Bakteri Superbugs Bunuh 33.000 Orang di Eropa Setiap Tahun

0
51
bakteri superbugs
Ilustrasi bakteri superbugs (foto: dw.com)

ACEHPUNGO.COM – Sebuah lembaga penelitian di Eropa merilis sebuah laporan yang menyebutkan bahwa bakteri superbugs telah membunuh sekitar 33.000 orang di Eropa setiap tahunnya.

Menurut Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC), kematian tersebut terjadi setelah korban terinfeksi superbugs, sebuah bakteri yang resisten terhadap antibiotik. Infeksi patogen–berdasarkan jumlah kasus, sebab kematin, dan cacat hidup–dari superbugs setara dengan flu, tuberkulosis dan HIV/AIDS.

ECDC yang melakukan penelitian menyebutkan, kematian itu datang sebagai “konsekuensi langsung dari infeksi karena bakteri resisten terhadap antibiotik,” menurut penulis laporan itu, yang diterbitkan dalam Lancet Infectious Diseases pada Senin (5/11/2018).

Para ilmuwan percaya bahwa sekitar 70% bakteri yang menyebabkan infeksi sudah resisten terhadap setidaknya satu antibiotik yang seharusnya digunakan untuk memeranginya. Ini telah menyebabkan perkembangan superbug–bakteri yang menjadi resisten terhadap antibiotik utama yang digunakan terhadap mereka–yang menghadirkan ancaman besar terhadap perawatan kesehatan global.

Studi ini berfokus pada lima jenis infeksi yang disebabkan oleh bakteri resisten antibiotik di Uni Eropa dan di Wilayah Ekonomi Eropa.

Tiga perempat dari mereka yang terkena dampak adalah karena infeksi terkait kesehatan. Dengan kata lain, orang-orang jatuh sakit saat dirawat di fasilitas medis. Oleh karena itu, para ilmuwan percaya dampak dari superbug ini dapat dikurangi secara dramatis melalui “langkah pencegahan dan pengendalian infeksi yang memadai, serta penatalaksanaan antibiotik,” menurut laporan tersebut seperti dikutip dari CNN.com, Selasa (6/11/2018).

Secara geografis, kondisi paling buruk ditemukan di Italia dan Yunani, dengan sekitar sepertiga dari kematian yang tercatat terjadi di Italia. Sementara tingkat infeksi lebih rendah ada di negara-negara Eropa utara. Di Jerman, misalnya, hanya ada kurang dari 55.000 infeksi patogen yang resistan terhadap obat dan hampir 2.400 kematian.

“Bahkan jika seseorang menganggap populasi besar dan penuaan, patut dicatat bahwa sekitar sepertiga dari kematian karena infeksi dengan bakteri resisten antibiotik di Uni Eropa dan EEA berada di Italia,” kata para peneliti dari ECDC.

Penelitian menemukan bahwa korban termasuk orang-orang dari segala usia, meskipun bayi dan orang tua terbukti paling rentan terhadap infeksi.

“Infeksi karena bakteri resisten antibiotik mengancam kesehatan modern,” tulis para peneliti. Mereka melacak peningkatan yang signifikan sejak dari 2007, ketika ada sekitar 25.000 kematian.

Para peneliti menekankan bahwa mengatasi tantangan kesehatan yang sangat besar ini akan membutuhkan koordinasi di tingkat Uni Eropa dan global, serta “strategi pencegahan dan kontrol yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing negara.”

Di Indonesia, virus superbugs sempat heboh setelah menyerang artis Nadia Vega yang sempat tinggal di Singapura setelah menikah dengan pria asing, Sultan Yaar Jorik Dozy. Karena virus tersebut, Nadia harus menjalani operasi hingga 3 kali agar bakteri superbugs hilang dari tubuhnya. Bahkan, selama masa penyembuhan, artis cantik itu tidak dibolehkan keluar rumah, karena superbugs dapat menular pada orang lain. []

CNN, DW

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here