• About
  • Contact
  • Disclaimer
  • ToU
  • Partnership
Sunday, October 11, 2026
ACEHPUNGO.COM
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya
  • Opini
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya
  • Opini
No Result
View All Result
Acehpungo.Com
No Result
View All Result
Home Sosok

Jejak Eks Panglima GAM Abdullah Syafie di Seuneubok Rawa

Taufik Al Mubarak by Taufik Al Mubarak
10/10/2026
in Sosok
0
Panglima GAM Abdullah Syafie
20
SHARES
91
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

ACEHPUNGO.COM – Suatu hari di tahun 2015, Andi Firdaus, Iskandar Norman, dan saya mengunjungi Seuneubok Rawa, kampung kelahiran Teungku Abdullah Syafie di Peusangan, Bireuen.

Kampung Seuneubok Rawa hanya berjarak sekitar empat kilometer dari Keude Matang Glumpang Dua. Ketika itu jalan penghubung menuju kampung tersebut hanya tiga kilometer saja yang sudah beraspal mulus, sementara satu kilometer lagi masih berupa jalan biasa, penuh kerikil dan berdebu.

READ ALSO

Falevi Kirani: Perjalanan Hidup Seorang Aktivis [Selesai]

Falevi Kirani: Perjalanan Hidup Seorang Aktivis [bagian-2]

Di beberapa bagian masih terlihat bekas aspal yang mengelupas. Di kiri dan kanan jalan, ada bentangan areal persawahan yang luas, bersambung kawasan perbukitan yang teduh dan asri.

Syarifuddin, seorang tukang bengkel di kampung itu, menyambut kami dengan ramah. Kepada kami, ia mengaku sebagai teman masa kecil Teungku Abdullah Syafie, Panglima GAM, yang sangat dihormati.

“Inilah kampung Teungku Abdullah Syafie. Di sini beliau lahir dan tumbuh besar,” katanya. Syarifuddin kemudian membawa kami menemui adik kandung Teungku Abdullah, Fatimah.

Rumah Fatimah berada di sebuah kebun yang tidak jauh dari bengkel Syarifuddin. Kami hanya perlu berjalan kaki beberapa menit melewati jalan setapak. Saat itu, Fatimah sedang bersantai di bale depan rumah bersama Muhammad Husein, seorang guru mengaji.

Salah satu informasi penting yang disampaikan Fatimah adalah tahun kelahiran abangnya. Di makamnya di Blang Sukon, misalnya, Teungku Abdullah ditulis lahir pada 17 Oktober 1947.

Sementara dalam banyak informasi di media ditulis, beliau lahir pada tahun 1952. Tidak ada yang tahu, mana yang benar. Tapi, Fatimah, memiliki keterangan yang berbeda. Menurut dia, abangnya lahir sekitar tahun 1955.

“Saya lahir tahun 1958, kakak perempuan saya lahir tahun 1952, dan Teungku lahir tahun 1955,” kata Fatimah dalam bahasa Aceh yang fasih.

Menurutnya, tahun yang tertulis di makam Teungku Abdullah di Blang Sukon, itu keliru. Tidak benar. “Tahun 1947 ditulis di makam. Mana mungkin sudah lebih tua Tgk dengan gurunya,” ujarnya. Sosok yang disebut guru adalah Muhammad Husein, guru mengaji masa kecil Teungku Abdullah.

Dalam beberapa kali kenduri mengenang Teungku Abdullah, Fatimah mengaku sering ditanya tentang tanggal lahir abangnya itu. “Saya sampaikan bahwa tahun yang ditulis itu salah besar. Beliau (Teungku Abdullah, red) lahir tahun 1955,” ceritanya.

Tapi, karena sudah terlanjur tercetak di makam dan tak mungkin diubah lagi, Fatimah memilih pasrah. Pun begitu, ia berharap suatu saat ada upaya untuk mengubah keterangan tahun lahir pada makam, sehingga sejarah lahir Teungku Abdullah bisa diluruskan.

Fatimah adalah adik kandung seibu dan seayah dengan Teungku Abdullah. Mereka tiga bersaudara. Tapi Teungku Abdullah memiliki seorang abang seibu dan lain ayah. Namanya Zakaria Suud atau akrab disapa Pak Z. Dia pernah dijemput TNI dengan helikopter seusai Teungku Abdullah tertembak di Cubo untuk memastikan mayat yang ditembak itu adalah adiknya.

Meski Teungku Abdullah lahir di Seuneubok Rawa, Peusangan, tapi sebenarnya ibu kandung Teungku Abdullah, Ti Hawa, berasal dari Gampong Tumpuen, Kembang Tanjong, Kabupaten Pidie. Sementara ayahnya, Teungku Syafie, berasal dari Banda Aceh.

Pada tahun 1981, Teungku Abdullah meninggalkan kampungnya di Seuneubok Rawa setelah pamit pada keluarga besarnya. Fatimah mengenang, saat itu 15 Syakban sekitar tahun 1981. Sehari sebelumnya, Teungku Abdullah mendapat kabar Habib Arbi di Bireuen ditangkap oleh tentara. “Apa kegiatan Habib Arbi, saya tidak tahu persis,” katanya.

Hanya saja, Habib Arbi dikenal sebagai pembuat jamu Cap Tupe, merek terkenal ketika itu. Konon, di sela-sela menjual jamu, Habib kerap mengkritik pemerintah. Diketahui Habib Arbi dan Teungku Abdullah sempat berjualan obat bersama. Setelah Habib ditangkap, Teungku Abdullah merasa tidak aman lagi berada di kampung.

“Siapa saja yang tanya saya ke mana, bilang saja jual obat,” kata Fatimah meniru ucapan abangnya.

Sejak itu, Fatimah tak pernah lagi mendengar kabar abangnya. Namun, pada tahun 1989, Teungku Abdullah pernah pulang sekali. “Sesudah itu menghilang lagi,” katanya. Tahun 1989 merupakan awal mula pemerintah memberlakukan operasi jaring merah atau status daerah operasi militer (DOM) di Aceh.

Lalu, bagaimana kisah awal Teungku Lah (Teungku Abdullah) masuk dalam barisan Aceh Merdeka? Teungku Lah yang lahir dua tahun setelah meletus pemberontakan Darul Islam Tentara Islam Indonesia (DI/TII) Aceh pimpinan Daud Beureueh, sangat mengidolakan Teungku Hasan di Tiro. Cucu Teungku Syik di Tiro itu banyak memberikan inspirasi baginya. Di beberapa kesempatan, Teungku Lah selalu mengutip kata-kata yang pernah disampaikan Hasan Tiro itu.

“Almukaram Wali Neugara pernah berkata: While man powerless to change his past, he still the master of his future. Because his future is largely determined by his present intention and action. (Ketika seseorang tak berdaya mengubah masa lalunya, ia masih berkuasa atas masa depannya. Karena masa depannya ditentukan oleh niat dan tindakannya hari ini).” Kata-kata itu begitu membekas dalam ingatannya.

Dalam banyak pemberitaan, Teungku Lah disebut terlibat dalam Gerakan Aceh Merdeka (GAM), sehari sebelum Hasan Tiro memproklamirkan gerakan itu di Gunung Halimon. Adiknya, Fatimah meyakini, Teungku Lah sudah terlibat di masa-masa awal persiapan.

“Tapi tahun 1976 Teungku sudah di dalam barisan,” sebut Fatimah. Memang, sepak terjangnya tak ada yang tahu ketika itu.

Di masa-masa itu, Teungku Lah lebih banyak menyampaikan soal Aceh Merdeka dari mulut ke mulut. Apalagi, dia berprofesi sebagai pedagang obat keliling. Syarifuddin, warga Seuneubok Rawa, yang kerap mengantar Teungku Lah saat pulang kampung, masih mengingat bentuk tas yang dibawa Teungku Lah.

“Warna tas Teungku agak merah. Bentuknya persegi empat dengan ketebalan sekitar sejengkal jari tangan orang dewasa,” kenangnya. Di dalam tas itu bisa muat botol obat. Cara buka kuncinya harus ditekan secara bersama-sama di kedua sisi. Jamu yang sering dijual Teungku Lah adalah jamu Cap Tupe.

Hal lain yang diingat Syarifuddin adalah Teungku Lah memiliki kemampuan karate. Di Alue Kuyuen, Peusangan, Teungku Lah sering mengajari anak-anak bermain silat. “Teungku Lah belajar karate dari Muhammad Nur, dari Paya Reuhat,” katanya.

Sosok yang cukup populer di Aceh sepanjang 1999 sempat diisukan seorang desertir RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat). Sebuah media terbitan Jakarta mensinyalir dia sebagai ‘binaan’ seorang jenderal di Jakarta. Suatu ketika, Abdullah Syafie tampak geram ketika ditanyakan soal isu yang dilansir salah satu media di Jakarta yang menyebut dirinya desertir RPKAD tahun 1976. “Ayah saya sangat anti-TNI. Sejak kecil saya sudah dilatih bermain dengan parang. Usia 23 saya gabung dengan Wali Negara Aceh, Dr Teungku Muhammad Hasan di Tiro,” ujarnya saat itu.

Menurutnya, TNI sengaja melansir isu ini untuk memecah-belah rakyat Aceh. Apalagi RPKAD yang kemudian berubah menjadi Kopassus, sangat dibenci rakyat akibat kebiadabannya di Aceh selama masa DOM (daerah operasi militer) antara tahun 1989-1998.

Sekitar tahun 1980-an, Teungku Lah menikahi Cut Fatimah, seorang wanita asal Cubo. Wanita yang disapa Pocut Fatimah itu masih memiliki hubungan family dengan Teungku Lah. “Keluarga dari istrinya masih saudara dengan ayah,” cerita Fatimah, adik Abdullah Syafie.

Kisah cinta Teungku Lah sampai menikah dengan gadis Cubo itu termasuk unik. Awalnya, Teungku Lah datang ke Blang Sukon, Cubo untuk berjualan obat sambil mencari sanak-keluarganya di sana. “Selain menjual obat, Teungku juga mencari jejak tali waris saat itu,” kata Fatimah.

Sebagai istri, Cut Fatimah, selalu setia mendampingi Teungku Lah, bahkan hingga ajal menjemput. Di masa Daerah Operasi Militer (DOM), ia pernah ditangkap TNI. Ketika mereka syahid pada 22 Januari 2002, Pocut Fatimah sedang hamil enam bulan. Sudah cukup lama mereka mendambakan seorang anak, tapi Allah belum juga memberi keturunan untuk mereka.

Selagi menunggu kelahiran bayi pertama mereka, Tgk Lah, Pocut Fatimah, dan beberapa pengawalnya terjebak kontak senjata dengan TNI di hutan Jim-jim Alue Mon, Cubo, pada 22 Januari 2002. Mereka meninggal, dimakamkan di Gampong Blang Sukon Cubo, Pidie Jaya. []

NOTE: Tulisan ini sudah pernah tayang di KUMPARAN.COM/ACEHKINI

Related Posts

M Rizal Falevi Kirani
Sosok

Falevi Kirani: Perjalanan Hidup Seorang Aktivis [Selesai]

12/04/2019
Falevi Kirani
Sosok

Falevi Kirani: Perjalanan Hidup Seorang Aktivis [bagian-2]

10/04/2019
Khairullah DPR RI
Sosok

Khairullah: Saya Tidak Berpolitik Tulak Moto Brok

04/04/2019
Falevi Kirani
Sosok

Falevi Kirani: Perjalanan Hidup Seorang Aktivis

06/04/2019
Senyawa Meulungkop Kanot Bu, Laporan Diskusi Dengan Senyawa di Bivak Emperoom
Sosok

Senyawa Meulungkop Kanot Bu, Laporan Diskusi Dengan Senyawa di Bivak Emperoom

07/03/2026
Miftahul Jannah, Hijaber Aceh di Arena Judo
Sosok

Miftahul Jannah, Hijaber Aceh di Arena Judo

15/10/2018
Next Post
Akun CEO Twitter Jack Dorsey Diretas

Akun CEO Twitter Jack Dorsey Diretas

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

POPULAR NEWS

ilustrasi ancaman keamanan kripto

Waspadai Serangan AI dan Eksploitasi Kontrak Cerdas di 2025

08/05/2026

iPhone 18 Pro Kantongi TKDN dan Postel, Kapan Resmi Dijual di Indonesia?

30/09/2026

Bill Gates: AI Cukup Kuat untuk Picu Kematian Satu Miliar Orang, Serukan Regulasi Pemerintah

28/09/2026
Xiaomi 18 Pro Dipastikan Rilis Global, Apakah Indonesia Kebagian?

Xiaomi 18 Pro Dipastikan Rilis Global, Apakah Indonesia Kebagian?

05/10/2026

Blog dan Steemit, Mana yang Lebih Menguntungkan?

30/04/2018

EDITOR'S PICK

Harga Pi Network saat listing

Harga Pi Network Saat Listing: Apakah Lebih Baik Dijual?

21/02/2025
game of thrones

Game of Thrones 8 Spoiler: Daenerys Targaryen ‘Nikahi’ Jorah Mormont, Bukan Jon Snow

07/05/2019

Bank Data DNA Identifikasi Migran Hilang

14/11/2011
YouTube SEO untuk Pemula

YouTube SEO untuk Pemula: 10 Praktik Terbaik untuk Memulai

07/03/2026

About

ACEHPUNGO.COM dengan motto Galak-galak Kutak Sigo adalah situs berita gaya hidup untuk milenial Indonesia

Follow us

Categories

  • Budaya
  • Edukasi
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Inforial
  • Internasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Nanggroe
  • Nasional
  • News
  • Olahraga
  • Opini
  • Politik
  • Sosok
  • Teknologi

Recent Posts

  • Xiaomi 18 Pro Dipastikan Rilis Global, Apakah Indonesia Kebagian?
  • Malware MacSync Mengincar Pengguna Mac: Aplikasi Palsu, Backdoor, dan Trik Kalender iCloud
  • Pengembang Data Center Tawarkan Rp180 Juta per Rumah di Pennsylvania, Mengapa Warga Tetap Menolak?
  • WhatsApp Uji Tampilan Baru di Android, Tombol Meta AI Masuk Navigation Bar

Newsletter

  • About
  • Contact
  • Disclaimer
  • ToU
  • Partnership

© 2026 AP.com - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya

© 2026 AP.com - All Rights Reserved.