Articles for author: Diyus

Diyus

Pertemuan dengan 2 Manusia Paling Sia-Sia

Masih tentang janji. Masih tentang ngopi. Masih tentang temu. Masih tentang pikir. Ringkasnya, masih tentang janji-temu dalam perjamuan kopi yang membahas pemikiran. Bermula dari sebuah kekuatan panggilan dari lelaki yang semestinya lebih tepat dipanggil Ria, sebab nama aslinya Riazul Iqbal. Mungkin kesan feminin dalam panggilan Ria membuat ia bekerja keras meyakinkan dunia –yang entah bagaimana– ...

Diyus

Serenade Kopi 3 Perempuan Merah

Segala yang bernyawa akan mengalami mati! Itu sebab, segala yang berpikir akan mengalami suntuk. Maka, saat Fara mengajakku ngopi dengan standard waktu dan tempat yang belum tertentu, aku langsung sepakat. Meski secara empiris, cuma Ihan Sunrise-lah Steemiawati yang belum pernah mengecewakan soal janji ngopi. FYI: Ihan Sunrise baru sekali mengajakku ngopi. Reputasinya masih 100% wokeh ...

Diyus

Ronaldinho, Lebah Proletar Negeri Samba

Atmosfer Stadion Luzhniki tampak bertabur warna, gemuruh, bising dan kilau. Semarak dan riang. Aida Emilevna Garifullina, sopranis setempat melantunkan Kalinka, lagu rakyat yang ditulis Tahun 1860 oleh Ivan Larionov, diiringi koor anak-anak tuan rumah. Lagu yang mengisahkan keindahan tumbuhan yang dalam Bahasa Russia disebut Kalinka (Viburnum Opulus). Sejenis perdu beri-berian yang berbunga seputih salju dan ...

Diyus

Aroma El Clasico di Laga Puncak

Sepatah katapun belum kutulis sejak peluit awal pertandingan pertama Piala Dunia FIFA 2018. Sejak awal aku menonton. Saat itu pertandingan antara Russia melawan Arab Saudi. Pertandingan pertama Piala Dunia Sepakbola FIFA kutonton 1990, saat itu Italia bertindak sebagai Tuan Rumah. Laga final mempertemukan Jerman Barat yang berhadapan dengan Argentina. Argentina kalah. Belum ada teknologi-hukum VAR ...

Teknologi Sambel Terasi α Teknologi Nuklir

Menurut Matematika, tanda α (alpha) berarti sebanding. Telah kutemukan sebuah kesimpulan bahwa Teknologi Sambel Terasi sebanding dengan Teknologi Nuklir. Jika boleh jujur, secara subjektif aku malah menganggap Sambel Terasi lebih mendominasi hidupku ketimbang Teknologi Nuklir. Ini soal empirisme subjektif. Kadar kebenarannya tak dogmatis, tak juga berani kubilang akademis. Aku sekedar mencoba realistis menilai dampak kedua ...