Mahasiswa Tolak Pembangunan Hotel Best Western

    0
    222

    Banda Aceh-Puluhan mahasiswa dari IAIN Ar-Ranirry Banda Aceh, melakukan aksi demonstrasi di gedung DPRK dan kantor Walikota. Aksi ini dilakukan mahasiswa tersebut, guna menolak pembangunan hotel di depan Masjid Raya Baiturrahman, Kamis (12/1).

    Presiden Mahasiswa IAIN Ar-Ranirry Fakhrul Radhi, dalam unjuk rasa tersebut mengatakan hotel yang dibangun di depan Masjid Raya Baiturrahman itu sangat tidak layak. Pasalnya, kata Fakhrul, jika hotel tersebut dibangun, sama saja memberi peluang melakukan praktik maksiat. Ironisnya lagi, praktik maksiat itu terjadi di dekat sebuah masjid yang memiliki nilai historis bagi rakyat Aceh.

    “Pemerintah Kota Banda Aceh sepertinya tidak mampu memberantas maksiat yang terjadi di sejumlah hotel di ibu kota Provinsi Aceh. Kalau hotel ini tetap dibangun, siapa yang berani menjamin di tempat itu tidak terjadi praktik asusila. Tidak seorang pun. Ini jelas mencoreng Syariat Islam di Aceh,” katanya.

    Selain hotel, mahasiswa juga menolak pembangunan mall di belakang Masjid Raya Baiturrahman karena akan mematikan pedagang kecil di Pasar Atjeh.

    “Pasar Atjeh merupakan pasar tradisional terbesar dan telah menjadi identitas Kota Banda Aceh. Kehadiran mal tersebut akan memonopoli perdagangan, sehingga pedagang tradisional dengan sendirinya mati,” katanya.

    Ketua Komisi A DPRK Banda Aceh Amrunsyah Yahya yang menemui pengunjuk rasa berjanji akan menindaklanjuti aspirasi mahasiswa dan menyampaikannya dalam sidang dewan.

    “Secara pribadi, saya menolak pembangunan hotel di depan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Kalau ini dibahas di dewan, saya menjadi orang pertama yang menolaknya,” ujarnya.

    Usai mendengar pernyataan tersebut, mahasiswa IAIN meninggalkan gedung dewan dan beranjak ke Balai Kota Banda Aceh, yang jaraknya sekitar 50 meter dari tempat itu.

    Di balai kota, pengunjuk rasa juga menyampaikan penolakan terhadap pembangunan hotel maupun mal di dekat Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.

    Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh T Saifuddin yang menemui pengunjuk rasa mengatakan pemerintah kota tidak pernah mengeluarkan izin pembangunan hotel maupun mal di dekat Masjid Raya.

    “Aspirasi mahasiswa akan kami pertimbangkan jika nanti ada pihak yang mengurus perizinan pembangunan hotel tersebut. Termasuk jika ada penolakan serupa dari pihak lain,” kata dia.

    Aksi mahasiswa tersebut mendapat pengawalan ketat puluhan personel Polresta Banda Aceh. Unjuk rasa mahasiswa itu sempat menarik perhatian pegawai di DPRK maupun kantor Walikota Banda Aceh.

    Massa mahasiswa IAIN Ar Raniry Banda Aceh tersebut akhirnya membubarkan diri saat azan shalat zuhur berkumandang. Mereka membubarkan diri dengan tertib menuju Masjid Raya Baiturrahman.[red/ant]