ACEHPUNGO.COM – Inggris membuka akses ke data tempur Ukraina untuk hingga 12 perusahaan yang mengembangkan AI drone swarm. Ini cara kerja dan isu etikanya.
Drone swarm, kawanan drone yang berkoordinasi dengan bantuan AI, menjadi salah satu tren paling penting dalam teknologi pertahanan. Perkembangan terbaru datang dari Inggris: Kementerian Pertahanan (MoD) membuka kompetisi AI Swarming yang memberi perusahaan Inggris akses ke Avengers AI Labs, platform pelatihan AI milik pemerintah Ukraina. Kompetisi dibuka pada 25 September 2026, dengan batas pengajuan 22 Oktober 2026.
Topik ini juga diulas Tirto dalam pertanyaan apakah Ukraina menjadi laboratorium AI militer terbaik.
Platform ini menyimpan citra dan video dari sistem nirawak Ukraina yang direkam dengan sensor cahaya siang dan termal. Menurut Kementerian Pertahanan Ukraina, dataset teranotasi berisi lebih dari 5 juta frame video, sedangkan pemerintah Inggris menyebut lebih dari 6 juta deteksi objek seperti tank, artileri, sistem pertahanan udara, infanteri, dan drone jenis Shahed. Data disebut dianonimkan dan ditunda untuk menghindari risiko bagi personel di garis depan.
Inggris menjadi mitra internasional pertama yang mendapat akses. Hingga 12 perusahaan akan dipilih dalam kompetisi yang dikelola Rapid AI Delivery Taskforce (TF RAID). Pemenang dijadwalkan diumumkan dalam beberapa pekan.
Berbeda dari drone biasa yang dikendalikan satu per satu, drone swarm dapat berbagi informasi dan membagi tugas sehingga sebagian keputusan diambil algoritma. Kompetisi ini menyasar empat area: pengenalan target otomatis, pengambilan keputusan terdistribusi, eksekusi misi adaptif, dan fusi informasi dari banyak sensor. Salah satu tujuannya adalah kawanan drone yang tetap berfungsi ketika sinyal komunikasi diganggu atau navigasi satelit tidak tersedia.
Perusahaan bekerja dalam lingkungan aman dan tidak dapat mengunduh dataset. Mereka melatih dan menguji modelnya di dalam perimeter tersebut. Perusahaan tetap memiliki teknologi yang sudah ada, tetapi bobot model AI hasil pelatihan di platform ini dimiliki Ukraina. Setiap usulan juga harus bermanfaat bagi angkatan bersenjata Inggris maupun Ukraina.
Perang menghasilkan kondisi yang sulit ditiru simulasi: gangguan komunikasi, cuaca, medan berubah, dan tindakan lawan. Data semacam itu membantu menguji AI dalam situasi kacau. Meski begitu, drone swarm punya tantangan teknis, seperti beban jaringan komunikasi antardrone dan kebutuhan agar sistem tetap bekerja saat sebagian unit hilang.
Semakin otonom sebuah sistem senjata, semakin besar pertanyaan tentang kendali manusia, akuntabilitas, dan aturan penggunaan AI dalam konflik. Perdebatan ini akan makin relevan seiring maraknya kerja sama militer berbasis AI.
Pengalaman perang Ukraina kini menjadi aset strategis bagi pengembangan AI militer negara mitra. Teknologinya menjanjikan efisiensi, tetapi juga membawa persoalan teknis dan etika yang belum selesai.
Sumber: GOV.UK, United24 Media, Digital Watch Obersevatory, Tirto.












