Author: Pan Amroe

  • Pesan Ayah Temanku untuk Anak Lelakinya

    Pesan Ayah Temanku untuk Anak Lelakinya

    Temanku sedang belajar gitar, kali ini agak serius dibanding masa SMA. Karena pesan ayahnya, seorang pria harus bisa dua hal; main gitar dan nyetir mobil. Kemarin paragraf ini terhenti karena buntu ide, maka hari ini kulanjutkan kembali sesuai yang telah kuucapkan pada tulisan sebelumnya. Ini bukan wajib, hanya tidak elok saja mengingkarinya janji yang sudah terlanjur kuucapkan.

    Semua orang kurasa tahu, jika bermain gitar mampu menjadi cara untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, umumnya kawula muda. Tidak kuping kiri juga jika bermain gitar dapat menghibur diri sendiri, dan orang yang di lingkaran. Dan atas dasar itulah temanku selalu berusaha untuk bisa memetik dawai gitar. Niatnya ini sudah berselang tahun tertunda, dan malam itu ia utarakan ke hadapanku.

    Alasan di atas bukanlah satu-satunya, keinginannya yang terpendam ini dipengaruhi oleh keinginannya yang lain. Katanya, usai studi nanti ia akan berkelana ke luar daerah, maka bisa bermain gitar adalah cara yang tepat untuk mencari teman. “Paling tidak ada satu dua kunci yang bisa aku mainkan jika kawan-kawan meminta,” katanya santai.

    Malam semakin larut saat ia ucapkan itu, tapi jemarinya masih saja menekan dawai gitar. Kurasa sudah lebih enam jam ia mengulik gitar, walau sesekali ia letakkan di bangku kayu, lalu ia ambil lagi. Kadang ia bertanya, sekemapuanku jawaban pun kuberikan. Kataku, jangan menghafal kunci, tapi biasakan mengingat nada. Karena sepengalamanku, cara itu lebih mudah dibanding menghafal kunci untuk setiap lagu.

    Niatnya untuk belajar gitar sudah lama, tapi sayang, selama ini hanya ada satu gitar tua yang sudah jarang dipakai karena empat dawainya putus. Dan niatnya baru kesampaian setelah seorang teman lain mau meminjamkan gitarnya. Itu pun karena ia sudah lama tidak memainkannya lagi, dan itu gitar ia beli semasa ia masih di bangku SMA.

    Soal warna, menurutku, itu gitar memang agak kampungan. Namun wajar saja, karena pilihan warna itu soal selera. Bicara soal suara, ini gitar layak diperhitungkan, walau murah dan sudah tua, tapi masih enak untuk didengar. Setidaknya bisalah untuk menghibur diri dan ngejrang-ngejreng di simpang jalan. Kalau butuh kali, ini gitar juga boleh diajak ke panggung untuk mengiringi biduan tua bernyanyi.

    Malam sudah begitu larut, mataku pun tidak bisa diajak kompromi lagi, baiknya diam-diam aku pamit saja, karena aku tidak mau tumbang, setidaknya tidak untuk malam ini. Sepeninggalku, temanku masih setia melanjutkan belajar, kini YouTube-lah menjadi gurunya hingga menjelang pagi.Belakangan kutahu, ia tertidur di kursi kayu, berteman gitar hingga lepas kokok ayam.

    Berselang jam, aku bangun lebih telat dan temanku sudah lebih dulu menikmati kopi di meja semalam. Masih saja gitar dalam pelukannya, dan walau terlihat kaku, tapi ia belum bosan memainkan jemari di atas gagang gitar. Temanku itu benar-benar ingin bisa bermain gitar, agar ia bisa mengaku dirinya sebagai lelaki sejati, begitu pesan ayahnya beberapa tahun silam.[]

  • 20 Menit di Ujong Seurangga, Terasa Kurang

    20 Menit di Ujong Seurangga, Terasa Kurang

    Alhamdulillah, itu kata syukur rasanya tak berlebihan saya ucapkan atas kesempatan saya berkunjung ke Pelabuhan Susoh, Ujong Seurangga. Kedatangan saya ke Aceh Barat Daya pada hari Sabtu, 21 Juli 2018 ini ditemani langsung oleh putra daerah setempat, Rizki alias altha15, begitu kawan-kawan memanggilnya. Untuk itu, terimakasih saya ucapkan atas layanan yang diberikan, sebentar tapi semua cukup berkesan.

    Sekelumit sejarah tentang Pelabuhan Susoh pun diterangkan oleh tuan rumah pada saya, katanya, ini pelabuhan pada abad 17 hingga 18 termasuk dalam daftar pelabuhan yang sibuk. Banyak kapal dagang asing yang berlabuh untuk membeli hasil hasil bumi, seperti lada. Bahkan katanya, kisah-kisah kejayaan pelabuhan ini pun dicatat rapi oleh angkatan laut asing, terutama mereka yang pernah berkunjung ke tanah ini.

    Dari literatur berbeda, dan jauh sebelum pelabuhan ini maju pesat. Susoh, Ujong Seurangga adalah lokasi awal di mana seorang murid Tengku Dianjong Peulanggahan berlabuh untuk menyebarkan agama Islam. Kedatangan Tuanku Djakfar sebagai pensyiar agama Islam ke daerah ini atas perintah langsung dari gurunya.

    Konon, ia termasuk sosok yang pertama kali membuka pemukiman dan membangun pearadaban di kawasan Ujong Seurangga. Setelah Ujong Seurangga mulai tumbuh dan mulai ramai dihuni masyarakat, kemudian beliau hijrah dan membangun kerajaan Singkil. Juga seperti sebelumnya, saat Singkil sudah tumbuh, beliau melanjutkan pengembaraan ke Trumon, dan membangun kerajaan Trumon.

    Kembali ke Pelabuhan Susoh sekarang, sore jelang magrib itu, langit di ufuk barat mulai jingga, pertanda sebentar lagi gelap akan menyelimuti negeri Pade Sigupai ini. Di bawah jingga langitnya, saya melihat banyak perahu nelayan bertengger di laut dangkal. Sebagian mereka sudah pulang dari melaut, dan sudah membongkar hasil tangkapannya, semua langsung dilelang di tempat.

    Cemara laut yang tumbuh jarang-jarang, dan tidak begitu rapi pun punya keindahan tersendiri jika diperhatikan. Tampak juga tanggul batu gajah dan jalan tanah yang sengaja dibangun untuk menahan abrasi. Dari tempatku berdiri, bangunan sebagai lokasi pelelangan ikan bisa nampak jelas. Di sanalah semua ikan hasil tangkapan diuangkan.

    “Alangkah makmur rakyat yang hidup di bawah langit negeri ini,” pikirku.

    Selain kesibukan para nelayan, banyak juga warga sekitar yang sengaja menghabiskan sore dengan menikmati pesona laut lepas. Sebagian hanya duduk di atas motor, sebagian lagi duduk manis dengan pasangan dan sahabat di gubuk-gubuk yang sengaja dibangun untuk mereka yang ingin santai sore. Kata tuan rumah, saban sore pemandangan seperti yang kulihat sore itu, tidak banyak yang berbeda.

    “Ada banyak sampah aqua gelas di sini,” spontan kataku pada tuan rumah. Ini sedikit mengganggu pemandangan yang sedari tadi sudah terasa nyaman.

    “Ya sudahlah, di banyak tempat, laut memang selalu dijadikan penampung sampah. Tapi sampai kapan perilaku tidak pantas ini terus dipelihara?,” tanyaku tanpa suara.

    Gemuruh laut terdengar rendah, ombaknya pun terlihat damai. Sore itu benar-benar tenang berada di sana usai rangkaian aktivitas di keramaian kota Blang Pidie. Sayangnya, hanya dua puluh menit saja yang bisa kami nikmati, selebihnya, kami harus kembali ke titik awal. InsyaAllah, jika ada umur dan kesempatan, saya akan berkunjung lagi.[]

  • Curhat Jalanan Si Maop

    Curhat Jalanan Si Maop

    Satu kabar gembira kudengar tepat magrib ini, itu kabar disampaikan oleh Muhadzier M Salda, ini pria lebih dikenal dengan panggilan Maop atau Kanda. Tentang siapa dia, jika pembaca ingin tahu banyak tentangnya, tanya saja pada kenalan di Banda Aceh, itu kalau pembaca punya kenalan di Banda Aceh. Tapi jika tidak ada, searching saja nama pria itu, InsyaAllah, dalam beberapa detik pasti akan terkuak identitas teman saya ini.

    Kusebut kabar gembira karena temanku terpilih sebagai salah seorang yang masuk nominator pemuda yang faham betul tentang sastra dan bahasa. Bagian ini sosok kanda memang sudah tepat. Namun beribu maaf, sebab ditulisan ini saya tidak bicara tentang prestasinya ini, itu bukan ranah saya menulis. Saya akan beberkan kisah kecilnya yang pernah ia curhat ke telinganya saya.

    Kata pria hitam manis yang kukenal 2006 silam di kantin Kasadar, kampus Unsyiah ini, masa kecilnya akrab dengan kerja keras, gitu katanya sambil terus berkendara. “Lon jameun kumeukat eh bak sikula,” kenangnya. Ini ia lakukan di sela-sela jam pelajaran, semua semata-mata untuk menambah uang jajan. Sedang sisanya, jika ada, Kanda kecil gunakan untuk keperluan lainnya di rumah.

    Sebenarnya sambung Kanda, saban pagi saat ke sekolah, ia selalu membawa es untuk dijual di sekolah. Rupanya situasi ini dimanfaatkan oleh gurunya, dan gurunya pun menitip kue untuk dijual oleh Kanda kepada teman-teman nya di sekolah. Kanda kecil senang mendapat kesempatan ini, bersebab ini akan melatih jiwa mandiri dalam dirinya. Dan pasti uang jajan juga bertambah.

    Andai aku nanti seperti Khairul Tanjong Si Anak Singkong, semua kisah Kanda kecil sangat menarik ditulis, impi Kanda dari atas motor yang masih ia kendarai. Sedang aku, duduk manis mendengar kan di belakang motor dengan kepala setengah menjangak ke depan. Aku kagum, tapi sayang kami hampir sampai ke tujuan.

    Tapi, sedikit kata Magister Kebencanaan ini masih sempat kutangkap sebelum belokan terakhir yang mengarah ke markas kawan-kawan Komunitas Kanot Bu. Kata Kanda, sekarang saja ia masih tetap berdagang, bedanya sekarang dagang buku, dan kedatangannya ke Kanot Bu untuk mengambil “Kura-Kura Berjanggut” kiriman penerbit BaNANA.

    Di paragraf terakhir ini saya mau bilang, kalau foto ini arsip saya di FB. Momentum ini saya rekam pada suatu masa, yang saya sendiri tidak ingat lagi kapan. Di sini Kanda yang sudah besar bergaya ala cowboy di koridor atas lantai dua Kanot Bu. Dan senyum itulah yang akan anda dapat saat bertemu dengannya.Tapi beribu maaf bila ini tidak bijak kukisahkan disini.[]

  • Ini Cerita Soal Suami

    Ini Cerita Soal Suami

    Walau saya belum menjadi suami, dan beberapa teman saya sudah, nyatanya mereka mampu menjadi suami yang baik dan juga penyayang istri. Sikap itu bukan pura-pura, itu nyata adanya dan semuanya lahir dari hati tulus dan rasa tanggungjawab yang mereka ikrarkan dulu di depan penghulu. Alhamdulillah, mereka pun mampu menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.

    Berkata tentang suami yang baik, pernah suatu kali saya berkesempatan menemani teman saya belanja ke pasar. Kata si teman, ia hari itu harus belanja keperluan dapur. Padahal, sebelumnya ia lupa akan tugasnya karena kami sedang asik bergosip ria di atas jok motor. Begitu ingat, ia serta merta membujuk saya untuk menemaninya pergi ke pasar Peunayong. Sebagai teman tentu saya sangat tidak keberatan, apalagi hanya menemani saja.

    Motor putar arah, melewati Jalan Diponegoro, dan kami singgah di ATM BRI kantor cabang Banda Aceh, di samping hotel Lading. Teman saya turun, dan bergegas menuju kamar ATM di pojok kiri gedung sebelum pintu utama. Sementara saya hanya menunggu di motor, saya perkirakan butuh waktu kurang dari lima menit untuk menunggu teman. Itu belum seberapa dibanding menunggu sesuatu yang tidak pasti.

    Uang sudah di saku, dan motor pun kembali ia tunggangi dengan kecepatan rata-rata, tidak lamban dan tidak pula kencang. Setelah lewat jembatan Peunayong, kami belok kiri, dan tibalah kami di depan pasar ikan. Bau khas pasar ikan pun sekejap harus kami hirup. Kurasa, di semua tempat aroma pasar ikan semi tradisional tetap sama, sedikit amis dan kurang mengenakkan. Sekeliling, riuh para pedagang ikan seperti suara kawanan tawon yang sedang terbang.

    Temanku mendekat, tangannya diselipkan di belakang pinggul, dan mulailah ia melobi si pedagang ikan. Kuperhatikan, kali ini temanku tidak terlalu berhasil merayu si pedagang. Malah sebaliknya, si pedagang yang berhasil merayu temanku. Dan kata setuju pun terucap dari mulut si teman, dua potong ikan seharga 45 ribu pun dibungkus. Tapi urusan belanja si suami belum selesai sampai disini.

    Langkah kaki mengarah ke pedagang bahan dapur, itu tak jauh dari pedagang ikan. Hanya hitungan puluhan langkah saja, dan kami sudah di depan lelaki tua yang sedang menunggu pembeli datang, tidak lain itulah kami. Kali ini si teman tidak mengoceh untuk menawar harga, kurasa ia tidak mau terlihat seperti lazimnya perempuan saat berbelanja, sepuluh macam ditanya dan hanya satu macam yang dibeli.

    Temanku hanya mengatakan kebutuhan saja, bawang merah sekian, cabai sekian, ini sekian, dan itu sekian. Lalu ia diam, dan penjual langsung memasukkan semua belanjaan dalam kantong kresek. Tapi kata si teman, ada satu macam lagi yang belum ia beli, yakni reubong kala. Lirik sana lirik sini, reubong kala tetap tidak terdeteksi. Ya sudahlah, reubong kala dicari besok pagi saja. Setidaknya bisa dibeli yang lebih segar.

    Sore itu, selesai sudah semua tugas untuk seorang suami yang baik seperti si teman saya. Dan tugas ini tidak hanya dikerjakan kali ini, tapi sudah dan akan dilakukan berkali-kali. Dan kebetulan hari itu aku berkesempatan menyaksikan sendiri bagaimana sikap seorang suami yang bukan hanya sekedar suami-suamian. Andai semua suami demikian, pastilah si istri senang.[]

  • Ada Dangderia di Malam Itu

    Ada Dangderia di Malam Itu

    Malam sedang tidak berkencan dengan riuh angin maupun hujan, tidak seperti malam-malam sebelumnya. Penghuni bivak pun sedang berbicara serampangan tanpa menghiraukan malam yang terus beranjak ke pertengahan. Di luar, dalam remang malam, suara langkah kaki semakin mendekat. Sepertinya kaki kaki itu mengarah ke tempat kami bercengkrama. Benar adanya, tidak berapa lama, pun kami tahu siapa yang tiba.

    “Assalamualaikum,” ucap salam oleh salah seorang dari dua insan yang wajahnya mulai nampak walau di remang malam. “Waalaikumsalam,” serentak kami menjawab sembari kami berpaling ke pintu yang tak berdaun pintu di ruang bawah Komunitas Kanot Bu. Jelas sudah, yang datang malam itu adalah Affan Ramli, aktifis Prodelat dan Muda Balia, penghikayat Dangderia dari Aceh Barat Daya. Keduanya langsung mengambil tempat di mana saja mereka mau, asalkan mereka suka.

    Dalam tulisan ini aku ingin berbagi kisah tentang Muda Balia yang malam itu datang dengan kaos putih yang mulai bernoda, jeans, dan satu daypack hitam, yang belakangan kutahu kalau isinya adalah dua suling bambu (bansi) dan buku catatan tentang hikayat yang tebalnya sekira satu ruas jari orang dewasa. Lainnya, juga ada kertas bertulis apa saja seputar hikayat, yang setiap lipatannya kuperhatikan tidak lagi utuh. Memegangnya harus sangat hati-hati. Dua lembar pakaian terlipat serampangan juga sempat kulirik dari dalam daypack milik penghikayat itu.

    Beberapa inti ocehan Muda Balia malam itu sempat kurekam dalam kepala. Pemuda yang mulai beranjak tua ini mengaku hanya sempat mengeyam pendidikan hingga kelas empat Sekolah Dasar (SD) saja. Walau akhirnya, atas belas kasihan gurunya, ia pun mendapat ijazah dari sekolahnya. Katanya, ia tidak serius sekolah karena saban hari ia hanya mengaji dan belajar ilmu beladiri. Itu rutinitas dimulai lepas isya dan berakhir jelang pagi. Bahkan, untuk pulang ke rumah pun, Muda Balia kecil harus dijemput ayahnya. Maka wajar saja bila jam sekolahnya setiap pagi akan terganggu.

    Waktu berjalan, dan Muda Balia tidak lagi kecil. Usia remaja Muda Balia lazimnya seperti kebanyakan pemuda di kampungnya, bertani adalah hal yang ia geluti. Selain itu, Muda Balia mulai tertarik untuk menekuni dunia hikayat, yang banyak orang tahu bahwa ini adalah satu seni tutur yang masih hidup di Aceh. Dengan seni ini pula di kemudian hari, dunia mengenal siapa Muda Balia yang sebenarnya. Tapi, malam itu Muda Balia mengaku, untuk menjadi seperti sekarang memerlukan ketekunan dan harus melewati jalan panjang yang berliku.

    Sebagai murid, dalam masa ditempa untuk menjadi penghikayat ulung oleh sang guru, Muda Balia pernah disuruh untuk mencangkul di sawah hingga selesai, sedang gurunya hanya duduk manis di rumah menunggu Balia kembali dari sawah. Belum berhenti, usai magrib, Balia pun harus memijat badan gurunya. “Dunia ini memang tidak adil, saya yang capek, tapi malah guru yang harus saya pijat,” kenang Balia malam itu.

    Ada ujian lain yang harus Balia jalani, dimana setiap jelang subuh, ia harus berendam dalam kolam dengan waktu puluhan menit. Ia terpaksa rela menahan dingin yang menyusup hingga ke tulang sum-sum. Ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi Balia dalam menimba ilmu yang hari ini telah membesarkannya. Dan sekarang Balia pun sadar jika semua titah gurunya semata-mata untuk menempa kesabaran dalam menuntut ilmu.

    Tentang hikayat, Muda Balia dikenal ulung dalam membawa kisah Dangderia. Ini hikayat, kata Balia, bertutur tentang sebuah keluarga hingga tujuh turunannya. Maka, untuk mengisahkannya di atas panggung pun membutuhkan waktu tujuh hari tujuh malam. Dalam kisah yang tidak singkat ini, sambung Balia, terdapat pesan moral, adekdot, sejarah, ilmu kebatinan, hingga ilmu agama. Tapi pada intinya, semua bermuara pada kebesaran si tokoh yang bernama Dangderia.

    Ini tokoh juga dikisahkan mempunyai beberapa orang istri, dan yang aku ingat hanya dua orang saja, seorang putri dari kerajaan Jeumpa, seorang lagi berasal dari wilayah Matang Geulumpang Dua. Begitu tutur Muda Balia di ruang bawah Bivak Emperom di hadapan @fooart, @marxause, Ibnu Hadjare, dan beberapa kepala lainnya. Semua yang mendengar seperti tersangak-sangak dan tersungut-sungut.

    Malam mulai larut, tapi Muda Balia masih terlihat semangat untuk berbagi kisah. Dalam melantunkan hikayat, Muda Balia pun mempunyai beberapa irama, semisal irama ie laot (air laut). Jika kita mendengar langsung saat Balia berhikayat dengan irama ini, seolah-olah suara naik turun layaknya suara gemuruh gelombang laut. Ada juga irama rantam, irama ini persis seperti orang sedang bercakap-cakap.

    Lainnya, ada irama ratok (sedih), dimana saat kita mendengar hikayat yang dibawakan dengan cara ini, sekilas si penghikayat sedang menangis terisak-isak. Pun ada irama meayon, saat Balia contohkan membawa hikayat dalam irama ini, bisa kusimak bahwa ini irama seperti senandung merdu yang mendayu-dayu. Maka tak heran, kata Balia, ini irama sering dipakai untuk meninabobokan anak-anak.

    Walau sebagian besar ilmu dalam berhikayat sudah dituntut oleh Balia, tapi masih ada tiga yang tidak dituntaskan oleh pria Aceh Barat Daya ini, yakni ilmu menghipnotis wanita untuk naik ke panggung, ilmu memanggil Dangderia, dan terakhir ilmu untuk memanggil binatang buas. Menurutnya ini belum ia amalkan walau sebenarnya sang guru mau mengizinkan.

    Tentang kapan pertama kali Muda Balia muncul ke publik, itu tepatnya tahun 2004 usai bencana tsunami melanda Aceh. Saat itulah ia mulai naik ke panggung dan membawa hikayat Dangderia yang kemudian dapat memberi ruang lebih baginya dalam menjaga tradisi dan budaya yang mulai hilang dalam masyarakat Aceh, khususnya di wilayah Barat. Walau di awal-awal karier, pemuda yang terbilang lucu dan lugu ini juga harus menghadapi berbagai tantangan yang datang dari orang-orang yang masih ia kenal.

    Sampai kini, terlihat bahwa Muda Balia bukanlah orang yang mudah patah semangat. Ia masih terus berjuang dengan segala kemampuannya dalam melantunkan hikayat yang berkiblat pada nenek moyang. Bagiku, ia termasuk orang yang tepat untuk pewaris, sekaligus penjaga agar hikayat Dangderia tidak hilang ditelan masa.

    Sudah sekitar dua jam lebih Muda Balia tidak putus bercerita, hampir tak ada satu orang pun yang menyela, semua kami bertindak menjadi pendengar yang budiman. Sesekali menanyakan untuk memperjelas apa yang ia bicarakan. Hingga, tibalah waktu Muda Balia pamit pulang, walau kami yakin masih banyak lagi kisah yang belum ia sampaikan. Tapi rasanya tengah malam pun datang terlalu dini.[]

  • Selusin “Kura Kura Berjanggut” Datang Lagi

    Selusin “Kura Kura Berjanggut” Datang Lagi

    Baru dua hari lalu, satu kardus dikirim lagi dari luar Aceh ke Komunitas Kanot Bu. Pengirimnya tercatat bernama BaNANA dan penerima Muhadzier. Itu kardus kulihat sepulang dari ngopi sore, dan kardus sudah di atas meja utama ruang bawah. Kuangkat, beratnya lebih sepuluh kilogram. Aku tebak kalau kardus ini isinya adalah buku. Aku coba berspekulasi lebih lagi tentang isi kardus, dan boleh saja isi kardus itu adalah bom yang sengaja dikirim untuk membunuh si penerima. Tapi sudahlah, aku harus buang jauh-jauh pikiran buruk itu, dan aku naik ke lantai dua Bivak Kanot Bu.

    Berselang jam aku sudah sibuk sendiri, main game, menulis, tidur dan lalu bangun untuk main game lagi. Sedang asik-asik, panggilan masuk dari Muhadzier mengganggu konsentrasiku. “Pat bang pan?,” suara dari seberang. “Di Kanot Bu,” singkat jawabku. Dan berlalulah omong-omong yang ujung-ujung nya, kanda minta tolong agar kardus miliknya kubawa ke lantai dua. Katanya demi keamanan isi kardus, apalagi malam itu hujan dan angin sedang beraksi.

    Semalam sudah terlewati, dan esoknya seperti banyak hari, aku menghabiskan waktu di Chek Yukee kupi, di tepi kali Aceh. Sekira setengah gelas sudah kuhabiskan, Muhadzier tiba dengan kacamata hitam di selip di atas keningnya. Ia duduk persis di depanku, tapi masih satu meja kopi. Ia pun memesan segelas kupi pagi yang sudah jelang siang. Rencananya, usai ngopi di sini ia akan ke Bivak untuk melihat kardus yang dikirim untuknya kemarin.

    “Eunteuk menyoe jak u Bivak, lon numpang beuh?,” tanyaku setengah meminta. “gampang nyan,” ujar Muhadzier mengernyitkan keningnya. “Alhamdulillah, akhirnya ada juga tumpangan pulang,” ujarku dalam hati. Pasalnya, sedari tadi aku sebenarnya sudah tidak betah berlama-lama di warung kopi. Tapi kebetulan, usai dari urusan kampus, tadi aku sempatkan untuk ngopi sejenak dengan temanku yang lain sembari menunggu temanku yang lain lagi untuk tumpangan.

    “Droe neuh hana pakek helm, jadi menyoe tawoe payah tajak rot likot. Jino sering that razia,” ujar Muhadzier sedetik setelah pantatku di atas jok motornya. Aku hanya mengangguk tanpa kata. Setelah melewati jalanan yang sibuk, motor Muhadzier melaju pelan melewati lika liku jalan kampung Punge Blang Cut yang mengarah ke Jalan Cut Nyak Dhien. Dari sini motor tetap melaju pelan hingga sampailah kami ke tujuan.

    Langkah Muhadzier lebih cepat, tatap matanya langsung ke arah kardus yang sedari beberapa waktu lalu sudah ia tunggu kedatangannya. Kardus itu masih di atas meja, karena aku lupa memindahkannya ke lantai dua. Tapi itu kardus masih aman, dan masih terbungkus tanpa cela. Belum satu tangan pun berani untuk membuka untuk sekedar tahu apa isinya. Jika saja ada yang nekad membuka, itu sama saja dengan mengajak perang secara terang-terangan. Dan itu fatal jika mengajak perang dengan seorang Muhadzier.

    Tak mau berlama-lama. Muhadzier dengan teliti membuka kardus. Tidak butuh waktu lama, sepuluh detik kemudian kardus pun menganga, dan nampak lah seluruh isinya. Ada belasan buku tebal melebihi tebalnya kitab suci di dalam kardus. 12 buku bersampul hijau tua tersusun rapi di dalamnya. Ini novel ‘Kura-Kura Berjanggut’ semuanya pesanan orang, begitu kudengar dari si penerima kiriman. Dan semua akan segera dibagikan untuk si pemesan yang juga sudah tak sabar ingin membaca.

    Nah, jauh di luar pekarangan Bivak Emperom, novel yang ambisius karya Azhari Aiyub yang ia tulis selama 12 tahun ini–begitu kata orang–sudah pun di ulas hingga di tingkat nasional. Bukan sekali, tapi sudah dua kali, dan boleh jadi akan ada kali-kali selanjutnya. Boleh jadi pula, ini novel akan diomongin di tingkat internasional. Mengingat ini novel yang tebalnya sembilan ratusan halaman lebih ini banyak memuat soal perilaku orang-orang Aceh di masa abad 16-an. Ini novel fiksi ilmiah memang tak habis dikupas dalam hitungan jam.

    Tak hanya itu, dengarku dari Muhadzier yang gencar menjajakan novel ini, dan juga dari teman sejawat si penulis, bahwa novel ini termasuk dalam tujuh buku paling di cari tahun ini. Bahkan ini novel sengaja diulas di majalah Tempo. Kurasa semua pembaca berita faham, kalau ini majalah bukan kelas ‘kaleng-kaleng’, dan saat memilih topik untuk ditulis pun, tentunya bukan topik ‘kaleng-kaleng’. Menurutku ini prestasi besar bagi Azhari Aiyub selaku si-empunya karya, dan jika boleh ini juga menjadi titik balik bagi perkembangan dunia tulis menulis di Aceh. Khususnya dalam ber-novel ria.[]

  • “Jangan Kubur Kebenaran, Bersuaralah! Meski Tak Jadi Kata”

    “Jangan Kubur Kebenaran, Bersuaralah! Meski Tak Jadi Kata”

    Akhirnya, tugu Rumoh Geudong yang sudah berselang tahun direncanakan untuk diresmikan pun akan dilakukan oleh masyarakat setempat dengan dukungan lembaga yang selama ini konsen di isu Hak Asasi Manusia (HAM). Ini tugu yang baru saja selesai semata-mata untuk mengenang para korban dari ganasnya konflik yang pernah berkecamuk di Aceh. Dan Rumoh Geudong adalah satu titik dari bukti akan kejamnya perang.

    Sekira tiga kali aku pernah menapaki areal Rumoh Geudong yang terletak di Gampong Bilie Aron, Kecamatan Glumpang Tiga, Pidie. Kedatanganku ke sana untuk kepentingan pendokumentasian kisah perih yang masih hidup di selingkar rumah yang pernah dijadikan pos militer di masa DOM, itu sejak tahun 1989-1998. Ada beberapa kisah yang sangat tidak elok kuceritakan, karena semua menyangkut dengan luka lama semasa perang melanda.

    Tapi ada baiknya sekilas kuulas tentang suasana areal Rumoh Geudong yang kini terlihat sunyi senyap dan masih dibalut aura penyiksaan. Sementara ini dalam areal hanya ada sepetak kebun jati, puluhan batang kelapa, batang melinjo, dan ilalang yang tumbuh tidak terurus. Sedang sisa Rumoh Geudong hanya tinggal dinding beton yang tidak lagi utuh, tangga, dan dua sumur tua yang airnya sudah menghitam.

    Saat kedatanganku untuk kedua kali ke sana, seorang pria sempat menunjukkan beberapa lokasi yang akrab dijadikan sebagai tempat penyiksaan, seperti kolam lintah di samping Rumoh Geudong yang kini sudah ditimbun. Batang kelapa tempat korban diikat, sebelum nyawanya dihabiskan. Ada juga areal bekas kamar, yang dulunya saban hari dijadikan tempat memperkosa wanita-wanita yang dianggap bersekongkol dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

    Semua yang kutulis diparagraf di atas adalah benar adanya. Dan segala sesuatu yang kini berdiam di Rumoh Geudong adalah saksi bisu yang tidak mampu mengungkap. Namun siapa saja akan mampu merasa jika sejenak saja mau berdiam untuk menyatu dengan aura yang masih tersisa. Perang sudah beberapa tahun reda, tapi luka masih tertanam di bawah tapak Rumoh Geudong.

    Jika pembaca ingin berlumur banyak dengan kisah Rumoh Geudong, kurasa tidak cukup hanya membaca ini saja. Untuk itu, sempatkanlah mengetik kata “Rumoh Geudong” di kolom searching internet anda. Ada banyak narasi pilu yang mungkin tidak habis untuk dibaca dalam seminggu, mengingat banyaknya darah yang telah tumpah di atas tanah bekas rumah milik hulubalang ini. Tapi semua tinggal sisa yang masih mampu bercerita.

    Kini, sudah hampir 20 tahun sejak Rumoh Geudong dibakar dan lalu ditinggalkan oleh serdadu, namun masyarakat tetap menjadikan ini sebagai titik balik bagi kumpulan luka. Semua itu sebagai bukti bahwa kekerasan memang pernah merajalela di halaman rumah mereka, bahkan merayap hingga ke kamar tidur yang tidak semestinya dimasuki oleh sembarang orang, pun bahkan tentara.

    Dan beberapa hari lagi, tepatnya 12 Juli 2018, semua elemen yang selama ini terus mengawal kebenaran untuk dan atas nama kemanusiaan pun telah sepakat bahwa tugu Rumoh Geudong akan diresmikan, walau letaknya tidak di dalam areal rumah. Ini karena ahli waris tidak sepakat jika Rumoh Geudong hanya dikenang perihnya. Mengingat, semasa penjajahan Belanda, ini rumah juga pernah menjadi tempat berkumpul para pejuang untuk mempertahankan tanah lahirnya.

    Terakhir, dalam gambar di muka undangan terbuka untuk seluruh rakyat Aceh, sepenggal kata untuk menjaga semangat sejarah pun ditoreh di tugu peringatan. Kalimat singkat yang bermakna juang ini pun pantas disematkan di tugu sebagai tanda, bahwa kebenaran tetap harus diungkap agar semua perih tidak usang dan luka tidak hilang dalam ingatan setiap generasi mendatang. Itu semua bukan karena rasa dendam, tapi karena sejarah jangan sampai terpendam semakin dalam. Dan seluruh penggalan kata itulah yang kutabal sebagai judul tulisan ini.[]

  • Numpang Keren dengan Kacamata Hitam Kakanda

    Numpang Keren dengan Kacamata Hitam Kakanda

    Ada dua orang temanku. Seorang bertubuh besar, sebut saja namanya Si Ulung. Dan seorang lagi agak lebih kecil, panggil saja namanya Si Ulang. Banyak cerita beredar, si Ulang adalah anak didik Si Ulung. Itu artinya, sebagian besar isi kepala Si Ulung, pastinya sudah melekat di kepala Si Ulang. Hingga, Si Ulang pun tidak sadar kalau sebagian tindakannya adalah cermin dari Si Ulung, termasuk dalam cara menggunakan kacamata hitam.

    Sebelum jauh aku berkisah tentang satu kacamata hitam yang dipakai bergantian oleh mereka untuk kemudian kupotret, baiknya aku sambungkan narasinya bagaimana aku kenal dengan Si Ulung dan Si Ulang. Kedua insan pers ini aku kenal di waktu berbeda, dengan rentang waktu lumayan jauh. Tapi kini kami sering bersama semeja, pastinya saat menikmati kopi.

    Aku bertemu Si Ulung di Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. Dulu sekira tahun 2006. Saat itu demonstrasi mahasiswa di jalanan masih bisa dibanggakan. Itu saat aksi mahasiswa belum bisa dibeli, saat mahasiswa masih berada di garis depan membela rakyatnya. Dan tersebutlah Si Ulung sebagai seorang mahasiswa di dalam peserta demo. Selain orator handal, lagi pun didukung oleh suaranya yang lantang bak halilintar, Si Ulung pun seringkali maju ke depan dengan tangan tergepal. “Lawan!, lawan!,” itu kata yang akrab dari bibirnya.

    Lain halnya dengan Si Ulang, ia masih berusia belia. Bayangkan saja, saat aku di semester satu, lelaki berkulit putih itu masih duduk di bangku kelas dua Sekolah Dasar (SD). Pantasnya, dan sudah semestinya kusebut dia dengan cucu leting. Dan dia harus memanggilku dengan kakek leting. Begitu jauh selisih waktu yang kami jalani, walau ujung-ujungnya kami diberi kesempatan oleh Tuhan untuk duduk semeja. Saling bercengkrama, bicara apa saja, tak ketinggalan menggosip orang lain dengan gaya intelektualnya.

    Kembali ke topik semula tentang kacamata hitam yang Si Ulung dan Si Ulang pakai. Kacamata itu sebenarnya milik teman lain yang hari itu duduk di meja kopi yang sama. Sering mereka sebut dengan nama Kakanda. Sayangnya, disini kita tidak akan bicara banyak tentangnya. Maklum saja, pria itu bukan level rendahan untuk diulas tuntas. Tapi sekedar mengulas kacamata miliknya kurasa tidak akan berdampak buruk untuk pribadinya yang dikenal khalayak sangat berwibawa.
    Siang jelang sore itu, kacamata Kakanda dibuka, lalu diletakkan di meja kopi.

    Belum semenit, itu kacamata langsung disambar oleh Si Ulung. Sepertinya ia tidak sabar untuk memasang cermin mata itu. Dengan senyum khas, Si Ulung pun nyengir ke arah kamera, momen itu langsung kuabadikan. Menurutku ini penting dan pasti ada manfaatnya di kemudian hari. Setidaknya untuk kuulas dalam tulisan yang tidak terlalu berpengaruh ini.

    Segera, sekejap kacamata diangkat dari wajah Si Ulung, Si Ulang pun tidak mau tinggal diam. Ia juga ingin nampak keren seperti gurunya, siapa lagi kalau bukan Si Ulung. Tanpa instruksi, ia pun setengah merampas kacamata dari tangan gurunya. Alhasil, kacamata pun berpindah wajah. Sama, ia pun ingin dipotret. Lagi-lagi, ini persis seperti tingkah gurunya. Si Ulang pun bergaya ala India. Ia terlihat senang dan puas sekarang.

    Sayang, sedang asik-asik Si Ulang mencoba kacamata yang telah membuatnya merasa keren. Sanggah Kakanda ia harus segera berangkat, karena mendadak ada urusan lain yang harus ia selesaikan. Dan terlebih lagi, itu kacamata bukan untuk gaya-gayaan, tapi untuk melindungi mata Kakanda dari sinar mentari dan debu-debu jalanan. Maklum, kanda sering warawiri di tengah kota.

    Ujung cerita, tinggallah Si Ulung dan Si Ulang tanpa kacamata hitam. Dan kini mereka tak bisa lagi menyembunyikan tatapan mata yang sedari tadi terus saja mereka tutupi. Mereka tidak lagi seperti intelijen yang sedang mengintai mangsa. Dan mereka tidak lagi seperti pasukan pengamanan presiden yang terlihat seram. Kini mereka biasa-biasa saja tanpa kacamata hitam. Sungguh kasihan Si Ulung dan Si Ulang.[]

  • Semua Kita adalah “Pelukis”, Maka Melukislah!

    Semua Kita adalah “Pelukis”, Maka Melukislah!

    Hidup seumpama kanvas polos yang boleh dilukis oleh siapa saja. Dan setiap kita adalah pelukis handal, yang telah diberi kemampuan sejak kita dilahirkan. Pembentukan jiwa adalah lukisan itu yang divisualkan lewat karakter dalam hidup keseharian. Maka pilihlah cat yang baik, lalu lukislah secara perlahan. Tidak usah terburu-buru, dan selalu perhatikan, jangan sampai cat tumpah sembarangan karena itu akan mengurangi makna lukisan.

    Dalam banyak hal, manusia yang serakah, selalu ingin melukis dengan tergesa-gesa. Maka tidak heran, jika banyak manusia memilih untuk tidak melukis dengan cat, mereka lebih memilih darah sebagai penggantinya. Mungkin biar terkesan ngeri dan hebat. Tapi, akan sehebat apakah orang yang berani melukis hidupnya dengan darah manusia?. Bagiku, memegang lukisannya saja kurasa tidak mampu.

    Dan lagi, ada manusia yang senang melukis jiwa dan hidupnya dengan luka-luka manusia lain. Ia hadir bertopeng pahlawan, walau sebenarnya ia hanya memanfaatkan luka-luka manusia lain untuk menunjukkan bahwa lukisannya, dan berharap lukisan itu akan dibayar mahal dengan pengakuan khalayak. Ia sebenarnya pengecut yang ingin disebut pahlawan.

    Dan lagi, ada manusia yang saban hari melukis kanvasnya dengan fitnah dan kabar buruk yang tidak semestinya dikabarkan. Semata-mata, itu karena ia senang melihat kekacauan yang timbul akibat fitnah dan kebencian yang ia sebarkan. Lalu, dari sanalah ia mendapatkan keuntungan. Sesungguhnya, ia adalah pengagum dan pemuja setan, walau sering kita lihat dan setiap hari ia bersujud menyembah Tuhan.

    Dan lagi, ada manusia yang senang melukis kanvasnya dengan wajahnya sendiri. Hingga kemana pun ia pergi dan dimana saja ia hadir, yang terlihat adalah wajahnya saja. Dalam kepalanya hanya ada kalimat “Akulah manusia hebat yang pantas mendapatkan semua, sedang kalian tidak.” Ia jarang melihat wajah lain yang lebih atau kurang darinya dalam hal apapun.

    Dan lagi, ada manusia yang senang memenuhi kanvasnya dengan wajah manusia lain. Itu karena, semata-mata hidupnya bertujuan untuk membuat orang lain di sekelilingnya senang. Ia bahagia di saat manusia lain bahagia, dan ia akan sedih di saat manusia lain sedih. Ia tidak memanfaatkan, karena baginya semua yang ada adalah untuk membuat orang lain bahagia. Ia memahami, bahwa kebahagiaan akan sempurna di waktu kebahagiaan tidak ditelan sendiri.

    Dan lagi, ada manusia yang membiarkan kanvasnya kosong melompong. Awalnya putih, tapi lama-kelamaan, kanvas miliknya menjadi kuning dan lapuk karena dibiarkan terletak begitu saja di ruang hati yang sudah ia kunci. Hingga, suatu saat ia akan sadar, bahwa kanvas manusia tidak ada yang putih bersih. Maka lukislah dengan hati-hati dan perlahan selama tangan dan hati masih bisa digerakkan.

    Terakhir, janganlah berharap lukisan akan selesai dalam hitungan hari, minggu, bulan, bahkan tahun. Tapi lukislah terus menerus, karena kanvas kita tidak berbatas ukuran. Ia melebihi luas samudra, bahkan boleh jadi melebihi jagad raya. Namun fahamilah, bahwa lukisan kita dengan sendirinya akan selesai, dan ia selesai hanya bersebab Tuhan.[]