• About
  • Contact
  • Disclaimer
  • ToU
  • Partnership
Monday, October 5, 2026
ACEHPUNGO.COM
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya
  • Opini
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya
  • Opini
No Result
View All Result
Acehpungo.Com
No Result
View All Result
Home Budaya

Selusin “Kura Kura Berjanggut” Datang Lagi

Pan Amroe by Pan Amroe
23/07/2018
in Budaya
0
Selusin “Kura Kura Berjanggut” Datang Lagi
20
SHARES
91
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Baru dua hari lalu, satu kardus dikirim lagi dari luar Aceh ke Komunitas Kanot Bu. Pengirimnya tercatat bernama BaNANA dan penerima Muhadzier. Itu kardus kulihat sepulang dari ngopi sore, dan kardus sudah di atas meja utama ruang bawah. Kuangkat, beratnya lebih sepuluh kilogram. Aku tebak kalau kardus ini isinya adalah buku. Aku coba berspekulasi lebih lagi tentang isi kardus, dan boleh saja isi kardus itu adalah bom yang sengaja dikirim untuk membunuh si penerima. Tapi sudahlah, aku harus buang jauh-jauh pikiran buruk itu, dan aku naik ke lantai dua Bivak Kanot Bu.

Berselang jam aku sudah sibuk sendiri, main game, menulis, tidur dan lalu bangun untuk main game lagi. Sedang asik-asik, panggilan masuk dari Muhadzier mengganggu konsentrasiku. “Pat bang pan?,” suara dari seberang. “Di Kanot Bu,” singkat jawabku. Dan berlalulah omong-omong yang ujung-ujung nya, kanda minta tolong agar kardus miliknya kubawa ke lantai dua. Katanya demi keamanan isi kardus, apalagi malam itu hujan dan angin sedang beraksi.

READ ALSO

Halloween: Sejarah dan Asal-usul yang Kusut dari Hari Libur 31 Oktober

Pagelaran Tari Kreasi Baru 2019 di Indoor Taman Budaya

Semalam sudah terlewati, dan esoknya seperti banyak hari, aku menghabiskan waktu di Chek Yukee kupi, di tepi kali Aceh. Sekira setengah gelas sudah kuhabiskan, Muhadzier tiba dengan kacamata hitam di selip di atas keningnya. Ia duduk persis di depanku, tapi masih satu meja kopi. Ia pun memesan segelas kupi pagi yang sudah jelang siang. Rencananya, usai ngopi di sini ia akan ke Bivak untuk melihat kardus yang dikirim untuknya kemarin.

“Eunteuk menyoe jak u Bivak, lon numpang beuh?,” tanyaku setengah meminta. “gampang nyan,” ujar Muhadzier mengernyitkan keningnya. “Alhamdulillah, akhirnya ada juga tumpangan pulang,” ujarku dalam hati. Pasalnya, sedari tadi aku sebenarnya sudah tidak betah berlama-lama di warung kopi. Tapi kebetulan, usai dari urusan kampus, tadi aku sempatkan untuk ngopi sejenak dengan temanku yang lain sembari menunggu temanku yang lain lagi untuk tumpangan.

“Droe neuh hana pakek helm, jadi menyoe tawoe payah tajak rot likot. Jino sering that razia,” ujar Muhadzier sedetik setelah pantatku di atas jok motornya. Aku hanya mengangguk tanpa kata. Setelah melewati jalanan yang sibuk, motor Muhadzier melaju pelan melewati lika liku jalan kampung Punge Blang Cut yang mengarah ke Jalan Cut Nyak Dhien. Dari sini motor tetap melaju pelan hingga sampailah kami ke tujuan.

Langkah Muhadzier lebih cepat, tatap matanya langsung ke arah kardus yang sedari beberapa waktu lalu sudah ia tunggu kedatangannya. Kardus itu masih di atas meja, karena aku lupa memindahkannya ke lantai dua. Tapi itu kardus masih aman, dan masih terbungkus tanpa cela. Belum satu tangan pun berani untuk membuka untuk sekedar tahu apa isinya. Jika saja ada yang nekad membuka, itu sama saja dengan mengajak perang secara terang-terangan. Dan itu fatal jika mengajak perang dengan seorang Muhadzier.

Tak mau berlama-lama. Muhadzier dengan teliti membuka kardus. Tidak butuh waktu lama, sepuluh detik kemudian kardus pun menganga, dan nampak lah seluruh isinya. Ada belasan buku tebal melebihi tebalnya kitab suci di dalam kardus. 12 buku bersampul hijau tua tersusun rapi di dalamnya. Ini novel ‘Kura-Kura Berjanggut’ semuanya pesanan orang, begitu kudengar dari si penerima kiriman. Dan semua akan segera dibagikan untuk si pemesan yang juga sudah tak sabar ingin membaca.

Nah, jauh di luar pekarangan Bivak Emperom, novel yang ambisius karya Azhari Aiyub yang ia tulis selama 12 tahun ini–begitu kata orang–sudah pun di ulas hingga di tingkat nasional. Bukan sekali, tapi sudah dua kali, dan boleh jadi akan ada kali-kali selanjutnya. Boleh jadi pula, ini novel akan diomongin di tingkat internasional. Mengingat ini novel yang tebalnya sembilan ratusan halaman lebih ini banyak memuat soal perilaku orang-orang Aceh di masa abad 16-an. Ini novel fiksi ilmiah memang tak habis dikupas dalam hitungan jam.

Tak hanya itu, dengarku dari Muhadzier yang gencar menjajakan novel ini, dan juga dari teman sejawat si penulis, bahwa novel ini termasuk dalam tujuh buku paling di cari tahun ini. Bahkan ini novel sengaja diulas di majalah Tempo. Kurasa semua pembaca berita faham, kalau ini majalah bukan kelas ‘kaleng-kaleng’, dan saat memilih topik untuk ditulis pun, tentunya bukan topik ‘kaleng-kaleng’. Menurutku ini prestasi besar bagi Azhari Aiyub selaku si-empunya karya, dan jika boleh ini juga menjadi titik balik bagi perkembangan dunia tulis menulis di Aceh. Khususnya dalam ber-novel ria.[]

Related Posts

Halloween: Sejarah dan Asal-usul yang Kusut dari Hari Libur 31 Oktober
Budaya

Halloween: Sejarah dan Asal-usul yang Kusut dari Hari Libur 31 Oktober

28/10/2020
Tari Kreasi Baru
Budaya

Pagelaran Tari Kreasi Baru 2019 di Indoor Taman Budaya

29/10/2019
Tari Likok Pulo
Budaya

Cakra 19 Latih 84 Remaja Tari Likok Pulo

25/03/2019
Arisan Buku Rak Baca T36 Menggebrak Meja Literasi Aceh
Budaya

Arisan Buku Rak Baca T36 Menggebrak Meja Literasi Aceh

07/03/2026
Tangan Bercincin Giok yang Terpotong
Budaya

Tangan Bercincin Giok yang Terpotong

07/03/2026
‘Pukes’ Dipuji Seniman Muda, Dikritik Seniman Tua
Budaya

‘Pukes’ Dipuji Seniman Muda, Dikritik Seniman Tua

09/11/2018
Next Post
Pak Li, Seorang Legenda dari Trueng Campli

Pak Li, Seorang Legenda dari Trueng Campli

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

POPULAR NEWS

ilustrasi ancaman keamanan kripto

Waspadai Serangan AI dan Eksploitasi Kontrak Cerdas di 2025

08/05/2026

iPhone 18 Pro Kantongi TKDN dan Postel, Kapan Resmi Dijual di Indonesia?

30/09/2026

Bill Gates: AI Cukup Kuat untuk Picu Kematian Satu Miliar Orang, Serukan Regulasi Pemerintah

28/09/2026
Pelatihan Keterampilan AI untuk UMKM

Meta Luncurkan Program Pelatihan Keterampilan AI untuk UMKM di Indonesia

09/07/2026
Ilustrasi Jadwal dan Harga Tiket Bus Banda Aceh - Medan

Jadwal dan Harga Tiket Bus Banda Aceh – Medan Terbaru

03/05/2026

EDITOR'S PICK

Pasukan Ethiopia Dan Somalia Rebut Satu Kota Penting

01/01/2012

Pakwi Bantah Pernyataan Kapolda

10/04/2018

MK Kembali Sidangkan Gugatan DPRA terhadap KIP Aceh

30/12/2011
SBY dan Jokowi Memang Beda

Di Sosial Media, SBY dan Jokowi Memang Beda

07/03/2026

About

ACEHPUNGO.COM dengan motto Galak-galak Kutak Sigo adalah situs berita gaya hidup untuk milenial Indonesia

Follow us

Categories

  • Budaya
  • Edukasi
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Inforial
  • Internasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Nanggroe
  • Nasional
  • News
  • Olahraga
  • Opini
  • Politik
  • Sosok
  • Teknologi

Recent Posts

  • Malware MacSync Mengincar Pengguna Mac: Aplikasi Palsu, Backdoor, dan Trik Kalender iCloud
  • Pengembang Data Center Tawarkan Rp180 Juta per Rumah di Pennsylvania, Mengapa Warga Tetap Menolak?
  • WhatsApp Uji Tampilan Baru di Android, Tombol Meta AI Masuk Navigation Bar
  • iPhone 18 Pro Kantongi TKDN dan Postel, Kapan Resmi Dijual di Indonesia?

Newsletter

  • About
  • Contact
  • Disclaimer
  • ToU
  • Partnership

© 2026 AP.com - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya

© 2026 AP.com - All Rights Reserved.