• About
  • Contact
  • Disclaimer
  • ToU
  • Partnership
Wednesday, October 14, 2026
ACEHPUNGO.COM
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya
  • Sosok
  • Opini
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya
  • Sosok
  • Opini
No Result
View All Result
Acehpungo.Com
No Result
View All Result
Home Opini

Jejak Senam Sintal di Lapangan Tugu dalam Ingatan

Diyus Oleh Diyus
08/08/2018
in Opini
0
Jejak Senam Sintal di Lapangan Tugu dalam Ingatan
20
SHARES
91
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Sebab tak berwenang memberi pahala, layaklah kiranya kuungkap terimakasih kepada kawan-kawan FKIP Penjas beberapa ribu hari yang lalu. Kalian sungguh mulia menggelar senam berlatar musik Poco-Poco lantunan Yopie Latul. Acara senam pagi yang kalian gelar tiap Minggu pagi di Lapangan Tugu Darussalam, tempat setoreh tandatangan Proklamator Kemerdekaan Indonesia tertoreh. Di atas sebuah prasasti yang kuingat ujungnya saja, “…Darussalam menuju pelaksanaan cita-cita!”

Tau-kah kalian, di antara para nocturnal di BEM FH Unsyiah, Zulfan adalah orang pertama yang mengetahui eksistensi senam di pagi Minggu itu. Ia yang menyeretku saat kantuk mulai menyergap, kadang akibat begadang melantunkan tembang Cinta, atau sekedar melipat waktu dengan permainan FreeCell di pesawat komputer meja milik persekutuan mahasiswa Kampus Merah. “Ayo… nanti kau pasti suka,” ujarnya seperti biasa. Memaksaku tanpa memberi penjelasan rinci mengenai sumber ajakannya. Ia manusia yang paling malas memberi penjelasan yang kukenal.

READ ALSO

Kami Tidak Sekolah, Memangnya Kenapa?

Tips Sukses Orang Pidie di Perantauan

Maka… kuturuti paksaannya. Ya… paksaan. Sebab, permintaannya telah kutolak. Kuturuti langkahnya melewati bangunan-bangunan sisa masa awal pendirian kampus yang gentengnya telah berlumut, kulewati rimbunan angsana dan pohon tanjung, juga belasan batang pohon jati yang masih kanak-kanak di antara perpustakaan Unsyiah dengan jalan di sisi Selatan Masjid Jami’ Kampus.

Saat langkah kami telah mencapai kantin Kasadar, lamat-lamat kudengar suara Yopie Latul menembangkan alunan Poco-Poco dengan langgam khas kawasan Indonesia Timur. Notasi yang maju-mundur untuk melaju ke titik refrain. “Suara apa itu, Genk? Ada acara apa?” tanyaku penasaran. “Ko… ko… tengok sen… sen… sendiri aja nanti!” ujarnya tersendat. Itu tanda ia sedang excited. Aku yakin bakal mengalami sensasi serupa saat tiba di sumber penasaran nanti.

Di depan perpustakaan sudah mulai kulihat sumber rasa penasaranku. Sekerumunan orang berdiri, berbaris, berputar, bergoyang dalam rempak beriring lagu Poco-Poco. Suara genit Yopie Latul senyawa dengan musikalitas dan gerak mereka. Meski tak serentak, sungguh harmonis. Dalam hati aku bersyukur telah mengikuti ajakan makhluk aneh yang menyeretku kemari. Luarbiasa. Kantukku segera sirna dengan pemandangan di hadapanku ini.

Para pesenam kebanyakan mahasiswi, ada juga mahasiswa yang berpartisipasi. Tapi jumlah mahasiswi sungguh lebih dominan. Jika saat itu ada tawuran antar jenis kelamin, aku yakin kaum lelaki akan bertekuk lutut dan berjanji mencabut sebagian lirik lagu Sabda Alam karya Ismail Marzuki.

Amboy… perempuan-perempuan di puncak ranum dan mengkal itu… Sungguh menggambarkan makna kata Poco-Poco yang berarti sintal. Lagu karya Arie Sapulette yang sukses dalam lantunan vokal sengau Yopie Latul ditingkahi musik bernuansa genit-genit manja.

Begitu menggemaskan mereka tanpa polesan make-up. Aku yakin kebanyakan dari mereka belum mandi. Dan… oh… sungguh pada penggal-penggal detik macam inilah aku bisa menemukan kesejatian paras tiap perempuan. Ketika tiada hijab antara tatapku dengan kulit pipi mereka, juga juntai rambut yang sesekali tersibak angin atau tersingkap gerak dalam tuntunan musik dan lagu.

Zulfan mengeluarkan sesuatu dari plastik kresek di tangannya. Benda yang tak kusadari ada di situ. Ternyata ia telah menyiapkan kopi dan rokok untuk melengkapi tontonan pagi bergelimang indah ini. Mentari hangat, tak terik larik sinarnya. Ia mengangsurkan AQUA gelas ke arahku. Aku paham maksudnya. Kurobek plastik yang menutupi permukaannya, lantas menenggak habis isinya. Kukembalikan benda berbentuk gelas itu kepada Zulfan. Ia mengisinya dengan kopi dari tuangan dalam bungkusan plastik, tepat saat kusulut kretek pertama. Sungguh, aku akan mencandui pagi macam ini. Jika tak sanggup bangun pagi, minggu depan dan ratusan Minggu ke depan aku akan begadang menanti kehadiran momentum semadu ini.

Jenis kelezatan semesta yang mesti masuk dalam daftar menu-tetap santapan batin. Tempat mataku bisa berpacak mencari bait-bait senyum di wajah belum berpoles celak dan pupur. Ketika cuma ada tatapku dan permukaan kulitnya dalam sebentang jarak pandang. Ketika semu merah menghadirkan serekah ranum di puncak tulang pipi, bersama juntai rambut nan tertiup angin atau sekedar tersingkap gerak.

PS: Hingga tulisan ini kuterbitkan, belum kuketahui kelestarian senam serupa tiap Minggu pagi di Lapangan Tugu Darussalam…

 

 

Image Source:

Image1

Image2

Image3

 

 

 

 

Related Posts

Kami Tidak Sekolah, Memangnya Kenapa?
Opini

Kami Tidak Sekolah, Memangnya Kenapa?

22/11/2024
Ilustrasi tips sukses orang pidie di perantauan
Opini

Tips Sukses Orang Pidie di Perantauan

30/10/2024
Siapa Perempuan di Samping Muzakir Manaf?
Opini

Siapa Perempuan di Samping Muzakir Manaf?

05/10/2024
Surat Hasan Tiro kepada Jenderal De Gaulle yang Menggemparkan Perancis
Opini

Surat Hasan Tiro kepada Jenderal De Gaulle yang Menggemparkan Perancis

25/09/2023
5 Pejuang Perempuan Aceh yang Tak Mirip Kartini
Opini

5 Pejuang Perempuan Aceh yang Tak Mirip Kartini

21/04/2022
Dialog Politikus dengan Pelacur
Opini

Politikus dan Seorang Pelacur

31/05/2021
Next Post
Gajah dan Kejayaan Aceh Masa Lalu

Gajah dan Kejayaan Aceh Masa Lalu

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

POPULAR NEWS

ilustrasi ancaman keamanan kripto

Waspadai Serangan AI dan Eksploitasi Kontrak Cerdas di 2025

14/07/2025
Ilustrasi iPhone 18 Pro

iPhone 18 Pro Kantongi TKDN dan Postel, Kapan Resmi Dijual di Indonesia?

29/09/2026

Blog dan Steemit, Mana yang Lebih Menguntungkan?

30/04/2018
Panglima GAM Abdullah Syafie

Jejak Eks Panglima GAM Abdullah Syafie di Seuneubok Rawa

28/08/2019

Bill Gates: AI Cukup Kuat untuk Picu Kematian Satu Miliar Orang, Serukan Regulasi Pemerintah

27/09/2026

EDITOR'S PICK

Kemendagri: Pilkada, Dana Bansos Meningkat

29/11/2011

Fauzan Azima: Saya Netral dalam Pilkada

01/03/2012

Polda Aceh Amankan 6,5 Kg Sabu-Sabu

03/11/2011

WWF: Gajah Sumatera Terancam Punah Dalam 30 Tahun

24/01/2012

About

ACEHPUNGO.COM dengan motto Galak-galak Kutak Sigo adalah situs berita gaya hidup untuk milenial Indonesia

Follow us

Categories

  • Budaya
  • Edukasi
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Inforial
  • Internasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Nanggroe
  • Nasional
  • News
  • Olahraga
  • Opini
  • Politik
  • Sosok
  • Teknologi

Recent Posts

  • Drone Swarm dan Perang Ukraina: Inggris Buka Akses Data Tempur untuk AI Kawanan Drone
  • Xiaomi 18 Pro Dipastikan Rilis Global, Apakah Indonesia Kebagian?
  • Malware MacSync Mengincar Pengguna Mac: Aplikasi Palsu, Backdoor, dan Trik Kalender iCloud
  • Pengembang Data Center Tawarkan Rp180 Juta per Rumah di Pennsylvania, Mengapa Warga Tetap Menolak?
  • About
  • Contact
  • Disclaimer
  • ToU
  • Partnership

© 2026 AP.com - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya
  • Sosok

© 2026 AP.com - All Rights Reserved.