Mengenal Nanda Feriana Lebih Dekat

1
166

ACEHPUNGO.COM – Nama Nanda Feriana lagi ramai dibicarakan di media sosial, dan diulas sejumlah media. Status Facebook yang ditulisnya, “Sepucuk Surat untuk Ibu Lulusan Jerman” pada 27 September 2016 lalu menjadi viral. Mahasiswi Universitas Malikussaleh (Unimal) ini kemudian dilaporkan ke polisi oleh Sekretaris Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh Dwi Fitri, menggunakan Undang-undang Internet dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Atas laporan Dwi Fitri, ibu dosen lulusan Jerman itu, aparat Kepolisian Polres Lhokseumawe meminta keterangan Nanda Feriana pada Rabu, 19 Oktober 2016. Dalam pemeriksaan sebagai saksi itu, Nanda dicecar sekitar 20-an pertanyaan seputar curhatan di akun Facebook miliknya. Ia menjalani pemeriksaan dari pukul 10.00 WIB hingga pukul 21.30 WIB. Polisi juga mengembangkan kasus ini dengan memeriksa 8 orang saksi. Jejaring sosial pun kemudian ramai dengan tagar #SaveNandaFeriana yang kemudian ikut jadi viral.

Lalu, siapakah sebenarnya Nanda Feriana itu? Dara yang lahir di Krueng Geukueh, Dewantara pada 4 Februari 1993 ini adalah buah perkawinan pasangan almarhum Hamdani dan Syarkiah. Dia merupakan alumni SMA Negeri 1 Dewantara, yang kemudian melanjutkan kuliah ke Universitas Malikussaleh, mengambil jurusan Ilmu Komunikasi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) di kampus tersebut.

Nanda Feriana
Nanda Feriana

Di kampusnya, Nanda Feriana dikenal sebagai mahasiswi yang aktif. Dia banyak terlibat dalam kegiatan kemahasiswaan, dan aktif di pers kampus. Untuk mengasah kemampuan menulisnya, dia bergabung dengan Sekolah Demokrasi Aceh Utara. Di Sekolah Demokrasi Aceh Utara itu, Nanda Feriana merupakan angkatan III pada sekolah yang dipimpin oleh Edi Fadhil, aktivis sosial yang dikenal sebagai motor program Cet Langet itu.

Edi Fadhil yang aktif mengampanyekan #SaveNandaFeriana mengaku kenal dengan inisiator gerakan kerelawanan Jaroe Aceh, karena rihatin dengan kondisi pendidikan adik-adik yang bersekolah di pedalaman. “Melalui Jaroe Aceh, Nanda dan kawan-kawannya secara periodik mengunjungi sekolah sekolah di pedalaman Aceh Utara untuk berbagi inspirasi dengan adik adik,” tulis Edi Fadhil di akun Facebook miliknya, sebagai bentuk dukungan untuk sahabatnya itu. Apalagi, Nanda sudah terlibat membantu sebagai bendahara Gerakan Beasiswa berbasis Facebook, Gerakan Mari Sekolah (GMS) yang juga digagas Edi Fadhil dan kawan-kawan. “Nanda-lah yang tiap bulan mengirimkan beasiswa ke-156 anak dampingan GMS sampai terakhir minta off sebentar karena sedang fokus menulis skripsi,” lanjutnya.

Dunia tulis-menulis itu didalaminya secara lebih serius saat bergabung dengan salah satu media online, The Globe Journal, yang berkedudukan di Banda Aceh. Sebagai wartawan magang (on the job training), dia banyak meliput isu seputar kampus dan peristiwa lainnya di wilayah Lhokseumawe dan Aceh Utara.

Tahun 2013, saat masih magang di The Globe Journal, Nanda Feriana memenangkan lomba sayembara menulis “Investasi di Mataku” sebagai pemenang pertama lewat tulisannya berjudul “Mewujudkan Investasi Aceh yang Demokratis” pada kategori mahasiswa.

Tak hanya itu, kemampuan menulis Nanda Feriana kian diperhitungkan setelah meraih juara kedua lomba menulis essay “Pembangunan Aceh; Pendidikan, Kesehatan dan Infrastruktur” yang diselenggarakan oleh Public Expenditure Analysis and Capacity Strengthening Program (PECAPP) pada tahun 2014. Essay dara cantik itu berjudul “Menggugat Realita Pembangunan Aceh” yang menang pada kategori pemuda/mahasiswa.

Kepeduliannya pada isu-isu sosial, pernah mengantarkan wartawati muda itu sebagai Duta Forum Indonesian Youth Conferences (IYC) tahun 2014 mewakili Aceh. Dia terpilih bersama 33 anak muda lainnya di seluruh Indonesia. IYC sendiri merupakan program tahunan dari Perkumpulan Sinergi Muda yang bertujuan mengenalkan anak muda kepada isu-isu sosial di sekitarnya, serta menghubungkan anak muda dengan berbagai komunitas untuk berafiliasi dalam mengembangkan minat mereka merealisasikan mimpi bersama.

Bahkan pada tahun 2015 lalu, kerja-kerjanya di bidang gerakan sosial membuatnya didapuk sebagai kader Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Aceh terbaik untuk kategori pemuda berprestasi.

Nanda Feriana

Kini, dara yang aktif menulis itu harus berurusan dengan hukum, gara-gara status Facebook-nya, “Sepucuk Surat untuk Ibu Lulusan Jerman”. Kita berharap semoga masalah yang melilit dirinya dengan Sekretaris Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh, Dwi Fitri, segera cepat selesai. [diolah dari berbagai sumber]

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here