Travel Blogger dan Pembaca

0
127
travel blogger

Kegiatan traveling kerap membuat travel blogger kehilangan kontak dengan audiens mereka. Penyebabnya bisa macam-macam seperti sulitnya akses internet, banyak waktu tersita dengan aktivitas tak terduga, dan sering lupa mengupdate postingan di blog. Kondisi ini tentu saja wajar dan sangat lumrah sekali.

Selama traveling, tentu tidak banyak waktu tersedia untuk menulis. Waktu lebih banyak dihabiskan untuk jalan-jalan dan menjejahi tempat baru, bertemu banyak orang asing, serta menikmati sensasi yang seakan tidak ada habis-habisnya. Sebagai penulis blog perjalanan (travel blogger), kondisi minimnya waktu buat menulis itu menjadi sesuatu yang biasa. Kita tidak bisa berpura-pura tetap menulis agar terhubung dengan pembaca.

Bagi blogger travel yang masuk kategori seleb blog, pasti sadar bahwa pembaca mereka selalu menanti kisah keseruan apa yang akan dibagikan oleh penulis favoritnya itu. Setiap saat mereka akan mengunjungi blog penulis kesayangannya itu untuk mendapatkan tulisan terbaru, dan mereka pasti sedikit kecewa ketika tidak mendapati sesuatu yang di baru di dalam postingan blog. Si blogger tentu saja merasa bersalah seandainya tidak menuliskan apa-apa sebagai buah tangan dari aktivitas travelingnya.

Saya sendiri kerap merasakan beban serupa. Saya memang bukan penulis blog yang selalu konsisten mengisi blog dengan tulisan terbaru, lebih-lebih saat traveling. Saya memang menyukai menulis dan membagikannya kepada pembaca, tapi saya juga menikmati kegiatan traveling. Pengalaman selama ini, saat traveling, saya lebih memilih membiarkan blog tidak terupdate bahkan kadang-kadang sengaja menyembunyikan aktivitas traveling ini agar perjalanan saya jauh dari gangguan yang tidak perlu. Akibatnya, saya lebih sering terkesima dengan tempat baru yang saya datangi dan kemudian menjadi lupa menulis di blog, kecuali mencatat saja dalam bentuk catatan.

Blogger yang mencari penghasilan dari blog, kondisi begini tentu saja bukan sesuatu yang patut dipelihara. Bagi blogger yang diajak jalan-jalan oleh sebuah brand dan mereka dibayar untuk menulis tentang aktivitas dan objek wisata, tentu tidak menjadi masalah. Apalagi, sebuah brand biasanya mewajibkan blogger yang diajaknya itu menulis sesuatu setelah kegiatan jalan-jalan selesai. Namun, bagi blogger yang mengandalkan pemasukan dari klik iklan semisal Google Adsense, tidak mengupdate blog tentu menjadi sebuah masalah. Mereka butuh trafik dan update tulisan secara rutin agar blognya selalu ramai dikunjungi. Tanpa trafik, tidak ada klik, dan tidak ada klik berarti tak ada pemasukan.

Lalu bagaimana caranya agar selalu terhubung dan dapat menyapa pembaca selama kegiatan traveling? Banyak blogger memilih menyiapkan beberapa tulisan untuk jaga-jaga seandainya selama kegiatan traveling tidak sempat membuat posting baru. Misalnya, sebelum melakukan traveling, mereka sudah memposting tulisan di blog, dan menyimpannya sebagai draft atau mengatur jadwal penayangan. Draft atau tulisan yang sudah diatur jadwal tayang itu, akan secara otomatif terupdate sendiri sesuatu waktu yang sudah ditentukan. Jadi, tanpa menulis tulisan baru pun, blog mereka tetap saja terupdate.

Selain itu, kita bisa memilih untuk bersikap jujur kepada pembaca dengan mengatakan hal yang sebenarnya. Buat sebuah postingan di blog untuk menjelaskan apa yang sedang Anda lakukan dan sedang berada di mana saat menulis postingan tersebut. Gambarkan secara sepintas lalu apa yang Anda lihat, apa yang Anda rasakan serta kenapa hal itu penting Anda bagikan dengan pembaca. Tidak perlu harus menggunakan seribu-dua ribu kata. Anda bisa menulisnya dalam 500 kata, denga gaya penulisan seolah-olah Anda sedang berbicara dengan pembaca blog Anda.

Kalau pun Anda tidak sempat menulis, setidaknya Anda bagikan tulisan lama Anda yang kontennya masih relevan melalui Facebook, Twitter atau Instagram. Hal itu untuk memberitahu pembaca bahwa Anda tidak meninggalkan mereka. Dan pembaca jadi tahu bahwa sang penulis blog favoritnya bukan tanpa alasan tidak memposting tulisan terbaru di blog. Mereka tidak patah hati, kecewa dan kemudian karena merasa sang penulis sudah tidak mengupdate lagi blognya, mereka pun enggan berkunjung lagi ke blog Anda.

Terakhir, jangan mencontoh saya. Saya bukan travel blogger yang patut diikuti (bahkan untuk menyebut diri travel blogger pun sudah merupakan kesalahan yang sangat fatal), karena setiap melakukan traveling pasti jarang update blog. Biasanya, setelah kegiatan traveling selesai, baru menyicil tulisan satu-persatu. Hal ini memang tidak dilarang, tapi dengan melakukan praktik begini, keseruan traveling menjadi hilang dengan sendirinya. Soalnya, kita hanya menulis kegiatan traveling yang sudah kadaluarsa!

Image: pixabay.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here