Traveling 2019: Liburan Bersama Keluarga Bebas Cemas

689
resolusi traveling 2019

Pengalaman traveling yang pernah saya lakukan pada awal tahun 2018 lalu mengajarkan kepada saya banyak hal. Bahwa, traveling yang direncanakan secara matang jauh lebih efisien, terukur dengan hasil memuaskan. Pun begitu, banyak hal yang tidak kami harapkan terjadi selama masa traveling, dan inilah alasan mengapa merencanakan traveling menjadi penting.

Pada Januari 2018 silam, saya dan dua orang teman mengunjungi Siem Reap di Kamboja, dan Ho Chi Minh City di Vietnam. Perjalanan itu sudah kami rencanakan sejak Juli 2017 dan menjadi resolusi traveling kami pada tahun 2018. Rencana itu kami susun dengan sangat matang, mulai dari memesan tiket dari salah satu maskapai penerbangan, destinasi perjalanan dan penginapan. Sementara paspor baru kami perpanjang dua minggu sebelum keberangkatan.

Kami sepakat memilih Siem Reap dan Ho Chi Minh City setelah melakukan riset kecil-kecilan terkait destinasi yang akan kami tuju tersebut. Misalnya, berapa lama waktu yang akan kami habiskan ketika mengunjungi sebuah tempat dan apa yang membuat tempat itu menarik untuk dikunjungi. Lalu, kami mulai menyusun jadwal dan menyesuaikan dengan waktu yang kami miliki.

Bagi seorang traveler yang belum berpengalaman, menyusun jadwal dan memilih destinasi sangatlah penting dilakukan. Bahkan, soal ini harus dilakukan jauh hari sebelum waktu keberangkatan. Liburan yang direncanakan dengan detail tidak hanya penting untuk memanfaatkan waktu yang ada sebaik mungkin, melainkan juga dapat menghemat isi kantong. Tidak ada waktu yang terbuang percuma, dan pengeluaran dapat ditekan sehemat mungkin.

Di Siem Reap, misalnya, salah satu destinasi yang wajib dikunjungi adalah Angkor Wat, komplek candi terbesar di Kamboja. Namun, ada banyak candi lain yang juga tak bisa diabaikan begitu saja seperti Angkor Thom dan Ta Prohm. Mengunjungi beberapa lokasi ini tentu tidak cukup kalau cuma sehari.

Karenanya, jauh hari kami sudah membuat rencana terkait berapa hari di Siem Reap. Akhirnya, kami sepakat mengalokasikan waktu tiga hari saja. Sehari kami gunakan untuk berkeliling tempat-tempat menarik di kota ini, dan dua hari lagi akan kami gunakan mengunjungi beberapa candi.

Syukurlah, rencana ini berjalan sempurna. Hari pertama, misalnya, kami berkeliling kota Siem Reap menggunakan Tuk-tuk, moda transportasi paling populer di kota ini. Banyak tempat-tempat menarik yang kami datangi, salah satunya, berkunjung ke killing field yang hampir setiap kota memilikinya. Sementara malam hari, kami gunakan untuk berkeliling kota, dan kami memilih berjalan kaki.

Siem Reap adalah kota yang sangat hidup di malam hari. Pub Street dan Night Market menjadi dua tempat yang paling ramai. Banyak turis dari mancanegara tumpah ruah ke sini. Mereka bisa menikmati musik tradisional, atraksi tarian ular atau berburu souvenir khas Siem Reap dan Kamboja. Para turis bule memilih menghabiskan waktu berkaroeke di cafe-cafe atau diskotik di kawasan Pub Street ini.

Berdasarkan rencana yang kami susun, di hari kedua kami menjajal destinasi favorit di Siem Reap: Angkor Wat. Kami menggunakan jasa guide yang disediakan pihak penginapan. Hampir semua penginapan di Siem Reap menyediakan jasa guide tour ke Angkor Wat. Para traveler cukup melaporkan kepada resepsionis hostel, dan mereka akan menentukan kapan jadwal kunjungan ke Angkor Wat. Setidaknya begitulah pengalaman kami ketika itu.

Lalu, setelah 3 hari di Siem Reap dan mengeliling Angkor Wat, Angkor Thom (Bayon Temple) dan Ta Prohm, kami pun pindah ke Phnom Penh. Saat itu kami memilih menggunakan bus antar-kota. Dari Siem Reap ke Phnom Penh hanya 6 jam perjalanan. Selam di Phnom Penh, kami mengunjungi beberapa tempat yang menjadi saksi bisu kekejaman rezim Pol Pot, seperti Choeung Ek, sebuah ladang pembantaian terbesar di Kamboja, dan Tuol Sleng, museum genosida. Kedua tempat ini menjadi lokasi wajib yang harus didatangi para traveler jika ingin mengetahui kekejaman rezim Pol Pot.

Sesuai dengan jadwal yang kami susun, di Phnom Penh kami cuma dua hari saja. Seusai mengunjungi Choeung Ek dan Tuol Sleng, kami merasa bahwa dua tempat itu sudah lebih cukup untuk mengisi hari-hari kami di Phnom Penh. Setelah puas melihat kota Phnom Penh dari dekat, kami pun memutuskan berangkat ke Ho Chi Minh City, kota terbesar di Vietnam. Menuju ke kota yang dulunya bernama Sai Gon itu, kami menggunakan bus. Selain karena harganya murah, kami memang ingin melihat-lihat suasana di sepanjang jalan menuju Ho Chi Minh. Rupanya, pembangunan di Kamboja sangat jauh tertinggal dibandingkan negara Komunis itu.

Kami tiba di Ho Chi Minh City pukul 22.00 waktu setempat. Hal pertama yang kami lakukan adalah membeli kartu internet. Tanpa koneksi internet, kami kesulitan mencari lokasi hostel yang sudah kami pesan sebelumnya sewaktu masih berada di Phnom Penh. Selain itu, kami berniat mencari informasi terkait destinasi wisata yang ingin kunjungi.

Soalnya, kami akan berada di Ho Chi Minh selama tiga hari, dan kami tidak ingin mengunjungi tempat-tempat biasa saja yang tidak memberi kesan apapun. Lagi pula, destinasi yang kami susun sebelumnya terlalu banyak, dan kami harus memilih destinasi prioritas. Untuk itulah, kami perlu menentukan destinasi yang benar-benar menarik dan penting selama berada di kota Vietkong ini.

Traveling 2019: Liburan Bebas Cemas
Dari penjelasan di atas, tampak jelas bahwa merencanakan liburan sebaik-baik mungkin sangatlah penting. Dan, rencana yang sudah kita susun seringkali tidak selalu membantu ketika kita mulai melakukan perjalanan. Misalnya, kita sering kesulitan menentukan mana destinasi yang penting dikunjungi, pilihan penginapan dan tips selama perjalanan.

Ketiga hal itu tentu saja tidak menjadi masalah besar jika kita melakukan traveling bersama dengan teman-teman cowok. Soalnya, kita bisa berkeliling ke mana pun, dan menginap di mana saja. Tapi akan menjadi persoalan kalau kita traveling bersama keluarga. Semuanya harus sudah dipikirkan sebaik mungkin: mulai dari kepastian destinasi yang ingin dikunjungi, penginapan yang sudah dibooking jauh hari, dan tentu saja tips perjalanan jika membawa keluarga.

Dan inilah yang akan saya siapkan untuk resolusi traveling 2019 ini. Soalnya, akhir tahun ini saya merencanakan traveling bersama keluarga ke Malaysia dan Singapura. Mengunjungi dua negeri jiran itu menjadi tujuan saya di tahun 2019. Untuk perjalanan kali ini, saya sudah membuat rencana perjalanan yang menyenangkan bersama keluarga.

Kami mengumpulkan banyak informasi terkait destinasi yang ingin dituju dan pilihan penginapan yang cocok untuk traveling bersama keluarga. Rencananya, selama di Singapura, saya ingin membawa keluarga ke Kampong Glam, destinasi unik di negeri singa itu.

Mengenai penginapan dan tempat tinggal selama perjalanan, kami pasti mencari tempat yang sudah terjamin kualitasnya, seperti linen bersih, kamar mandi bersih, perlengkapan mandi, televisi, air mineral dan WI-FI gratis. Layanan seperti ini tentu saja sangat sesuai untuk traveling bersama keluarga.

Karena itu, bagi kalian yang ingin merencanakan liburan, jangan lupa untuk menyusun rencana dengan matang, memilih penginapan, destinasi yang akan dikunjungi, serta asuransi perjalanan dari @tmipartner yang akan membuat liburan kita bebas dari cemas. Selamat berpetualang!