Catatan Janet Steele yang Bikin Saya Malu

    0
    Janet Steele

    Janet Steele berkunjung ke Aceh selama tiga hari, dan informasi ini saya ketahui setelah yang bersangkutan men-tag nama saya di status facebooknya. Associate professor of journalism di George Washington University sejak awal tahun lalu sudah melakukan riset tentang media di Aceh. Kedatangannya kali ini, katanya, untuk melakukan checking data.

    Saya bertemu Janet Steele pertama kali saat mengikuti pelatihan menuli narasi di Yayasan Pantau pertengahan 2011 silam. Sebelumnya, saya hanya mendengar namanya dari Andreas Harsono, karena mereka sering menjadi pengampu pelatihan tersebut. Nama Janet tidak asing lagi bagi jurnalis dan praktisi media di Indonesia. Dia pernah menulis buku tentang Majalah TEMPO dan hubungannya dengan politik dan budaya Orde Baru berjudul Wars Within: The Story of Tempo, an Independent Magazine in Soeharto’s Indonesia.


    Setelah pertemuan itu, saya beberapa kali bertemu dengannya, seperti saat dia memberi ceramah tentang etika jurnalistik di Muharram Journalism College (MJC) AJI Banda Aceh atau saat dia melakukan riset di Aceh awal tahun lalu. Selama saya mengenalnya, Janet seorang pengajar yang bersemangat dan tidak pernah membangun jarak dengan orang-orang yang mendengar ceramahnya. Saya termasuk beruntung dapat belajar banyak darinya, terutama tentang penulisan narasi.

    Sabtu (28/7/2018), Janet menghubungi saya melalui layanan pesan Facebook, mengabarkan kalau dirinya akan ke Banda Aceh. “Hey, ada kabar baik: artikel saya tentang …. akan diterbit di jurnal Indonesia dari Cornell. Saya akan ke Banda Aceh hari Senin untuk 3 malam untuk fact checking,” tulisnya. “Semoga kita bisa bertemu juga — ada buku baru saya bagi Taufik,” lanjutnya.

    “Terima kasih atas kabar baik ini. Saya berharap kita bisa ketemu…saya tunggu kabar saat Janet di Banda Aceh,” jawab saya.

    Prof Janet Steele tiba di Banda Aceh pada Senin (30/7/2018). Saya tahu banyak agenda yang sudah disiapkan selama di Aceh terutama untuk melakukan fact checking. Soal ini, dia bisa sangat detail. Di dalam bukunya tentang Tempo, kita dapat melihat bagaimana dia memasukkan hal-hal kecil tapi relevan ke dalam tulisan. Dia pun akan bertanya beberapa kali kalau ada informasi yang tidak dipahaminya.

    Pada Selasa (31/7/2018), Janet mengabarkan kepada saya bahwa dia sudah di Aceh, dan berharap kami bisa bertemu. Dia menawarkan agar kami bisa makan siang seperti dulu saat dia melakukan riset untuk tulisannya. Dan pada Rabu (1/8/2018) kami bertemu di Lem Bakrie di kawasan Lamteh, Banda Aceh. Saat itu ada Jufrizal dan Rizki Maulida, yang juga kawan dekat Janet selama di Aceh.

    Sambil makan siang kami bicara banyak hal, mulai dari perkembangan media di Indonesia, soal buku barunya tentang media Islam, hingga grab dan kopi. Sesekali, Janet menyinggung soal artikel tentang topik yang ditelitinya di Aceh. Soal menu makanan Aceh, Janet mengaku sangat menyukainya. “Makanan Aceh enak,” katanya yang selama pertemuan singkat itu, dia mengulang kalimat ini hingga empat kali. Boleh jadi hanya kalimat itulah yang mampu diucapkannya dengan lancar untuk menyebut makanan. Dia mengaku kemampuan berbahasa Indonesianya sudah jauh berkurang. “Kosa kata bahasa Indonesia sudah berkurang,” katanya.

    Saya melihat, Janet hanya mengambil udang goreng, dua potong sie reuboh dan sedikit kuah kari kambing (kuah beulangong). Dia terkejut saat diberitahu bahwa sie reuboh itu salah satu kuliner istimewa di Aceh (besar), karena bisa tahan lama. Hanya saja, Janet sepertinya sedang diet dan tidak ingin jadi gemuk. Dia cuma menghabiskan separuh nasi di dalam piringnya. “Tapi saya suka lauknya,” katanya kemudian.

    Janet mengaku senang dengan kehadiran Grab di Banda Aceh. Kehadiran ojek dan taxi online itu membuatnya mudah berpergian ke mana pun di Banda Aceh, tidak lagi harus diantar-antar seperti pada kunjungan dia sebelumnnya. “Saya bisa memakai Grab ke mana-mana,” katanya. Pun begitu, dia sempat kesulitan membedakan nomor plat kendaraan. Dia berpikir nomor kendaraan di Aceh sama seperti di Amerika, dimulai dengan angka. Dia hanya perlu mengingat huruf atau angka pertama saja. Pernah sekali seusai memesan Grab, dia berpikir sebuah mobil yang sedang parkir adalah Grab yang dipesannya, dan mencoba membuka pintu. Sang sopir justru kaget dan menggeleng. “Mungkin mereka pikir saya bule gila,” cerita Janet Steele sambil tertawa.

    Dia sebenarnya suka dengan kopi Aceh yang diakuinya memiliki aroma dan rasa yang sangat khas. Namun, pernah sekali sehabis minum kopi dia tidak bisa tidur, dan merasa sangat tersiksa. Setelah itu dia sering menolak ketika ditawari kopi. Selama di Banda Aceh, Janet pun mengaku sudah menikmati mie kepiting, yang diakuinya memiliki rasa yang sangat khas. Dia sangat menyukainya.

    Seperti janjinya, Janet memberi saya sebuah buku. Judulnya, Mediating Islam: Jurnalisme Kosmopolitan di Negara-negara Muslim Asia Tenggara. Saya terkejut saat membuka halaman pertama. Soalnya Janet menulis sesuatu yang membuat saya malu sendiri membacanya: Bagi Taufik Al Mubarak, salah satu pahlawan media di Indonesia! Terima kasih banyak and salam hangat selalu. Mediating Islam adalah buku kedua yang diberikan untuk saya setelah buku tentang Tempo. Sementara buku Surat dari Amerika saya terima dari Imam Sofwan, Ketua Pantau.

    Kamis (2/8/2018) Janet harus mengejar pesawat pagi untuk kembali ke Jakarta. Dia berharap dapat kembali lagi ke Aceh. Di media sosial Facebook, Janet Steele menulis: Banda Aceh must have the friendliest people in the world, as well as some of Indonesia’s most committed journalists. Jufri Zal M Daud, Rizki Maulida, Taufik Al Mubarak, Uzair, Yarmen Dinamika, Chik Rini, and others who aren’t on Facebook always go out of their way to make me feel at home. It has delicious food (crab noodles and grilled fish), fantastic coffee, and dramatic views no matter which way you look. Last night, after I finished up an article I’d been working on, I looked up some photos of the 2004 tsunami. How eerie to see the very places in which I’d walked, jogged, and admired as a tourist in a state of unimaginable horror. The spirit of Aceh is unquenchable, and may God bless it always. Here’s one of my favorite pictures from last year. Selamat tinggal, Banda Aceh. []

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here