Author: Lukman Emha

  • Lebih dari Sekadar Cantik

    Lebih dari Sekadar Cantik

    Duh, Persiraja masih terperosok di urutan kedelapan capolista. Padahal, tim ini sudah menjalani sembilan pertandingan. Sedangkan putaran pertama hanya menyisakan dua pertandingan. Satu pertandingan berlangsung di luar kandang lawan Persiba Bantul, Senin (20/02). Satu laga sisa di kandang lawan PSM Makassar(10/03).

    Besar kemungkinan Persiraja akan menutup putaran pertama dengan status sekadar tim medioker. Pintu empat besar sudah hampir tertutup bagi Musawir cs. Peluang mendekati empat besar hanya akan terbuka sedikit jika mampu memaksimalkan dua laga sisa. Itupun masih tegantung dengan perolehan tim-tim lain yang menyimpan laga lebih banyak.

    Oleh sebab itu, laga berat di kandang Persiba Bantul sore ini menjadi krusial. Kemenangan berarti membuka kran untuk memperbaiki peringkat mendekati papan atas atau paling tidak kokoh di papan tengah. Sebaliknya, kekalahan bisa membuat posisi Persiraja makin menukik ke zona merah.

    Menghadapi tuan rumah Persiba, Persiraja butuh lebih dari sekadar bermain cantik. Tim lawan amat solid dan konsisten sepanjang pusingan pertama. Slamet Nurcahyo dan kawan-kawan adalah pembunuh raksasa Persebaya di hadapan Boneknya. Dengan penampilan biasa-biasa saja, Lantak Laju bisa jadi lumbung gol.

    Coach Herry Kiswanto harus mengintruksikan pemainnya bermain kesetanan di lapangan. Di pinggir lapangan, Herkis sendiri harus mampu merespon situasi dengan lebih cepat. Selama ini, selain laga melawan Semen Padang, Herkis kelihatan irit melakukan pergantian pemain.

    Ingat! Pergantian pemain ketika laga melawan Semen Padang merupakan langkah strategis yang menyelamatkan Persiraja dari kekalahan atas tim Kabau Sirah.

  • Pelatih Latin PSSB, Pu Eungkot?

    PSSB Bireun resmi mengontrak Simon Pablo Elissetche Correa sebagai pelatih kepala musim 2011/2012. Dilihat dari track record kepelatihannya, pelatih asal Chile itu tidak pantas menukangi tim Batee Kureng. Beberapa teman bahkan menyindir, pu eungkot pelatih nyan?

    Hasrat managemen PSSB merekrut entrenador asing hendak menaikkan moral dan kualitas tim yang masih hijau di tengah kepungan tim lainnya yang bermaterikan pemain senior asing maupun lokal. Tapi, mengapa pilihannya jatuh kepada pelatih yang sedang menangani SSB Bagantara Football Academy, Makassar?

    Merekrut seorang pelatih tidak cukup dengan sekadar bahwa incaran dianggap bagus oleh sebagian orang. Track record-nya harus menjadi acuan utama. Tim apa yang dilatih, berapa lama, dan apa yang dipersembahkan untuk tim asuhannya. Curriculum Vitae-nya harus meyakinkan, jika tidak benar-benar meyakinkan.

    Mencari pelatih tidak boleh asal comot. Jangan sampai gara-gara ingin dilatih pelatih asing, lalu kita mengabaikan kualitas. Jangan pula lantaran Muarrif cs. pernah berlatih di Amerika Latin, lalu kita memaksakan diri mencari pelatih Latin padahal kualitasnya bertanda tanya. Can meuramah PSSB.

    Logika orang sederhana saja. Andai Simon pelatih yang bagus tentu PSM Makassar yang sedang berjuang di kasta tertinggi LPIS, akan menggunakan jasanya. Tetapi nyatanya PSM malah menggunakan jasa pelatih Peter Segrt. Pu bangai manajemen PSM?

    Pasca gagal memperoleh tanda tangan Rahmad Darmawan dan Monito (Chile),  managemen PSSB kok terkesan asal raba. Padahal, ada banyak pelatih di Indonesia yang bagus dan menganggur, misalnya eks pelatih nasional Benny Dollo (Indonesia), Danurwindo (Indonesia), Ivan Kolev (Bulgaria).

    Mengapa PSSB tidak memburu tanda tangan mereka saja daripada tanda tangan Simon. Pu engkot Simon? Semoga managemen PSSB tidak keliru memilihnya.

    ——————————————————————————————————————

    Curriculum Vitae Simon Pablo Elissetche Correa

    Nama: Simon Pablo Elissetche Correa
    Negara: Chile
    Tempat/Tanggal lahir: Santiago, Chile, 28 September 1977

    Status Perkawinan: Belum Kawin
    Alamat Chile: Av. Humeres No. 22 Cabildo, Chile
    Alamat Indonesia: Makassar, Indonesia
    Bahasa: Indonesia, Spanyol, Inggris

     

    Pengalaman Pelatih
    (2011) Pelatih kepala SSB Bagantara Football Academy, Makassar
    (2010) Pelatih tim utama Seleksi Kota Cabildo, Chile
    (2009) Pelatih tim U-13 Seleksi kota Cabildo
    (2008) Pelatih tim L.A. United FC USA
    (2005) Pelatih tim junior Kendari Utama FC, Indonesia
    (2004) Asisten pelatih Juan Rodriguez di Kendari Utama FC
    (2004) Pelatih tim U-17 Everton (tim professional Chile)
    (2003-2009) Pelatih tim U-17 seleksi Kota Cabildo
    (2002-2004) Ketua/kepala dari Departemen Olahraga Cabildo
    (2002) Pelatih tim utama seleksi Kota Cabildo
    (2001) Pelatih tim U-15 seleksi Kota Cabildo
    (2001) Pelatih tim utama Cracks, Liga Independente de Futbol
    (2001) Pelatih tim olahraga Litoral Kota Maintencillo

    (Sumber: Harian Serambi Indonesia, Rabu/8/2/2012)

  • 3 Hal

    ‘Mangat na meurasa tan’. Begitu komentar seorang tifosi Persiraja paska tim kesayangannya melumpuhkan perlawanan Persijap Jepara (2-1) di Stadion Harapan Bangsa Banda Aceh (22/01/).

    ‘Mangat’ barangkali karena Persiraja menang dan mendulang tripoin. ‘Hana rugo tiket,’ seperti komentar tifosi lainnya di sebelah kanan saya. ‘Meurasa tan’ pasti karena pertandingan itu dikotori korp baju hitam.

    Ada dua peristiwa yang membuat pertandingan hari itu hambar. Pertama, hakim garis mengibaskan benderanya sebagai pertanda Safri Umri (Persijap) terperangkap offside pada pertengahan babak kedua. Padahal, eks Persiraja itu onside. Tifosi yang duduk sejajar dengan hakim garis tahu benar soal itu.

    Kedua, wasit telat meniup peluit tanda pelanggaran di kotak finalti Persiraja yang dilakukan pemain Persijap beberapa menit menjelang pertandingan berakhir. Seharusnya, wasit meniup peluit langsung setelah terjadi pelanggaran sebelum pemain Persijap mencocor bola ke jala Persiraja. Sebab, posisi wasit saat itu tidak berada jauh dari lokasi insiden.

    Andai saja wasit bertindak cepat, pasti tidak akan ada protes dari pihak Persijap karena wasit menganulir gol yang dicetak penyerang asing mereka, Lopez.

    Usai pertandingan, mantan pemain dan pelatih Persiraja yang menonton beberapa strip di bawah tempat duduk saya berujar, ‘Persiraja diselamatkan wasit’. Makanya pertandingan hari itu hana meurasa bagi sebagian orang.

    Baiklah, ada benarnya. Tetapi itulah hasil sepakbola. Kadangkala sebuah tim bermain ciamik sepanjang pertandingan, tapi hasilnya nihil. Dalam kamus sepakbola, ada kosa kata ‘dewi fortuna’, yang kerap memengaruhi hasil akhir pertandingan.

    Nah, barangkali hari itu dewi fortuna sedang memayungi Persiraja untuk mengamankan tiga angka. Dewi fortuna berbelaskasihan pada Persiraja yang sudah kehilangan enam angka di kandangnya. Apalagi dari segi permainan, Persiraja hari itu pantas menang.

    Pertanyaan sekarang, bisa nggak Persiraja memuaskan tifosi-nya meski harus bertandang ke Stadion Gajayana Malang, kandang Persema Malang (30/2) sehingga memupus stigma dibela wasit di kandang? Jawabannya, sulit. Tapi, kenapa tidak.

    Sulit karena mental pemain Persiraja masih standar saja saat bermain di kandang lawan. Moral bertanding sebuah tim biasanya lebih bagus dengan hadirnya pemain bintang yang disegani lawan dimanapun pertandingan berlangsung. Tapi Persiraja tidak pernah dibentuk dengan kehadiran pemain bintang.

    Sulit bukan berarti tidak mungkin. Apalagi jika Persiraja punya kemauan kuat untuk menang. Sekuat kemauan yang pernah dimiliki Napoleon Bonaparte untuk menguasai daratan Eropa. Raja Perancis yang kesohor itu tidak memiliki kosa kata ‘tidak mungkin’ dalam kamus kehidupannya.

    Selain kemauan kuat para pemain, strategi tepat dari pelatih untuk meladeni kebintangan tim Persema Malang amat menentukan. Formasi 4-5-1 layak kembali dipraktikkan di hadapan tifosi tuan rumah.

    Dengan formasi ini, Persiraja dapat mengakomodir tiga gelandang terbaiknya sekaligus, Erik, Djibril, dan Ghigani, untuk menemani dua sayap Musawir dan Defri/mukhlis. Bukan mustahil target mencuri poin yang dipancang Herry Kiswanto bisa terkabul.

    Jika coach Herkis kembali ke formasi kegemarannya, 4-4-2, salah satu di antara Erik, Djibril, dan Ghigani harus dikorbankan. Empat gelandang tidak cukup untuk memenangi pertarungan di sektor tengah. Target mencuri poin bisa runyam.

    Untuk mencuri poin, setidaknya Persiraja harus punya tiga hal, kemauan keras pemain, strategi pelatih, dan satu lagi dewi fortuna.

  • Ujian Murilo

    Lukman Emha| Dok. Pribadi

    Enam pertandingan yang telah dilalui, tidak satu pun striker Persiraja masuk score sheet. Manajemen berusaha mengatasi buruknya lini depan tim dengan mendatangkan jugador anyar Murilo De Almeida. Minggu (22/01) di Stadion Harapan Bangsa, Murilo siap melakukan debut bersama Lantak Laju,  menjamu Persijap Jepara.

    Apakah Murilo akan menjadi pemecah kebuntuan tim yang diarsiteki Herry Kiswanto itu? Semua pihak berharap bomber timnas Timor Leste dapat mengatasi problematika lini depan Laskar Rencong yang sepanjang laga musim ini belum mampu membobol gawang lawan.

    4-5-1

    Satu yang pasti, kehadiran Murilo akan merubah komposisi lini depan yang selama ini melekad dengan duet Dillah-Imral dalam skema 4-4-2 ala Herkis. Namun dalam duel terakhir Persiraja menjamu Arema Indonesia IPL, Herkis mulai keluar dari pola 4-4-2 kegemarannya ke pola 4-5-1 dengan Dillah sebagai target man di kotak finalti lawan.

    Permainan Persiraja dengan pola baru ini ternyata lebih menarik. Kekuatan lini tengah lebih kokoh dan serangan lebih variatif. Pola ini memungkinkan Persiraja memainkan tiga gelandang terbaiknya sekaligus, Erik, Djibril, dan bintang baru Ghigani.

    Hadirnya Erik di gelandang bertahan membuat nyaman Djibril dan Ghigani untuk berkreasi di lapangan tengah. Terbukti, Persiraja mampu membuat peluang lebih banyak dibandingkan pertandingan sebelumnya.

    Tim pelatih sepertinya puas dengan cara Musawir cs. memainkan pola yang belum lazim mereka mainkan ini. Ada kemungkinan pola ini akan dipertahankan saat menjamu skuad Persijap. Bila ini terjadi, maka Murilo otomatis akan mengisi posisi Fahrizal Dillah sebagai target man. Ini tentu ujian bagi striker kelahiran Brazil itu. Buktikan Murilo!

  • Wajib Tripoin

    Awalnya, saya berharap Persiraja meraih tripoin di kandang PSMS, Stadion Teladan, Medan (7/1). Pasalnya, PSMS IPL baru seumur jagung dan termasuk tim lemah secara kasat mata. Saya pikir, kapan lagi Persiraja menang di laga tandang kalau bukan dengan tim Ayam Kinantan Jr.

    Apa hendak dikata, kenyataannya justru Musawir cs. tersungkur 1-0. Maka, tripoin terpaksa saya usung kembali dalam laga Persiraja menjamu Arema Malang di Stadion Harapan Bangsa Lhong Raya, Banda Aceh (14/01). Tripoin menjadi kewajiban murakkab (meuntindeh-tindeh) dalam pertandingan ini.

    Paling tidak, empat angka hilang dalam dua laga kandang Persiraja sebelumnya, ketika lawan Persija Jakarta (3-3) dan Bontang FC (0-0). Sungguh ini kerugian besar bagi Lantak Laju.

    Idealnya Persiraja mengamankan seluruh angka yang dipertaruhkan di kandang. Dengan demikian Gighani cs seharusnya sudah meraup nilai 9. Angka yang memantaskan Persiraja kokoh di posisi ke 3 dalam urut klasemen. Tentu ini pemandangan yang menyegarkan seluruh mata penggemar Persiraja.

    Ya sudahlah, idealita itu tidak terjadi. Realitalah sekarang yang mesti dihadapi. Bahwa pertaruhan angka-angka di kandang selanjutnya harus menjadikan Persiraja lebih rakus dari makhluk manapun yang ada di bumi. Pembuktian pertama kerakusan itu ada di laga melawan Arema. Maka buktikanlah.

    Bergegaslah bermain cantik, kompak, dan bersemangat. Yang saya sebutkan terakhir amat penting, sebab ruh mulai redup di laga terakhir kandang ketika melawan Bontang FC. Saat itu permainan Persiraja seperti tanpa ruh, sehingga merusak kebanyakan kontruksi serangan ke jantung pertahanan lawan. maka amat wajar, kala itu Persiraja nihil gol.

    Jadilah tim paling rakus. Demi apa? Demi tripoin untuk kokoh di papan atas klasemen sementara. Hamok, rakan!

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Redam Permainan Rap Rap!

    Lukman Emha| Dok. Pribadi

    Ternyata, PSSB yang hampir seratus persen bermaterikan pemain muda eks Paraguay mampu memberikan perlawanan sengit kepada PSBL Langsa yang bermaterikan pemain senior dan berpengalaman di Divisi Utama liga Indonesia dalam tarung kedua tim pada (18/12) tahun lalu. Pertandingan perdana bagi kedua tim pada musim 2011/2012 berkesudahan 1-1.

    PSSB sempat membuat kejutan dengan memimpin lebih dulu di babak pertama melalui gol Imanda Putra. Anak Bireun itu mengecoh bek PSBL, lalu mengelabui kiper The Blue Eagle dengan skill individu sebelum mencocor bola ke dalam gawang PSBL yang sudah kosong. Gol yang berkelas.

    Lawan selanjutnya yang siap menguji kualitas PSSB muda di Stadion H Dimoerthala Lampineung adalah Pro Duta asal Kota Medan (6/1). Pro Duta yang sebelumnya berlabel Pro Titan, bertekad untuk unjuk gigi pada musim ini setelah terseok-seok di musim lalu.

    Tidak tanggung-tanggung, untuk mewujudkan keinginan ini, manajemen Pro Duta mengontrak pelatih asal Amerika Latin Roberto Bianchi sebagai headcoach dan menunjuk eks pemain nasional Anshari Lubis sebagai asisten pelatih. Duet pelatih ini akan menjadi jaminan mutu Pro Duta.

    Pro Duta tidak gentar dengan anak muda jebolan Paraguay yang mendominasi skuad PSSB. Bianchi pasti sangat mafhum dengan karakter permainan tim-tim asal Amerika Latin, termasuk Paraguay.

    Bila PSSB bermain ala latin, kehadiran Bianchi tentu menjadi berkah bagi Pro Duta. Bila PSSB memainkan pola alami sepakbola Aceh, pun tidak masalah bagi mereka sebab Uwak, sapaan Anshari Lubis, cukup faham dengan tipikal sepakbola Aceh.

    Persoalan justru terletak pada PSSB muda yang belum familiar dengan tim-tim yang berlaga di Divisi Utama Indonesia. Baru PSBL yang mereka jajali. Sehingga butuh beberapa pertandingan lagi agar Muarif cs. mampu menyesuaikan diri dengan iklim kompetisi yang keras.

    Perbedaan fisik antara punggawa muda PSSB dan tim lain yang menggunakan tenaga senior sebagaimana halnya Pro Duta merupakan masalah tersendiri. Tim pelatih harus menyuntik pemain agar memeragakan permainan yang tidak banyak memerlukan kontak fisik.

    Hati-hati! Semua tim asal kota Medan mewarisi karakter keras menjurus kasar. Sliding tackle menjadi bunga permainan bagi setiap tim metropolitan itu. Bahaya bagi Faumi  cs. yang bermain stylish. Pola rap-rap ala Medan bisa membuat anak PSSB ciut nyalinya.

    Kolektifitas dengan umpan-umpan pendek satu dua adalah solusi yang amat mungkin dipraktikkan. Jangan lupa lakukan itu dengan sabar. Solusi ini bisa jadi mujarab untuk meredam permainan rap-rap ala tim asal provinsi tetangga, seperti Pro Duta.

     

     

     

  • Beda Kelas

    Lukman Emha| Dok. Pribadi

    Andai ditanyakan, setujukah saya alumni Paraguay diajak berlaga di kompetisi Divisi Utama? Jawabannya, tidak! Divisi Utama bukan kelas mereka yang usianya 18/19 tahun. Pilihan menerjunkan mereka ke kancah senior bisa menyuramkan masa depan anak-anak Paraguay.

    So, perkara ini bukan soal Timnas Aceh mewakili PSSB Bireun. Bukan pula karena Gubernur orang Bireun. Bukan masalah Nurdin AR Bupati Bireun mantan GAM, sehingga bisa main klep mata sesama pembesar GAM di Banda Aceh. Ini masalah usia tim Paraguay yang belum layak dimainkan di level senior seperti Divisi Utama.

    Timnas butuh kompetisi benar. Tapi tidak pantas di level senior yang sudah pasti atmosfirnya sangat keras. Timnas Aceh seharusnya bermain di tim junior salah satu klub di Aceh, seperti Persiraja dan PSAP. Lutut anak usia 18 tidak mungkin diadu dengan lutut milik pemain usia 23 ke atas. Rawan cidera.

    Tapi apa boleh buat, palu sudah diketuk. Tim Paraguay resmi mewakili PSSB. Pertandingan akan dilangsungkan di Stadion H Dimoerthala Lampineung sore ini (18/12). Stadion Cot Gapu tidak lolos verifikasi. Lawan pertama PSSB tak lain saudara kandung PSBL Langsa yang telah dipersiapkan secara matang untuk berlaga di kasta kedua sepakbola nasional. Alhamdulillah, Banda Aceh tetap punya tontonan menarik.

    Tapi ingat, penonton jangan ulangi prilaku anarkis di Stadion Harapan Bangsa sebulan lalu, dengan memaki, melempar, dan meludahi pemain Paraguay. Ingatlah ini pertandingan senior lawan junior. Jangan maki adik-adik itu jika tidak mampu mengembangkan permainan atau kalah dengan skor telak. Sebab itu hasil yang lumrah.

    Jalwandi vs Nanda Lubis

    Salah satu sisi menarik dari pertandingan PSSB vs PSBL adalah adu tajam antara striker PSSB, Jalwandi dan Nanda Lubis milik PSBL. Jalwandi striker berbakat dan sangat diandalkan untuk membobol gawang PSBL Secara postur, Jalwandi akan sulit melewati hadangan Elly yang besar dan kuat di jantung pertahanan PSBL. Tetapi, jika punya kesempatan adu sprint, bukan mustahil Jalwandi akan meninggalkan Elly di belakangnya untuk menaklukkan penjaga gawang PSBL.

    Nanda Lubis jelas stiker yang amat berbakat dan sudah berpengalaman bermain di level Divisi Utama. Eks Persiraja musim lalu itu, kini menjadi kolektor gol di kubu PSBL. Bersama tim Elang Biru, Nanda benar-benar menjadi ancaman barisan bawah semua lawan-lawannya. Rahmanuddin yang dipercaya sebagai juru kunci di PSSB bukan hanya harus mewaspadai tendangan dan sundulan Nanda Lubis, tapi juga harus mewaspadai Mamadou. Pemain asal Mali itu punya sundulan mematikan. 55-45 untuk kemenangan PSBL. Kapalo.

  • Menanti Gol dari Lini Depan

    Lukman Emha| Dok. Pribadi

    Tiga pertandingan yang telah dilakoni Persiraja dalam kancah IPL musim 2011/2012, Persiraja baru mendulang 5 gol. Tapi tak satupun gol lahir dari lini depan. Tiga gol milik midfielder Musawir, satu gol milik Djibril, dan satu lagi gol indah milik Gilang Angga. Bagaimana dalam pertandingan sore ini (16/12) menghadapi Bontang FC? Apakah lini depan Lantak Laju tetap mandul? (more…)

  • Kematangan El Pep’s Team

    Lukman Emha| Dok. Pribadi

    Presing Los Blancos terhadap El Blaugrana yang dikhawatirkan entrenador Pep Guardiola ternyata hanya mampu diperankan el Mou’s team kurang dari 20 menit. Sempat dikejutkan oleh Gol Benzema pada menit pertama, el Pep’s team segera keluar dari tekanan dan memeragakan permainan tiki-taka khasnya untuk menyusun skenario kematian bagi tim asal ibu kuta Madrid. Kali ini permainan El Barca lebih atraktif. Merengues pun meringis. (more…)