• About
  • Contact
  • Disclaimer
  • ToU
  • Partnership
Wednesday, October 7, 2026
ACEHPUNGO.COM
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya
  • Opini
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya
  • Opini
No Result
View All Result
Acehpungo.Com
No Result
View All Result
Home Opini

Muhibah 14 Lelaki Penghibur

Diyus by Diyus
07/03/2026
in Opini
0
Muhibah 14 Lelaki Penghibur
20
SHARES
90
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Malam sedang menjalar di tengah jalur laju, namun sedang menuju akhir ketika sebuah panggilan masuk. Bukoum, saudara yang bertaut oleh pergaulan di Fakultas Hukum Unsyiah. “Kami mau ke Lhokseumawe, ke rumah Bang Pan…” ujarnya di ujung sana. Nama yang disebut si Bukoum adalah Zulfan Amru alias Phantom (Zulphan Tompel) a.k.a Pane. Kaum steemian mengenalnya dengan nama Pieasant. Kawanku yang menjadi pentolan grup musik Amroe and Pane Band.

Perjalanan malam itu terkesan tergesa bagiku. Setelah mengembalikan kendaraan ke tempat peraduannya, Bukoum dan rombongan menjemputku. Cuma berselang menit setelah aku mengunci pintu. Dalam mobil telah teronggok 4 nyawa lelaki, Bukoum, Zahrul Fuadi, Hopong dan PYM Bookrak di sudut kanan kursi paling belakang. Kami biasa memulai pertemuan dengan berolok-olok. Seperti ada yang kurang kalau tak begitu.

READ ALSO

Kami Tidak Sekolah, Memangnya Kenapa?

Tips Sukses Orang Pidie di Perantauan

Mobil Kijang Innova melaju menuju ke Batoh. Kami masih harus menjemput Pojant. Seorang kawan yang memiliki kekentalan perkawanan setara dengan aku dan Zulfan. Minus variabel malaria dan Imelda Yurisza. Akan kukisahkan soal aku, Zulfan dan Imelda suatu hari nanti. Celoteh kami tak henti. Selalu saja ada bahan olok. Jika tak soal kawan semobil malam itu, masih ada bahan soal kondisi politik yang kami nikmati dari perspektif penonton sepakbola. Berlandas semangat bersorak girang saat dukungan sedang Berjaya, memaki saat lawan bermanuver di luar duga dan mencari sebanyak mungkin alasan untuk membenci lawan dan mencinta dukungan.

Tiba di dekat rumah Pojant, kami tak perlu menunggu lama. Kawan yang kukenal teliti soal segala bentuk persiapan ini memang selalu siaga untuk perjalanan tiba-tiba. Sebagai mahasiswa fakultas hukum yang mengambil kekhususan Hukum Tata Negara, ia sungguh menerapkan kata ‘tata’ sebagai panduan hidup. Sebatang kretek terselip di antara bibirnya. “Qyuuu…!!!” seruku saat kepalanya masuk ke ambang mobil. Ia menjawab dengan seruan serupa.

Malam terbelah oleh laju kendara. Pembicaraan entah sudah berapa bab. Kantuk tampak telah menguasai sebagian dari kami. Riuh tawa sudah reda saat mataku menatap ke depan. Ke arah jalan yang menjalar menuju tujuan. Warna aspal dan malam berpadu. Bintang tampak satu-satu. Pemutar lagu di mobil mengalunkan tembang berjudul 14-04-84 milik Iwan Fals.

“Ha… aku senang kalau dengar lagu ini dengan si Pojant, Koum…” seruku

“Kenapa, Bang?” tanya Bukoum penasaran.

“Karena dia yang pertama menyanyikan lagu ini live waktu di kampus dulu,” jawabku.

“Kau senang dengar lagu ini… aku aja sedih dengarnya,” sela Pojant.

Aku bisa meraba sumber pernyataannya itu. Mungkin lagu itu mengingatkannya pada Almarhumah Yuyu, istri pertamanya yang berpulang saat melahirkan anak kedua mereka.

“Lagu indah tetaplah lagu indah, Jant…” balasku, “Soal rasa sedih atau senang, itu tergantung pada kenangan apa yang kita lekatkan pada lagu itu!” ia terdiam mendengar jawabanku, aku terlalu yakin, ia telah berdamai dengan duka yang satu itu. Aku tak tau seberapa dalam luka dan ngilu yang telah ia alami. Tapi tak kubiarkan ia larut. Jika lagu ini ada dalam daftar pengecualian di sisa hidupnya, ia harus menghadapinya berulangkali malam ini, sampai kami kembali dari Lhokseumawe ke Banda Aceh nanti. Sebab, pemutar musik di mobil cuma mampu membaca belasan lagu dari ratusan tembang yang menghuni SDCard.

Rombongan lain menggunakan mobil Toyota Avanza. Rahmat Organik menjadi sopirnya. Belakangan baru kutau kalau lakab Rahmat Organik telah menjelma menjadi Rahmat Hidroponik. Peralihan lakab yang tak terlalu mengagetkan, sebab masih berkait dengan kedalaman hasratnya pada pertanian. Mereka menanti kami di Warkop 2 Saudara, Samahani. Warung kopi yang tersohor oleh kelezatan roti selai srikayanya.

Saat tiba di situ, kulihat sebuah meja berkursi 10 telah terisi sebagiannya, hampir penuh. Mereka terkekeh melihat kepalaku yang sudah trondol, tak lagi gondrong-merimba. Sepeminuman kopi dan sepenyantapan-roti-sele-Samahani kemudian kami beranjak, mengarahkan jentera kendara menuju Lhokseumawe. Selalu ada saja perbualan yang hangat. Sebab, lama sudah aku tak bersua dengan kawan-kawan yang malam ini menempuh perjalanan bersama.

Saat kendaraan hendak memasuki Sigli, perutku sudah mulai lapar. Malam ini aku belum menyantap nasi. Terkenanglah rasa sop di kawasan Grong-Grong. Berbuallah aku soal santapan yang satu itu. Sudah 3 kali kusantap sup di sebuah rumah makan merangkap Warkop di Grong-Grong. Semuanya terjadi saat sepertiga malam yang akhir. Ketika mual menguasai tubuh dalam perjalanan Banda Aceh-Takengon atau sebaliknya.

Bukoum yang pertama tak percaya. Ia memperolokku karena beranggapan itu cuma ilusiku saja. “Mana ada orang jual sup tengah malam, Bang…” ujarnya dengan nada melecehkan, dengan tampang sememuakkan Floyd Mayweather Jr. Ia menambahkan komentar seolah aku singgah ke sebuah kota hantu dan menyantap sup yang dijual oleh para hantu.

Aku menyerah membantah mereka, tapi tak henti menjabarkan mengenai pesona menikmati sup di sepertiga malam yang akhir, saat kepala telah berat oleh alun kendara yang memusingkan, mengacaukan kerja aldesteron dan adrenalin di semesta tubuh. Aku menjabarkan kenikmatannya dengan seluruh fantasi yang mengendap di jiwaku, endapan hasrat yang dikeruhkan oleh serbuan rasa lapar.

Segala pengingkaran dan perbantahan tak menyurutkan bumbu cerita yang juga tengah bercerita tentang pesona bumbu rempah dalam sup yang sudah 3 kali kusantap di kawasan pertokoan Grong-Grong. Satu hal yang tak kulakukan untuk meyakinkan mereka, bersumpah. Kupikir, untuk apa bersumpah dengan batin-batin yang lebih memilih ingkar atas sebuah kabar benar. Biarkan mereka bersumpah soal rasa sup itu saat menikmatinya sewaktu pulang nanti. Biarkan saja.

Menjelang subuh kami berhenti di Bireuen. Makan-minum. Di kedai nasi merangkap warkop itulah PYM Bookrak mempergunjingkan celotehku soal sup Grong-Grong pada rombongan penumpang mobil satunya lagi. Mereka tertawa. Sebagian penasaran. Momen interpretasi Kucing Schrödinger, sebuah kondisi yang menentang keabsolutan pengetahuan manusia yang dikenal sebagai superposisi kuantum. Aku bisa saja benar juga bisa saja keliru. Saat ini, aku masih terlekati oleh ‘benar’ dan ‘keliru’ sekaligus, sebab, pembahasan dengan penumpang mobil lain telah membuktikan, cuma aku yang pernah merasakan sensasi sup Grong-Grong di sepertiga malam yang akhir.

“Kita tengok aja nanti, siapa yang tertawa belakangan,” ujarku. Mereka tak berhenti mengolok fantasiku, aku juga tak henti menemukan ilustrasi baru tentang sup Grong-Grong di sepertiga malam yang akhir, di suluh ketiga. Tampang Hafidh Polem lebih ilmiah ketimbang paras skeptis kawan seperjalanan lainnya.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit dari Bireuen, kami berhenti di sebuah masjid yang terletak beberapa kilometer sebelum Kota Matang. Setelah waktu Shalat Subuh usai, sebagian dari rombongan tidur di mobil, sebagian lagi memanfaatkan fasilitas balai pengajian di bagian belakang masjid. Aku memilih tempat kedua meski nyamuk begitu genit dan sok akrab. Setelah kurasa cukup regang polemik otot pinggang, aku menuju halaman samping masjid. Sudah ada Pojant dan Zulham di situ. Pojant sedang duduk di bekas gulungan kabel dari kayu.

Aku bergabung dengan kantuk yang telah menjauh. Kami bersepakat untuk ngopi sejenak di Kede (kawasan pertokoan) Matang. Berangkatlah aku, Pojant, Homalamba dan Zulham mengisi pagi dengan minuman hangat. Kampung Zulham dan Homalamba tak jauh dari kede Matang. Mereka menguasai betul wilayah tersebut. Usai menghabiskan teh panas segelas besar, kami kembali ke masjid untuk memastikan adakah para peserta sudah lolos dari alam mimpi…

Ternyata, mereka masih terkapar mesra di tikar balai pengajian. Aku menolak saat Pojant memintaku menggugah mereka dari tidur. Tak pernah berani kubangunkan orang yang tengah lena, kecuali ada hal yang mendesak. Ia akhirnya turun-tangan sendiri. Setelah bergiliran membasuh muka dan berkumur, kami berangkat lagi. Lhokseumawe sudah ‘sepelemparan batu’ saja jaraknya.

Di sana, seorang kawan yang tengah berduka akan menjadi labuhan awal perjalanan ini. Sebab, 14 orang yang terlibat dalam perjalanan ini tak boleh menolak bahwa peran kami saat tiba nanti adalah menjalani lakon para penghibur bagi ahli musibah yang tengah di rundung duka. Sebab, begitu juga kata kamus tentang arti kata ‘takziah’.

 

Foto Koleksi @Homalamba

Related Posts

Kami Tidak Sekolah, Memangnya Kenapa?
Opini

Kami Tidak Sekolah, Memangnya Kenapa?

07/03/2026
Ilustrasi tips sukses orang pidie di perantauan
Opini

Tips Sukses Orang Pidie di Perantauan

07/03/2026
Siapa Perempuan di Samping Muzakir Manaf?
Opini

Siapa Perempuan di Samping Muzakir Manaf?

07/03/2026
Surat Hasan Tiro kepada Jenderal De Gaulle yang Menggemparkan Perancis
Opini

Surat Hasan Tiro kepada Jenderal De Gaulle yang Menggemparkan Perancis

07/03/2026
5 Pejuang Perempuan Aceh yang Tak Mirip Kartini
Opini

5 Pejuang Perempuan Aceh yang Tak Mirip Kartini

07/03/2026
Dialog Politikus dengan Pelacur
Opini

Politikus dan Seorang Pelacur

07/03/2026
Next Post
Group Video Call WhatsApp

Fitur Group Video Call WhatsApp, Begini Cara Menggunakannya

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

POPULAR NEWS

ilustrasi ancaman keamanan kripto

Waspadai Serangan AI dan Eksploitasi Kontrak Cerdas di 2025

08/05/2026

iPhone 18 Pro Kantongi TKDN dan Postel, Kapan Resmi Dijual di Indonesia?

30/09/2026

Bill Gates: AI Cukup Kuat untuk Picu Kematian Satu Miliar Orang, Serukan Regulasi Pemerintah

28/09/2026
Xiaomi 18 Pro Dipastikan Rilis Global, Apakah Indonesia Kebagian?

Xiaomi 18 Pro Dipastikan Rilis Global, Apakah Indonesia Kebagian?

05/10/2026

WhatsApp Uji Tampilan Baru di Android, Tombol Meta AI Masuk Navigation Bar

01/10/2026

EDITOR'S PICK

KIP Aceh Gelar Pendidikan untuk Pemilih Pemula

14/12/2011
Amnesty International cabut penghargaan untuk Aung San Suu Kyi

Amnesty International cabut penghargaan untuk Aung San Suu Kyi

14/11/2018

Forbes ALA-ABAS Minta Rakyat Tak Terprovokasi

16/11/2011
Aceh Pungo

Ratu Elizabeth: Manusia di Dunia Sekedar Numpang Lewat

08/12/2018

About

ACEHPUNGO.COM dengan motto Galak-galak Kutak Sigo adalah situs berita gaya hidup untuk milenial Indonesia

Follow us

Categories

  • Budaya
  • Edukasi
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Inforial
  • Internasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Nanggroe
  • Nasional
  • News
  • Olahraga
  • Opini
  • Politik
  • Sosok
  • Teknologi

Recent Posts

  • Xiaomi 18 Pro Dipastikan Rilis Global, Apakah Indonesia Kebagian?
  • Malware MacSync Mengincar Pengguna Mac: Aplikasi Palsu, Backdoor, dan Trik Kalender iCloud
  • Pengembang Data Center Tawarkan Rp180 Juta per Rumah di Pennsylvania, Mengapa Warga Tetap Menolak?
  • WhatsApp Uji Tampilan Baru di Android, Tombol Meta AI Masuk Navigation Bar

Newsletter

  • About
  • Contact
  • Disclaimer
  • ToU
  • Partnership

© 2026 AP.com - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya

© 2026 AP.com - All Rights Reserved.