Menemukan Resep Anti-Mabuk di ‘Boeing’ L300

0
228

‘Boeing’ L300 telah kutau menjadi bagian dari keluarga besar moda transportasi darat di Aceh sejak tahun ’90-an. Seorang Pak Wo (uwak) dari pihak Mamakku bekerja sebagai sopirnya. Ia kerap berlebaran ke kampung dan membawa pulang alat kerja yang diproduksi oleh perusahaan Mitsubishi tersebut. Penduduk Aceh menyenangi angkutan umum antar kota dalam provinsi yang satu ini. Bayangkan, dengan harga yang setara dengan ongkos bus, penumpang mendapat layanan jemput di rumah dan antar hingga ke pintu bangunan di tempat tujuan. Kendaraan yang merakyat dengan kualitas pelayanan ningrat!

Para pengusaha angkutan juga lebih memilih Mitsubishi L300 karena daya tahan dan harga beli yang feasible menurut hitungan bisnis. Nama-Nama seperti Mandala, Mandala Putra, Mandala Putra Prima, Mulia Perkasa Wisata, Widuri, Lestari, Bintang Lestari, Argalus dan Samudra lantas menghiasi jagad transportasi antar kota dalam provinsi di Aceh.

Meski pelayanannya sedemikian rupa sehingga mayoritas warga Aceh memilihnya, aku baru berani memilihnya sebagai kendaraan untuk menuju kota lain tahun 2010 silam. Jantungku berdegub saat melihat jarum speedometer menunjuk angka antara 100-120 kilometer per jam. Konstan. Membayanglah berita-berita tentang frekwensi kecelakaan yang melibatkan Boeing L300 dengan angkutan lain. Jika tak mempertimbangkan isi cawat yang kerap terlibat sebagai ukuran pembanding kejantanan, aku pasti sudah minta sopir menepi.

Meski terkesan brutal dalam berkendara, para sopir L300 memiliki tingkat solidaritas yang dapat kugambarkan dalam slogan “Setia saat mogok atau bocor ban!”. Jika sebuah L300 mogok atau mengalami kebocoran ban di tengah perjalanan di tempat yang tak ada bengkel pada malam hari, rekan sejawat mereka akan berhenti, meski tak membantu langsung, mereka seperti berkepentingan untuk memastikan keselamatan sesamanya yang sedang apes. Jika kerusakan parah, penumpang di unit kendaraan yang sedang apes itu di-oper ke kendaraan lain. Setelah semuanya beres baru mereka melaju lagi.

Hal yang paling mengerikan bagiku kerap terjadi jika cuma ada 2 atau 3 unit L300 di malam hari pada jarak yang berdekatan menuju satu arah. Suasana dalam kabin penumpang akan menampilkan nuansa sirkuit Nascar. Mereka berupaya saling mendahului. Saling kejar, saling jajar. Gerakan kendaraan yang ada di belakang tampak menggertak, seolah akan menabrak kendaraan yang berada di depan. Kerap kulihat jarak laju gertakan itu Cuma selebar tapak tangan. Dengan santai, sopir di sebelahku cuma tertawa-tawa. Nyawa para penumpang tampak seperti upil yang sekena hati dipermainkannya di ujung jari. Keanjingan apakah yang melebihi tingkah macam ini. Tingkah polah macam ini tak layak disebut anjing, sebab anjing tak terlibat samasekali dalam kelaknatan tersebut. Itu lebih pas dan klop kalau disebut “HWANJJJING…!!!”

Jika sudah begitu, aku memilih mengingatkan, kalau tak mempan, aku memaki dan mengancam akan turun dan meminta kembali ongkos yang telah kubayar. Kalau dia melawan, aku tak segan mengajaknya bertukar tinju sebagai cendera mata untuk meninggalkan kesan pada pertemuan kami yang terbilang singkat itu. Sebagian tak sempat merasakan hangat dan karib bogemku, lantas berkata dengan mimik masam, “Aku ngantuk kalau nggak ngebut, Bang…”

Kengerian menjadi penumpang L300 lainnya kutemukan saat seorang sopir yang kutaksir belum berusia 30 tahun menjadi pengantar kami ke tujuan. Bukanlah soal usia yang bikin aku cemas, melainkan gerakan rahangnya yang berulangkali menggesek ke arah samping sambil menggesek-gesekkan barisan gigi atas dengan barisan gigi bawahnya. Mukanya pucat, mata cekung dengan sorot awas dan nyalang, serta lidahnya berulangkali menjilati bibirnya yang tampak selalu mengering.

Ia baru saja mengkonsumsi sabu-sabu. Pasti! Aku berani bertaruh soal yang satu ini. 3 tahun aku hidup dalam lingkungan bandar dan pemakai narkoba jenis yang satu ini; periode hidup yang membuatku hapal betul gestur dan mimik seorang penyabu. Kartel sabu yang memanfaatkan jasa perusahaan farmasi untuk mendistribusikan kristal bening yang menggetarkan iman itu ke Aceh. Dugaanku terbukti saat ia menekan pedal gas, mentalnya tengah berada di puncak atas bantuan methaamphetamine dalam darahnya.

Tak ada kesan takut dan ngeri meski angka di speedometer tunggangannya tak cukup memuaskan hasrat pacu di atas laju. Meski takut, aku tak ragu dengan performanya malam itu. Orang seceroboh apapun akan mencapai puncak kesiagaan saat mengkonsumsi kristal bening yang telah diuapkan dan disedot ke dalam aliran pernapasan itu.

Orang selemah apapun akan menjadi jauh lebih prima dan bugar setelah menyesap kepulan evaporasi kristal bening itu. Syukurlah… aku selamat hingga ke Kutaraja. Berjanji aku pada diri sendiri, dalam hati… lain waktu, aku akan lebih teliti melihat gelagat sopir L300. Jika gerakan rahangnya sudah saling menggesek ke samping, dan lidahnya kerap menjilati bibir yang pucat-mengering, aku akan lebih memilih menunda perjalanan.

Sisa pusing akibat menempuh perjalanan dengan Boeng L300 dari Lhokseumawe ke Takengon masih terasa. Aku selalu punya masalah dengan perpindahan jarak di atas 20 kilometer. Tapi tolong jangan bilang siapa-siapa kelemahanku yang satu ini, ya…. Untuk memulihkan kebugaran, aku butuh waktu sekurangnya 3 hari.

Tiba-Tiba otakku teringat tentang 4 hal yang secara tak sadar memiliki kesamaan moda; mabuk, mabok, transportasi dan militer. Keempatnya memiliki aspek darat, laut dan udara. Kugunakan secuil otoritas tanpa landas untuk memilah antara mabuk dengan mabok. Mabuk adalah efek pusing, mual dan muntah akibat menaiki kendaraan sebagai penumpang, sementara mabok adalah penghilangan kesadaran (secara sengaja) untuk menggapai jenjang sensasi melambung, melayang, tinggi untuk melupakan kenyataan. Orang seberang bilang trance, fly and high.

Ragam mabok akibat menumpang kendaraan pertamakali kusadari saat melihat iklan antimo di TPI, satu-satunya stasiun televisi swasta yang siarannya terjangkau televisi berantena UHF milik tetanggaku.

Antimo obat anti mabuk

Mabuk darat, laut dan udara

Antimo obat anti mabok

Antimo menenangkan perjalanan… Aaan… daaa…

Begitulah iklan itu terngiang tiap kali sensasi mual hadir saat mencium aroma asap dari knalpot bermesin Diesel berbahanbakar solar. Siksaan pusing masih bertambah apabila sang sopir yang giat bekerja di balik kemudi memutar lagu koplo. Koplo itu memang fenomenal, bagiku selaku penumpang, gangguannya lebih pada soal kebisingan yang tertib (yang kerap disebut musik) tetapi berefek brutal atas kinerja kelenjar hormonal.

Meski tak pernah menyediakan waktu, diri dan hidupku untuk mengutuki musik koplo, kehadirannya saat badai dalam perut muncul akibat aroma asap solar, kendali kemudi pak sopir yang terlalu terobsesi Formula1, juga badan jalan menuju Tanoh Tembuni yang segenit liukan tubuh Anaconda memuncakkan gejolak di abdomen hingga titik Zenit. Ya. Puncak mual tanpa mampu memuntahkan isi perut. Ini sungguh siksaan yang bikin aku butuh waktu pemulihan lebih lama. Saking parahnya, jika misalnya minggu depan aku berencana akan ke kota lain, perutku langsung mual membayangkan aroma asap sisa pembakaran solar dari dalam ruang di dalam sebongkah mesin Diesel.

Hari ini siksaan masih bertambah oleh celoteh 2 perempuan berumur pertengahan 20 di deret kursi belakang. Seolah tiada kehabisan wacana, mereka tampak selalu menemukan bahan pembicaraan yang aneh menurut pikiranku; parfum, tas, baju, sinetron atau telenovela. Kebisingan semakin menjadi saat dibumbui suara cekrek elektris ketika seorang di antaranya menekan tombol kamera di layar sentuh smartphone-nya. Selfie. Untunglah keduanya mereka cantik. Masih ada bagian dari otakku yang membutuhkan sensasi keberadaan mereka, meski tak tersentuh, tapi tetap mampu kupandang sesekali saat berpura meregangkan otot leher, bahu dan pinggang.

Kami sempat bercakap karena ternyata mereka ramah. Seorang di antaranya memiliki paras berhias bibir yang membangkitkan hasrat ingin menggigit dalam diriku. Sayangnya, aku baru berani memulai obrolan di pertengahan jalan lintas KKA yang menghubungkan Tanoh Pasee dengan Tanoh Gayo. Sebab, baru kusadari, efek mabuk darat langsung sirna saat obrolan kumulai hingga aku tiba di pintu bangunan yang kutuju. Bangsat! Kenapa telat betul kutemukan resep anti mabuk kendaraan ini…?!

Image Source: [Boeing L300](https://harga.web.id/wp-content/uploads/Angkutan-Umum-L300-di-Aceh..jpg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here