JAKARTA, ACEHPUNGO.COM – NorthPoint Development menawarkan US$10.000 (sekitar Rp180 juta) per rumah tangga di Hazle Township, Pennsylvania, untuk meredam penolakan data center.
Ledakan AI membuat kebutuhan data center melonjak, tetapi warga di sekitar lokasi proyek tidak selalu menyambutnya. Di Amerika Serikat, pengembang **NorthPoint Development** menawarkan US$10.000, atau sekitar Rp180 juta, kepada setiap rumah tangga yang memenuhi syarat di Hazle Township, Pennsylvania. Tawaran itu muncul di tengah penolakan terhadap rencana kompleks data center raksasa bernama Project Hazelnut.
Uang tersebut tidak langsung dibagikan. Menurut situs resmi proyek, pembayaran baru dilakukan setelah gedung data center pertama memperoleh sertifikat layak huni (certificate of occupancy), yang diperkirakan tercapai akhir 2027. Total bantuan langsung kepada warga mencapai US$45 juta, ditambah investasi US$120 juta bagi komunitas setempat.
Sejumlah warga disebut siap menolak uang itu. Kekhawatiran utama mereka adalah kebisingan yang akan berlangsung bertahun-tahun dan potensi turunnya nilai properti. Seorang pensiunan guru, dalam kutipan The Wall Street Journal, menilai US$10.000 tidak sebanding dengan kerugian nilai rumahnya. Pada Juni, pemerintah setempat menyetujui moratorium pembangunan data center selama 180 hari untuk membuka waktu pembaruan aturan zonasi.
Data center membutuhkan lahan luas, listrik besar, dan sistem pendingin yang dalam beberapa fasilitas juga memakan air. Di sisi lain, layanan AI generatif dan agen AI terus mendorong kebutuhan komputasi, sehingga pembangunan pusat data makin masif. Laporan CNBC Indonesia pada Agustus 2026 menyebut isu ini bahkan menjadi bahan politik di AS menjelang pemilu sela, dengan sejumlah negara bagian mengetatkan aturan, termasuk Pennsylvania yang mewajibkan persetujuan pemerintah daerah lebih dulu.
Indonesia juga sedang menarik investasi pusat data. Menurut IDPRO, asosiasi industri pusat data, membangun 1 MW kapasitas kini membutuhkan sekitar US$10 juta, sehingga fasilitas 100 MW bernilai sekitar US$1 miliar (sekitar Rp18 triliun), belum termasuk lahan dan biaya operasional. Dengan skala seperti itu, transparansi soal kebutuhan listrik dan air serta komunikasi dengan warga sekitar patut dipikirkan sejak awal.
Kasus Hazle Township menunjukkan bahwa infrastruktur AI tidak hanya butuh modal dan listrik, tetapi juga penerimaan masyarakat. Kompensasi besar belum tentu cukup jika warga merasa hidupnya terganggu.
Sumber: CNN Indonesia, CNBC Indonesia, Kontan








