Curhat Jalanan Si Maop

0

Satu kabar gembira kudengar tepat magrib ini, itu kabar disampaikan oleh Muhadzier M Salda, ini pria lebih dikenal dengan panggilan Maop atau Kanda. Tentang siapa dia, jika pembaca ingin tahu banyak tentangnya, tanya saja pada kenalan di Banda Aceh, itu kalau pembaca punya kenalan di Banda Aceh. Tapi jika tidak ada, searching saja nama pria itu, InsyaAllah, dalam beberapa detik pasti akan terkuak identitas teman saya ini.

Kusebut kabar gembira karena temanku terpilih sebagai salah seorang yang masuk nominator pemuda yang faham betul tentang sastra dan bahasa. Bagian ini sosok kanda memang sudah tepat. Namun beribu maaf, sebab ditulisan ini saya tidak bicara tentang prestasinya ini, itu bukan ranah saya menulis. Saya akan beberkan kisah kecilnya yang pernah ia curhat ke telinganya saya.

Kata pria hitam manis yang kukenal 2006 silam di kantin Kasadar, kampus Unsyiah ini, masa kecilnya akrab dengan kerja keras, gitu katanya sambil terus berkendara. “Lon jameun kumeukat eh bak sikula,” kenangnya. Ini ia lakukan di sela-sela jam pelajaran, semua semata-mata untuk menambah uang jajan. Sedang sisanya, jika ada, Kanda kecil gunakan untuk keperluan lainnya di rumah.

Sebenarnya sambung Kanda, saban pagi saat ke sekolah, ia selalu membawa es untuk dijual di sekolah. Rupanya situasi ini dimanfaatkan oleh gurunya, dan gurunya pun menitip kue untuk dijual oleh Kanda kepada teman-teman nya di sekolah. Kanda kecil senang mendapat kesempatan ini, bersebab ini akan melatih jiwa mandiri dalam dirinya. Dan pasti uang jajan juga bertambah.

Andai aku nanti seperti Khairul Tanjong Si Anak Singkong, semua kisah Kanda kecil sangat menarik ditulis, impi Kanda dari atas motor yang masih ia kendarai. Sedang aku, duduk manis mendengar kan di belakang motor dengan kepala setengah menjangak ke depan. Aku kagum, tapi sayang kami hampir sampai ke tujuan.

Tapi, sedikit kata Magister Kebencanaan ini masih sempat kutangkap sebelum belokan terakhir yang mengarah ke markas kawan-kawan Komunitas Kanot Bu. Kata Kanda, sekarang saja ia masih tetap berdagang, bedanya sekarang dagang buku, dan kedatangannya ke Kanot Bu untuk mengambil “Kura-Kura Berjanggut” kiriman penerbit BaNANA.

Di paragraf terakhir ini saya mau bilang, kalau foto ini arsip saya di FB. Momentum ini saya rekam pada suatu masa, yang saya sendiri tidak ingat lagi kapan. Di sini Kanda yang sudah besar bergaya ala cowboy di koridor atas lantai dua Kanot Bu. Dan senyum itulah yang akan anda dapat saat bertemu dengannya.Tapi beribu maaf bila ini tidak bijak kukisahkan disini.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here