• About
  • Contact
  • Disclaimer
  • ToU
  • Partnership
Tuesday, October 6, 2026
ACEHPUNGO.COM
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya
  • Opini
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya
  • Opini
No Result
View All Result
Acehpungo.Com
No Result
View All Result
Home Opini

Khayal

Diyus by Diyus
07/03/2026
in Opini
0
Khayal
20
SHARES
93
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Aku sedang sibuk menonton Olena Uutai, musisi etnik Siberia yang berhasil mencuri perhatian dewan juri Britain Got Talent. Video pertamanya yang kutonton berjudul Blessing of the Nature. Selain menyebut pertunjukannya sebagai musik etnik, terkadang Olena menyebutnya sebagai musik Shamanic atau Neo-Shamanic. Ia mampu menirukan beragam suara beburungan, serangga, kuda, srigala, angin dan gemericik air. Singkatnya, variasi suara yang keluar dari mulut Olena membuatku merasakan nuansa rimba.

Perempuan warga Republik Sakha (Yutia) yang selalu tampil dengan pakaian tradisional nan berumbai-rumbai. Selain mempertontonkan suara, ia juga menggunakan alat musik tiup sejenis karinding. Situs-Situs internet menyebutnya Jaw’s Harp, harpa rahang. Di kepitan bibirnya, Jaw’s Harp itu menambahkan aksen mistis. Sebagai dukun, aku jadi tertarik dengan penampilan dan pakaiannya. Malam ini aku memang sedang ingin menikmati bising yang harmonis. Bermodal jaringan Wi-Fi tetangga, kucoba mencari ragam bising harmonis lain.

READ ALSO

Kami Tidak Sekolah, Memangnya Kenapa?

Tips Sukses Orang Pidie di Perantauan

Kusambangilah Ana Vidovic yang memainkan Asturias karya Isaac Albéniz dengan gitarnya. Melihatnya tampil aku baru sadar, kaum perempuan tak berbeda dengan lelaki saat memainkan gitar, harus mengangkangkan kaki. Posisi tubuh yang tabu bagi perempuan di kebanyakan tatanan masyarakat. Namun, dari segi kebebasan ngangkang, setidaknya terjadi simbiosis mutualisme antara perempuan dengan gitar mengangkang.

Usai mendengarkan komposisi yang mengingatkanku pada film Jason Bourne itu, aku mencari perpaduan alat petik dan perempuan lainnya. Menurutku alat musik yang paling cocok dengan kaum Mamakku adalah harpa. Muncullah ingatan tentang lagu L’Amore. Gita berbahasa Catalan itu dinyanyikan dan diiringi petikan harpa Arianna Savall i Figueras, Perempuan Catalan yang lahir di Switzerland. Di satu sisi, Arianna Vandall kebalikan dari Hans Max Gamper-Haessig (sohor dengan nama Joan Gamper), lelaki Swiss yang mendirikan klub sepakbola di tanah Catalonia, FC Barça.

Akhirnya aku ingin mendengar lagi pencetan piano Maksim Mrvica, pianis Kroasia yang menampilkan style fashion ala rocker di panggung musik klasik. Gaya berpakaiannya mengesankan pemberontakan yang mesti kukagumi. Apalagi saat hunjaman jemarinya di puluhan tuts menghadirkan suara lebah dalam simponi Flight of Bumblebee; komposisi orkestra karya Nikolai Andreyevich Rimsky-Korsakov. Simponi yang sesungguhnya berasal dari sisipan (interlude) operanya yang berjudul The Tale of Tsar Saltan. Dengarlah sendiri, engkau pasti paham kenapa sang komposer menjudulinya Flight of Bumblebee.

Mataku tertumbuk pada pianonya, STEINWAY & SONS Spirio. Kucoba mencari tahu profil grand piano yang satu itu. Setidaknya, malam ini kuperiksa dahulu harganya, jadi nanti kalau sudah ada uang, aku tak lagi bingung mau beli apa. Suatu saat akan kubelikan untuk Lola Astanova. Kalau dia tak mau, biarlah untuk Alice Sara Ott atau Khatia Buniatishvili saja. Sekalian untuk Arianna akan kubelikan sebiji harpa LYON&HEALY model Prince William.

Kawan yang duduk di sebelahku terkekeh melihat aku mencari tahu harga alat-alat musik mewah itu. Jenis tawa yang sungguh melecehkan siapapun sasarannya. Persis ekspresi seseorang yang baru menginjak tahi anjing dan melihat sebagian sisanya di tapak sandal. Begitulah cara dia menatapku. Sungguh jarang ada tatapan semelecehkan macam itu. Tatapan Sinis-Sinis-Najis.

Aku memberengnya dengan lirikan. “Kenapa, Wak?!” tanyaku dengan nada menantang. Kalau silap dia jawab, bakal kulemparkan kulkas ke mukanya.

“Ngeri kali khayalan kau, rokok sama kopi aja nggak ada. Sempat-sempatnya kau berkhayal membeli harpa sama piano!” paparnya. Nada suaranya serupa dengan tatapan usil nan melecehkan itu.

“Jadi? Masalahnya di mana?!” tanyaku.

“Jangan berkhayal tinggi-tinggi. Nanti kalau tak tercapai bisa gila!” ia melanjutkan jawabannya dengan menertawakanku.

“Jadi ‘gini, Wak. Sudahlah kita ini miskin, tak berani berkhayal pula. Manusia macam apa yang tak berani berkhayal?! Kau pikir semua yang kita pakai hari ini tak berasal dari khayal. Itulah bedanya aku sama kau, Wak. Aku menganggap ruang khayal itu sebagai tempat paling berdaulat. Tak ada yang boleh menjajahnya. Kutengok kau beda pula. Teritori khayal kau udah terjajah. Ironisnya terjajah oleh ketakutan kau sendiri. Coba kau bayangkan kalau suatu saat orang-orang kaya yang tamak itu berhasil menciptakan mesin yang mampu memblokade daya khayal, mau jadi apa orang macam kita ini?!”

Ia mulai menunjukkan ketaklukan. Aku belum hendak berhenti. Kesalku bukan karena proses khayalku terganggu. Sebagai kawan dekatnya, aku merasa kasihan dengan cara berpikirnya. Berapa orang di luar sana yang berpikir seperti dia?! Sungguh mengerikan dunia berisi orang-orang yang tak berani berkhayal.

“Ampun, Waaakkk… udah cukup omelannya. Daripada kau omeli aku, mending kau lempar aja aku dengan kulkas” ujarnya menanggapi berondongan perluru omelan dari muncungku.

“Nggak bisa. Coba kau pikir, apa lagi yang bisa menghibur kita selain berkhayal?! Kalau nanti udah ditemukan mesin penyedot khayal, habislah kita. Setiap ingin berkhayal, kita mesti beli khayalan yang udah disedot dari otak kita dalam bentuk pulsa atau macam token listrik. Mau kau?!” bentakku.

“Nggak lah, Wak…” jawabnya dengan nada lunglai.

“Makanya. Jangan sepele dengan khayalan. Sekarang kesini kau!” bentakku.

“Mau apa, Wak? Jangan pukul aku, ya…” suaranya nyaris meratap.

“Ngapain pula kupukul kau. Siapa lagi nanti yang mau jadi kawanku. Aku cuma mau membagi cara berkhayal yang baik sama kau!” ujarku sambil tertawa. Kamipun lantas terpingkal bersama menjelajahi ruang-ruang barang mewah tempat orang kaya mencari barang yang mereka inginkan.

“Kau ingat ini baik-baik, Wak. Camkan ini!” seruku, “Sebagai pengunjung website, kita tak ada beda dengan orang kaya yang mampu membeli barang-barang mewah ini. Kita dan mereka sama-sama berencana membeli. Sadarlah Wak, meski kita miskin, kita punya rencana yang sama dengan orang-orang kaya itu! Kita sedang jadi sehebat-hebat orang miskin. Orang miskin yang bermartabat. Orang miskin yang berani berkhayal sambil tetap berjuang untuk jadi kaya, Wak!” ujarku sambil menoyor kepalanya. Gelak tawa membuat kami terpingkal hingga terjungkal dari kursi.

Image Source:

  1. Image1
  2. Image2
  3. Image3
  4. Image4
  5. Image5

Related Posts

Kami Tidak Sekolah, Memangnya Kenapa?
Opini

Kami Tidak Sekolah, Memangnya Kenapa?

07/03/2026
Ilustrasi tips sukses orang pidie di perantauan
Opini

Tips Sukses Orang Pidie di Perantauan

07/03/2026
Siapa Perempuan di Samping Muzakir Manaf?
Opini

Siapa Perempuan di Samping Muzakir Manaf?

07/03/2026
Surat Hasan Tiro kepada Jenderal De Gaulle yang Menggemparkan Perancis
Opini

Surat Hasan Tiro kepada Jenderal De Gaulle yang Menggemparkan Perancis

07/03/2026
5 Pejuang Perempuan Aceh yang Tak Mirip Kartini
Opini

5 Pejuang Perempuan Aceh yang Tak Mirip Kartini

07/03/2026
Dialog Politikus dengan Pelacur
Opini

Politikus dan Seorang Pelacur

07/03/2026
Next Post
September

September

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

POPULAR NEWS

ilustrasi ancaman keamanan kripto

Waspadai Serangan AI dan Eksploitasi Kontrak Cerdas di 2025

08/05/2026

iPhone 18 Pro Kantongi TKDN dan Postel, Kapan Resmi Dijual di Indonesia?

30/09/2026

Bill Gates: AI Cukup Kuat untuk Picu Kematian Satu Miliar Orang, Serukan Regulasi Pemerintah

28/09/2026
Xiaomi 18 Pro Dipastikan Rilis Global, Apakah Indonesia Kebagian?

Xiaomi 18 Pro Dipastikan Rilis Global, Apakah Indonesia Kebagian?

05/10/2026

WhatsApp Uji Tampilan Baru di Android, Tombol Meta AI Masuk Navigation Bar

01/10/2026

EDITOR'S PICK

Tottenham vs Man Utd

Tottenham vs Man Utd: Kesempatan Setan Merah Salip Gudang Peluru

07/03/2026
Cara Menghitung Kursi Pemilu 2019

Begini Cara Menghitung Kursi DPR Pemilu 2019

28/03/2019

Ledakan ganda di Suriah tewaskan 30 orang

23/12/2011
DUA Luncurkan Program S3KumLod

DUA Luncurkan Program S3KumLod

16/02/2016

About

ACEHPUNGO.COM dengan motto Galak-galak Kutak Sigo adalah situs berita gaya hidup untuk milenial Indonesia

Follow us

Categories

  • Budaya
  • Edukasi
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Inforial
  • Internasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Nanggroe
  • Nasional
  • News
  • Olahraga
  • Opini
  • Politik
  • Sosok
  • Teknologi

Recent Posts

  • Xiaomi 18 Pro Dipastikan Rilis Global, Apakah Indonesia Kebagian?
  • Malware MacSync Mengincar Pengguna Mac: Aplikasi Palsu, Backdoor, dan Trik Kalender iCloud
  • Pengembang Data Center Tawarkan Rp180 Juta per Rumah di Pennsylvania, Mengapa Warga Tetap Menolak?
  • WhatsApp Uji Tampilan Baru di Android, Tombol Meta AI Masuk Navigation Bar

Newsletter

  • About
  • Contact
  • Disclaimer
  • ToU
  • Partnership

© 2026 AP.com - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya

© 2026 AP.com - All Rights Reserved.