Suatu Sore di Musim Gugur

0
107

Suatu hari beberapa minggu yang lalu. Sebuah bungkusan plastik biru tergeletak di pinggir trotoar, kuabaikan saja dan aku terus berjalan. Memoriku mengatakan di dalam plastik itu ada kertas yang sangat familiar dimataku. Aku tidak peduli, terus melangkah. Tapi, lagi-lagi memori itu keluar dan seolah memaksaku untuk kembali. Aku mengalah. Aku kembali melangkah 50 meter ke belakang, trotoar sempit yang tadi sudah kulalui. Dari jauh mataku menatap bungkusan biru itu, tidak ada yang aneh. Beberapa sisi plastik sudah lusuh dan tertutup daun yang mulai lapuk kecolatan. Embun malam musim gugur membalut semua sisi plastik. Aku merunduk mengambilnya.

Uang? Tidak mungkin. Uang siapa ini? Kenapa dibuang di sini? Kenapa ditinggalkan? Apa pemiliknya sangat kaya hingga membuang uang sebanyak ini? Seribu pertanyaan berkecamuk dalam benakku. Bungkusan itu kugenggam erat dan aku mematung sesaat. Tidak ada orang lewat, tidak ada yang lihat. Via Pochio adalah jalan kecil yang sempit di Piazza Modalla dekat tempat tinggalku di Milan. Pagi itu hanya beberapa mobil pribadi saya yang melintas. Kemana aku harus melaporkan? Di mana kantor polizia? Aku harus menyerahkan uang ini kepada mereka segera. Aku memasukkan uang itu ke balik jaket tebalku.

Aku berjalan lagi. Tujuanku kini berubah, dari hendak pergi ke supermarket kepada mencari kantor polisi. Aku harus menyerahkan kembali uang ini segera. Kejujuran di atas segalanya. Aku tidak mau makan uang haram, tidak mau hidup dengan uang orang. Benar aku butuh banyak uang kini, tapi apa yang akan kujawab kalau di akhirat nanti Tuhan menanyakan kepadaku mengenai uang ini? Aku harus mengembalikannya segera.

Namun sebuah keraguan melintas di benakku; apakah aku harus mengembalikan uang ini atau tidak. Tidak ada identitas apapun dalam bungkusan, tentu polisi tidak bisa mengembalikan kepada pemiliknya. Polisi juga sering mengambil uang orang, bahkan yang jelas pemiliknya. Apalagi uang ini tidak ada identitas sama sekali. Ia bisa dengan mudah mengambilnya, tidak bakal ada yang tahu. Mungkin lebih baik kuambil untukku saja, aku butuh banyak uang sekarang. Tapi ini uang orang dan pasti aku akan berdosa mengambilnya. Aku akan memanfaatkannya untuk kebaikan, untuk belajar, bersedekah, dan tidak kupakai untuk jalan yang buruk. Pemiliknya pasti akan mendapatkan pahala yang banyak karena uangnya terpakai untuk jalan yang dianjurkan agama. Jadi bagaimana, ambil atau kembalikan? Kuambil saja!

Di apartemen tidak ada orang. Dua temanku sudah pergi ke kampus. Aku menutup pintu depan dan menguncinya dengan hati-hati. Masuk ke kamar dan mengunci nya, lalu mengganjal pintu dengan kursi. Kututup jendela dan kuhidupkan hanya lampu tidur. Aku duduk di ranjang dan membelakangi pintu. Pelan-pelan kubuka bungkusan itu, ku keluarkan bungkusan dari balik jaketku, kubuka plastiknya dengan perlahan. Ada dua buah ikatan yang digabungkan dengan sebuah gelang karet. Uangnya nampak masih sangat baru dan dililit dengan kertas yang bertuliskan “Banca Italia”. Nampaknya masih baru diambil dari bank. Di ketas itu tertulis dengan jelas: € 50.000. Kukalikan dua, berarti € 100.000. Pikiranku langsung membandingkan dengan rupiah. Kalau kurs rupiah untuk satu euro masih Rp. 12.500, berarti uang ini Rp. 1.250.000.000,-! Wah… aku sungguh kaya raya sekarang. Alhamdulillah! Kukipas-kipaskan uang itu ke mukaku seperti gaya orang kaya di sinetron, sambil tersenyum bahagia.

Aku akan kursus bahasa Italia, privat! Dalam dua bulan ini aku harus menguasai bahasa Italia. Berikutnya aku akan kursus bahasa Inggris, satu bulan harus selesai. Aku sudah punya dasar yang lumayan baik untuk bahasa Inggris. Dalam tiga bulan ke depan aku harus bisa dua bahasa. Aku akan bayar mahal guru privat, berapa saja yang ia minta. Hanya ada satu syarat, ia harus bisa memastikan aku bisa lancar bahasa Italia dan bahasa Inggris dalam waktu singkat. Aku membutuhkan kedua bahasa ini untuk pendidikanku di Italia.

Aku bergegas membuka internet dan mencari tempat kursus bahasa Italia untuk orang asing di Milan. Aku mencatat beberapa nama, alamat dan bagaimana menuju ke sana. Lalu aku beranjak pergi, mendatangi lembaga itu.

Yang pertama kudatangi (dan hanya satu ini saja) tidak terlalu jauh dari apartemenku, hanya dua stasion Metro, kereta api bawah tanah di Milan. Kantornya terletak pada sebuah bangunan bergaya abad pertengahan. Aku langsung masuk. Seorang gadis Italia meyambutku. Setelah berbasa basi, kusampaikan maksudku dengan bahasa Italia yang sangat terbatas. Ternyata tempat kursusnya sudah penuh, dan baru ada kelas lain bulan depan.

Kutanyakan tentang kelas privat. Aku ingin belajar sendiri, intensif dan di bawah bimbingan seorang guru khusus. Ternyata ada. Bahkan ia menawarkan beberapa opsi; apakah aku yang datang ke lembaga itu, atau gurunya yang datang ke rumah. Apakah aku mau gurunya laki-laki atau perempuan? Apakah aku mau gurunya yang bisa bahasa Inggris atau yang hanya bisa bahasa Italia. Aku menjawab dengan yakin: datang ke rumahku, gurunya perempuan, hanya bisa bahasa Italia (agar aku terpaksa bicara bahasa Italia). Ia mencatat dan nampak menghitung sesuatu di komputernya. Tiga jam perhari, lima hari semingu, € 10.000 sebulan. “Garansi, kamu bisa bahasa Italia dalam dua bulan”, katanya. Oke, aku setuju. Aku membayangkan kalau aku masih punya banyak uang sisa. Aku bisa berkeliling dunia, kemana saja aku ingin pergi.

Keesokan harinya, kursusku dimulai. Pada jam dua siang seorang gadis muda, berusia sekitar 22 tahun, putih, tinggi, berambut pirang panjang tergerai, datang ke rumah.

Ciao, *) katanya.

Ciao.

Agam, kataku sambil menjabat tangannya.

Giulia, katanya sambil tersenyum. Ia menggenggam tanganku dan mendekatkan pipi kanannya ke pipi kiriku.

Cup…. Terdengar seperti kecupan.

Lalu ia mendekatkan pipi kirinya ke pipi kiriku.

Cup… terdengar lagi seperti kecupan.

Aku mempersilahkan ia duduk di kursi. Kutanyakan apakah ia mau minum kopi? Ia mau, “espresso senza lo zuchero”,*) katanya. Hhmm… selera kami sama.

Sambil menunggu kopi panas, ia membuka pembicaraan. Menayakan berbagai hal kepadaku dalam bahasa Italia dan aku pontang panting menjawabnya. Ia memperbaiki kalimatku, menawarkan kalimat yang lebih baik. Terkadang ia memperbaiki pengucapan kata yang salah dan menjelaskan perbedaan dialek antara Italia Utara dengan Italia Selatan. Meskipun secara umum lidah orang Indonesia mudah bagi bahasa Italia, namun ada kata-kata yang lumayan sulit. Ia mengucapkan kata itu dan menyuruhku melihat ke mulutnya. Aku melihatnya.

Aku tidak melihat mulutnya. Aku melihat wajahnya yang sangat cantik, apalagi dengan bentuk mulut yang aneh ketika mengucapkan sebuah kata yang sulit. Ia menyuruhku mengulangnya. Saat aku tidak bisa ia memegang mulutku, menekannya seperti bentuk yang diinginkan, dan menyuruhku melafalkan sebuah kata. Mukaku menjadi sangat dekat dengan mukanya. Kulihat kulitnya yang sangat mulus, hidungnya yang mancung, matanya yang bersinar kebiruan, alisnya yang lentik. Ia sungguh sangat cantik. Aku semakin tidak bisa mengucapkan kata itu, semakin berharap ia terus memegang mulutku, mendekatkan mukanya ke mukaku, mendekatkan tubuhnya ke tubuhku. Kulepaskan kamus di tangan kananku, dan kuletakkan tanganku dipunggungnya. Kutarik ia menjadi semakin dekat kepadaku.

“Buon pomerijo ***) Agam….”

Terdengar suara dari pintu depan. Tenryata Marco, temanku satu flat. Ia berasal dari Napoli.

Ciao Marco, buon pomerijo. Aku terkejut, tersadar dari hayalanku.

Come stai? Tutto bene?****)

Molto bene,*****) jawabku. Ia langsung menuju kamarnya.

Aku menghela nafas panjang dan tersenyum sendiri. Kenapa siang ini hayalanku sangat aneh? Kuambil kembali buku “Gramatica Italiana per Straneiri” yang dari tadi kupelajari. Kubuka kembali halaman demi halaman. Kukatakan kepada diriku, inilah yang sesungguhnya. “Untuk bisa, ya harus belajar keras, bukan berhayal!” Aku kembali tenggelam dalam belajar bahasa Italia. Yang ini sungguh-sungguh! [Bersambung]

Catatan:

*) hallo

**) Kopi espresso tanpa gula.

***) Selamat siang.

****) Apa kabar? Apa semua baik-baik saja?

*****) Sangat baik