Muhibah 14 Lelaki Penghibur

0
58

Malam sedang menjalar di tengah jalur laju, namun sedang menuju akhir ketika sebuah panggilan masuk. Bukoum, saudara yang bertaut oleh pergaulan di Fakultas Hukum Unsyiah. “Kami mau ke Lhokseumawe, ke rumah Bang Pan…” ujarnya di ujung sana. Nama yang disebut si Bukoum adalah Zulfan Amru alias Phantom (Zulphan Tompel) a.k.a Pane. Kaum steemian mengenalnya dengan nama Pieasant. Kawanku yang menjadi pentolan grup musik Amroe and Pane Band.

Perjalanan malam itu terkesan tergesa bagiku. Setelah mengembalikan kendaraan ke tempat peraduannya, Bukoum dan rombongan menjemputku. Cuma berselang menit setelah aku mengunci pintu. Dalam mobil telah teronggok 4 nyawa lelaki, Bukoum, Zahrul Fuadi, Hopong dan PYM Bookrak di sudut kanan kursi paling belakang. Kami biasa memulai pertemuan dengan berolok-olok. Seperti ada yang kurang kalau tak begitu.

Mobil Kijang Innova melaju menuju ke Batoh. Kami masih harus menjemput Pojant. Seorang kawan yang memiliki kekentalan perkawanan setara dengan aku dan Zulfan. Minus variabel malaria dan Imelda Yurisza. Akan kukisahkan soal aku, Zulfan dan Imelda suatu hari nanti. Celoteh kami tak henti. Selalu saja ada bahan olok. Jika tak soal kawan semobil malam itu, masih ada bahan soal kondisi politik yang kami nikmati dari perspektif penonton sepakbola. Berlandas semangat bersorak girang saat dukungan sedang Berjaya, memaki saat lawan bermanuver di luar duga dan mencari sebanyak mungkin alasan untuk membenci lawan dan mencinta dukungan.

Tiba di dekat rumah Pojant, kami tak perlu menunggu lama. Kawan yang kukenal teliti soal segala bentuk persiapan ini memang selalu siaga untuk perjalanan tiba-tiba. Sebagai mahasiswa fakultas hukum yang mengambil kekhususan Hukum Tata Negara, ia sungguh menerapkan kata ‘tata’ sebagai panduan hidup. Sebatang kretek terselip di antara bibirnya. “Qyuuu…!!!” seruku saat kepalanya masuk ke ambang mobil. Ia menjawab dengan seruan serupa.

Malam terbelah oleh laju kendara. Pembicaraan entah sudah berapa bab. Kantuk tampak telah menguasai sebagian dari kami. Riuh tawa sudah reda saat mataku menatap ke depan. Ke arah jalan yang menjalar menuju tujuan. Warna aspal dan malam berpadu. Bintang tampak satu-satu. Pemutar lagu di mobil mengalunkan tembang berjudul 14-04-84 milik Iwan Fals.

“Ha… aku senang kalau dengar lagu ini dengan si Pojant, Koum…” seruku

“Kenapa, Bang?” tanya Bukoum penasaran.

“Karena dia yang pertama menyanyikan lagu ini live waktu di kampus dulu,” jawabku.

“Kau senang dengar lagu ini… aku aja sedih dengarnya,” sela Pojant.

Aku bisa meraba sumber pernyataannya itu. Mungkin lagu itu mengingatkannya pada Almarhumah Yuyu, istri pertamanya yang berpulang saat melahirkan anak kedua mereka.

“Lagu indah tetaplah lagu indah, Jant…” balasku, “Soal rasa sedih atau senang, itu tergantung pada kenangan apa yang kita lekatkan pada lagu itu!” ia terdiam mendengar jawabanku, aku terlalu yakin, ia telah berdamai dengan duka yang satu itu. Aku tak tau seberapa dalam luka dan ngilu yang telah ia alami. Tapi tak kubiarkan ia larut. Jika lagu ini ada dalam daftar pengecualian di sisa hidupnya, ia harus menghadapinya berulangkali malam ini, sampai kami kembali dari Lhokseumawe ke Banda Aceh nanti. Sebab, pemutar musik di mobil cuma mampu membaca belasan lagu dari ratusan tembang yang menghuni SDCard.

Rombongan lain menggunakan mobil Toyota Avanza. Rahmat Organik menjadi sopirnya. Belakangan baru kutau kalau lakab Rahmat Organik telah menjelma menjadi Rahmat Hidroponik. Peralihan lakab yang tak terlalu mengagetkan, sebab masih berkait dengan kedalaman hasratnya pada pertanian. Mereka menanti kami di Warkop 2 Saudara, Samahani. Warung kopi yang tersohor oleh kelezatan roti selai srikayanya.

Saat tiba di situ, kulihat sebuah meja berkursi 10 telah terisi sebagiannya, hampir penuh. Mereka terkekeh melihat kepalaku yang sudah trondol, tak lagi gondrong-merimba. Sepeminuman kopi dan sepenyantapan-roti-sele-Samahani kemudian kami beranjak, mengarahkan jentera kendara menuju Lhokseumawe. Selalu ada saja perbualan yang hangat. Sebab, lama sudah aku tak bersua dengan kawan-kawan yang malam ini menempuh perjalanan bersama.

Saat kendaraan hendak memasuki Sigli, perutku sudah mulai lapar. Malam ini aku belum menyantap nasi. Terkenanglah rasa sop di kawasan Grong-Grong. Berbuallah aku soal santapan yang satu itu. Sudah 3 kali kusantap sup di sebuah rumah makan merangkap Warkop di Grong-Grong. Semuanya terjadi saat sepertiga malam yang akhir. Ketika mual menguasai tubuh dalam perjalanan Banda Aceh-Takengon atau sebaliknya.

Bukoum yang pertama tak percaya. Ia memperolokku karena beranggapan itu cuma ilusiku saja. “Mana ada orang jual sup tengah malam, Bang…” ujarnya dengan nada melecehkan, dengan tampang sememuakkan Floyd Mayweather Jr. Ia menambahkan komentar seolah aku singgah ke sebuah kota hantu dan menyantap sup yang dijual oleh para hantu.

Aku menyerah membantah mereka, tapi tak henti menjabarkan mengenai pesona menikmati sup di sepertiga malam yang akhir, saat kepala telah berat oleh alun kendara yang memusingkan, mengacaukan kerja aldesteron dan adrenalin di semesta tubuh. Aku menjabarkan kenikmatannya dengan seluruh fantasi yang mengendap di jiwaku, endapan hasrat yang dikeruhkan oleh serbuan rasa lapar.

Segala pengingkaran dan perbantahan tak menyurutkan bumbu cerita yang juga tengah bercerita tentang pesona bumbu rempah dalam sup yang sudah 3 kali kusantap di kawasan pertokoan Grong-Grong. Satu hal yang tak kulakukan untuk meyakinkan mereka, bersumpah. Kupikir, untuk apa bersumpah dengan batin-batin yang lebih memilih ingkar atas sebuah kabar benar. Biarkan mereka bersumpah soal rasa sup itu saat menikmatinya sewaktu pulang nanti. Biarkan saja.

Menjelang subuh kami berhenti di Bireuen. Makan-minum. Di kedai nasi merangkap warkop itulah PYM Bookrak mempergunjingkan celotehku soal sup Grong-Grong pada rombongan penumpang mobil satunya lagi. Mereka tertawa. Sebagian penasaran. Momen interpretasi Kucing Schrödinger, sebuah kondisi yang menentang keabsolutan pengetahuan manusia yang dikenal sebagai superposisi kuantum. Aku bisa saja benar juga bisa saja keliru. Saat ini, aku masih terlekati oleh ‘benar’ dan ‘keliru’ sekaligus, sebab, pembahasan dengan penumpang mobil lain telah membuktikan, cuma aku yang pernah merasakan sensasi sup Grong-Grong di sepertiga malam yang akhir.

“Kita tengok aja nanti, siapa yang tertawa belakangan,” ujarku. Mereka tak berhenti mengolok fantasiku, aku juga tak henti menemukan ilustrasi baru tentang sup Grong-Grong di sepertiga malam yang akhir, di suluh ketiga. Tampang Hafidh Polem lebih ilmiah ketimbang paras skeptis kawan seperjalanan lainnya.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit dari Bireuen, kami berhenti di sebuah masjid yang terletak beberapa kilometer sebelum Kota Matang. Setelah waktu Shalat Subuh usai, sebagian dari rombongan tidur di mobil, sebagian lagi memanfaatkan fasilitas balai pengajian di bagian belakang masjid. Aku memilih tempat kedua meski nyamuk begitu genit dan sok akrab. Setelah kurasa cukup regang polemik otot pinggang, aku menuju halaman samping masjid. Sudah ada Pojant dan Zulham di situ. Pojant sedang duduk di bekas gulungan kabel dari kayu.

Aku bergabung dengan kantuk yang telah menjauh. Kami bersepakat untuk ngopi sejenak di Kede (kawasan pertokoan) Matang. Berangkatlah aku, Pojant, Homalamba dan Zulham mengisi pagi dengan minuman hangat. Kampung Zulham dan Homalamba tak jauh dari kede Matang. Mereka menguasai betul wilayah tersebut. Usai menghabiskan teh panas segelas besar, kami kembali ke masjid untuk memastikan adakah para peserta sudah lolos dari alam mimpi…

Ternyata, mereka masih terkapar mesra di tikar balai pengajian. Aku menolak saat Pojant memintaku menggugah mereka dari tidur. Tak pernah berani kubangunkan orang yang tengah lena, kecuali ada hal yang mendesak. Ia akhirnya turun-tangan sendiri. Setelah bergiliran membasuh muka dan berkumur, kami berangkat lagi. Lhokseumawe sudah ‘sepelemparan batu’ saja jaraknya.

Di sana, seorang kawan yang tengah berduka akan menjadi labuhan awal perjalanan ini. Sebab, 14 orang yang terlibat dalam perjalanan ini tak boleh menolak bahwa peran kami saat tiba nanti adalah menjalani lakon para penghibur bagi ahli musibah yang tengah di rundung duka. Sebab, begitu juga kata kamus tentang arti kata ‘takziah’.

 

Foto Koleksi @Homalamba

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here