Author: Muhadzdzier M Salda

  • Sekolah Remaja Aceh Bikin Video Diary

    Dok. Sekolah Remaja Aceh

    Yayasan Kampung Halaman Jogjakarta bekerja sama dengan Komunitas Tikar Pandan  menyelenggarakan Sekolah Remaja 2011 di Episentrum Ulee Kareng, Banda Aceh selama sebulan. Sekolah Remaja Aceh 2011 dimulai sejak 22 November 2011 hingga 22 Desember 2011. Peserta sekolah non-formal itu berasal dari kalangan mahasiswa dan siswa SMA di Banda Aceh yang berjumlah 19 orang. (more…)

  • Forum Muallaf Aceh Terbentuk

    Banda Aceh –  Dinas Syariat Islam (DSI) Aceh resmi membantuk Forum Muallaf Aceh (Formula), Rabu (14/12) di Hotel Diana, Banda Aceh. Forum tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan persaudaraan dan persatuan sesama muallaf.

    (more…)

  • Antisipasi Ajaran Sesat, DSI Akan Bina Muallaf

    Banda Aceh – Guna meningkatkan pemahaman dan pengetahuan tentang Syariat Islam, ratusan muallaf di Aceh dibekali pelatihan khusus oleh Dinas Syariat Islam (DSI) Aceh. Ini penting untuk dilaksanakan mengingat muallaf, belum seluruhnya memahami tentang ajaran-ajaran Islam meskipun mereka sudah mampu membentuk keluarganya dalam ranah lingkungan Islam serta membendung pengaruh ajaran sesat yang kian marak di Aceh. (more…)

  • Mahasiswa Aceh Gelar Aksi Solidaritas Sondang

    Banda Aceh – Aktivis mahasiswa Aceh akan menggelar aksi diam dan teaterikal untuk Sondang di Simpang Lima Banda Aceh, Senin (12/12) malam.

    Aksi itu sebagai bentuk solidaritas kepada Sondang Hutagalung, mahasiswa Universitas Bung Karno yang meninggal dalam aksi bakar diri di depan Istana Merdeka pada Rabu, 7 Desember lalu.

    “Kita mengundang kawan-kawan untuk dapat bersolidaritas untuk kawan kita SONDANG dalam aksi diam sekaligus teatrikal dan bagi-bagi selebaran di Simpang Lima Banda Aceh jam 19.30 WIB. Pakai baju hitam. Sebarkan ya”. Demikian bunyi pesan selular dari Rahmat, mahasiswa Fakultas Teknik Unsyiah yang masuk ke redaksi AcehCorner.Com yang diterima sore ini.

    Sementara Rahmat mengatakan, Sondang adalah potret kehidupan mahasiswa tanah air yang kecewa terhadap sistem pengelolaan negara yang salah kaprah.

    “Apa yang dilakukan sondang adalah wujud dari akumulasi kekecewaan dan sikap protes terhadap rezim yg korup,” pungkasnya.[]

  • Darni dan Ahmad Fauzi Dinyatakan Mampu Baca Quran

    Banda Aceh – Dewan juri uji mampu membaca al-Quran
    menyatakan pasangan bakal calon gubernur dan wakil gubernur Darni M.
    Daud dan Ahmad Fauzi, lulus. Keduanya dinilai mampu membaca al-Quran
    setelah diuji di depan publik Senin (12/12) pagi.

    Ketua Kelompok Kerja Fasilitasi Uji Baca Quran Komisi Independen
    Pemilihan (KIP) Aceh Akmal Abzal mengatakan, Senin pagi kedua kandidat
    mengikuti tes baca Quran yang digelar di Masjid Raya Baiturrahman
    Banda Aceh.

    “Kedua calon ini dinyatakan mampu –dewan juri mencoret tidak mampu di
    formulir– membaca Quran,” ujar Akmal Abzal kepada wartawan di Media
    Center KIP Aceh, Senin (12/12) sore.

    Uji Baca Quran ini dinilai oleh tiga dewan juri yaitu Teungku Jailani
    Mahmud, Teungku Ridwan Johan, dan Teungku Abussabki Abbas. Dewan juri
    ini berasal dari unsur Majelis Permusyawaratan Ulama, Kantor
    Kementerian Agama Wilayah Aceh, dan Lembaga Pendidikan dan Tahfidh
    Quran (LPTQ).

    Seperti halnya tiga pasang kandidat yang telah menjalani uji baca
    Quran sebelumnya, pasangan Darni dan Ahmad Fauzi juga dinilai dari
    segi tajwid (bobot nilainya 50 poin), fasahah (30 poin) dan adab (20
    poin).

    Ahmad Fauzi mendapat giliran pertama membaca Quran. Ia membaca tiga
    ayat di Surat Ali Imran, tiga ayat di Surat Al-Syura, dan satu surat
    di Juz 30 (Amma), yaitu Al-Tin.

    Sementara Darni M. Daud mendapat giliran kedua. Darni membaca tiga
    ayat di Surat Ali Imran, tiga ayat di Surat Al-Qashash, dan Surat
    Al-Dhuha di Juz 30.

    Akmal Abzal menyebutkan, pasangan Darni-Ahmad merupakan kandidat yang
    mendaftar setelah adanya putusan sela Mahkamah Konstitusi yang
    memerintahkan KIP membuka kembali masa pendaftaran calon. Jadi, untuk
    pemilihan gubernur ada empat pasang bakal calon.

    Menurut Akmal, uji baca Quran merupakan salah satu syarat yang harus
    dipenuhi kandidat untuk bisa lolos sebagai calon yang akan bertarung
    pada pemilihan Februari 2012.

    “Keempat calon telah resmi dinyatakan lulus atau mampu membaca Quran,”
    kata Akmal Abzal. “Uji baca al-Quran ini dilakukan secara objektif.”

    Sementara itu, uji baca Quran juga dilakukan KIP di daerah. Sebab, ada
    lima pasang kandidat yang mendaftar setelah adanya putusan sela
    Mahkamah Konstitusi. Kelima daerah itu adalah Pidie, Simeulue, Aceh
    Utara, Aceh Barat Daya, dan Aceh Singkil.

    Akmal menyebutkan, KIP Simeulue telah melaksanakan uji baca Quran
    terhadap pasangan Mawardi Nasra-Mualim MA. Keduanya dinyatakan lulus.
    KIP Aceh Singkil juga telah melaksanakan tes baca Quran untuk kandidat
    Subkiyadi dan Zainal Abidin. Hal serupa juga dilakukan KIP Aceh Barat
    Daya. “Semua kandidat di tiga daerah ini dinyatakan lulus uji baca
    Quran,” kata Akmal.

    Hanya Aceh Utara dan Pidie yang belum melaksanakan uji baca Quran. Di
    Aceh Utara, KIP terkendala masalah anggaran. Sebab, KIP Aceh Utara
    hanya menetapkan satu kali saja untuk uji baca Quran.
    Sementara di Pidie, masalah yang dihadapi karena Komisi Pemilihan di
    sana telah mengusulkan penundaan pemilihan kepada KPU Pusat. “Uji baca
    Quran belum ada titik temu di Pidie,” lanjutnya.

    Setelah uji baca Quran, KIP Aceh akan melaksanakan tes kesehatan yang
    akan diikuti enam pasang kandidat yang mendaftar setelah putusan sela
    Mahkamah Konstitusi. Mereka akan mengikuti tes kesehatan di Rumah
    Sakit Umum Zainoel Abidin Banda Aceh pada Selasa, 13 Desember 2011.
    Tes kesehatan akan dilakukan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Aceh.

    Sekedar informasi, keenam pasang kandidat itu adalah: Darni M.
    Daud-Ahmad Fauzi (kandidat gubernur/wakil gubernur Aceh),
    Fadhlullah-Ramzi (bakal calon bupati dan wakil bupati Pidie), Mawardi
    Nasra-Mualim MA (bakal calon bupati dan wakil bupati Simeulue),
    Subkiyadi-Zainal Abidin (bakal calon bupati dan wakil bupati Aceh
    Singkil), Fadli Ali, SE-Suryadi Razali, SE (bakal calon bupati dan
    wakil bupati Aceh Barat Daya), dan Misbahul Munir-Muksalmina (bakal
    calon bupati dan wakil bupati Aceh Utara).

  • Kutubuku Akan Gelar Diskusi Buku Hasan Tiro

    Banda Aceh – Kelompok anak muda dan mahasiswa yang bergabung dalam Klub Diskusi Kutubuku kembali menggelar diskusi buku edisi bulan Desember. Kali ini, mereka akan membedah buku Demokrasi Untuk Indonesia, karangan Hasan Tiro di Halaman Belakang Gedung AAC Dayan Dawood Unsyiah, Sabtu (10/12) sore. (more…)

  • Baru Siap Dikerjakan, Proyek Tanggul Runtuh

    foto: istimewa
    foto: istimewa

    Peureulak—Baru siap dikerjakan sekitar satu bulan yang lalu, tanggul penahan abrasi di tebing anak sungai yang berada di ujung jembatan Teumpheun, Kecamatan Peureulak Barat, Aceh Timur, kini sudah runtuh kembali. Akibatnya, badan

    jalan yang terdapat di ujung kepala jembatan yang menghubungkan empat kecamatan di sana nyaris putus. (more…)

  • Lomba Cerpen Bahasa Aceh Hampir Ditutup

    Banda Aceh – PUSAT Studi Bahasa Daerah (Pusbada) Universitas Syiah Kuala menyelenggarakan lomba menulis cerpen berbahasa Aceh. Namun, lomba yang dibuka sejak September lalu itu akan ditutup tidak lama lagi.

    (more…)

  • Anak Muda

    Oleh Muhadzdzier M. Salda

    Yang muda yang berkarya. Slogan klise sebuah iklan rokok yang sering terpampang di sudut kota  kumuh di provinsi kita. Kalimat itu juga kerap kita dengarkan ketika iklan di tipi yang kebetulan lewat ketika kita sedang nonton film manca negara. Atau kalimat itu kerap hadir dan menjadi kuat dalam ingatan kita yang berkesan tentunya.

    Anak muda mesti berkarya. Hingga banyak kasus mesum yang kian ramai kita dapatkan di nanggroe kita juga adalah hasil karya anak anak muda yang kreatif. Bayangkan saja mereka bisa bikin sebuah film pendek (PORNO) dengan durasi yang memadai dan jadi tontonan para anak anak remaja yang masih galau dan alay. Itu kadang saja tidak cukup, ada yang selepas malam minggu telat pulang ke kost kontrakan mereka lalu sampailah pada sebulan selepas itu yang wanitanya tidak kedatangan bulan. Ini juga sebuah hasil dari karya anak muda, luar biasa. Jangan tanya mereka masih perjaka atau perawan, itu hal yang tidak dapat dijelaskan dengan kata kata.

    Yang muda yang suka film Korea. Tidak lah dapat kita pungkiri anak anak muda kampung kita lebih mengenal film korea daripada kita tanya film sejarah Aceh agar mereka tidak lupa, anak anak muda lebih suka film korea bersebab aktor dalam film itu lebih ganteng dan manis dibandingkan mereka menyukai (aktor?) dalam film komedian Aceh yang sudah mencapai seri yang ke sekian. Film komedi dikampung kita bertumpuk dengan adegan lelucon yang sangat menjijikkan mata mata kita sebagai warga yang melihatnya, tapi film kami laku keras: itu kata produser mereka.

    Pemuda dikampung kita adalah pemuda yang berjaya, pakai celana Lea sepatu dari produk Amerika, naik movil Avanza walau itu punya rental segala. Peduli amat, selama masih bisa bergaya, dengan balutan rokok ganja bikin hari hari mereka bahagia. Itulah anak muda.

    Ada lagi anak muda yang suka berkarya dengan bergabung dalam wadah politisi muda. Para eksekutif muda pakai baju kemeja walau sepatu dari pasar monja . Bicara isu politik sana sini, oceh sana oceh sini di setiap warung kopi tentang berita berita basi masalah pilkada. Ada juga yang minta ditunda! Para politikus muda kampung kita hasil lulusan perguruan dari kampus syiah kuala. Anak anak muda yang sok idealis dan anti pragmatis ketika mahasiswa akhirnya menyusup dalam barisan orang orang tua yang sudah hilang perjaka. Politikus sok muda yang kerap kita sapa dalam barisan meja meja warkop, debat soal berbagai isu yang sedang berpolemik, mengambil jatah laba dari karya para pemuda sebelumnya yang telah duluan berkarya.

    Pemuda pemuda kampung cuman bisa tertawa dengan lintingan ganja sebagai bahan dalam bercanda. Shabu shabu sebagai pemanis obrolan ketika sedang duduk dipos ronda. Muda kampung yang budiman rajin curi mangga tetangga untuk beli ganja. Muda kota rajin main futsal dalam sudut kota. Pemuda kampung kerjanya cuman jalan jalan saja, tegur sana sini setiap ada ketemu aneuk dara.

    Di sebuah warung di dekat kakus umum, seorang pemuda gila sedang berjuang merayu si dara. Agar mahar ditentukan segera!

    Begitulah lebih dan kurang cerita tentang para pemuda. Para orang tua akhirnya hanya bisa pasrah ketika mereka sudah dipanggil ke kantor weha. Lobi sana lobi sini dengan segala janji dan konseskuensi agar terlepas dari siksa cambuk rotan yang luar biasa.

    Pemerintah kita memang lepas tangan tak peduli pada nasib pemuda, ada ramai anak anak muda yang berbakat jadi orang kaya tak pernah di bantu kasih modal untu berjuang dalam membangun bangsa, pemerintah kampung kita memang tidak tau sama sekali dengan nasip para pemuda., itu bukan tanggung jawab kami kata mereka. Pemuda Aceh mesti rajin shalat dan taat lalu lintas, rajin menabung dan jangan sering duduk di warung. []

    Muhadzdzier M. Salda adalah Aktifis Laki-Laki, Berdomisili di Provinsi Aceh