumpuk anggaran telah menenangkan gejolak syahwat kuasa, pertunjukan berhenti. Penonton yang belum mencapai klimaks mesti memendam dendam hingga periode pemilihan selanjutnya. Begitu teruslah kelindan putaran roda drama. Ketika sebongkah komet melesat membawa asteroid dengan pijar cahaya yang memancing hasrat pandang. Sesudahnya, cuma merekalah yang memotong kue pembangunan ke dalam piring-piring bertulis nomor rekening bank.

Begitulah. Ketika Bookrak sukses mencoleng seekor biawak liar dalam benakku. Segeliat reptil telah pergi dari diriku. Mencuri culas dari pikirku. Aku tinggal sendiri memandangi sebuah sudut dalam batok kepala, tempat yang biasa menjadi wahananya meringkuk di dalam benak. Sementara aku merasa sepi tanpa culas itu. Bersama sebentuk sadar yang tak tahu mau kubawa kemana. Sebentuk sadar yang sungguh kuingin hadirnya. Secupak kepurbaan yang membuatku sadar, saat aku sedang mendamba kemabukan untuk memenangkan kompetisi bertajuk “Lomba Lari dari Kenyataan”.

Masa-Masa ini, saat aku membutuhkan keculasan untuk berani melangkah maju, sebentuk naluri reptil telah pergi. Kemana lagi bisa kucari biawak liar yang telah berganti tuan? Atau reptil apapun yang bisa mengisi daya culas dalam diri. Boleh iguana, kadal juga bisa, dinosaurus oke, ular lebih mantap. Tanpanya, malam ini mesti kuisi dengan ratap.

 

Image Source: 1

Related Posts

Kami Tidak Sekolah, Memangnya Kenapa?
Opini

Kami Tidak Sekolah, Memangnya Kenapa?

07/03/2026
Ilustrasi tips sukses orang pidie di perantauan
Opini

Tips Sukses Orang Pidie di Perantauan

07/03/2026
Siapa Perempuan di Samping Muzakir Manaf?
Opini

Siapa Perempuan di Samping Muzakir Manaf?

07/03/2026
Surat Hasan Tiro kepada Jenderal De Gaulle yang Menggemparkan Perancis
Opini

Surat Hasan Tiro kepada Jenderal De Gaulle yang Menggemparkan Perancis

07/03/2026
5 Pejuang Perempuan Aceh yang Tak Mirip Kartini
Opini

5 Pejuang Perempuan Aceh yang Tak Mirip Kartini

07/03/2026
Dialog Politikus dengan Pelacur
Opini

Politikus dan Seorang Pelacur

07/03/2026
Next Post
Mencari Fase Desentralisasi Ekonomi di Masa Lalu (Bagian Ketiga)

Mencari Fase Desentralisasi Ekonomi di Masa Lalu (Bagian Ketiga)

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

POPULAR NEWS

ilustrasi ancaman keamanan kripto

Waspadai Serangan AI dan Eksploitasi Kontrak Cerdas di 2025

08/05/2026

iPhone 18 Pro Kantongi TKDN dan Postel, Kapan Resmi Dijual di Indonesia?

30/09/2026

Bill Gates: AI Cukup Kuat untuk Picu Kematian Satu Miliar Orang, Serukan Regulasi Pemerintah

28/09/2026
Xiaomi 18 Pro Dipastikan Rilis Global, Apakah Indonesia Kebagian?

Xiaomi 18 Pro Dipastikan Rilis Global, Apakah Indonesia Kebagian?

05/10/2026

WhatsApp Uji Tampilan Baru di Android, Tombol Meta AI Masuk Navigation Bar

01/10/2026

EDITOR'S PICK

Menhut: Tak Boleh Lagi Tebang Hutan Alam

11/02/2012

Grafiti Anti-Monarkhi Meluas Di Tembok Saudi Timur

26/11/2011

Ada Pengecer Jual Premium Rp16 Ribu Perliter

06/12/2011
Aktivis HANTAM jadi Komisioner KKR Aceh

Aroma ‘Sweden’ di Tubuh KKR Aceh

07/03/2026

About

ACEHPUNGO.COM dengan motto Galak-galak Kutak Sigo adalah situs berita gaya hidup untuk milenial Indonesia

Follow us

Categories

  • Budaya
  • Edukasi
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Inforial
  • Internasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Nanggroe
  • Nasional
  • News
  • Olahraga
  • Opini
  • Politik
  • Sosok
  • Teknologi

Recent Posts

  • Xiaomi 18 Pro Dipastikan Rilis Global, Apakah Indonesia Kebagian?
  • Malware MacSync Mengincar Pengguna Mac: Aplikasi Palsu, Backdoor, dan Trik Kalender iCloud
  • Pengembang Data Center Tawarkan Rp180 Juta per Rumah di Pennsylvania, Mengapa Warga Tetap Menolak?
  • WhatsApp Uji Tampilan Baru di Android, Tombol Meta AI Masuk Navigation Bar

Newsletter

  • About
  • Contact
  • Disclaimer
  • ToU
  • Partnership

© 2026 AP.com - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya

© 2026 AP.com - All Rights Reserved.