• About
  • Contact
  • Disclaimer
  • ToU
  • Partnership
Tuesday, October 6, 2026
ACEHPUNGO.COM
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya
  • Opini
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya
  • Opini
No Result
View All Result
Acehpungo.Com
No Result
View All Result
Home Lifestyle

Meuloh Teupeh-peh, Peunajoh Raja dari Trueng Campli

Taufik Al Mubarak by Taufik Al Mubarak
07/03/2026
in Lifestyle
0
Meuloh Teupeh-peh, Peunajoh Raja dari Trueng Campli
21
SHARES
90
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Di sisi kiri rumahnya yang sudah disulap sebagai dapur cadangan, wanita paruh baya itu tampak sibuk. Dia terlihat asik mengatur posisi benda yang dibalut dengan daun pisang menyerupai pulut itu di atas pemanggang seukuran 1×1 meter.

Tak jauh dari alat pemanggang itu, api dari pembakaran tempurung kelapa menyala-nyala. Seakan tidak peduli dengan api, wanita berusia 50-an itu menggeser-geser posisi benda yang dibalut dengan daun pisang itu menjadi rapat. Kini, benda itu sudah tersusun rapi dan rapat di atas pemanggang. Warna hijau daun pisang muda tampak kontras dengan pemanggang.

READ ALSO

Jadwal dan Harga Tiket Bus Banda Aceh – Medan Terbaru

Ketika Wonosobo Memilih Sunyi untuk Merayakan Diri


Wanita itu, Tihawa. Sejak lima tahun lalu ia menjalani aktivitas tersebut saban sore. Kegiatan itu kadang dibantu oleh anaknya yang baru pulang dari Malaysia. Namun, aku lebih sering melihat wanita yang kabarnya sudah bercerai dari suaminya itu melakukan semuanya sendirian. “Lagee nyoe keuh buet kamoe di Gampong,” katanya.

Dulu, ketika aku masih kecil, dia bersama suaminya menjadi pembeli udang dan kepiting (agen penampung) dari warga dan para nelayan tambak. Sejak produksi udang di tambak berkurang, Tihawa beralih profesi dengan membuka kedai kopi kampung. Saat itu, hanya ada dua warung kopi di kampung yang pernah menjadi tempat peristirahatan Teungku Abdullah Syafei. Satu milik Tihawa, dan satu lagi Syik Lah.

Sejak lima tahun terakhir, Tihawa menekuni profesi sebagai produsen Meuloh Teupeh (atau meuloh teupeh-peh), yaitu olahan ikan bandeng yang menyerupai bandeng presto. Benda yang dibungkus dengan daun pisang menyerupai ikan pepes itu dan diatur rapi di atas pemanggang adalah meuloh teupeh. Kegiatan memanggang itu bagian akhir dari proses pengelohan meuloh teupeh agar bisa dimakan.

Model pengelohan ikan bandeng seperti ini hanya ada di Mukim Trueng Campli, khususnya di Gampong Ukee dan Kumbang. Dan, meuloh teupeh sudah menjadi hidangan istimewa tiap kali ada kenduri di Trueng Campli.


Muloh teupeh terkenal karena rasanya yang lezat. Ia bisa dimakan sebagai lauk nasi maupun dimakan utuh sebagai penganan menu utama. Meski terkenal dengan meuloh teupeh-nya, tidak saban waktu kuliner keuneubah indatu ini tersedia. Orang hanya akan mengolahnya ketika ada kenduri-kenduri besar seperti kenduri maulid, sunat rasul dan pesta perkawinan. Hanya ada satu-dua keluarga yang mengolah meuloh teupeh seperti yang dilakukan oleh Tihawa. Meuloh itu dijualnya secara berkeliling ke gampong tetangga.

“Untuk seekor ikan dalam balutan ukuran sedang saya jual Rp20.000,” kata Tihawa.

Proses Peh Meuloh
Pengolahan meuloh teupeh ini membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Bandeng segar yang baru dipanen dari tambak dibersihkan sisiknya. Lalu, ikan yang sudah bersih itu dipukul-pukul menggunakan bagian pisau yang tumpul. Selanjutnya ditumbuk-tumbuk dengan gagang pisau agar lebih merata. Seketika, bandeng yang tadinya keras menjadi lembek karena tulang-tulangnya sudah remuk.

Untuk menghancurkan bandeng dalam jumlah besar, biasanya sebagai hidangan kenduri, masyarakat menggunakan besi seukuran telunjuk orang dewasa. Bandeng-bandeng itu dipukul-pukul dengan lembut, hingga seluruh dagingnya hancur dan lembek.

Sekalipun daging ikan bandeng itu hancur sedemikian rupa, namun kulitnya tetap utuh. Sekilas, ikan itu tampak masih sempurna. Kulit bandeng itu dibelah dari sisi sirip bagian atas, dan daging yang sudah hancur dan terburai itu dikeluarkan pelan-pelan. Usus, hati, dan kumpulan darah yang menggumpal itu dibuang, sementara daging ikan dan tulang-tulangnya disatukan dalam wajan atau belanga.


Sementara kulit-kulit ikan itu ditaruh di sebuah wayan, dan tidak diapa-apakan: tidak dikasih bumbu atau garam. Daging dan tulang-belulang ikan yang sudah hancur itu dicampur dengan bumbu masak yang sangat kaya rempah-rempah di dalam belanga, dan dipanaskan. Saat daging sudah setengah matang, api di perapian dimatikan. Setelah dingin, semua tulang yang tadi ikut dipanaskan bersama daging, kini dibuang menggunakan garpu. Proses pembuangan tulang-belulang ini butuh waktu lama. Biasanya ada sekelompok orang duduk melingkar mengelilingi tempayan yang berisi daging bandeng matang, dan mulailah mereka memisahkan tulang dari daging ikan.

Selanjuynya, setelah daging bandeng terbebas dari tulang, semua daging itu dikumpulkan kembali dan dimasukkan lagi ke dalam kulit-kulitnya yang tadi ditaruh dalam sebuah wayan. Kini, ikan bandeng itu tampak menyerupai ikan-ikan bandeng utuh. Setelah semua kulit bandeng terisi, mulailah tubuh ikan itu dibalut dengan daun pisang hingga beberapa lapis. Satu persatu ikan yang sudah dibalut itu diletakkan di atas pemanggang seperti yang dilakukan oleh Tihawa.

Untuk menjaga agar ikan itu tetap gurih, ikan diletakkan di atas pemanggang yang bara apinya terbuat dari tempurung kelapa. Asap yang ditimbulkannya juga mengeluarkan bau sedap dan gurih. Dari jauh kita bisa mencium aroma ikan yang sudah matang itu. Itu tandanya, ikan tersebut siap dihidangkan.

Cara penyajiannya sangat sederhana, balutan daun pisang yang sudah rapuh dan kehitam-hitaman itu dibuang, lalu tubuh ikan bandeng tersebut dipotong-potong dengan ukuran sedikit lebih besar dari potongan-potongan ikan bandeng goreng dan lalu dihidangkan dalam piring-piring ukuran sedang.

Sampai di sini ada dua kegiatan utama yang dilakukan. Proses pembersihan ikan sampai daging ikan dimasukkan kembali ke dalam kulitnya itu disebut dengan peh meuloh. Sementara ikan yang dipotong kecil-kecil dan siap dihidangkan itu disebut meuloh teupeh (atau ada juga yang menyebutnya meuloh teupeh-peh).


Proses pengolahan meuloh teupeh yang memakan waktu lama membuat kuliner ini istimewa. “Peuneugot haloh peunajoh gasa.” Begitulah orang di kampung biasanya meringkas proses pembuatan meuloh teupeh ini dalam sebuah istilah, yang kini dipelesetkan menjadi “peuneugot haloh peunajoh raja.” Itulah asal muasal kenapa meuloh teupeh disebut peunajoh raja.

Anekdot
Meuloh teupeh ini sangat terkenal di kalangan pegawai negeri di Kota Sigli. Kuliner khas Trueng Campli ini dianggap berbeda dengan bandeng presto yang dijual di restoran. Meuloh teupeh yang masak dengan bumbu masak daging putih itu kaya akan rempah-rempah, dan rasanya cocok di lidah.

Saking terkenalnya meuloh teupeh sampai-sampai muncul sebuah anekdot. Misalnya, suatu hari seorang kepala di sebuah kantor dinas kabupaten mengajak paras tafnya menghadiri sebuah kenduri.

“Uroe nyoe tanyoe na undangan pajoh kenduri,” kata kepala. Awalnya, beberapa staf menolak dengan halus, dengan alasan macam-macam.


“Pat kenduri, pak?” tanya seorang staf. Ketika sang kepala memberi tahu bahwa lokasi kenduri itu di Glumpang Baro, tepatnya di Mukim Trueng Campli, maka yang sebelumnya menolak segera meralat keputusannya.

“Paih that, Pak. Ka meutumee pajoh meuloh teupeh lom uroe nyoe,” kata mereka.

Nah, kalau ingin menikmati meuloh teupeh atau meuloh teupeh-peh, datang saja ke Trueng Campli!

Related Posts

Ilustrasi Jadwal dan Harga Tiket Bus Banda Aceh - Medan
Lifestyle

Jadwal dan Harga Tiket Bus Banda Aceh – Medan Terbaru

03/05/2026
Penampakan Wonosobo dari video drone
Lifestyle

Ketika Wonosobo Memilih Sunyi untuk Merayakan Diri

07/03/2026
Rekomendasi 20 nama anak laki-laki Aceh tahun 2025
Lifestyle

Rekomendasi 20 Nama Anak Laki-laki Aceh Tahun 2025

02/01/2025
kuah beulangong salah satu rekomendasi kuliner aceh.
Lifestyle

14 Rekomendasi Kuliner Aceh yang Wajib Dicoba Saat Datang ke Provinsi Aceh

07/03/2026
Jaket Film KADET 1947
Lifestyle

Presiden Jokowi Kenakan Jaket Film KADET 1947 Saat Kunjungan Kerja

07/03/2026
Rose Leslie dan Kit Harington
Lifestyle

Bintang Game of Thrones Rose Leslie dan Kit Harington Menanti Kelahiran Anak Pertama

07/03/2026
Next Post
SteemPress Kini Mendukung Banyak Akun dalam Satu Blog

SteemPress Kini Mendukung Banyak Akun dalam Satu Blog

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

POPULAR NEWS

ilustrasi ancaman keamanan kripto

Waspadai Serangan AI dan Eksploitasi Kontrak Cerdas di 2025

08/05/2026

iPhone 18 Pro Kantongi TKDN dan Postel, Kapan Resmi Dijual di Indonesia?

30/09/2026

Bill Gates: AI Cukup Kuat untuk Picu Kematian Satu Miliar Orang, Serukan Regulasi Pemerintah

28/09/2026
Pelatihan Keterampilan AI untuk UMKM

Meta Luncurkan Program Pelatihan Keterampilan AI untuk UMKM di Indonesia

09/07/2026
Ilustrasi Jadwal dan Harga Tiket Bus Banda Aceh - Medan

Jadwal dan Harga Tiket Bus Banda Aceh – Medan Terbaru

03/05/2026

EDITOR'S PICK

Juru Parkir Gadungan Diringkus Satpol-PP

18/12/2011

Wow…Inilah Kelebihan iPad 3

01/01/2012
Perangi Narkoba, 7.000 Pelajar SMK Tes Urine

Perangi Narkoba, 7.000 Pelajar SMK Tes Urine

12/11/2018

Menko Kesra: Percepat Langkah Evakuasi

04/12/2011

About

ACEHPUNGO.COM dengan motto Galak-galak Kutak Sigo adalah situs berita gaya hidup untuk milenial Indonesia

Follow us

Categories

  • Budaya
  • Edukasi
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Inforial
  • Internasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Nanggroe
  • Nasional
  • News
  • Olahraga
  • Opini
  • Politik
  • Sosok
  • Teknologi

Recent Posts

  • Xiaomi 18 Pro Dipastikan Rilis Global, Apakah Indonesia Kebagian?
  • Malware MacSync Mengincar Pengguna Mac: Aplikasi Palsu, Backdoor, dan Trik Kalender iCloud
  • Pengembang Data Center Tawarkan Rp180 Juta per Rumah di Pennsylvania, Mengapa Warga Tetap Menolak?
  • WhatsApp Uji Tampilan Baru di Android, Tombol Meta AI Masuk Navigation Bar

Newsletter

  • About
  • Contact
  • Disclaimer
  • ToU
  • Partnership

© 2026 AP.com - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya

© 2026 AP.com - All Rights Reserved.