• About
  • Contact
  • Disclaimer
  • ToU
  • Partnership
Tuesday, October 6, 2026
ACEHPUNGO.COM
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya
  • Opini
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya
  • Opini
No Result
View All Result
Acehpungo.Com
No Result
View All Result
Home Opini

Angina Pectoris

Diyus by Diyus
07/03/2026
in Opini
0
Angina Pectoris
20
SHARES
91
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Hadirnya selalu mendatangkan cemas di hatiku. Nyeri di ulu hati, serasa tertusuk di jantung. Ia datang dan pergi sesuka hati. Ketika kuhabiskan malam-malam untuk menjauhinya, ia mendekat dengan segala sikap sewenang. Ketika aku mulai memperhatikannya, ia pergi. Seperti merpati yang cuma bisa engkau taklukkan dengan minyak wangi. Tapi aku tak sedang berminyak wangi saat ia datang. Tak pernah sedang berminyak wangi.

Tubuh tak enak, hati tak sedap, pandangan berkunang oleh kenang. Mengapa ia datang lagi selalu di saat seperti ini. Ketika aku telah lupa tentang hadirnya yang terakhir. Sepotong bayangnya kadang datang dalam benak. Tetap menyisakan takutku atas siksanya atas diri, tubuh dan jiwaku.

READ ALSO

Kami Tidak Sekolah, Memangnya Kenapa?

Tips Sukses Orang Pidie di Perantauan

Pandang rasa berkunang, tidur tak lena, makan tak sedap, sendi serasa tak berfungsi. Ia kerap hadir saat aku sedang sendiri. Ketika segala hambat tak memungkinkan bagiku untuk beranjak pergi. Saat HP tak berpulsa dan aku tak tau kemana mesti mengadu. Sewaktu minyak di tangki kreta tengah kerontang, saat uang di saku tinggal selembar ribuan atau 2 keping koin 500-an, ketika pulsa dan paket internet tiada, collect SMS-pun tak daya. Bahkan kerap saat batre di HP mongering dan listrik tengah padam pula.

Hidup ini terlalu indah untuk mengeluhkan tibanya yang selalu bertentangan dengan harapku. Namun, sepertinya jarang sekali aku sedang berdaya saat ia tiba di sini. Mengejek kesendirian yang berusaha membunuhku. Menantangku untuk menentang tatapnya tanpa nyali. Sungguh tusukannya yang menghadirkan didih di sekitar jantung telah membuatku tak kuasa selalu. Tusukan di titik terlemahku.

Ia terlalu mengenalku dengan segala lemahku. Seperti Iblis yang kerap mengintip ketebalan iman yang bersemayam di batin. Begitupula ia telah sedang selalu akan menyerbu aku ketika seluruh kemungkinan pertolongan telah sirna. Oh… Angina Pectoris… mengapa demikian kau perlakukan aku? Di atas rolling-bed ini aku terkapar, mengerang tiada guna menghadapi serangan hadirnya sosokku. Aku membenci pelukanmu, sejenis rengkuh yang tak pernah kurindu, namun kerap datang menghantu.

Bahkan dengan usiran kau tak akan pergi. Kau cuma akan beranjak ketika aku mulai menggunakan hati, mem-per-hati-kan. Cuma itu yang akan membuat engkau berlalu. “Lepaskanlah pelukanmu…!” rintihku dalam himpit pelukmu yang menusuk. Aku tau tak ‘kan engkau pergi oleh rintih selemah ini. Tapi cuma itu daya yang kupunya, mengunjuk selemah-lemah perlawanan. “Pelukanmu bukan jenis hangat milik para gadis yang pernah terlingkung sepasang tanganku”. Seperti terkekeh engkau mendengarku mengurai catatan kelam masa lalu.

Otakku bukan kawan yang baik saat begini. Entah apa yang mesti kulaku untuk menghentikan rengkuhmu. Nyeri semakin melingkup dada, oleh hunjaman rasa yang pernah kau tancap dan yang sedang kau tancap kini. “Pergilah…” rintihku bercampur rengek. Engkau makin dalam menancapkan nyeri. Bertopeng senyum terindah yang kau punya, senyum yang menopengi seringai laknat nan bedebah itu.

“Ayolah Angina… kau cantik, aku terpesona,” rayuku lagi. Tetap seringai itu yang hadir. Menancapkan hunjaman di atas ulu hati. Di dada sebelah kiri kau tancapkan tusuk sedalam mau dengan ketajaman sayat sebilah sembilu. Entah mengapa, bayangan sekeping logam dan segenang minyak goreng melintas tiba-tiba, saat akal tak mampu bicara. Wajahmu pasi. Bilah-bilah senyum jahanam itu sirna. Meski tengah terkapar begini rupa, aku tak mampu menahan senyum jawara. Tanpa becerminpun aku tau, ini saat yang membangkitkan cahaya di paras.

Hahahahahaha… wahai, Angina Pectoris… enyahlah engkau, sebab beberapa kejap lagi, engkau akan berambus dari diri dan tubuhku, ketika sekeping logam mengerik permukaan kulitku. Cara itulah wujud perhatian untukmu. Mengerik permukaan kulit di titik tempat tusukan yang kau hunjam bertahta.

***

Aku mengenalnya. Engkau juga. Orangtua dan orang tua menyebutnya masuk angin, meski dunia kedokteran menyebutnya Angina Pectoris.

 

Image Source:

Image1

Image2

 

Related Posts

Kami Tidak Sekolah, Memangnya Kenapa?
Opini

Kami Tidak Sekolah, Memangnya Kenapa?

07/03/2026
Ilustrasi tips sukses orang pidie di perantauan
Opini

Tips Sukses Orang Pidie di Perantauan

07/03/2026
Siapa Perempuan di Samping Muzakir Manaf?
Opini

Siapa Perempuan di Samping Muzakir Manaf?

07/03/2026
Surat Hasan Tiro kepada Jenderal De Gaulle yang Menggemparkan Perancis
Opini

Surat Hasan Tiro kepada Jenderal De Gaulle yang Menggemparkan Perancis

07/03/2026
5 Pejuang Perempuan Aceh yang Tak Mirip Kartini
Opini

5 Pejuang Perempuan Aceh yang Tak Mirip Kartini

07/03/2026
Dialog Politikus dengan Pelacur
Opini

Politikus dan Seorang Pelacur

07/03/2026
Next Post
Jejak Senam Sintal di Lapangan Tugu dalam Ingatan

Jejak Senam Sintal di Lapangan Tugu dalam Ingatan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

POPULAR NEWS

ilustrasi ancaman keamanan kripto

Waspadai Serangan AI dan Eksploitasi Kontrak Cerdas di 2025

08/05/2026

iPhone 18 Pro Kantongi TKDN dan Postel, Kapan Resmi Dijual di Indonesia?

30/09/2026

Bill Gates: AI Cukup Kuat untuk Picu Kematian Satu Miliar Orang, Serukan Regulasi Pemerintah

28/09/2026
Xiaomi 18 Pro Dipastikan Rilis Global, Apakah Indonesia Kebagian?

Xiaomi 18 Pro Dipastikan Rilis Global, Apakah Indonesia Kebagian?

05/10/2026

WhatsApp Uji Tampilan Baru di Android, Tombol Meta AI Masuk Navigation Bar

01/10/2026

EDITOR'S PICK

Halloween: Sejarah dan Asal-usul yang Kusut dari Hari Libur 31 Oktober

Halloween: Sejarah dan Asal-usul yang Kusut dari Hari Libur 31 Oktober

28/10/2020

Irwandi Janji Tuntaskan Kasus Sengketa Lahan di Singkil

16/11/2011

Hidup di Baltik Berlaku Budaya Jujur

07/03/2026
Surat Hasan Tiro kepada Jenderal De Gaulle yang Menggemparkan Perancis

Surat Hasan Tiro kepada Jenderal De Gaulle yang Menggemparkan Perancis

07/03/2026

About

ACEHPUNGO.COM dengan motto Galak-galak Kutak Sigo adalah situs berita gaya hidup untuk milenial Indonesia

Follow us

Categories

  • Budaya
  • Edukasi
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Inforial
  • Internasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Nanggroe
  • Nasional
  • News
  • Olahraga
  • Opini
  • Politik
  • Sosok
  • Teknologi

Recent Posts

  • Xiaomi 18 Pro Dipastikan Rilis Global, Apakah Indonesia Kebagian?
  • Malware MacSync Mengincar Pengguna Mac: Aplikasi Palsu, Backdoor, dan Trik Kalender iCloud
  • Pengembang Data Center Tawarkan Rp180 Juta per Rumah di Pennsylvania, Mengapa Warga Tetap Menolak?
  • WhatsApp Uji Tampilan Baru di Android, Tombol Meta AI Masuk Navigation Bar

Newsletter

  • About
  • Contact
  • Disclaimer
  • ToU
  • Partnership

© 2026 AP.com - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya

© 2026 AP.com - All Rights Reserved.