• About
  • Contact
  • Disclaimer
  • ToU
  • Partnership
Friday, October 23, 2026
ACEHPUNGO.COM
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya
  • Sosok
  • Opini
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya
  • Sosok
  • Opini
No Result
View All Result
Acehpungo.Com
No Result
View All Result
Home Opini

Kisah Halimah Sang “Penghuni” Tower Mesjid Raya

Harlan Oleh Harlan
13/03/2012
in Opini
0
tower masjid raya
20
SHARES
90
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

MALAM kian larut ditemani sinar terang sang rembulan. Derik jangkrik memekakkan keheningan, menambah cekam kesunyian malam. Angin yang bertiup dingin seakan menembus masuk kedalam tulang. Pada saat itulah Halimaton Syakdiyah duduk di bawah cahaya rembulan dan lampu yang remang-remang, sembari membawa lagu memori di daun pisang waktu kita jalan-jalan.

“Sudah dua malam saya tidur di bawah menara ini. Kerja pun tidak ada,” ujar  perempuan  yang akrab disapa Halimah, janda berusia 43 tahun yang pernah menginap di emperan menara Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh

READ ALSO

Kami Tidak Sekolah, Memangnya Kenapa?

Tips Sukses Orang Pidie di Perantauan

Halimah, janda asal Kembang Tanjong Desa Deyah Blang, Beureunun, tidur sendiri di bawah tower  Mesjid  Raya Baiturrahman. Tak ada seorang pun yang  mau berbicara dengan dirinya, seperti yang dikatakan Halimah kepada saya yang menemuinya pada sore Minggu (4/3).

Halimah sempat berinisiatif  mencari kardus di depan ruko-ruko yang berada di seberang jalan guna dijadikan alas tempat tidurnya. “Saya tidak punya tempat tinggal di sini dan tidak punya saudara,” katanya sedih.

Halimah hijrah ke Banda Aceh bertujuan mencari nafkah untuk bertahan hidup. Kepergiannya dari kampung halaman tersebut, dilatarbelakangi oleh sang suami yang mengusir dirinya. Pada saat perempuan berusia 43 tahun ini masih dikampungnya, Ia hanya bekerja sebagai tukang pemecah melinjo untuk dijadikan emping lalu di jual. Uang hasil jualan emping tersebut, justru diambil oleh suaminya untuk menikahi perempuan lain.

“Padahal uang  tersebut mau saya simpan untuk biaya pernikahan anak nanti. Malah ayahnya yang  kawin lain,” katanya seraya berurai air mata.

Halimah kerap dipukuli oleh sang suami. Ia sudah tidak sanggup lagi menahan siksaan. Kesabarannya pun sudah habis. “Kalau begini terus, lebih baik abang cerai aku,” kisahnya sakit dan  menetes air mata. Kemelut rumah tangga itu pun menghasilkan kata-kata perpisahan dari sang suami. “Aku talaq kau,” sembari mengusir Halimah dari rumah itu.

Perlahan, Halimah mengayunkan langkah kakinya turun dari gubuk yang sederhana itu. Ia meninggalkan 3 orang anak. Satu orang masih sekolah SMP dan dua lagi masih mengenyam bangku SD. Sekarang mereka tinggal bersama ayahnya. Mereka tidak diijinkan mengikuti sang ibu. Sementara dua buah hati Halimah yang lainnya telah dewasa. Mereka kini bekerja di Lhokseumawe.

Saat mengarungi nasib ke Banda Aceh, Halimah hanya berbekal baju seadanya dan sisa simpanan dari uang penjualan emping yang pernah ditabungnya. Uang itu Ia pakai untuk bayar ongkos naik mobil L300 yang bertujuan ke Banda Aceh.

Peristiwa tersebut terjadi pada akhir tahun 2011. Pembuka malam Halimah di Mercusuar Mesjid Raya Baiturrahman. Ia tidak tahu lagi hendak kemana. “Ini pertama kali saya datang ke Banda Aceh,” ungkapnya.

Saban hari Ia habiskan dengan memutari kawasan Pasar Aceh di Banda Aceh. Hingga suatu hari Halimah bertemu dengan seorang tukang becak. Ijan namanya. Miris mendengar kisah Halimah, Ijan kemudian menawarkan tempat berteduh dan pekerjaan bagi perempuan malang ini. Kebetulan, sang tukang becak sedang mencari pekerja guna ditempatkan di warung nasi nya di seputaran kawasan Lamnyong.

Akhirnya berkat kedermawanan Ijan, Halimah tak lagi jadi penghuni tower mesjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Ia tak lagi terlunta-lunta. Berpisah dari suami yang menceraikannya, Ia kini bekerja sebagai penjual nasi.

Guratan takdir Halimah yang tak mengenal Kota Banda Aceh tak membuatnya menjadi peminta-minta. Dari emperan tower, Halimah kini nyaman merehatkan tubuhnya di atas kasur empuk. Meskipun itu bukan spring bed, namun setidaknya tubuh wanita itu tak lagi terbakar matahari, tersiram embun dan menggigil akibat hembusan angin malam.

Ini lah kisah Halimah. Sang perantau yang ditalak suaminya. Bernaung di emperan tower dan kini berbaring di ranjang yang empuk.[Rahmat Tullah]

Related Posts

Kami Tidak Sekolah, Memangnya Kenapa?
Opini

Kami Tidak Sekolah, Memangnya Kenapa?

22/11/2024
Ilustrasi tips sukses orang pidie di perantauan
Opini

Tips Sukses Orang Pidie di Perantauan

30/10/2024
Siapa Perempuan di Samping Muzakir Manaf?
Opini

Siapa Perempuan di Samping Muzakir Manaf?

05/10/2024
Surat Hasan Tiro kepada Jenderal De Gaulle yang Menggemparkan Perancis
Opini

Surat Hasan Tiro kepada Jenderal De Gaulle yang Menggemparkan Perancis

25/09/2023
5 Pejuang Perempuan Aceh yang Tak Mirip Kartini
Opini

5 Pejuang Perempuan Aceh yang Tak Mirip Kartini

21/04/2022
Dialog Politikus dengan Pelacur
Opini

Politikus dan Seorang Pelacur

31/05/2021
Next Post

Sekolah Jurnalistik MJC-AJI Banda Aceh Berbenah

POPULAR NEWS

No Content Available

EDITOR'S PICK

El Loco Bawa Persisam Menang 2-1 atas PSAP

04/12/2011

Pelajar SMK Ditikam di Aceh Timur

10/01/2012

November, Pesepakbola Aceh di Paraguay Pulang

06/10/2011

Dukung Pemilukada, Pemkab Anggarkan Dana APBK

06/12/2011

About

ACEHPUNGO.COM dengan motto Galak-galak Kutak Sigo adalah situs berita gaya hidup untuk milenial Indonesia

Follow us

Categories

  • Budaya
  • Edukasi
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Inforial
  • Internasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Nanggroe
  • Nasional
  • News
  • Olahraga
  • Opini
  • Politik
  • Sosok
  • Teknologi

Recent Posts

  • Drone Swarm dan Perang Ukraina: Inggris Buka Akses Data Tempur untuk AI Kawanan Drone
  • Xiaomi 18 Pro Dipastikan Rilis Global, Apakah Indonesia Kebagian?
  • Malware MacSync Mengincar Pengguna Mac: Aplikasi Palsu, Backdoor, dan Trik Kalender iCloud
  • Pengembang Data Center Tawarkan Rp180 Juta per Rumah di Pennsylvania, Mengapa Warga Tetap Menolak?
  • About
  • Contact
  • Disclaimer
  • ToU
  • Partnership

© 2026 AP.com - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Hukum
    • Nanggroe
    • Nasional
    • Internasional
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Budaya
  • Sosok

© 2026 AP.com - All Rights Reserved.