Independence Palace dan Jatuhnya Saigon

0
830

Berkunjung ke Ho Chi Minh City tidaklah lengkap jika kamu tidak menyambangi Independence Palace, bangunan yang juga dikenal sebagai Istana Reunifikasi. Dalam perang Vietnam, Istana Merdeka yang dibangun di situs bekas Istana Norodom memiliki arti penting bagi reunifikasi Vietnam Utara dan Vietnam Selatan.

Pada tanggal 23 Januari 2018 silam, saya dan teman-teman (Riadi dan Nabil) sempat melihat dari dekat istana yang dirancang oleh arsitek Ngô Viết Thụ, itu yang menjadi rumah dan tempat kerja Presiden Vietnam Selatan selama Perang Vietnam. Istana yang memiliki ruang bawah tanah itu memiliki banyak sekali dokumen dan benda-benda dari sisa perang Vietnam.

Kami berkeliling dari satu ruang ke ruangan lain di istana tersebut, melihat benda-benda peninggalan perang seperti tank, ruang kontrol radio, kamar tidur presiden, mobil dinas presiden serta dokumen foto penyerahan Saigon.

Pada tanggal 30 April 1975, perang panjang antara Vietnam Utara melawan Vietnam Selatan yang dibantu Amerika Serikat resmi berakhir. Kejatuhan Saigon, ibu kota Vietnam Selatan, ditandai dengan dikuasainya Istana Kepresidenan yang berada di tenggara Saigon oleh Tentara Rakyat Vietnam (PAVN) dan Front Pembebasan Nasional Vietnam Selatan (Viet Cong).

Tank Vietnam Utara menerobos Istana
Tank Vietnam Utara menerobos pintu gerbang Istana. AFP/GI

Ada satu foto legendaris yang menandai Kejatuhan Saigon diabadikan photografer AFP, yang memperlihatkan sebuah tank milik Tentara Vietnam Utara (NVA) menerobos gerbang istana kepresidenan Vietnam Selatan di Saigon pada 30 April 1975.

Jatuhnya Saigon tak hanya mengakhiri perang yang sudah berlangsung selama 10 tahun, tetapi sekaligus memulai proses unifikasi kedua negara, menjadi Republik Sosialis Vietnam. Satu-satunya negara komunis di Asia Tenggara.

Dalam banyak literatur yang bisa kita baca, memperlihatkan bahwa proses kejatuhan Saigon dimulai pada Desember 1974 saat PAVN dan Vietcong menggelar serangan besar-besaran terhadap provinsi Phuoc Long, wilayah yang dipertahankan dengan sangat buruk.

Provinsi ini terletak di sebelah utara Saigon tidak jauh dari perbatasan dengan Kamboja. Pasukan Vietnam Utara berhasil menduduki ibu kota provinsi, Phuoc Binh pada 6 Januari 1975.

Pemerintah AS sebenarnya sudah menjanjikan bantuan militer ketika kondisi mulai tidak terkendali. Namun, Amerika sedang mengalami masalah dalam negeri yang cukup parah, dan ketika Vietnam Selatan butuh bantuan, mereka justru tidak berbuat apa-apa.

Saat itu Presiden Nixon yang terlibat skandal Wategate baru saja berhenti dan penerusnya Gerald Ford tak mampu meyakinkan Kongres untuk mendukung janji-janji Nixon untuk menyelamatkan Saigon dari tangan komunis.

Pada Maret 1975, Vietnam Utara kembali menggelar serangan besar-besaran yang membuat militer Vietnam Selatan kocar-kacir dan sekali lagi, AS sama sekali tak membantu.

Seperti umumnya pasukan yang sedang kalah perang, tentara Vietnam Selatan kemudian membiarkan daerah-daerah pegunungan seperti Pleiki dan Kontum jatuh ke tangan komunis.
Pasukan komunis terus maju merebut Quang Tri, Hue, dan Da Nang. Selanjutnya Vietnam Utara melakukan serangan di sepanjang pesisir ke arah selatan menuju Saigon.

Di Xuan Loc, di sebelah timur Saigon, pasukan Vietnam Utara mendapatkan perlawanan sengit dari Divisi ke-18 AD Vietnam Selatan. Pasukan ini bahkan mampu menghancurkan tiga divisi AD Vietnam Utara dalam pertempuran itu. Namun, itulah perlawanan sengit terakhir Vietnam Selatan.

Setelah kehilangan dukungan udara dan kehabisan amunisi, pasukan Vietnam Selatan terpaksa meninggalkan Xuan Loc pada 21 April 1975. Pasukan Vietnam Utara kemudian mulai mempersiapkan sebuah serangan akhir.

Di Saigon, Presiden Vietnam Selatan Nguyen Van Thieu mundur dan menyerahkan kekuasaan ke tangan Wakil Presiden Tran Van Huong sebelum kabur pada 25 April 1975.

Pada 27 April, pasukan Vietnam Utara dan Viet Cong benar-benar mengepung Saigon dan mulai menggelar manuver untuk mengambil alih kota itu. Pada dini hari 30 April 1975, Vietnam Utara menyerang dan hanya mendapati perlawanan ringan dari lawan.

Kemudian sejumlah tank AD Vietnam Utara menabrak gerbang Istana Presiden dan sekaligus mengakhiri perang Vietan. Akhirnya Vietnam Selatan menyerah. Jenderal Duong Van Minh mengaku kalah dan menyerah kepada Koloner Bui Tin dari AD Vietnam Utara.

Duong Van Minh sebenarnya baru berkuasa selama sehari setelah mengambil alih kekuasaan dari Tran Van Huong. Ada momen dramatis di balik pengakuan kalah tersebut.

“Anda tak perlu khawatir. Di antara bangsa Vietnam tidak ada yang menang atau kalah. Hanya bangsa Amerika yang kalah,” kata Kolonel Bui Tin kepda Jenderal Dong Van Minh.
“Jika Anda seorang patriot, anggap saat ini sebagai saat bahagia. Perang di negara kita sudah berakhir,” tambah Bui Tin.

Seperti banyak kita baca dalam laporan-laporan tentang perang Vietnam, sebelum Saigon jatuh, AS menggelar Operasi Frequent Wind untuk mengevakuasi warga sipil dan personel militer AS di Vietnam dan puluhan ribu warga sipil Vietnam Selatan.

Setelah mengambil alih Saigon, Vietnam Utara mengganti nama Saigon menjadi Ho Chi Minh City, seperti nama pahlawan mereka. Sejak itulah proses reunifikasi kedua negara berlangsung. Kini, Ho Chi Minh City yang berpenduduk sekitar 14 juta jiwa itu dikenal sebagai salah satu kota tersibuk di dunia.

Jika kalian berlibur ke Ho Chi Minh City, jangan lupa berkunjung ke Independence Palace selain ke War Remnants Museum atau Cu Chi Tunnel. Di sejumlah tempat itu, kalian dapat melihat betapa mengerikan perang Vietnam.

Meski sudah berganti menjadi Ho Chi Minh City, bukan berarti nama Saigon tidak pernah digunakan lagi. Kalian akan menemukan Saigon menjadi nama hotel, toko atau nama jasa tour. []

Kompas.com

Advertisements

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here