• About
  • Contact
  • Disclaimer
  • ToU
  • Partnership
Wednesday, October 7, 2026
ACEHPUNGO.COM
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya
  • Opini
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya
  • Opini
No Result
View All Result
Acehpungo.Com
No Result
View All Result
Home Opini

Jalan

Diyus by Diyus
07/03/2026
in Opini
0
Jalan
20
SHARES
92
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Sejak pertama menjadi penumpang bus, aku selalu memikirkan tentang jalan yang terbentang di hadapan kendaraan, selain kenangan pada sensasi mual yang kerap membuat aku muntah. Tak tahan dengan aroma asap dari mesin berbahan-bakar solar. Hamparan aspal hitam dengan garis putus-putus di bagian tengah. Menjelma garis tak terputus saat menjelang tiap tikung yang penuh misteri.

Perjalanan pertama yang kuingat saat bersama Uwek, nenekku dari pihak Mamak. Perempuan yang sepanjang ingatku lekat dengan aroma minyak angin merek Dewi Tunjong. Menumpang Liberty, bus angkutan antar kota dalam provinsi. Plastik kresek warna merah-semu, lapisan bangku penumpang berwarna kelabu dengan sungkup putih yang telah berhias warna daki. Juga titik-titik air yang menempel di kaca kala hujan turun.

READ ALSO

Kami Tidak Sekolah, Memangnya Kenapa?

Tips Sukses Orang Pidie di Perantauan

Saat tamat SD, aku dititipkan ke keluarga Wak Alang, kakak Bapak yang tinggal di Lampahan, saat itu masih berada dalam wilayah Kabupaten Aceh Tengah. Setiap libur panjang sekolah, aku pulang ke kampung di Tamiang, yang saat itu masih termasuk wilayah Kabupaten Aceh Timur. Jalan menjadi tontonan periodik. Aku makin akrab dengan jalan dan perjalanan. Lintasan jarak yang menjadi pertunjukan dalam ruang penumpang, kerap kukhayalkan sebagai gedung bioskop untuk membunuh bosan.

Mulanya pemandangan di ‘layar’ tampak serupa. Kesan yang timbul akibat bosan. Padahal, saat kutempatkan hati untuk membantu mata melihat, beragam gambar kehidupan tampil sebagai tontonan tanpa naskah dan sutradara. Lakon yang mengalir oleh waktu, gejolak zaman, corak produksi dan semesta kelindan hidup. Lelaki tua yang tengah mengangkut rumput dengan sepeda ontel, perempuan yang menjunjung tikar pandan berkeliling mencari pembeli, sekumpulan lelaki di warung kopi, anak-anak berlarian di halaman sekolah hingga suasana panen atau bercocok tanam Oryza Sativa.

Jika beruntung, aku sangat terhibur saat mendapati pemandangan segerombolan anak-anak seusia yang tengah melambungkan layang-layang ke angkasa. Meski cuma beberapa detik, pemandangan layangan yang tengah menguasai dirgantara sungguh menjadi bagian yang paling menyenangkan dalam setiap perjalananku. Layangan yang mewakili keinginan manusia untuk terbang. Seperti Icarus, anak Daedalus. Biasanya aku akan melongokkan leher untuk membuat ruang pandang lebih leluasa. Beberapa detik pula lain yang melintas pula dengan lakon kecelakaan lalu-lintas, bus lain yang sedang mogok atau bocor ban, sampai seekor lembu yang tertabrak sebuah truk angkutan.

Pertokoan tua di tepi jalan menjadi bagian yang juga lekat dalam ingat. Warna putih kusam dari cat kapur, semuanya berlantai ganda. Ruang atas berjarak lebih pendek antara lantai dengan atapnya. Sepintas pandang, aktivitas di bagian beranda pertokoan itu tampak sama. Tulisan “Jual-Beli Hasil Bumi” berwarna merah tergurat di selembar tripleks kusam, buaian anak, perempuan berdaster atau sarung, juga dancing dari tembaga yang menggelantung di palang penyangga.

Rumah-Rumah masih terbuat dari kayu. Halamannya berhias pepohonan mangga, kuini, mancang, nyiur, jambu air, jambu klutuk sampai Mussaenda Pubescens. Halaman rumah berpagar bambu dengan segerombolan kanak-kanak yang berkejaran, meniti hari dengan canda dan pertengkaran secukupnya; menjadi nutrisi bagi pergaulan mereka mengisi masa tumbuh.

Persepsi pikiran terhadap jarak menjadi misteri tersendiri bagiku. Sepertinya saat tiba di Langsa, laju bus menuju ke Kualasimpang terasa lebih lamban. Belakangan kupastikan persepsi itu terjadi karena rasa tidak sabar, mempengaruhi keseimbangan hormon hingga mengganggu daya hitung otak atas jarak dan waktu. Jarak antar batu pal terasa menjauh. Sebentuk ekspresi rindu yang meluruhkan objektivitas. Rindu sambel terasi buatan Mamak, rentetan nasehat Bapak dan celoteh adik-adikku.

Kenangan itulah yang selalu melintasi dalam ingat, saat kulihat sebuah bus melintas di jalan raya, terkenang kembali pikiran sebagai ‘penonton’ seluruh adegan di tepi jalan. Memandang sambil mengkhayalkan seseorang yang tengah menempuh rindu, menaklukkan jarak dalam kendara. Jarak yang dalam benakku kini menjelma sebagai lorong waktu.

Image Source:

  1. Image1
  2. Image2
  3. Image3
  4. Image4
  5. Image5

Related Posts

Kami Tidak Sekolah, Memangnya Kenapa?
Opini

Kami Tidak Sekolah, Memangnya Kenapa?

07/03/2026
Ilustrasi tips sukses orang pidie di perantauan
Opini

Tips Sukses Orang Pidie di Perantauan

07/03/2026
Siapa Perempuan di Samping Muzakir Manaf?
Opini

Siapa Perempuan di Samping Muzakir Manaf?

07/03/2026
Surat Hasan Tiro kepada Jenderal De Gaulle yang Menggemparkan Perancis
Opini

Surat Hasan Tiro kepada Jenderal De Gaulle yang Menggemparkan Perancis

07/03/2026
5 Pejuang Perempuan Aceh yang Tak Mirip Kartini
Opini

5 Pejuang Perempuan Aceh yang Tak Mirip Kartini

07/03/2026
Dialog Politikus dengan Pelacur
Opini

Politikus dan Seorang Pelacur

07/03/2026
Next Post
Penulis Pemula

Penulis Pemula

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

POPULAR NEWS

ilustrasi ancaman keamanan kripto

Waspadai Serangan AI dan Eksploitasi Kontrak Cerdas di 2025

08/05/2026

iPhone 18 Pro Kantongi TKDN dan Postel, Kapan Resmi Dijual di Indonesia?

30/09/2026

Bill Gates: AI Cukup Kuat untuk Picu Kematian Satu Miliar Orang, Serukan Regulasi Pemerintah

28/09/2026
Xiaomi 18 Pro Dipastikan Rilis Global, Apakah Indonesia Kebagian?

Xiaomi 18 Pro Dipastikan Rilis Global, Apakah Indonesia Kebagian?

05/10/2026

WhatsApp Uji Tampilan Baru di Android, Tombol Meta AI Masuk Navigation Bar

01/10/2026

EDITOR'S PICK

Mahfud MD Jadi "Martir" Demi Perdamaian Aceh

29/01/2012

Wow…JK Rowling Tulis Novel Dewasa

18/03/2016

Wow, Gerakan 99 Akan Duduki Banda Aceh

27/10/2011
program mitra quora

Program Mitra Quora: Ketika Bertanya Bisa Menghasilkan Dollar

02/01/2019

About

ACEHPUNGO.COM dengan motto Galak-galak Kutak Sigo adalah situs berita gaya hidup untuk milenial Indonesia

Follow us

Categories

  • Budaya
  • Edukasi
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Inforial
  • Internasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Nanggroe
  • Nasional
  • News
  • Olahraga
  • Opini
  • Politik
  • Sosok
  • Teknologi

Recent Posts

  • Xiaomi 18 Pro Dipastikan Rilis Global, Apakah Indonesia Kebagian?
  • Malware MacSync Mengincar Pengguna Mac: Aplikasi Palsu, Backdoor, dan Trik Kalender iCloud
  • Pengembang Data Center Tawarkan Rp180 Juta per Rumah di Pennsylvania, Mengapa Warga Tetap Menolak?
  • WhatsApp Uji Tampilan Baru di Android, Tombol Meta AI Masuk Navigation Bar

Newsletter

  • About
  • Contact
  • Disclaimer
  • ToU
  • Partnership

© 2026 AP.com - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya

© 2026 AP.com - All Rights Reserved.